logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Cerita masa lalu

Dita merasa ada yang tidak beres dengan bosnya itu, “Apa semenjak demam tadi ada sesuatu yang membuat kepalanya jadi seperti ini ya apa aku nggak salah dengar? Barusan dia bilang terima kasih dan meminta maaf?” batin Dita, “Bapak bilang apa barusan?” tanya Dita mencoba meyakinkan dirinya bahwa barusan ia tidak salah dengar.
“Apa yang saya ucapkan tidak bisa diulang lagi, kamu kira saya kaset yang bisa diputar berulang-ulang,” sahut Diko kembali ketus.
“Baru aja ku kira dia manusia normal yang bisa minta maaf, eh balik lagi galaknya,” lirih Dita yang masih bisa di dengar oleh Diko.
“Orang bilang telinga saya cukup sensitif dengan perkataan yang menyangkut tentang saya, kalau kamu merasa kesal langsung saja beri tahu saya,” kata Diko.
“Hah dia dengar ternyata. Tidak Pak, tidak ada apa-apa. Sepertinya itu taksi saya, saya permisi ya Pak,” pamit Dita seraya berlari kecil memasuki taksinya agar bisa segera kabur dari Diko.
Diko merasa geli dengan tingkah laku sekretarisnya itu, dan ia juga merasa konyol dengan dirinya sendiri. Tidak pernah ia bersikap demikian dengan wanita lain selain mantannya dahulu, kehadiran Dita dalam hidupnya seakan membawa warna tersendiri. Niat balas dendam yang ingin ia lakukan perlahan sedikit memudar seiring dengan kebersamaan yang ia lalui bersama Dita.
Namun tetap saja ia masih tidak terima dengan pengkhianatan Dina. Ia bertekad menemui wanita itu agar hatinya bisa bebas dari belenggu masa lalunya.
*
*
Di rumah keluarga Dita...
Seorang pria tengah melihat istrinya yang sedang sibuk memasak di dapur. Kemudian ia menghampiri istrinya seraya memeluk dari belakang.
“Harum sekali masakannya, pasti kamu masak rendang favorit aku ya,” ujar Dino seraya mengecup pundak istrinya.
“Hehe iya mas, semoga enak ya,” sahut Dina sambil menaburkan garam pada masakannya, “Kamu cobain dulu,” katanya seraya menyuapi Dino.
“Hmm... enak banget sayang, kayak masakan mami aku dulu,” puji Dino jujur.
“Bener mas? Alhamdulillah, itu artinya aku berhasil bikin sesuai buku resep dari mami ini,” ujar Dina dengan menunjukkan buku resep dari mami Dino.
“Makasih ya, kamu sudah ngobatin rasa kangen aku sama mami lewat masakan kamu,” kata Dino sambil mengelus rambut istrinya.
*
*
Flashback On...
Mami Dita dan Dino telah meninggal sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Kepergian mami mereka membuat Dave papi mereka harus bisa berperan sebagai ayah sekaligus ibu untuk anak-anaknya yang masih kecil dan sangat membutuhkan sosok seorang ibu.
Dave berusaha sebisa mungkin membagi waktunya sepulang kerja untuk tetap bisa menemani anak-anaknya belajar dan membacakan buku cerita sebelum mereka tidur, ia tidak ingin anak-anaknya merasa sendiri karena kepergian maminya dan ia harus pergi bekerja.
Meski tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, Dita dan Dino bisa menjadi anak yang mandiri dan membanggakan untuk Dave papinya. Namun kini Dave terpaksa hanya bisa berdiam di rumah karena setahun yang lalu dokter memvonis dirinya mengidap penyakit jantung.
Untuk itu, ia harus berhenti bekerja dan anak-anaknya yang meneruskan mencari uang untuk kebutuhan keluarga mereka serta pengobatan dirinya. Sebenarnya ia tidak ingin menyusahkan anak-anaknya, ia tetap memaksa ingin bekerja. Namun kondisinya yang lemah tidak memungkinkan karena jika sampai kelelahan maka sakitnya akan kambuh.
Dino memiliki usaha restoran yang ia namakan “Dino’s Restaurant”, karena keahlian memasak yang ia miliki dari hasil mempelajari buku-buku masakan dan buku resep dari maminya dahulu. Untuk menambah pengetahuannya, ia juga menempuh pendidikan di jurusan Manajemen kuliner. Ia memilih jurusan tersebut agar bisa mengelola usaha kulinernya dengan baik, hasilnya restoran yang ia dirikan sekarang telah menjadi salah satu restoran favorit di kotanya.
Dengan menambah 2 cabang lagi, Dino telah membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang sukses untuk bisa membahagiakan papi dan adiknya. Sampai ia bertemu dengan Dina yang sekarang telah menjadi istrinya.
Dino dan Dina bertemu saat peresmian cabang salah satu restoran Dino, saat itu Dina masih menjadi kekasih dari Diko. Namun pertemuannya dengan Dino menimbulkan suatu hal berbeda yang belum pernah ia rasakan saat sedang bersama Diko. Terlebih lagi di usia mereka yang sudah siap untuk menikah, Dina belum juga mendapat kepastian dari Diko yang mau membawa kemana arah hubungan mereka.
Diko selalu beralasan jika ia belum siap kalau harus menikahi Dina saat itu karena usia mereka terpaut 3 tahun, Diko lebih muda dari Dina. Ia selalu menunda-nunda untuk memperkenalkan Dina pada orang tuanya. Hal itu membuat Dina merasa bukan menjadi prioritas Diko, terlebih Diko sedang sibuk-sibuknya bekerja karena ia baru mendapat posisi CEO menggantikan ayahnya yang telah pensiun.
Di lain sisi hubungan Dina dan Dino menjadi semakin dekat karena Dina yang bekerja sebagai salah satu pelayan di restoran Dino membuat keduanya harus bertemu setiap hari. Terlebih Dino adalah sosok pria yang baik dan sangat perhatian pada Dina dan keluarganya. Hingga Dino memberanikan dirinya untuk melamar Dina dengan membawa papi dan adiknya Dita, ia langsung mendatangi rumah orang tua Dina untuk melamar putri mereka.
Dina bimbang, kebersamaan dengan Dino membuat cintanya pada Diko perlahan memudar. Ia harus mengambil keputusan, akhirnya ia memantapkan hatinya dengan menerima lamaran Dino dan memutuskan hubungannya dengan Diko.
Hari ini adalah tepat 2 tahun hubungan pacaran Dina dengan Diko. Tepat di saat ini pula Dina telah memantapkan hatinya pada Dino. Dan Dina harus memutuskan hubungannya dengan Diko sekarang juga.
"Happy anniversary my sunshine," kata Diko dengan memberikan sebuket bunga mawar untuk sang kekasih Dina yang sudah menunggunya di taman selama berjam-jam.
Dina melirik jam di pergelangan tangannya, "Jam berapa ini? lagi-lagi kamu telat."
"Maaf sayang, tadi itu aku ada meeting mendadak terus waktu perjalanan kesini juga macet banget jadinya aku telat deh sampai sini. Maaf ya, aku nggak bermaksud buat kamu nunggu lama. Kamu jangan marah dong, aku telat kan juga karena…,” jawab Diko. Namun belum sempat Diko menyelesaikan perkataannya, Dina beranjak dari tempatnya menunggu dan pergi begitu saja.
Lalu Diko mengejar Dina dan berusaha agar pujaan hatinya tersebut mau memaafkannya.
"Please sayang, maafin aku ya. Ini kan anniversary kita masa kamu nggak mau maafin aku,” pinta Diko dengan memasang wajah memelasnya agar kekasihnya itu mau memaafkannya.
Dina hanya diam tidak beranjak dari tempatnya. Merasa tidak dipedulikan, Diko lalu memeluk kekasihnya dan Dina pun menangis meluapkan semua kekesalan nya pada pria yang dulu sangat ia cintai itu.
“Maafkan aku ya sayang, menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Tapi tolong setelah ini cerialah kembali dan kita rayakan anniversary kita yang tersisa 4 jam lagi,” goda Diko sambil berbisik ditelinga Dina.
Dina pun lantas tertawa mendengar perkataan Diko yang menurutnya sangat lucu itu. Kemudian mereka pun pergi makan malam dan menghabiskan sepanjang malam itu untuk merayakan anniversary mereka yang ke 2 tahun.
Dina ingin membuat kesan yang baik di akhir hubungannya dengan Diko. Ia tidak ingin jika mereka sudah putus nanti Diko akan menganggapnya sebagai musuh. Untuk itu ia berharap Diko mau memahami keadaannya dan mereka bisa berpisah secara baik-baik.
“Diko, ada hal yang ingin aku bicarakan.”
“Apa itu? Katakan saja.”
“Aku mau... kita putus.”
Hening...
Diko hanya menatap Dina dengan pandangan yang sulit diartikan.
Putus...
Putus...
Putus...
Dina kekasih yang sangat Diko cintai ingin putus, di saat Diko akan berniat serius dengan melamarnya. Namun yang ia dapat bukan kebahagiaan melainkan kata putus. Diko tidak bisa berkata apa pun saat Dina mengucapkan kata itu. Ia tidak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana saat kekasihnya menginginkan hubungan mereka berakhir.
“Aku ingin kita tetap bisa menjadi teman baik ya Diko, aku harap kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari aku suatu saat nanti,” ujar Dina menahan air matanya.
“Kenapa kamu tega melakukan ini ke aku?” tanya Diko akhirnya, “Apa kurangku selama ini ke kamu? Aku jadikan kamu wanita satu-satunya yang aku cintai, aku bekerja keras siang dan malam demi masa depan kita kelak, tapi apa yang aku dapat malah kata putus dari kamu. Aku nggak nyangka kamu bisa setega ini sama aku,” ungkap Diko sangat kecewa.
“Maafkan aku Diko, sejujurnya sudah ada pria lain yang lebih dulu melamarku dan... minggu depan kita akan segera bertunangan,” lirih Dina.
DUAAAR!!!
Bagai tersambar petir, Diko merasa dipermainkan oleh takdir. Selain rasa sakit ia juga sangat kecewa karena Dina lebih memilih pria lain dibanding dirinya yang sudah berjuang bersama dari awal.
“Sekali lagi aku minta maaf Diko, aku nggak mau menyakiti kamu lebih dalam lagi. Aku harap kamu bisa maafkan aku ya, aku pamit,” ujar Dina yang tidak bisa lagi membendung air matanya, dan ia pun berlalu pergi meninggalkan Diko yang mematung di tempatnya.
“Aku bersumpah nggak akan pernah membiarkan kamu dan keluargamu bahagia Dina, siapa pun yang berhubungan denganmu nggak akan pernah aku biarkan hidup tenang,” sumpah Diko pada dirinya.
Flashback Off...
*
*
*
Next...

Book Comment (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters