logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Kapak Berdarah

"Lilah! Gimana caranya bawa bonekamu yang sebesar ini?" tanya Kak Maya—kakak Malilah—ketika menyusul adek satu-satunya itu.
"Bonceng tiga," sahut Yonna.
"Bonceng tiga gimana? Si Lilah mau ditaruh di mana? Roda?" Kak Maya tertawa kecil membayangkan adeknya berputar-putar di ban motor.
"Tega banget jadi Kakak, masa adeknya yang mau disimpan di ban," ucap Malilah kesal.
"Tenang, kakak ipar. Nanti bonekanya aku yang bawa."
"Kakak ipar, apanya? Masih kecil juga, masih SMA! Main sebut kakak ipar aja," cerocos Kak Maya galak.
"Aduh, adek kakak sama aja galaknya," gumam Dovis.
"Bercanda, kok, Kak Maya. Jangan dibawa serius, lah," sambungnya.
"Kak May, ikut makan bareng kita, yok. Bakso beranak," ajak Yonna.
"Wih, bakso beranak, nggak sekalian cucunya, nih? Hayuk, lah," terima Kak Maya.
Tiba di stan makanan, mereka menyatukan dua meja sekaligus agar semuanya bisa duduk bersamaan.
Mengabaikan tatapan tak suka dari pendatang lain, mereka mulai memesan makanan dan minuman yang diinginkan. Semua perempuan memesan makanan yang sama, yaitu bakso beranak yang menjadi sorotan di stan tersebut. Sedangkan bagian lelaki, memesan makanan yang lebih bervariasi.
Saat menunggu datangnya pesanan, Petunia izin ke toilet yang kebetulan berada tak jauh dari stan makanan.
Luther menahan tangan Yonna saat gadisnya itu hendak menambah satu sambal lagi, dan justru mengarahkan satu sendok penuh sambal itu ke dalam mangkoknya. Membuat sang empu tangan, cemberut tak terima.
"Jangan kebanyakan, nanti perut kamu sakit."
"Sedikit lagi," pinta Yonna penuh harap, tetapi mendapat penolakan tidak terbantahkan dari Luther.
"Nurut aja dulu, Yon. Nanti kamu bisa bungkus satu, buat dimakan di rumah. Nah, habis itu, kamu bisa tambah sambal banyak-banyak tanpa doi tahu," tutur Kak Maya seraya mengedipkan mata kirinya.
Yonna tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya setuju, sambil melirik Luther yang berakting seolah tidak mendengar saran nakal Kak Maya. Luther tahu pasti gadisnya tidak akan melakukan hal tersebut. Lagi pun, dia melarang Yonna mengonsumsi banyak cabai demi kesehatan lambungnya.
"Eh, teman kalian yang tadi kenapa lama sekali di toilet? Ini kuah baksonya sampai dingin, loh," tanya Kak Maya mengarah pada mereka semua.
"Kyaaaa!!! Tolong!!"
Teriakan cempreng tersebut langsung menarik perhatian seluruh pengunjung pasar malam yang berada di sekitar lokasi itu. Nampak seorang gadis dengan gaun berwarna kuning berlari panik keluar dari arah toilet.
"Itu Siri, 'kan?" Malilah menoleh menatap Yonna yang berdiri dari posisi duduknya.
"Dia kenapa?" tanya Akia membiarkan dahinya mengernyit heran.
Tanpa menjawab satu pertanyaan pun, Yonna berjalan tergesa mendekati Siri. Ditangkapnya tubuh perempuan itu sebelum terjatuh akibat tersandung oleh kakinya sendiri.
"Siri? Apa yang terjadi?"
"I-itu! Di sana! Di dalam toilet ada-"
"Kyaaaa!!!"
Teriakan segerombolan wanita lagi-lagi terdengar hampir memecahkan gendang telinga. Semuanya berlarian panik sambil mengangkat sisi bawah rok agar lebih mudah berlari. Seketika mata Yonna membeliak kaget menyaksikan di belakang gerombolan wanita itu ada seorang perempuan bertubuh tinggi besar sedang mengejar yang entah siapa, sambil mengangkat tinggi kapak dalam genggaman kedua tangannya.
Naas, Yonna menyaksikan perempuan bertubuh besar itu berhasil memenggal kepala seorang perempuan yang jatuh tersungkur. Teriakan perempuan malang itu terhenti bersamaan dengan darah segar yang menyembur sangat deras, menciptakan genangan merah, membasahi sepatu pantofel pemilik kapak.
Menyadari keadaan yang menggila, Yonna membantu Siri berdiri, mengajaknya berlari untuk memanggil teman-temannya yang menatap kejadian tadi dengan horor. Tidak ingin membuang waktu, Luther menarik Yonna menuju luar arena pasar dilaksanakan, diikuti yang lain.
"Apa-apaan ini?!" teriak Malilah ketakutan. Matanya melirik ke arah belakang, di mana perempuan berkapak berlari seraya mengayunkan kapak tak tentu arah, mengikuti jalur pelarian mereka.
"Aku belum mau mati, oi! Jadian sama Mak Lilah kesayangan saja belum," pekik Clovis tak terima dengan keadaan yang dia alami.
Terlihat jelas, satu persatu pengunjung yang tidak diberkati oleh Dewi Fortuna berjatuhan bersama aliran darah juga sekaligus menjadi pertanda nyawa sudah melayang tinggi ke udara lepas. Seolah tidak melihat siapa yang berada di hadapan, tangan kejam itu terus saja mengayunkan kapak, mengoyak setiap senti daging yang tersentuh termasuk tubuh lemah anak kecil tak berdosa.
Bahkan, saat ini gagang kapak sudah berubah warna, seakan baru diwarnai dengan cairan merah. Tangisan tak ayal mengikuti setiap bertambahnya nyawa yang meninggalkan raga.
"Tunggu! Petunia mana? Dia tadi ke toilet itu, 'kan?" Yonna menahan Luther untuk berhenti berlari.
"Kenapa berhenti?! Ayo, kamu nggak perlu mikirin dia. Kalau sudah takdirnya, kamu bisa melihat dia besok." Luther kembali menarik gadisnya berlari ke arah parkiran.
"Tapi-"
"Yonna!! To-tolong saya!!" pekik seseorang dari jauh.
Menoleh ke arah pekikan penuh kepanikan, Yonna terkejut melihat ternyata Petunia berusaha melepaskan diri dari genggaman wanita berkapak tersebut.
"Luther! Bagaimana ini?! Aku harus membantunya!"
"Jangan bodoh! Kamu bisa jadi sasaran selanjutnya!"
"Tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" Yonna melepaskan secara paksa genggaman Luther, berlari secepat mungkin untuk membantu Petunia.
"God! Yonna!!" teriak Luther menyusul dari belakang.
"Yo-yonna, to-tolong!" Segala kekuatan sudah dikerahkan Petunia agar bisa terlepas dari seretan wanita itu, di tangan kirinya kapak berdarah masih menggantung menunggu waktu untuk memotong.
/////
"Bagaimana ini?" gumam Yonna kebingungan sembari kakinya terus berlari.
Tanpa pertimbangan apa pun, Yonna menarik lengan Petunia yang mengambang di udara, menggapai tangannya. Karena merasa tarikan semakin memberat, wanita berkapak tersebut menoleh ke belakang. Ia menggeram, tapi kemudian senyum iblis tercetak di wajahnya. Kenapa tidak? Tidak perlu melempar umpan ke-dua, sasaran datang dengan sendirinya.
"Lepaskan dia, monster!" seru Yonna sambil terus menarik Petunia terlepas dari pegangan yang ia sebut monster.
Meskipun si wanita berkapak tidak bergerak sedikitpun, tawa darinya seakan menekan diri Yonna ke permukaan tanah. Meneror melalui tawa.  Dengan kepala terangkat ke atas, muka yang dipenuhi darah korban itu tak berhenti menampakkan kesenangan, gelakannya semakin mengeras.
"Kenapa kau peduli?" tanya wanita itu dengan pancaran yang lebih menyeramkan.
"Apa maksudmu?! Lepaskan!!"
Bukan hanya Petunia, Yonna pun mulai menangis.
"Biarkan dia mati."
"Jaga mulutmu! Monster!!"
"Bukankah kau ingin hidup tenang di masa depan?"
"Tentu! Dan untuk mewujudkannya kau yang seharusnya mati!"
Sekali lagi, wanita berkapak tertawa terbahak-bahak. Namun, pada detik berikutnya, ekspresi wajah itu berubah menjadi datar.
"Salah!" teriaknya kemudian.
Tangan kiri yang semula diam, kini mulai mengangkat kapak setinggi mungkin. Dijatuhkannya tubuh ramping Petunia agar berlutut dalam sekali hentakan.
Sontak keduanya menjadi semakin panik, Petunia meraung-raung memohon agar dilepaskan.
Bersama kepanikan, Yonna mencari cara untuk melawan. Ia melirik tongkat baseball yang tersedia di salah satu stan olahraga, dengan cepat Yonna mengambilnya. Dengan tepat, ia memukul ke arah genggaman tangan pada kapak saat benda itu hampir mengenai Petunia.
Merasakan perih akibat pukulan yang keras, seketika bunyi kapak yang menghantam dasar memasuki pendengaran. Teriakan penuh ketakutan Petunia mereda ketika kapak yang ingin memenggal kepalanya terjatuh.
Memanfaatkan waktu, Yonna menarik lengan Petunia menjauh. Melihat itu, wanita berkapak memancarkan tatapan nyalang, tangannya mengepal kuat.
"Berani sekali kau menghentikanku, gadis kecil!"
Yonna merinding takut, tanpa pikir panjang, ia berlari bersama Petunia menuju parkiran. Kepala Petunia tak henti-hentinya menoleh ke belakang. Ia menangkap amarah besar yang membara dari dalam tubuh wanita berkapak tersebut, berlari tak kalah kencang dengan kapak dalam genggaman, ia menggeram penuh emosi.
"Tunggu kau! Kali ini tidak akan kubiarkan kau hidup!" teriak wanita itu.
"Petunia cepat!"
"Sa-saya capek."
"Tidak ada waktu untuk beristirahat sekarang! Tahan sebentar, kita cari perlindungan."
"Ke mana kalian akan kabur, hah?"
Tiba-tiba, wanita berkapak itu berhasil menghadang jalan mereka. Dadanya naik turun, napas memburu, darah yang mengalir bersama turunnya keringat, memberi kesan horor yang teramat.
"To-tolong Yon-yonna," cicit Petunia sbari bersembunyi di belakang pundak Yonna.
"Tidak ada yang ingin meninggalkan pesan terakhir?" Selangkah demi selangkah wanita itu maju mendekat.
"Berhenti!" tahan Yonna dan langsung diikuti oleh wanita berkapak yang menelengkan kepalanya.
"Kata-kata terakhir? Dipersilakan."
"Bukan aku, tapi kau!"
"Masih berani? Hebat juga. Oh! Sayang sekali waktu habis, saatnya berpisah dengan nyawamu."
Setelah menyaksikan kapak itu bersiap mengambil nyawa mereka, Petunia berteriak keras. Jari-jarinya meremas pundak Yonna yang menegang.
Namun, bukannya Yonna atau Petunia yang tumbang, justru si wanita berkapak kini terbaring dengan mata membelalak kaget. Kapak jatuh tergeletak bersama dengan pemiliknya. Setelah tiga buah timah panas menembus jantungnya dari arah belakang.
"Ti-tidak lagi! A-ku Pertez ... akan kemba-" gumaman wanita tersebut berhenti sebelum selesai diucapkan karena nyawanya sudah melepaskan diri.
Sempat mengerutkan keningnya mendengar ucapan lirih wanita yang mengaku Pertez itu, Luther melempar senjata yang dia gunakan. Berlari melewati mayat monster dan menarik Yonna ke dalam eratnya pelukan.
"Luther."
"Kamu ini! Argh! Jika aku terlambat, kamu pikir apa yang terjadi, hah?"
"Maaf, Luther. Tapi sekarang aku aman, kita semua sudah aman. Kamu menyelamatkan kami." Yonna mengeratkan pelukannya.
"Jangan seperti itu lagi," pinta Luther lembut. Tetapi tidak selembut tatapan yang dilayangkannya ke arah Petunia. Perempuan itu tengah memeluk lututnya sendiri.
"Ayo, kita ke parkiran. Yang lain pasti khawatir menunggu di sana."
Masih di dalam pelukan Luther, Yonna mengangguk dan ikut berjalan. Sebelum melangkah, tidak lupa ia mengajak Petunia.
Tidak berselang lama, rombongan kepolisian mulai berdatangan, menyisir lokasi kejadian.
"Luther! Yonna!" panggil Malilah panik.
"Kalian tidak apa-apa, 'kan?" tanya Akia memeriksa diri Yonna.
"Nggak, kok. Kami semua aman," jawab Yonna.
"Sumpah! Kau bikin kita semua hampir mati ketakutan tahu, nggak?!"
"Maaf semua, aku cuma nggak bisa biarin Petunia begitu aja."
"Iya, kami ngerti, tapi nggak gitu juga caranya, Yon," kesal Malilah lagi.
"Terus aku harus gimana? Nunggu sampai monster itu bawa Petunia makin jauh, tersu di- nggak bisa."
"Setidaknya kau jangan langsung lari menerobos jalur, omongin dulu ke kita. Nanti kita bisa cari cara bareng," timpal Dovis.
"Nggak ada waktu buat diskusi, Dove."
Malilah membuang napas kasar.
"Sudah! Lupakan semuanya. Sekarang kalian sudah aman, Petunia juga nggak ada luka serius selain tergores. Polisi mengambil alih. Lebih baik kita semua pulang, keluarga kita pasti khawatir," lerai Akia.
"Petunia, kau pulang sama siapa?" tanya Yonna sebelum menaiki motor Luther.
"Sa-sama Papi, di-dia yang jemput sa-saya."
"Mau aku temanin sampai Papi mu datang?"
Mendengar tawaran Yonna, Luther mendecak malas.
"Ti-tidak perlu. Sa-saya bisa sendi-sendiri."
"Yasudah, kami duluan."
"Iya, ha-hati-hati!"

Book Comment (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters