logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Merawat Bapak CEO

Tak ingin berdebat lebih jauh, Dita mengangguk tanda setuju dengan permintaan Diko untuk menemaninya sampai ia sembuh. Akhirnya Diko mau meminum obat penurun demam yang diberikan oleh Dita. Setelah itu ia beristirahat lalu Dita memberikan kompres di kening Diko agar panasnya segera turun.
Dita mengerjakan tugasnya di ruangan Diko sambil sesekali mengecek keadaan Diko, beberapa jam berlalu demamnya mulai turun dan kesadaran Diko perlahan mulai kembali. Diko mencoba membuka matanya yang terasa berat, ia mendapati dirinya tengah berbaring di sofa ruang kerjanya ditemani oleh Dita di sampingnya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Apa yang terjadi dengan saya?” tanya Diko lirih seraya mencoba bangun perlahan dari tidurnya.
Dengan sigap Dita mendekati Diko lalu membantunya untuk bangun, “Pelan-pelan ya Pak... Tadi Bapak demam, saya kasih obat lalu saya kompres setelah itu bapak tidur sampai sekarang baru bangun,” jawab Dita menjelaskan.
“Saya demam? Ahh... pantas saja pusing sekali rasanya,” sahut Diko seraya memijit keningnya, “Jadi dari tadi kamu yang merawat saya?”
Dita mengangguk, “Saya sudah menyelesaikan laporan untuk meeting besok dan dokumen yang di meja Bapak juga sudah saya cek dan saya rapikan kembali, jadi besok Bapak tinggal presentasi saja,” ujar Dita sambil meletakkan dokumen di meja kerja Diko.
“Sebaik ini wanita yang akan aku sakiti, apakah aku tega menyakiti wanita sebaik dia demi ambisiku membalas dendam pada kedua kakaknya?” batin Diko bertanya-tanya seraya menatap pada Dita tak berkedip.
“Pak Diko anda baik-baik saja? Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa anda?” tanya Dita membuyarkan lamunan Diko.
“Ahh, tidak... tidak perlu. Saya sudah baik-baik saja, sepertinya saya terlalu lelah dengan padatnya jadwal pekerjaan minggu lalu,” kata Diko.
“Ya dan sebaiknya Bapak segera pulang untuk beristirahat dengan cukup, karena besok kita akan ada meeting dengan seluruh karyawan,” kata Dita mengingatkan.
“Kamu benar, sepertinya saya perlu beristirahat yang cukup. Kalau begitu mari kita pulang bersama,” ajak Diko.
“Pulang bersama, maksud Bapak?” tanya Dita tidak paham maksud ajakan Diko.
“Ya, saya akan mengantar kamu pulang. Daripada kamu naik kendaraan online lebih baik saya antar, anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya.”
“Ehm... Terima kasih sebelumnya Pak, tapi saya bisa pulang sendiri,” tolak Dita sehalus mungkin.
“Tidak perlu merasa sungkan Ta, saya tidak suka berhutang budi.”
“Saya tidak menganggap yang saya lakukan ke Bapak tadi adalah hal yang perlu untuk balas budi,” sahut Dita tegas.
“Tapi tetap saja saya tidak bisa menerima kebaikan orang lain dengan percuma.”
“Jadi maksud Bapak, semua kebaikan bisa diukur dengan materi?” tanya Dita dengan nada sedikit meninggi.
“Bu.. Bukan begitu maksud saya.” Diko bingung menjelaskan maksudnya kepada Dita yang membuat salah paham kembali terjadi di antara mereka.
“Sudah malam, saya permisi pulang dulu Pak. Selamat malam,” pamit Dita seraya pergi dari ruangan Diko meski tanpa persetujuannya.
“Diko... apa sih yang kamu lakukan, selalu saja buat salah paham,” ujar Diko menyalahkan dirinya sendiri, “Aku hanya ingin mengantarnya pulang, hanya saja tidak ada alasan yang tepat. Aku tidak ingin dia merasa aku mulai merasa tertarik padanya,” gumamnya lagi.
“Selalu saja kata-kata menyakitkan hati yang keluar dari mulutnya, kalau saja bukan bosku sudah ku... hrrrr!!” batin Dita merasa geram.
*
“Kamu kenapa Ta?” tanya Joe tiba-tiba datang menghampiri Dita yang sedang menunggu taksi online di depan lobi kantor.
“Eh Joe, nggak ada apa-apa. Hanya merasa sedikit kesal saja,” ujarnya seraya melipat kedua tangan di depan dada.
“Pasti kesal sama bos kamu ya?” tebak Joe yang sangat tepat sasaran, “Sepertinya tiada hari yang Beliau lalui tanpa membuat karyawannya merasa kesal ya, hehe...,” kata Joe seraya terkekeh pelan.
Dita hanya tersenyum tak ingin menanggapi dan membahas lebih jauh tentang bos galaknya itu. Namun siapa sangka, orang yang sedang mereka bicarakan malah sedang berjalan dengan santainya ke arah mereka.
“Panjang umur rupanya, kamu sudah pesan taksi kan aku pamit duluan ya, daaah...,” pamit Joe segera pergi sebelum bos galak menghampiri mereka.
Dita melihat malas ke arah bosnya itu, ia memilih berpura-pura tidak melihat sambil memainkan game di ponselnya, “Duh.. ngapain mesti ketemu lagi sih,” gerutunya dalam hati.
Diko menghampiri Dita yang tengah sibuk bermain game di ponselnya, “Kamu belum pulang juga, mau saya antar?” tawar Diko.
“Pak Diko, tidak perlu pak terima kasih. Taksi saya sebentar lagi datang,” tolak Dita sesopan mungkin.
“Oke, kalau begitu biar saya temani sampai taksi kamu datang,” ujar Diko seraya mengambil tempat untuk berdiri di samping Dita.
“Eh Pak, tidak perlu seperti ini. Saya bisa sendiri kok, biasanya juga sendiri tidak apa-apa,” tolak Dita lagi, “Sebaiknya Bapak segera pulang, nanti sakit lagi loh.”
Diko menggeleng, “Saya sudah merasa jauh lebih baik, itu semua berkat kamu. Terima kasih ya, dan... saya juga minta maaf jika perkataan saya tadi menyakiti hati kamu,” lirihnya.
*
*
*
Next...

Book Comment (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters