logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 27 KEPERGIAN HISYAM

BAB 27
KEPERGIAN HISYAM
Sekar tak menanggapi. Dia tampak cuek. Meski hati kecilnya merasa trenyuh melihat keadaan sang ayah, namun dia tetap memilih cuek dan tak perduli.
“Sekar, maafkan ayah, ya!” ujar Hisyam terbata.
“Ayah sudah banyak melakukan kesalahan sama kamu! Tolong, maafkan ayah!” lanjut Hisyam.
Hisyam merasa sedih karena Sekar tampak tak menanggapi.
Tiba-tiba, terdengar bunyi yang sangat nyaring.
Sekar dan Irma merasa panik. Pak Agus pun tak kalah panik. Segera, Pak Agus segera memanggil petugas medis yang berjaga. Mereka segera melakukan tindakan. Hampir tiga puluh menit mereka menunggu, hingga akhirnya seorang dokter keluar dari ruang perawatan Hisyam.
“Dokter, bagaimana keadaan beliau?” tanya Pak Agus.
“Mohon maaf, Pak, kam sudah berusaha, namun takdir berkata lain. Pak Hisyam tidak berhasil kami selamatkan!” sahut dokter tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!” ujar mereka serentak. Irma terduduk lemas di kursinya. Setelah sekian lama, kini mereka baru bertemu dan hanya sebentar. Bahkan, Sekar belum sempat merasakan kasih sayang dari ayahnya. Tanpa terasa, air mata Irma meleleh.
Sekar pun tak mampu berkata-kata. Pria yang teramat dia benci, namun juga dia rindukan, kini telah berpulang. Kini, dia sudah tidak mungkin mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ayahnya. Sesuatu yang sering dia rindukan kala mereka tinggal di Surabaya.
Pak Agus segera mengurus administrasi rumah sakit. Dia juga mengutus anak buahnya untuk mengkondisikan sehingga saat jenazah tiba, semuanya sudah siap.
“Bu Irma ikut kami pulang?” tanya Pak Agus.
“Iya, Pak! Aku akan ikut menghadiri acara pemakaman ayah Sekar!” sahut Irma.
“Baiklah! Bari, aku akan iku ambulans. Kamu antar Bu Irma dan Nona Sekar ke rumah!” ujar Agus kepada anak buahnya.
“Siap, Bos!” sahut Bari.
“Mari, Bu Irma!” lanjutnya sopan.
******************
Pagi ini, Nasha dikejutkan oleh sebuah panggilan dari Aldi.
“Halo!” sahut Nasha.
“Sha, tolongin aku!” ujar Aldi.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Nasha panik.
“Sayang, sekarang aku di kantor polisi. Tolong, kamu segera kesini. ! Bawa pengacara keluarga kita sekalian!”
“Memangnya apa yang terjadi?”
“Aku gak bisa cerita sekarang. Sebaiknya kamu segera kesini! Aku gak mau dipenjara!” ujar Aldi.
“Ya udah, Mas! Aku hubungi Pak Pramono dulu!”
Klik. Nasha segera mematikan sambungan ponselnya, lalu menghubungi pengacara keluarga mereka. Nasha segera berangkat ke kantor polisi usai sepakat bertemu disana dengan pengacaranya.
“Kenapa, Sha?” tanya sang Mama saat melihat wajah panik putrinya.
“Mas Aldi sekarang di kantor polisi, Ma!”
“Apa? Memangnya ada apa?”
“Aku juga gak tahu, Ma! Ini aku baru mau kesana. Sudah janjian sama Pak Pramono juga. Mama ikut, ya?” ujar Nasha.
“Ya sudah, ayo!” sahut sang Mama.
Tak menunggu lama, mereka segera berangkat. Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat puluh menit, mereka telah tiba di kantor polisi. Pak Pramono selaku pengacara Aldi baru tiba di lokasi. Bersama-sama, mereka memasuki kantor polisi tersebut.
“Mas, ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Nasha setelah mereka mendapat izin menjenguk.
Aldi menundukkan wajah.
“Maaflan aku, Sha!” ujarnya lirih.
“Maaf, Pak Aldi! Bisa anda ceritakan apa yang terjadi? Jadi, saya selaku pengacara Anda bisa melakukan tindakan yang seharusnya,” ujar Pak Pramono tegas.
Aldi menghela nafas panjang. Semalaman, dia sudah memikirkan hal ini.
“Begini, Pak! Saya sudah melakukan kesalahan. Saya menculik seseorang dan ---.”
“Apa? Siapa yang kamu culik, Mas?” potong Nasha dengan tidak sabar.
“Bu Nasha, mohon Anda besabar dulu. Biarkan Pak Aldi bercerita dulu. Silahkan lanjutkan, Pak!” ujar Pak Pramono.
“Saya sudah melakukan penculikan, Pak! Tapi itu saya lakukan kaena ada alasannya!” ujar Aldi membela diri.
“Kalau boleh tahu, siapa yang Anda culik?” tanya Pak Pramono lagi.
“sekar.”
“Apa? Jadi, kamu masih berhubungan dengan wanita itu?” ujar Nasha tak percaya.
Aldi menggeleng.
“Aku hanya menuntut hakku. Itu saja!” sahut Aldi.
“Hak apa yang Anda maksud?”
“Itu ... em ....” Aldi menghentikan ucapannya.
“Maaf,Pak! Bisakah Anda mengeluarkan saya dari sini dengan jaminan? Aku tidak mau dipenjara selama proses hukum ini berlangsung!” ujar Aldi lagi.
“Tentu saja, Pak! Saya pengacara Anda. Saya pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Anda. Tapi saya harap, Anda pun bisa diajak bekerja sama. Jangan menutupi kebenaran yang akan menyeret Anda pada hukuman yang lebih berat!” sahut Pak Pramono.
“Ya sudah, bebaskan aku dulu! Kita bicarakan maslah ini nanti!” ujar Aldi.
“Baik, Pak! Permisi!” sahut Pak Pramono, lalu segera bangkit dan meninggalkan Nasha dan mamanya.
“Kamu ini ada-ada saja! Lihat sekarang apa akibatnya?” omel Winda.
“Ma, aku begini kan juga ada alasannya!”
“Sekarang katakan, apa alasan kamu menculik Sekar?” tanya Winda lagi.
“Aku ... aku hanya ingin menakut-nakuti dia saja agar dia mau mengembalikan apa yang pernah aku berikan sama dia.”
“Memangnya apa yang sudah kamu berikan sama dia? Waktu mau kawin itu aku lihat hanya ada seperangkat alat salat,” sahut Nasha dengan wajah jutek.
Aldi melirik sekilas wajah istrinya.
“sebenarnya bukan hanya itu. Aku juga gak tahu apa yang terjadi. Tadinya, seserahan itu ada banyak.”
“Apa saja?” tanya Nasha tak sabar.
“Uang tunai seratus juta, perhiasan seratus gram, sama ....” Aldi tak berani melanjutkan kalimatnya.
“Ya Tuhan! Sebanyak itu? Sama apa lagi?” tanya Winda tak percaya.
“Sama ... sertifikat rumah,” sahut Aldi lirih.
“Apa?” teriak Nasha dan Winda bersamaan.
“Sertifikat rumah mana? Jangan bilang rumah yang rencananya kalian gunakan akad kemarin?” tanya Winda.
Aldi mengangguk lemah.
“Dasar bodoh! Bisa-bisanya kamu melakukan semua itu!” ujar Winda tak percaya.
“Maaf, Ma!”
“Maaf aja bisanya!” omel Winda lagi.
“Mas, apa jangan-jangan, kamu menggadaikan rumah Mama untuk membelikan wanita itu rumah?” tebak Nasha.
“Benar itu Aldi? Jawab!” bentak Winda tak sabar.
Dengan tak berdaya, Aldi kembali mengangguk.
“Kamu memang benar-benar bodoh, Mas! Menyesal aku sudah memaafkan kamu!” ujar Nasha tak percaya.
“Sayang, jangan bilang begitu. Aku mohon, maafkan aku! Aku sudah menyesali perbuatanku! Aku hanya ingin mengambil semua itu kembali!” rayu Aldi.
“Apa menurut kamu dia mau mengembalikan? Apa ada bukti kalau kamu yang memberikan?” desak Nasha.
“Aku juga bingung, Sha! Aku akan cari jalan keluar setelah keluar dari sini!” janji Aldi.
“Pak Aldi, prosesnya sudah selesai. Anda bisa bebas sekarang, tapi hanya bebas bersyarat. Selama proses penyidikan, Anda tidak diizinkan keluar kota, apalag keluar negeri. Anda juga wajiblapor seminggu sekali dan wajib menghadiri panggilan dari pihak kepolisian. Jika Anda mangkir, Anda akan kembali kesini!” ujar Pak Pramono.
“baik, Pak! Terima kash banyak!”
Kring ... kring ....tiba-tiba, ponsel Winda berbunyi. Dari Agus.
“Halo, Gus! Ada apa?”
“______.”
“Apa? Baik, kami akan segera pulang!” sahut Winda panik.
“Ada apa, Ma?” tanya Nasha saat melihat wajah panik sang Mama.
“Papa kamu, Sha! Papa kamu sudah gak ada!” ujar Winda sambil menangis.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!” sahut mereka serempak.
“Ya sudah, ayo, sekarang kita langsung pulang!”
“Mari, Pak! Saya akan mengikuti dari belakang!” sahut Pak Pramono.
Beriringan, mereka segera meningalkan kantor polisi. Sesampainya mereka di rumah, ternyata tenda-tenda sudah dipasang. Beberapa pelayat pun sudah datang. Tak lama berselang, ambulans pun datang diikuti oleh mobil yang dikendarai Bari. Mereka menyambut kedatangan jenazah Hisyam dengan berurai air mata.
“Apa yang kamu lakukan disini?” bentak Nasha saat melihat Sekar berada disana.

Book Comment (80)

  • avatar
    CallJuan

    good

    01/07

      0
  • avatar
    DoloksaribuTinur

    bagus

    30/05/2025

      0
  • avatar
    Siti Nur Baya

    bagus batttt kaaaaakk

    28/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters