logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Hopeless

Hopeless

By Wan


Anak baik

---
Seorang guru wanita berpakaian modis berjalan memasuki ruang kelas yang ribut. Guru itu berdiri membelakangi papan tulis dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Beberapa kelompok siswa tengah mengobrol sembari memainkan ponsel mereka. Gadis-gadis sibuk menerapkan make-up dan menata rambut mereka. Tidak ada satupun siswa dikelas itu mempedulikan kehadiran guru meskipun mereka melihatnya. Jelas sekali, para siswa itu mengabaikan sang guru.
"Kelas dua, sudah saatnya pelajaran." guru itu berbicara.
Tidak ada respon dari anak-anak itu. Mereka tetap dengan apa yang mereka lakukan.
Raut wajah guru wanita itu mulai terlihat kesal. Dia mendengus, lalu mengulangi ucapannya.
Masih tidak ada respon dari para siswa itu. Guru itu mulai kehilangan kesabaran. Dia membanting buku tebal yang dibawanya ke meja. Para siswa serempak menoleh dan mengehentikan kegiatan mereka.
Guru wanita tersenyum pahit. Wajahnya menunjukkan kepasrahan. Anak-anak ini benar-benar tidak memberi wajah kepadanya sama sekali, meskipun dirinya adalah wali kelas. Sebenarnya, jika boleh jujur, dia sangat enggan mengajar disekolah ini. Sayang sekali tidak ada pilihan lain.
"Pelajaran akan dimulai. Tapi, sebelum itu, tolong sambut teman baru." Guru melambaikan tangannya ke arah pintu. Setelahnya, terlihat sesosok remaja bertubuh tambun memasuki ruang kelas.
Sebagai siswa baru, dia berdiri di depan kelas sementara wali kelas memperkenalkannya kepada para siswa.
"Hari ini kita kedatangan teman baru. Nah, Alvin, teman-teman pasti penasaran tentang mu. Ayo sapa dan perkenalkan dirimu pada teman-teman sekelas." Guru wanita itu tersenyum dangkal dan mempersilahkannya untuk melakukan perkenalan.
"Hai semuanya. Namaku Alvin Wilson. Senang bertemu dengan kalian semua." Alvin mengakhiri perkenalan sederhananya dengan sedikit senyum.
Hening. Tidak ada yang menjawab sama sekali.
Alvin mengangkat pandangan menyapu seisi kelas. Sesaat kemudian dia menundukkan kepalanya kembali. Seperti yang sudah dia duga, tak satupun siswa terlihat senang padanya. Mereka bahkan tidak memberinya pandangan lebih dari dua detik. Dia tahu, selalu seperti ini setiap kali. Terkadang Alvin berpikir apa karena penampilan? Memang, penampilannya tidak menarik. Dengan gaya rambut yang sering disebut sebagai 'gaya mangkuk' , kacamata yang bertengger di hidung, juga bentuk tubuh yang tidak bisa disebut langsing, wajah yang tidak tampan dan juga sifat yang pendiam, membuat udara disekitar remaja itu menjadi suram dan dia dijauhi oleh semua orang. Meskipun biasanya juga diabaikan, namun dia masih merasa tidak nyaman.
Guru kelas menunjukkan dua kursi kosong di barisan belakang.
"Silakan duduk di kursi mu. Aku akan segera memulai pelajaran."
"Terima kasih," Alvin mengangguk sopan pada guru kelas lalu berjalan menuju kursinya tanpa ragu ragu.
Segera setelah itu guru kelas memulai pelajaran. Alvin yang baru saja duduk, melirik kursi kosong disebelah ku. Kursi itu bersih, begitu juga mejanya. Itu artinya ada pemilik nya. Sudah terlambat namun pemilik kursi itu belum datang. Alvin benar-benar tidak ingin peduli tapi hatinya sedikit penasaran pada teman sebangku ini.
Setengah jam pelajaran berlalu. Semua orang tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang menerobos masuk ke kelas. Itu adalah anak laki-laki. Meskipun seragamnya tidak di kenakan dengan benar, namun di gabungkan dengan wajah tampan dan tubuh tinggi, itu malah terlihat sangat bagus.
Biasanya, kehadiran orang dengan penampilan baik akan menarik perhatian. Begitu pun sekarang. Para gadis dikelas ini segera berbisik diantara mereka sendiri. Alvin mendengar beberapa bisikan seperti ' yah Cael selalu tampan seperti biasanya' dan juga 'lihat rambutnya yang acak-acakan, benar benar seksi' dan semacamnya. Benar juga, perlakuan seseorang yang tampan dengan yang tidak jelas sangat berbeda. Lihat dia, meskipun jelas-jelas berpenampilan sembrono, murid-murid lain masih mengagumi nya.
Guru kelas mengernyit. Ia sedikit kesal karena seseorang yang sepertinya selalu terlambat ini telah mengganggu ketenangan para siswi.
"Kau terlambat lagi, Michael." Guru itu menegur dengan dingin.
Mendengar teguran guru, Michael mengabaikannya dan hanya memasang senyum sembrono di wajahnya lalu melenggang menuju kursi barisan belakang.
Yang dia tuju adalah kursi disebelah Alvin. Setelah bertemu dengan teman sebangku, Alvin menjadi gugup. Itu karna senyum Michael digantikan dengan ekspresi tidak suka ketika tatapan mereka bertemu. Aura Michael mengintimidasi. Dari sini Alvin menebak bahwa Michael pastilah siswa penindas. Memikirkan itu, hatinya menjadi lebih gugup lagi. Alvin sudah pernah mengalami penindasan di sekolah sebelumnya. Jika dia bertemu dengan siswa semacam ini dihari pertama bersekolah,bahkan menjadi teman sebangku nya, bukankah itu terlalu banyak?
Sejak Michael duduk, Alvin tidak bisa tenang. Dia bahkan tidak berani melihat ke samping. Hanya setelah tidak mendengar kata-kata ancaman atau apapun yang dia takutkan, Alvin memberanikan diri melirik teman sebangku ini. Ternyata Michael tertidur. Syaraf tegang mulai rileks perlahan. Sambil membuang nafas Alvin berfikir, dia benar-benar tidak menyukai perasaan seperti ini. Tidak apa-apa jika dia diabaikan. Tapi sungguh tidak ingin ditindas lagi.
Begitu pelajaran berakhir, Michael meninggalkan kelas tanpa menoleh kebelakang. Alvin sedikit bingung. Bukankah dia tidak menyukainya? Dia seharusnya terganggu karena Alvin duduk disebelahnya. Juga, bukankah dia memelototinya sebelumnya? Tapi dia tidak berbicara ataupun melakukan apa-apa. Apakah Alvin terlalu banyak berpikir?
Alvin yang tidak menemukan jawabannya, hanya bisa melupakannya untuk sementara waktu. Akan lebih baik jika Michael mengabaikannya juga.
Alvin pergi ke kantin untuk makan siang. Dia yang tidak tahu dimana letak kantin itu, tersesat dua kali dalam prosesnya. Bukannya dia tidak ingin bertanya, namun dia pikir, jika bertanya mereka pasti akan mengabaikan dia. Jadi yang terbaik adalah diam-diam mengamati beberapa siswa yang perkirakan akan pergi ke kantin dan mengikutinya.
Setelah akhirnya dia menemukan kantin, Alvin duduk sendirian dengan kotak makan siang di tangannya. Dia memilih meja yang masih kosong dan duduk disana. Tapi entah kenapa para siswa yang sedang makan itu tiba-tiba mengehentikan kegiatan mereka dan menatap Alvin dengan ngeri. Merasakan tatapan tidak menyenangkan itu, Alvin menjadi agak kesal.
Kemudian para siswa mengalihkan pandangan mereka kearah pintu. Alvin mengikuti arah tatapan orang-orang, lalu mendapati sekelompok anak laki-laki sekitar lima orang, berjalan dengan sombong memasuki kantin.
Penampilan mereka semua tidak jauh dari preman sekolah. Aura mereka mengintimidasi. Cara bicara mereka juga kasar. Tiba-tiba Alvin sadar. Para siswa ini melihatnya seperti itu bukan ingin menyudutkan dirinya, tapi karna dia duduk di meja yang biasa pasti ditempati oleh mereka berlima.
Ini benar-benar lelucon. Bukankah adegan ini sangat sering digunakan dalam drama tv? Lalu dari drama mana mereka melompat?
Meskipun ini terasa agak menggelikan, tidak baik memprovokasi mereka. Jika ingin hari-hari yang tenang, paling tepat adalah menghindari masalah.
Dengan begitu, Alvin segera beranjak dari tempat duduknya. Dia membawa makan siangnya dan pergi secepat mungkin.
Setelah keluar dari kantin,Alvin mondar-mandir lagi. Dia kebingungan mencari tempat makan yang nyaman ketika dia bahkan belum familiar dengan lingkungan sekolah ini. Setelah beberapa putaran akhirnya Alvin menemukan tempat yang pas. Itu dibawah pohon rindang dengan hamparan rumput dibawahnya.
Dia duduk disana dan makan sendirian, seperti di sekolahnya sebelumnya. Jadi, untuk makan sendirian seperti ini tidak membuatnya canggung.
Alvin kembali ke kelas begitu dia menyelesaikan makanannya. Semua siswa sudah berada di kursi mereka masing-masing, kecuali siswa di sebelah Alvin.
Jam pelajaran berikutnya adalah pelajaran sejarah. Guru yang mengajar sangat berbeda dari yang sebelumnya. Guru ini jauh lebih ramah dan dia memiliki metode belajar yang menyenangkan. Diakhir pelajaran, guru memberikan tugas yang harus diselesaikan bersama teman sebangku. Murid lain bersorak, sementara Alvin melirik ke arah kursi kosong di sebelahnya dengan perasaan bingung. Teman sebangku ini, bagaimana caranya mengajaknya mengerjakan tugas ketika dia terlihat tidak peduli pada pelajaran sama sekali?
Michael tidak muncul sampai sekolah berakhir. Alvin tidak bisa membantu tetapi berpikir bahwa orang ini benar-benar tidak memperlakukan studinya dengan serius.
***

Book Comment (210)

  • avatar
    Istianah01*Siti

    sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya πŸ˜˜πŸ˜šπŸ˜˜πŸ˜—

    04/06/2022

    Β Β 3
  • avatar
    ValentinaRensi

    bagus banget kak

    13/06/2025

    Β Β 0
  • avatar
    DaliahKeukeu

    bagus bnget novel nyaa KA hhuuπŸ₯²

    03/06/2025

    Β Β 0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters