Hari ini cuma ada satu jadwal kuliah. Setelah aku pikir semalaman, hari ini aku mulai kirim makanan ke kost'an Kak Evan. Beli bubur ayam saja, deh. Kak Evan kan sedang demam. Paling enak makan bubur kalau sedang demam. Selesai kuliah, beli bubur lalu langsung ke sana. Aku menarik napas dalam-dalam. Tegang memikirkan bagaimana respon Kak Evan. Dia marah tidak ya? Mbak Evi pasti sudah kasih tahu Kak Evan kan ya kalau ini rencananya. Aku takut Kak Evan salah paham. Apalagi dulu aku pernah ... ah, tidak mau ingat lagi. Malu! Aku menundukkan kepala ke meja kursi. "Kenapa sih, pagi-pagi sudah loyo?" Ulfa mengusap kepalaku. Aku mengangkat kepala, menoleh ke arahnya. Menempelkan pipi kiri ke meja, memiringkan wajah menghadap Ulfa yang duduk di samping kananku. "Kenapa? Ada masalah?" Ulfa masih mengusap kepalaku. "Nggak ada, cuma lagi males aja," jawabku lirih. Terdengar gelak tawa di pojok kelas. Tempat anak-anak lelaki berkumpul. Ada Rika di sana, duduk di samping Bendot. "Andre ngajakin nongkrong di kafe barunya. Grand opening katanya. Kita boleh makan minum gratis di sana." Ulfa menunjuk Andre dengan dagunya. Andre teman sekelasku yang tajir melintir. Bisnis orangtuanya dimana-mana. Di usia segini Andre juga sudah mulai merintis bisnis sendiri. Dia naksir Ulfa, sering ngasih hadiah mewah. Kasih voucher makan, salon, tiket konser, macam-macam, deh. Aku dan Rika kecipratan juga hehehehe .... Walau cintanya ditolak Ulfa, dia tetap kasih banyak hadiah ke Ulfa. Sudah terlanjur sayang kali ya, jadi tidak pakai perhitungan untung rugi lagi. Rika menghampiri kami. Dia duduk di sebelah kiriku. "Nanti kita ke kafe nebeng sama Andre. Anak-anak cowok boncengan naik motor. Oh iya, khusus buat kita bertiga ada voucher spa gratis. Jadi, di sebelah cafenya tuh ada salon punya kakaknya Andre," cerocos Rika tanpa mempedulikan raut wajah Ulfa yang sedikit masam. Biar bagaimanapun, Ulfa merasa tidak enak menerima semua kebaikan Andre. Takut disangka memanfaatkan. "Cuma kita yang dikasih voucher spa gratis?" tanyaku. Rika mengangguk. "Lagian anak cowok mana mau spa." "Siapa aja yang ikut?" tanya Ulfa. "Ya kita-kita aja. Paling cuma 10 orang. Andre bilang nggak usah ngajak banyak orang," jelas Rika. Ulfa mengangguk, raut wajahnya masih terlihat masam. "Kapan, sih?" tanyaku. "Sekarang, selesai kuliah kita langsung ke sana," sahut Rika. Yaah, hari ini. Aku berdecak, sedikit kecewa. "Aku nggak bisa gabung. " Aku harus ke tempat Kak Evan. Tidak enak pada Mbak Evi kalau tidak buru-buru kirim makanan. "Iih ... kok nggak ikut? Kenapaa?" tanya Ulfa merengek. "Iya, nih, elo mah nggak seru. Kenapa, sih?" tanya Rika. "Ah, a ... ada urusan sedikit," jawabku lirih. "Urusan apa? Lo lagi nggak ada masalah kan?" tanya Ulfa. Aku menggeleng. "Bener? Lo dari tadi lemes banget, nggak bersemangat kayak banyak pikiran. Beneran lo nggak ada masalah?" cecar Ulfa. Ulfa ini memang paling peka. Aku dan Rika tidak bisa bohong sama dia. Tidak bisa menghindar jika kita ada masalah atau pikiran. Tapi kali ini, aku mohon maaf, Fa. Aku belum bisa cerita dulu. "Iya Ulfa zheyeng ... gue nggak papa, cuma ada yang harus diurus. Jangan khawatir oke?" Kupeluk Ulfa, biar dia nggak khawatir. "Emang urusannya nggak bisa ditunda dulu ya?" tanya Rika. Ulfa mengangguk tanda setuju dengan pendapat Rika. "Nggak bisa, sorry." Dan pembicaraan kami terhenti sementara karena dosen pengajar sudah datang. Semoga selesai kuliah, tidak ada lagi rayuan atau bujukan dari mereka. Aku ingin cepat menyelesaikan tugas dari Mbak Evi. Selesai kuliah, anak-anak yang akan ke cafe Andre berkumpul di depan pintu. "Andre, sorry, gue nggak bisa gabung. Makasih tawarannya dan semoga sukses cafenya ya, Ndre." Kutepuk bahu Andre. "Loh, kenapa?" tanya Andre dan Bendot bersamaan. "Ada yang perlu diurus." "Urusan apa? Lo mau ke dokter? Muka lo pucet, mau dianterin dulu kagak?" cecar Bendot. Aku meringis, lalu menggeleng. "Nggak usah, gue nggak papa, kok. Nggak lagi sakit." "Tapi muka lo pucet." "Iya, dari pagi lo lemes banget," sambung Ulfa. "Nggak papa, tenang aja. Gue duluan ya ...." ucapku sambil melambaikan tangan. Bendot menarik tanganku," Gua anterin yak. Ntar kita gampang nyusul ke tempat Andre," ucapnya cemas. "Nggak usah. Sudah buruan kalian berangkat. Nanti keburu siang." Segera kutinggalkan mereka. Sebelum keluar kampus aku masuk ke toilet. Mengecek penampilanku. Sepucat apa sih wajahku, sampai mereka khawatir begitu. Omaigot, wajahku memang terlihat kuyu. Memikirkan bagaimana reaksi Kak Evan nanti ternyata berdampak sama penampilanku. Pantesan mereka khawatir. Setelah cuci muka, kuoles sedikit lipstik nude ke bibir. Lumayan agak cerah, tidak sepucat tadi. Aku tersenyum, berusaha memberi semangat pada diriku sendiri. --- Aku turun dari ojol di depan sebuah rumah bercat kuning pucat. Lebih mirip rumah tinggal biasa daripada kost-kost'an. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Bismillah. "Assalamu'alaikum," sapaku pada kedua lelaki yang duduk di teras. Sepertinya mereka seusiaku. "Wa'alaikumussalam," jawab lelaki berambut keriting. "Cari siapa?" tanyanya. "Kak Evannya ada?" tanyaku. Tanganku menggenggam erat keresek bubur. Asli, aku tegang banget! "Evan? Ooh A'evan .... Masuk dulu, Teh," sahut lelaki berambut cepak. Si keriting membukakan pintu pagar. "Mau nengok A'evan ya?" tanyanya melihat keresek bubur yang kubawa. Aku mengangguk pelan. "A'evan dari tadi ditawarin sarapan nggak mau terus, Teh. Untung Teteh dateng bawa makanan," ujarnya sambil menggiringku untuk masuk. "Teteh pacar barunya A'evan ya?" Kali ini si cepak yang bertanya. Sebelum aku menjawab, si keriting sudah mengantarkan ke depan sebuah pintu kamar. "Ini kamarnya, ketok aja. Jangan sungkan," sahut si keriting sopan. Lalu dia kembali ke teras meninggalkanku di sana. Kamar Kak Evan berada paling depan. Tidak ada ruang tamu seperti di kost'anku, hanya ada kursi di teras tadi. Sekilas aku memandang sekeliling. Di depan kamar Kak Evan ada tiga kamar. Sedangkan di samping kamar Kak Evan ada ruang cukup luas seperti ruang keluarga. Ada televisi dan karpet empuk. "Assalamu'alaikum." Sambil kuketuk pintu kamar. Tidak ada sahutan. Sekali lagi kuketuk, dan tetap tak ada sahutan. Mungkin Kak Evan sedang istirahat, aku titipkan saja deh buburnya. Lalu terdengar suara pintu terbuka. Kak Evan terlihat lemas dan kuyu. "Hai, Kak," sapaku. Mata Kak Evan membesar setelah menyadari keberadaanku. "Yuna? Kok, kamu ada disini?" Aku mengangkat kresek bubur, sebagai jawaban dari pertanyaannya. Wajahnya seperti bingung dan sedikit tampak raut tak suka. Kak Evan mengambil kresek dari tanganku. "Itu bubur ayam buat Kak Evan. Aku beli di Karapitan. Semoga Kak Evan suka," ucapku dengan suara lirih diakhir kalimat. "Makasih," jawabnya singkat. Aku mengangguk tersenyum. "Udah kan?" tanyanya. Hah? "Kalo udah, silahkan pulang. Gue mau istirahat," ucapnya dengan dingin. Tanpa menunggu responku, dia udah menutup pintu kamarnya. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Sudah kuduga, dia tidak akan suka. --- Hari kedua menjalankan misi. Aku sengaja berangkat lebih cepat dari jadwal kuliah. Sebelum ke kampus, aku akan ke tempat Kak Evan dulu, karena hari ini jadwal kuliahku lumayan padat. Dari jam setengah 1 siang sampai menjelang magrib. Agak malas kalau setelah kuliah aku harus mengantarkan makanan. Kali ini aku membawa soto Betawi yang kubeli di Heritage. Kubuka pagar sambil mengucapkan salam. Di teras ada si keriting. Dia sendirian, kali ini tidak ada si cepak. "Eh Teteh, masuk, Teh. A'evan sudah bangun, baru selesai mandi. Tapi belum makan. Teteh bawa makanan lagi?" Si keriting menyapaku ramah, seolah kami ini sudah lama kenal. Aku mengangguk. Diam di teras, karena aku bingung harus kemana. "Langsung masuk aja, Teh. A'evan ada di kamar. Anggap aja rumah sendiri," sahutnya lagi dengan nada jenaka. "Assalamu'alaikum." Kuketuk pintu kamar Kak Evan. Kali ini tak menunggu lama pintu kamar sudah terbuka. Keadaan Kak Evan tidak sepucat kemarin, walau belum pulih seperti biasa. "Elo lagi?" tanyanya sinis. Aku meringis mendengar suaranya. "Aku bawa soto Betawi, Kak. Semoga kakak suka. Permisi," ucapku singkat dan langsung pergi setelah kuserahkan kresek soto. Peduli amat dengan sopan santun, aku bergegas keluar. Daripada aku mendengar ucapan Kak Evan yang dingin dan melihat tatapannya sinisnya. $$$$$ 23 Desember 2021
Sungguh menarik critanyaaaa
27/04
0bagus sekali 🫶
25/04
0keren 😊👍🏼
21/08
0View All