logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Berondong

"Dasar curang, pakai senjata. Dikeluarkan, kan, dari geng! Huu!" kesal Yonna saat laki-laki yang menusuk Gun baru saja dikeluarkan dari gengnya, ditinggalkan oleh ketua.
Meski geng itu adalah musuh dari Geng SP*RM—geng Gun dan kawannya—tetapi Yonna senang karena penusuk itu tidak mendapat dukungan dari mana pun.
"Kalau aku jadi Song, sudah kutusuk-tusuk itu dada si pecundang. Selalu aja pakai senjata."
"Beruntung Song masih ingat pesan Gun, kalau laki-laki berkelahi sampai ada yang menang bukan membunuh."
"Oh, iya! Ngomong-ngomong soal membunuh, pas pulang dari toko roti, kau sempat nggak lihat ada yang saling bacok?" tanya Malilah mengingat pembicaraan Ayahnya di telepon.
Yonna mendesah berat, "Nggak lihat aksinya, cuman sisanya. Asli, Lil, sampai muntah aku lihatnya."
"Aku juga sempat mual waktu lihat postingan di media sosial, ngeri banget. Asal kau tahu, dua orang itu rekan reporter Ayah aku. Pokoknya sampai sekarang, Ayah dibuat pusing setengah mati. Soalnya, dua orang itu rekan terbaik Ayah, kerjaan mereka selalu berhasil buat pencapaian bagus di kantor Ayah."
"Kalau gitu, mereka punya masalah di kantor?"
"Nggak ada. Justru kata Ayah mereka baru aja dikasih tugas mewawancarai penyanyi dangdut. Memang, sih, Ayah pernah ngomong kalau sudah beberapa hari ini dua orang itu suka lalai, nggak seperti biasanya. Sering melamun, masalah pribadi kali?"
"Bisa jadi, mungkin mereka terikat hutang satu sama lain? Yang satu nggak mau bayar, jadinya begitu, deh."
"Barangkali. Soalnya aku pernah lihat salah satu dari mereka memang suka ngamuk, salah dikit ngamuk. Mungkin dia sudah terlanjur kesal, nggak bisa kontrol emosi, jalan itu yang dia ambil."
"Tapi, masa sampai segitunya, sih? Ngeri juga kalau ending-nya bacok-bacokan. Di dekat lampu merah lagi, Petunia aja sampai kabur dari taksi. Dia pasti teringat kejadian malam itu."
"Kok, jadi Petunia? Kau ketemu dia di sana tadi?"
"Waktu aku selesai beli roti, Petunia nggak sengaja nabrak Luther. Pas ditanya kenapa, katanya ada orang mengamuk bawa golok. Sangking takutnya, dia sampai ninggalin taksi," jelas Yonna singkat.
"Oya? Memang ngeri, tapi kalau aku mending kunci pintu sama tutup jendela taksi. Atau nggak minta putar balik, daripada lari keluar. Sebodoh-bodohnya aku, nggak mungkin aku justru memberi peluang penjahat kaya gitu buat ngelukain kita."
Yonna terdiam sejenak, merasa ucapan Malilah ada benarnya juga.
Dari pada kabur, lebih baik minta supir taksi putar balik. Dan untuk sampai ke toko roti, bukannya Petunia justru harus melewati orang tersebut? Petunia berasal dari arah yang berlawanan. Sama saja mendekati maut.
/////
Sepulangnya Malilah, Yonna kesulitan untuk tidur. Ia terus memikirkan Petunia, jikalau Petunia pulang dari sekolah, maka ia mengambil arah berlawanan dari jalan pulang Yonna. Melihat arah Luther mengantar Petunia pulang, sudah pasti posisi Petunia kabur dari taksi adalah seperti sedang dihadang oleh reporter yang mengamuk tersebut. Untuk mencapai lokasi Yonna, Petunia harus terus berlari melewati reporter, kenapa ia memilih itu? Jikalau ingin kabur, ia bisa memilih menjauh, bukannya melewati.
"Nggak! Pasti karena efek traumatis, Petunia sampai nggak bisa berpikir jernih."
Yonna mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping ke kanan.
"Shh, emang ada , ya? Orang gugup malah berlari mendekati maut?" Sekali lagi Yonna mengganti posisi berbaringnya.
"Iya, mungkin pola pikir Petunia beda dari yang lain. Barangkali semakin ia gugup, semakin meningkat pula adrenalinnya. Memancingnya bertindak berani, walau sebenarnya ketakutan."
Setelah Yonna bermonolog dengan kesimpulan akhirnya, ia bangun dari posisi tidur dan berjalan menuju dapur. Tetapi saat mendekati dapur, Yonna mendengar kedua orang tuanya kembali bertengkar heboh.
Yonna mengeram muak.
"Bi, kalau ada yang nyari, bilang aku keluar cari angin."
Tanpa menunggu balasan bibi, Yonna segera berlari keluar rumah. Mengirim pesan ke Luther, meminta untuk ditraktir makan di pinggir jalan.
Sudah satu tahun ini pasangan suami istri itu terus bertengkar, tidak pernah akur, ayahnya selalu pulang larut malam. Hanya sang mama yang cukup rajin memberi perhatian kepadanya, sedangkan Ayahnya mulai abai.
"Kenapa nggak nunggu di rumah aja, sih?" tanya Luther setelah berhenti di depan gadisnya.
"Malas."
Luther mengenal napas maklum, "Sini!" pintanya sambil memasangkan helm Yonna.
"Pakai jaketku!" titahnya lagi.
Dengan kecepatan sedang, Luther mengendarai motornya menuju warung pinggir jalan yang selalu mereka kunjungi. Ibu penjual menyambut keduanya bahagia, pengunjung lebih sedikit dari biasanya.
"Kenapa baru kelihatan?" tanya Ibu Maulida ramah.
Setiap masakan yang dihasilkan oleh tangannya, selalu memuaskan.
"Maaf, Bu, akhir-akhir ini sibuk sama tugas sekolah."
"Oalah, sebentar lagi kalian lulus, kan?"
"Iya, Bu."
"Kalian mau makan apa? Seperti biasa?"
Yonna mengangguk, lalu mencari tempat duduk. Biasanya setiap malam Minggu ia dan Luther akan pergi ke tempat ini, tetapi karena kegiatan sekolah yang meningkat, mereka jadi tidak memiliki waktu untuk pergi ke sini lagi.
Lima menit menunggu, dua porsi Coto Makassar dan es jeruk terhidangkan.
"Kenapa? Kepala mu pusing?" Luther menggeser mangkoknya, menyentuh dahi Yonna takut-takut gadisnya itu demam.
Tidak memberi banyak respon, Yonna sekadar mengangguk singkat. Rasa pusing yang menyerang terlalu menyiksa, ia bahkan sempat berpikir tengah berada di dunia lain akibat keadaan sekitar seperti berputar-putar. Ini lah yang terjadi jika ia berpikir terlalu banyak, terutama tentang masalah kedua orang tuanya. Tidak pernah ditemukan jalan, apabila bertemu, selalu saja ada cara untuk bersapa dengan masalah baru.
Yonna sungguh lelah, terkadang terbesit dalam benak Yonna untuk lari. Ke mana saja, asalkan tak menemukan ayah dan mamanya saling berteriak, abai satu sama lain, menghindar, atau bahkan memukul.
Luther mengobrak-abrik isi tas pinggangnya, mengambil obat pereda pusing yang selalu dia bawa. Menyerahkan satu butir obat ke Yonna, lalu dibiarkannya gadis itu meneguk bersama air mineral yang tersedia di meja.
Luther selalu berusaha menjadi pacar yang baik juga siaga, jangan terkejut bila suatu saat nanti akan ada adegan di mana Luther mengeluarkan pembalut wanita dari dalam tasnya. Bahkan Luther juga menyiapkan obat pereda nyeri haid, apabila dia mendapati Yonna kesakitan karena haid saat berada di luar. Karena jika Yonna merasakan nyeri ketika di rumah, Luther lebih menyarankan untuk mengompresnya dengan air hangat, dan banyak meminum air putih.
"Aku nggak bisa meminta kamu buat berhenti memikirkan masalah ini, bagaimanapun semua itu berada di sekeliling mu. Aku juga nggak bisa bantu menyelesaikan, karena ini terjadi di dalam keluarga kalian. Aku orang luar, yang beruntung menjadi pacar kamu, hanya bisa membantu menenangkan. Sekurang-kurangnya, karena ku kamu bisa meredakan emosi sejenak, sedih dan amarahmu bersembunyi untuk mempersilahkan lelahmu beristirahat. Maaf, sejauh ini cuma segitu kemampuanku."
Yonna merasakan kehangatan menyebar, semua kata yang terucap oleh Luther, selalu berhasil menenangkannya. Membuatnya merasa lebih baik dan mampu melupakan masalahnya sejenak. Yonna menerima uluran tangan pacarnya, saling menatap dalam kasih.
"Jangan minta maaf, Luther. Semua ini sudah lebih dari cukup. Kamu selalu menjagaku, memastikan aku tidak telat makan, meski terkadang kamu juga suka menggoda. Berada di sekitarmu saja hatiku sudah merasa tenang, aku selalu merasa nyaman. Justru aku ingin berterima kasih, dengan hadir dalam hidupku, kamu sudah sangat membantu. Aku menyayangimu."
Luther menarik Yonna ke dalam pelukannya, memberi kehangatan pada gadisnya yang sering menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, walau kenyatannya tidak.
Kegiatan saling peluk itu tidak berlangsung lama, mereka sadar berada di tempat umum. Ini saja, beberapa pelanggan ada yang melihat mereka dengan berbagai ekspresi, senang, malas, atau iri.
"Setelah ini kita pulang, ya?" Luther membenarkan posisi jaket gadisnya.
Yonna menggeleng, "Nggak mau, nanti aja."
"Sudah jam sepuluh, Yon."
"Nggak mau."
"Oke, jadi mau ke mana habis ini?"
"Taman!" jawab Yonna ceria.
"Mau pergi sekarang?"
"Ayo! Penjual gulali belum pulang, 'kan?"
"Biasanya belum. Sebentar, aku bayar dulu."
Yonna mengikuti langkah Luther dari belakang.
"Terima kasih, ya. Jangan lupa sering-sering ke sini."
"Iya, Bu. Nanti ke sini lagi, hehe. Kami pergi dulu," pamit Yonna.
Jarak taman kota dari warung Ibu Maulida tidak terlalu jauh, membutuhkan beberapa menit saja, melewati satu persimpangan lampu merah.
Sesudah memarkirkan motor, Luther menggandeng tangan Yonna berkeliling taman. Meski waktu mulai larut, keadaan taman tidak turut sepi.
"Penjual gulalinya mana? Biasanya, kan, jualan di sini," tanya Yonna menurunkan garis bibirnya, cemberut.
"Sudah habis mungkin gulalinya, jadi pulang duluan."
"Yah. Aku mau makan gulali." Yonna menundukkan kepalanya lemas.
"Jajanan lain aja, bakso goreng, cilok, atau seblak?" Luther menyarankan.
"Aku lagi mau makan yang manis-manis." Yonna menelusuri penjual yang terlihat, matanya bersinar kala mendapat pengganti gulali, "Aku mau berondong!"
Secepat kilat, kepala Luther menoleh menatap Yonna horor, kuat sedikit lagi kepala itu bisa patah.
"Apa?! Berondong?!" Suara Luther meninggi. Menarik perhatian pengunjung taman yang lain.
"Ish! Luther, kenapa teriak?" Yonna merasa malu karena sempat menjadi pusat perhatian.
"Maksudmu apa mau berondong? Dulu kamu bilang nggak suka sama yang lebih muda. Sekarang, cuma karena nggak dapat gulali, langsung mau cari pacar baru? Sekarang juga, kita keliling kota cari gulali!" Luther menarik satu tangan Yonna, menuju tempat dia parkir.
Sebelum terlalu jauh, Yonna menahan tarikan itu. "Apaan, sih! Kenapa jadi cari pacar baru? Siapa juga yang mau cari pacar baru?" kesal Yonna.
"Tiba-tiba lupa ingatan, hm? Tadi kamu bilang mau berondong, terus artinya apa kalau bukan cari pacar baru? Jangan kekanak-kanakan, deh, Yon. Aku itu serius sama kamu."
Kekesalan Yonna menghilang seketika, dengan pipi yang merah, Yonna terkekeh sebentar. "Jadi berondong itu yang kamu tangkap?"
"Iyalah, memang berondong, kan?"
Kali ini tawa Yonna mengeras. Sebelum Luther bertanya, ia memberi penjelasan terlebih dahulu, "Luther, bukan berondong yang itu. Tapi berondong makanan, berondong jagung! Yang di sana, popcorn!"
"Ap-apa? Jagung? Bukan berondong sebutan untuk laki-laki yang lebih muda?" Telinga Luther merah tanpa sepengetahuan Yonna.
"Iya! Hayo, siapa yang kekanak-kanakan, sekarang?" Yonna menarik satu garis bibirnya.
"O-oh, ayo!" Dengan cepat Luther melangkah meninggalkan Yonna menuju penjual berondong yang dimaksud. Dalam hati, Luther terus memaki diri sendiri. Bisa-bisanya dia berpikir gadisnya ingin mencari pacar baru, padahal berondong yang dimaksud adalah makanan.
"Kenapa aku mendadak bodoh gini? Sudah jelas yang dia mau cari itu makanan. Otakku konslet apa gimana?" batin Luther.
"Yang warna emas, terus yang banyak gulanya," pinta Yonna sesaat setelah berhasil menyusul Luther.
Setelah membeli satu popcorn kemasan sedang dan minuman, mereka duduk di salah satu kursi taman, menghadap keramaian orang yang lalu-lalang.
Detik demi detik berlalu, mereka tak kunjung mencipta dialog. Sepasang kekasih itu duduk dengan pikiran masing-masing, Luther melamunkan kebodohannya barusan dan Yonna memakan popcorn dalam lamunan. Gadis tersebut memikirkan banyak hal.

Book Comment (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters