logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 28 PERTRMUAN PERTAMA WINDA-IRMA

BAB 28
PERTEMUAN PERTAMA WINDA-IRMA
Beriringan, mereka segera meningalkan kantor polisi. Sesampainya mereka di rumah, ternyata tenda-tenda sudah dipasang. Beberapa pelayat pun sudah datang. Tak lama berselang, ambulans pun datang diikuti oleh mobil yang dikendarai Bari. Mereka menyambut kedatangan jenazah Hisyam dengan berurai air mata.
“Apa yang kamu lakukan disini?” bentak Nasha saat melihat Sekar berada disana. Winda dan Aldi pun terkejut. Terlebih lagi saat melihat Irma juga keluar dari mobil tersebut, Winda semakin shock.
“Kau?” ujarnya.
“Benar. Apa kabar? Lama kita tak bertemu!” ujar Irma tenang.
“Bagaimana bisa kamu ada disini? Apa hubungan kamu dengan wanita itu?” tanya Winda kebingungan.
“Ini Bundanya Sekar, Ma!” sahut Aldi.
“Apa?” tanya Winda tak percaya.
“Mama kenal dia?” tanya Nasha tak mengerti.
“Maaf, Bu! Sebaiknya, kita segera melanjutkan prosesinya agar jenazah bisa segera dimakamkan. Urusan ini, bisa kita lanjutkan nanti!” sela Agus.
“Pak Agus benar, Ma! Ayo, kita masuk ke dalam!” ajak Aldi.
Meski masih merasa belum puas, Winda tetap mengikuti langkah Aldi dan yang lainnya. Serangkaian prosesi telah dilewati. Iring-iringan mobil tampak mengular mengikuti ambulans menuju area pemakaman. Hisyam merupakan pribadi yang dikenal jujur, baik, dan pandai bergaul. Tak heran, banyak kolega yang meluangkan waktunya untuk mengikuti prosesi pemakamannya sebagai bentuk penghormatan terakhir kepadanya.
Proses pemakaman pun berjalan dengan lancar. Usai pemakaman, Sekar dan Bundanya segera pulang dengan diantar Bari. Usai mengantar sang Bunda pulang, Sekar segera berangkat ke kantor. Sementara itu, di kediaman Hisyam, Aldi, Nasha, dan Winda sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka masih menemui para tamu yang terus berdatangan hingga malam menjelang. Usai acara selamatan, mereka segera beristirahat.
Pagi ini, mereka mengawali aktivitas seperti biasa. Aldi pun sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.
“Mas, kita kan masih dalam suasana duka. Masak, kamu sudah mau berangkat ke akntor sih?” tanya Nasha.
“Mau bagaimana lagi. Kalau bukan aku yang handel, siapa lagi? Hanya aku yang bisa diandalkan untuk mengelola perusahaan sekarang,” sahut Aldi.
“Iyaa sih, tapi apa gak bisa ditunda ke kantornya? Tunggu setelah tiga harinya Papa gitu?”
“Gak bisa, Sha. Ada banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan. Apalagi, setelah ini, waktuku akan banyak terkuras untuk proses peradilan.”
“Kamu sih, pakai acara culik-menculik segala!” omel Nasha.
“Sudah dong, gak usah dibahas lagi. Kan, kemarin aku sudah minta maaf,” ujar Aldi dengan mimik melas.
“Aldi, Mama mau tanya. Memangnya, Sekar itu benar anaknya Irma?” tanya Winda mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Ma. Memangnya Mama kenal dengan bundanya Sekar?” tanya Aldi balik.
Winda tampak termenung. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan mantan istri suaminya.
“Ma, ditanya kok malah bengong! Mas Aldi tanya tuh!” ujar Nasha.
Winda menghembuskan nafas kasar.
“Kamu tahu siapa wanita itu?” ujar Winda balik bertanya. Nasha pun otomatis menggeleng.
“Dia mantan istri Papa kamu!” ujar Winda.
“Apa? Jadi, Sekar itu anak kandung Papa?” tanya Nasha tak percaya.
Winda mengangguk lemah.
“Ini gak bisa dibiarin, Ma! Kenapa mereka harus muncul di saat seperti ini sih!” ujar Nasha panik.
“Benar, Sha! Kita harus segera bertindak! Mama tidak mau kita jadi gembel!” sahut Winda.
“Sebentar! Ini sebenarnya ada apa? Sekar anak kandung Papa. Trus, hubungannya sama menjadi gembel apa?” tanya Aldi tak mengerti.
“Gini, Mas! Dia itu kan anak kandung Papa. Sementara aku hanya anak tiri. Kami takut, dia akan menuntut haknya dan meminta warisan Papa!” Nasha memberi penjelasan.
“Benar yang dikatakan Nasha. Dia itu kan wanita matre. Dia pasti akan mengungkit warisan dari Papa,” sahut Winda.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Aldi.
“Kita harus menyusun rencana, sebelum semuanya terlambat,” ujar Winda mantap.
***********************
“Pa, kapan rencana pertunangan Vano dan Airin dilaksanakan?” tanya Sarah, Ibu tiri Vano.
“Sabar dulu lah, Ma! Vano itu anaknya keras! Dia tidak bisa dipaksa!” sahut Rustam, Papa Vano.
“Pa, aku gak mau kita kecolongan. Lihat tuh, sekarang wanita itu sudah dijadikan sekretaris pribadi Vano. Aku gak mau mereka semakin lengket!” omel Sarah.
“Iya, Ma! Akan Papa usahakan! Mama buat janji saja sama mereka untuk makan malam!” sahut rustam.
“Bagaimana kalau nanti malam, Pa? Lebih cepat, lebih baik!”
“Ya sudah, nanti Papa akan beritahu Vano untuk datang!”
“Benar ya, Pa! Jangan sampai gagal lagi!” ujar Sarah.
“Iya. Sudah, ya! Papa berangkat ke kantor dulu!”
“Iya, Pa! Hati-hati!” ujar Sarah sambil tersenyum.
Sarah adalah Ibu tiri Vano. Papa Vano menikah dengannya satu tahun usai kepergian sang istri. Vano tidak terima posisi sang Mama digantikan oleh wanita lain. Sejak saat itu, dia sangat membenci wanita itu. Apalagi, seiring berjalannya waktu, diketahui bahwa Sarah hanya mengincar harta Papanya saja. Beruntung, mereka tidak memiliki anak dari hasil pernikahan mereka itu sehingga hak waris bisa dipastikan akan jatuh ke tangan Vano.
“Selamat pagi, Tante!” sapa Airin yang tiba-tiba masuk.
“Selamat pagi, Sayang! Dari mana nih, pagi-pagi sudah rapi?” tanya Sarah.
“Dari rumah saja sih, Tan! Tan, bagaimana rencana kita? Vano sudah setuju belum tunangan sama aku?” tanya Airin.
“Itu dia. Susah sekali. Tapi ini tadi Om sudah ngasih izin sih. Nanti malam kita makan malam bareng! Kabari orang tuamu gih!” sahut Sarah.
“Iya, tan! Trus, bagaimana kalau Vano tetap tidak mau, Tan?” tanya Airin galau.
“Pintar-pintarnya kamu sajalah! Masak punya wajah cantik, bodi oke, gak bisa menakhlukkan dia? Jangan mau kalah sama wanita murahan itu!” sahut Sarah.
“Mereka masih dekat, Tan?”
“Masih. Bahkan, sekarang, wanita itu sudah jadi sekretaris pribadi Vano.”
“Wah, gak bisa dibiarin ini, Tan! Tan, bisa gak kalau aku saja yang jadi sekretarisnya Vano? Biar kami makin dekat!” usul Airin.
“Memangnya kamu bisa? Dia itu kalau masalah kerjaan, prefektsionis sekali. Takutnya, nanti kamu malah jadi bulan-bulanan kemarahannya karena kerjaan yang sesuai harapannya!”
“Masak sampai begitu sih, Tan?” tanya Airin tak percaya.
“Iya, makanya gak ada yang betah jadi sekretarisnya.”
“Trus aku harus bagaimana, Tan?” tanya Airin.
“Dekati saja dia. Goda dia! Mana ada kucing yang menolak kalau dikasih ikan?” ujar Sarah.
Airin mencoba mencerna ucapan Sarah, lalu dia tersenyum licik.
“Ya udah, Tan! Aku pamit dulu!” ujar Airin.
“Mau kemana? Disini aja temani Tante!”
“Mau ketemu pujaan hati!”
“Ya sudah, selamat berjuang, ya!”
“Siap, Tante!”
Usai berpamitan, Airin segera melajukan kendaraanya ke kantor Vano. Sesampainya di pelataran parkir, sebelum keluar dari mobil, tak lupa dia merapikan penampilannya terlebih dahulu.
“Perfect,” ujarnya sambil tersenyum sumringah.
Dengan penuh percaya diri, dia melenggangkan kakinya bak peragawati menuju ruangan Vano. Penampilannya yang terbuka dan langkahnya yang aduhai membuatnya menjadi pusat perhatian, terutama para karyawan.
“Selamat pagi, Nona! ada yang bisa saya bantu?” sapa Sekar ramah kepada Airin yang hendak memasuki ruangan Vano.
Airin segera menghentikan langkahnya, dan memandang ke arah Sekar. Dipandangnya penampilan Sekar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tanpa menjawab pertanyaan Sekar, Airin segera melangkah dan memasuki ruangan Vano.
“Nona, jangansembarangan masuk!” teriak Sekar. Terlambat, Airin sudah membuka pintu ruangan Vano dan melangkah Vano.

Book Comment (80)

  • avatar
    CallJuan

    good

    01/07

      0
  • avatar
    DoloksaribuTinur

    bagus

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Siti Nur Baya

    bagus batttt kaaaaakk

    28/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters