logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Biopsi Terbuka

Hidup itu perjuangan meski berat awalnya, yang pasti harus dimulai dari sekarang jangan tunda lagi.
***

Hari ini sesuai jadwal yang telah ditetapkan, Adhelia dan suaminya datang ke rumah sakit dengan sepeda motor.
Adhelia datang tepat waktu, untuk kontrol ke dokter onkologi tanpa mengulur waktu, karena Adhelia sudah merasa semakin sakit pada benjolannya.
Di ruangan dokter saat pengecekan kondisi pasca biopsi FNAB, dokter melihat dan mengecek kondisi benjolan dan bekas suntikan kemarin. Lantas mempersilahkan duduk.
"Baiklah, mba Adhelia dan Pak Riki. Silahkan duduk." Dokter menarik napas.
"Mba Adhelia hasil laboratorium menunjukan suspack kanker.” ucap dokter.
“Kanker ya Dok?” tanya Adhelia datar, terasa sakit mendengarnya meski kemarin malam suaminya sudah memberitahukan hasilnya, tetapi tetap saja nyeri di hati.
Di rumah sudah mempersiapkan diri dan berlapang dada, ternyata tetap saja jantungnya terus berdetak kencang mendengar kata kanker.
Siapapun jika divonis kanker, dunianya seakan luluh lantah.
“Iya suspeck kanker payudara, untuk memastikan kita lakukan biopsi terbuka mba Adhelia," papar dokter Dedi spesialis onkologi.
Adhelia terdiam, berusaha menghembuskan napas yang terasa semakin sesak sekali.
“Selalu ada harapan mba Adhelia."
“Tenanglah.” Suaminya berusaha menenangkan, digenggam tangan Adhelia. Terlihat air matanya sudah mulai menggenang.
"Kita langsung biopsi terbuka ya?”
“Iya Dok, lakukan yang terbaik buat istri saya,” ujar suaminya.
“Sudah menyelesaikan administrasinya ‘kan?" tandas dokter, langsung menodong karena sudah dijadwalkan.
"Sudah semua Dok,” jawab suaminya.
“Maaf dokter, biopsi terbuka itu apa Dok? Bisa dijelaskan?" sela Adhelia.
"Biopsi terbuka itu berarti memotong atau mengambil jaringan di benjolan. Dipotong kemudian dibekukan, dibawa ke laboratorium untuk dicek kondisinya. Apakah suspack kanker atau hanya tumor jinak? untuk memastikan lebih rinci, jenis kankernya dan menentukan jenis treatment pengobatan nanti mba" papar dokter Dedi, santun menjawab pertanyaan Adhelia.
"Bukannya sudah dilakukan biopsi suntik FNAB Dok, kenapa harus biopsi terbuka juga?" ujar Adhelia lemas.
"Untuk memastikan secara spesifik mba Adhelia, kita tidak ingin gegabah mengambil keputusan harus akurat dan yakin kalau itu suspack kanker, metode FNAB juga sudah menunjukan suspack kanker tapi untuk mengetahui lebih detail lagi, kanker dan jenisnya," papar dokter ramah sekali.
"Ya Allah Dok," ucap Adhelia lirih tak terasa air mata keluar begitu saja.
Melihat istrinya menangis, Riki langsung memeluk dan mengusap lembut pundaknya. Adhelia menangis sepertinya semua hasil menunjukan
suspack kanker.
"Menangislah tapi jangan lama-lama ya. Kamu harus kuat mba Adhelia, kanker yang ada padamu bisa lebih cepet berkembang dan membesar.”
“Tambah besar Dok?” Tanyanya.
“Iya, cepat berkembang dan membesar. Makanya jangan berleha-leha dan hanya menangisi nasib.”
Tak ada jawaban yang ada hanya tangisan, Adhelia merasa tidak terima akan takdir Allah.
“Baru juga mama meninggal karena kanker, haruskah saya juga Dokter?”
“Ini persoalan takdir mba Adhelia, saya tidak bisa merubahnya. Tapi jangan menyerah, harapan itu selalu ada.”
Riki suami Adhelia terus memeluk dan mendekapnya, berharap bisa berbagi sedikit kesedihan yang dirasakan istrinya.
“Rasanya baru kemarin kehilangan mamanya, sekarang saya berhadapan dengan penyakit yang sama Dokter?” keluh Adhelia dipelukan suaminya.

“Kita hanya berusaha untuk kesembuhan mba Adhelia. Mudah-mudahan hasil biopsi terbuka malah menunjukkan tumor, siapa tahu ada mukjizat.”
"Jangan patah semangat Dek, kata dokter juga.”
"Silahkan istirahat, sudah dapat kamar kan?"
"Sudah Dokter."
"Baiklah, jangan khawatir ini masih biopsi mba. Nanti kita operasi sesuai jadwal ya," ucap dokter.
***
Adhelia dan Riki keluar ruangan.
“Biopsi ini untuk memastikan tumor atau suspeck kanker. Kalaupun suspeck kanker, jadi bisa diobati lebih dini Dek," ucap suaminya.
“Tapi hasil ini juga menunjukan
memang positif kanker mas,” lirihnya.
“Supaya lebih yakin Dek. Ayo semangat, kita berusaha untuk sehat Dek. Apapun hasilnya nanti," ucap suaminya.
Adhelia dan suami saling berpelukan, terus meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Jangan mengkhawatir nanti bagaimana? sekarang jalani dulu rangkaian pemeriksaannya.

***

Ruang operasi.
Sebelum memasuki ruangan operasi Adhelia berpikir.
"Biopsi terbuka bukan operasi besar, hanya mengambil jaringan saja." Pikir Adhelia, sesudah ini juga selesai tinggal minum obat saja.
Dengan membaca bismillah dan dzikir yang terus terucap di hati, Adhelia siap untuk biopsi terbuka.
"Sudah siap mba Adhelia? jangan lupa berdoa," ucap dokter menyapa Adhelia supaya tidak tegang.
"Insyaallah Dok. Bismillah," ucap Adhelia, meyakinkan diri meski sebenarnya gugup dan takut.
Dirinya yakin orang-orang tersayang akan memeluknya dan berharap yang terbaik untuknya.
Kemudian dokter anatesi memberikan suntikan bius total, dan tak lama kemudian Adhelia tidak sadar sampai selesai operasi. Proses biopsi ini tidak lebih dari satu jam sudah selesai.
Setelah selesai dan keluar dari ruang operasi, Adhelia masuk ke ruang perawatan untuk melakukan masa pemulihan pasca operasi biopsi.
"Alhamdulillah lancar Dek, biopsinya," ucap suaminnya ketika Adhelia mulai siuman.
"Ya mas, alhamdulillah Ya Allah. Semoga ini yang terakhiras. Aku masuk ruangan operasi." ucap Adhelia penuh harap.
"Aamiin ya rabball ala aamiin. Kita sedang ikhtiar dan berjuang untuk kesehatanmu Dek. Jadi jangan putus semangat," ungkap suaminya, mencium tangan Adhelia dengan lembut.
"Iya mas," ucap Adhelia lemas, karena baru siuman.
"Biopsi terbuka ini langkah awal kita Dek, supaya kita tahu benjolan ini membahayakan atau tidak?”
“Iya mas.”
“Pengalaman mama harus membuat kita belajar, akan penyakit ini Dek. Kita harus waspada," ungkap suaminya.
Riki terus memotivasi istrinya agar siap dan bisa menerima keadaan. Jika besok hasilnya tidak sesuai bahkan lebih buruk.
Adhelia hanya mengangguk, kehilangan mama harus membuatnya banyak belajar.
"Dek, jika hasil laboratorium besok buruk dan terburuknya itu adalah kamu positif kanker. Berarti ini sama dengan Mama kan!”
“Hmm...” jawab Adhelia datar.
“Jadi kita belajar dari Mama ya dek, jangan pake non medis," saran suaminya.
"Iya setuju, pake jalur medis saja mas.”
“Baiklah, kalau adek setuju.”
“Mama sudah jalur non medis dan tidak bisa bertahan mas," ucap Adhelia sendu.
Pengalaman mengajarkan bagaimana Adhelia menjadi caregiver mama yang semua pengobatan non medis sudah dicoba tapi ternyata mama menyerah dan berakhir di rumah sakit sampai meninggalnya.
"Bismillah kita pake jalur medis. Artinya kamu tidak perlu mendengar apa pun dari orang, tidak usah mencoba ramuan ini itu, nanti malah tidak fokus ke sana kemari, kamu hanya fokus pada pengobatan jalur medis.”
“Iya,” sahutnya lemah.
“Kanker itu penyakit medis (sel) bukan penyakit mistis, jadi pengobatannya juga harus melalui medis dek," Sambung suaminya.
"Iya mas, aku manut sama kamu. Kasih aku semangat terus ya Mas.”
“Pasti dek, aku sayang kamu dalam sehat dan sakitmu maka kamu jangan menyerah.”
“Iya mas, teruslah jadi pendukungku tanpa lelah," ujar Adhelia berkaca-kaca mengucapkan itu.
"Insyaallah, kita hadapi bersama dek," ungkap suaminya.
Suaminya memeluk Adhelia yang mulai menangis, dia paham akan kondisi kejiwaan Adhelia yang masih terguncang.
Melakukan biopsi terbuka ini memang langkah awal untuk mengetahui benjolan ini seberapa membahayakan? Supaya kita sadar akan kondisi kita dan bersiap untuk melakukan serangkaian treatment pengobatannya.

Book Comment (89)

  • avatar
    HendartoFarid

    tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.

    06/02/2022

      1
  • avatar
    Herofah

    judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...

    06/02/2022

      1
  • avatar
    umi kalsum

    Suku bangetttttt😍

    01/09/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters