logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Golok Lampu Merah

"Mas! Kenapa setiap aku ngomong kamu nggak pernah turutin?!" tanya Yulissa meninggikan suaranya.
"Arghh! Kamu bisa tidak, sekali saja berhenti membicarakan ini? Saya capek. Baru sekarang saya bisa pulang awal, bukannya nawarin minum atau makan, malah teriak-teriak tidak jelas."
"Alasan kamu, Mas! Palingan juga kamu habis senang-senang, kan? Giliran perayu itu minta ini, mobil, rumah, ATM, langsung kamu kasih. Sedangkan ketika aku minta pengertian kamu sedikit saja, nggak pernah kamu lakuin, Mas!"
"Lissa! Jaga bicara kamu! Pengertian apa yang kamu mau?! Dari dulu sampai sekarang, pengertian, pengertian terus yang kamu minta. Kurang pengertian apa saya? Hah?!"
"Mas! Kalau selama ini Mas pengertian seperti yang kamu bilang, kenapa masih berhubungan sama  perayu itu? Tinggalin dia sekarang! Aku nggak mau tahu! Kita semua tahu tindakan kamu itu salah, Mas!"
"Oh? Jadi saya salah? Lalu kamu bagaimana? Bukankah lebih buruk? Di belakang kamu ada cermin besar, gunakan sebaik mungkin. Berkaca sebelum kamu mulai berteriak kepada saya!"
"Mas!"
"Saya muak!"
/////
"Se-selamat pagi, te-teman-teman!"
"Halo, Petunia. Selamat pagi," balas Yonna ramah.
Setelah libur selama tiga hari, pada hari senin ini barulah Petunia turun sekolah. Saat Petunia menduduki kursinya, terdengar suara buku-buku berjatuhan. Siri yang dikenal sebagai murid pendiam dan lugu berdiri di ambang pintu, buku dalam pelukannya tergeletak di lantai, matanya melemparkan sorot horor ke arah Petunia. Seisi kelas menatapnya keheranan, walau akhirnya mengabaikan. Siri selalu bertindak ceroboh, mudah sekali merasa gugup terhadap orang lain.
Melihat Siri yang tak kunjung bergerak, Malilah menegurnya, "Hei, Siri! Sampai kapan mau berdiri di situ? Bentar lagi guru masuk."
Berhasil memproses keadaan, Siri pun akhirnya sadar. Dengan tergesa-gesa ia membereskan buku yang berjatuhan, kacamata kotaknya hampir ikut terjatuh. Sambil menunduk, Siri berjalan mengarah ke mejanya.
"Kenapa dia?" tanya Malilah bertepatan dengan masuknya Dovis.
"Masih syok perihal penyerangan mungkin?" terka Akia sekiranya.
"Eh, ada apa?" tanya Dovis penasaran.
Mendengar penjelasan murid lain, Dovis berkata, "Dia, kan, memang ceroboh. Kaya baru kenal Siri aja."
Yonna memandang Siri dalam diam, penuh pengamatan. Memang benar Siri selalu bertindak ceroboh, tetapi tidak mungkin siswi lugu itu menjatuhkan buku dan mematung di depan kelas tanpa alasan. Biasanya buku dalam genggaman Siri akan terlempar jika ia tersandung atau menabrak orang tanpa sengaja, bukan jatuh dengan sendirinya.
Pun yang membuat Yonna semakin bingung adalah, Siri menatap Petunia seakan-akan bertemu dengan preman. Tangan gadis itu bergetar, kedua matanya terbuka lebar seolah hendak berlari kabur. Selama duduk di kursinya, kepala Siri sesekali menoleh sedikit ke belakang, seperti takut ada yang akan menyerangnya.
Sebelum memulai pembelajaran, Malilah membisiki Yonna berupa sebuah ajakan menonton drama Thailand di rumah Yonna. Pemilik rumah pun mengangguk setuju, ia juga menambahi akan membeli roti isi sebagai camilan.
/////
"Luther, mampir ke toko roti dulu, boleh?" tanya Yonna sembari memasang helmnya.
"Boleh, apa pun yang kamu minta."
Sesampainya mereka di toko roti, Yonna menuju kasir.
"Permisi, Kak. Mau ambil pesanan atas nama Yonna," ujarnya.
"Baik, Kak, mohon ditunggu."
"Biar aku yang bayar," Luther menyerahkan kartu kredit miliknya sebelum Yonna sempat menolak.
"Ish, banyak ini."
"Nggak papa. Kenapa beli sebanyak ini?" tanyanya kemudian.
"Malilah mau ke rumahku, nonton drama Thailand bareng."
"Memangnya seru?"
"Seru! Tentang persahabatan. Sebenarnya kami mau nonton ulang, sih."
"Judulnya ap-"
"Aduh!" pekik seseorang karena menabrak Luther saat hendak menuju motor.
"Petunia? Kau nggak papa?" Khawatir Yonna sambil membantu Petunia berdiri.
"Yo-yonna?! Ti-tidak." Petunia mengibas-ngibaskan roknya.
"Sa-saya hanya ta-takut," sambungnya.
"Takut kenapa?"
"A-ada pria yang me-mengamuk di tengah jalan, memba-bawa golok."
"Golok? Di mana?" tanya Yonna lagi sambil melirik Luther.
"Di-di sana." Petunia menunjuk jalan yang mengarah ke lampu merah.
"Luther... ."
Luther yang dipanggil pun menoleh, dia paham betul Yonna mulai khawatir. Pasalnya mereka pulang lewat sana.
"Nggak papa, kita tunggu sebentar sampai polisi datang."
Yonna mengangguk, "Sambil nunggu, kau mau makan roti, Petunia?"
Petuni menggeleng, "Ti-tidak, terima ka-kasih. Saya ma-mau pulang sa-saja."
"Oh, oke. Kau jalan kaki?"
"Se-sebenarnya saya memesan tak-taksi, karena panik saya meninggalkan-kannya."
"Ya ampun, kau sudah pesan taksi lagi? Mau aku pesankan?" tawar Yonna.
"Ka-kalau boleh, sa-saya mau min-minta tolong," ujar Petunia lemah.
"Ngomong aja."
"U-uang saya ha-habis. Ja-jadi, apa Lu-luther bisa me-mengantar saya?"
Yonna terdiam, permintaan Petunia sangat tiba-tiba. Di sampingnya, Luther mengerutkan alis tajam, terkejut sekaligus heran.
"Ti-tidak bo-boleh, ya? Tid-tidak apa-apa, sa-saya bisa jalan."
"E-oh, nggak. Luther bisa, kok."
"Apa-ap-" Ucapan Luther terhenti saat Petunia menyerbu tangan Yonna, berterima kasih.
"Te-terima kasih, yon-na." Petunia menatap helm yang biasa Yonna kenakan.
Seakan paham, Yonna memberikan helm tersebut. Sedangkan Luther yang menyaksikan ingin menolak keras, tetapi pacarnya memberi tatapan nyalang, meminta agar Luther diam dan lakukan saja.
Luther mendengus malas, kalau bukan pacarnya yang minta, dia tidak akan pernah mau mengantar murid pindahan itu. Sebenarnya, Luther tidak pernah memiliki keinginan untuk mengantar perempuan lain. Kecuali dua orang, mamanya dan Yonna.
"Hati-hati," peringat Yonna kaku, dibalas dengan bunyi klakson motor Luther.
Di atas motor, Luther merasa risih. Terutama saat merasakan tangan Petunia menggenggam kedua sisi pinggang seragamnya, sangat erat. Seakan, bergeser sedikit saja, ia bisa terlempar ke tengah jalan. Sekitar sepuluh menit melaju, akhirnya Luther menghentikan motor saat Petunia menepuk-nepuk pundaknya.
"Ke-kelewatan, Luther. Ru-rumah saya ya-yang gerbang e-emas," ujar Petunia masih duduk di jok belakang.
Dengan malas, Luther melirik ke belakang, jarak rumah yang dimaksud Petunia terlewat dua rumah saja.
"Cuma kelewatan dua rumah aja, kali. Jalan kaki kan, bisa," ucap Luther bernada ketus.
"Sini helmnya, aku nggak mau biarin pacarku menunggu lama."
Mendengar nada tak bersahabat Luther, Petunia pun turun dari motor. Setelah menerima helm tersebut, Luther langsung memacu motornya secepat mungkin. Bagaimana mungkin dia membiarkan pacarnya menunggu untuk waktu lama di luar sana.
"Sudah? Kok, cepat? Kamu beneran antar Petunia sampai rumah, 'kan?" Rentetan pertanyaan itulah yang pertama kali diucapkan Yonna setelah Luther mendatanginya.
"Ngapain lama-lama? Kamu naik sekarang, sudah sore."
Yonna menuruti segera.
"Sudah?"
"Sudah! Ayo, pacar aku!" Yonna memeluk erat Luther dari belakang. Dahinya mengernyit heran saat mencium aroma parfum seseorang yang baru-baru ini dikenalnya.
"Kuat banget parfumnya Petunia, merek apa, ya?" gumamnya penasaran.
Melewati lampu merah, semua individu yang lewat disajikan pemandangan yang sangat tidak sedap untuk dipandang begitu saja. Meski garis dan rombongan kepolisian mengelilingi tempat kejadian, siapa saja masih dapat melihat genangan darah segar di atas pijakan kaki. Golok tergeletak tak jauh dari tubuh penuh darah, tepat di sebelahnya terdapat satu tubuh lain yang mana kedua pergelangan tangannya terputus, terpisah dari tubuh asli.
Bau anyir menerobos masuk ke penciuman Yonna, perutnya bergejolak ingin muntah. Tidak sanggup menahan, secepat kilat Yonna turun dari motor Luther yang memang sudah berhenti satu menit lalu, karena banyak pengendara menghalangi jalan untuk melihat apa yang baru saja terjadi.
Sembari menggosok tengkuk Yonna, Luther menyempatkan diri bertanya mengenai apa yang terjadi pada salah satu pejalan kaki.
"Permisi, Mas. Ini ada apa, ya?"
"Kurang tahu juga, Mas. Katanya saling bacok," jawab pejalan kaki tersebut.
Luther mengangguk sebagai respon. Tiba-tiba dia teringat ucapan Petunia sebelumnya, ada pria mengamuk di tengah jalan membawa golok.
"Jangan dilihat," Luther mengingatkan Yonna.
"Kita pulang sekarang, kamu naiknya sambil tutup mata aja, pelan-pelan."
Mengikuti arahan Luther, Yonna berhasil duduk sambil menutup mata dan hidung.
"Cepat," cicit Yonna ketika merasa ingin muntah yang kedua kalinya, suaranya juga bergetar merasa takut.
Dengan susah payah, Luther berusaha melewati kerumunan massa. Beruntung motornya tak menabrak seorang pun. Setelah jauh dari kerumunan, barulah Yonna bisa bernapas lega. Kejadian hari ini menjadi yang ke-dua setelah penyerangan di pasar malam. Tidak tahu bagaimana Yonna akan merasa tenang setelah ini.
"Akhir-akhir ini, kok, banyak banget kejadian penyerangan. Kenapa gitu, loh?" oceh Yonna sembari menuruni motor.
"Aku juga nggak tahu."
"Sumpah, Luther. Perisitiwa ini berasa teror, tahu nggak?"
"Cantik aku, jangan mikir kejauhan. Mending sekarang kamu masuk."
/////
Keluar dari kamar mandi, Yonna memakai gaun tidur berwarna biru malam. Kaki jenjangnya yang tertutupi gaun melangkah menuju dapur, ia ingin mengambil jus kemasan dari lemari es.
"Bibi, nanti masak banyak-banyak, ya? Malilah datang ke rumah malam ini."
"Siap, Non. Nanti Bibi masak udang goreng kesukaan Nak Malilah, sudah lama dia nggak bertamu." Bibi membantu Yonna mengambil gelas.
"Pasti Malilah teriak kesenangan, Bi, ketemu udang goreng masakan Bibi yang super sedap itu."
"Hehe, Nona bisa aja. Nona mau dimasakkan sesuatu?"
"Masak seperti biasanya aja, Bi."
Bel rumah berbunyi, memanggil penghuni untuk membukakan pintu.
"Biar aku aja, Bi. Itu pasti Malilah," cegat Yonna saat bibi hendak membukakan pintu.
"Selamat malam, Yonna!" Malilah melompat ke dalam pelukan Yonna.
"Malam. Kau sendiri, nih?" tanya Yonna melihat motor matic yang terparkir di halaman rumahnya.
"Iya, Kak Maya lagi pergi sama pacarnya."
"Oh. Ayok, masuk. Tadi pulang sekolah aku sudah beli roti, beragam isian."
"Woah! Rugi, nih, Kiya nggak ikut."
"Betul! Nanti kita pamer di grup."
"Bibi!! Lama tidak bersua." Malilah memeluk Bibi erat, menyampaikan kerinduannya kepada pengurus rumah Yonna sejak masih dalam perut.
"Nak Malilah ke mana aja? Nggak pernah datang lagi."
"Hehe, maaf, Bi. Ayah sama Kakak sibuk terus, jadi nggak ada yang jaga rumah."
"Oalah, selamat bersenang-senang kalau begitu."
"Siap!"
Malilah membantu membawa gelas dari atas nampan dalam genggaman Yonna.
"Pakai subtitle nggak, nih?" tanya Malilah setelah menemukan film yang mereka cari.
"Pakai, dong. Biar sering nonton, aku belum bisa bahasa Thailand."
"Sip, sini!" panggil Malilah sambil menepuk-nepuk permukaan tempat tidur.
Keduanya menikmati film besutan Atsajun Sattakovit itu, meskipun bercerita tentang gangster, terdapat banyak nilai-nilai positif yang dapat diambil. Terutama tentang betapa kuatnya ikatan persahabatan.
Yonna menahan air matanya menyaksikan Gun—pemeran utama—berusaha menyembunyikan luka tusukan dan berjalan seperti biasa menuju mobil agar teman-temannya tak menyadari kondisinya. Meski Gun berhasil mengelabui yang lain, tidak dengan tubuhnya, Gun pada akhirnya pingsan sesaat setelah turun dari mobil ketika sampai di rumah perempuan yang menunggunya beberapa waktu lalu.
"Kasihan, Nem," cicit Malilah sebelum melahan roti isi cokelat.

Book Comment (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters