logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 38 Lebih dekat

“Dia di sini?” tanya Adrian mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran namun tak menemukan siapa pun selain Dita dan Daniel yang berjalan ke arahnya.
“Iya, itu dia kemari,” tunjuk Dino pada Dita, “Dia adikku, namanya Dita. Bagaimana menurutmu?”
“Jadi... Dita... dia adikmu?” tanya Adrian memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Iya Dita adik kami,” timpal Dina yang baru datang, “Cantik bukan?” godanya.
“Kalau Dita adik kalian, lalu anak kecil itu...”
“Mommy...,” seru Daniel seraya berlari memeluk Dina.
“Ini yang sejak tadi kamu minta, sudah puas sayangku?” ucap Dita memberikan es krim pada Daniel seraya mencubit gemas pipinya.
“Aku kira anak ini anaknya, karena tadi dia memanggil Dita mama,” kata Adrian yang membuat semua tertawa dengan pernyataan polosnya.
Dita menatap tajam pada Adrian, “Memang tampang saya kayak ibu-ibu ya sampai Bapak kira udah punya anak,” kesalnya.
“Maaf, habis wajah kalian juga mirip hehe. Maaf ya...,” pinta Adrian seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu di jawab anggukan oleh Dita.
“Tunggu... tunggu... Kenapa kalian sepertinya akrab sekali, apa kalian sudah saling mengenal?” selidik Dino.
“Ya, Dita ini sekretarisku di kantor yang baru,” terang Adrian.
“Dia CEO baru yang aku ceritakan kak,” timpal Dita.
“Ya Tuhan... dunia sempit sekali ternyata, baru saja aku ingin mengenalkan kamu pada Iyan. Ternyata kalian malah sudah saling mengenal dengan baik,” goda Dino.
“Iyan?” tanya Dita tidak mengerti.
“Iya, jadi Iyan ini Adrian temanku waktu kuliah. Kamu ingat kan dia sering main ke rumah, tapi kamu tidak pernah mau menemuinya dan lebih memilih di kamar,” ucap Dino.
Dita mengangguk paham, ternyata atasannya selama ini adalah sahabat kakaknya sewaktu kuliah.
“Ternyata anak itu bukan anaknya, dan Dita adalah adik Dino yang sejak dulu sangat ingin aku temui. Apakah ini cara Tuhan untuk mendekatkan aku lagi dengannya?” batin Adrian dengan mata yang tak lepas memandang Dita.
Sejak pertemuan Dita dan Adrian di restoran Dino malam itu, hubungan keduanya tidak sekaku biasanya. Sikap keduanya menjadi lebih santai dan jika hanya berdua mereka hanya akan memanggil nama tanpa panggilan formal seperti saat bekerja.
*
1 tahun kemudian...
Adrian memberanikan diri untuk mengatakan jika ia ingin bisa lebih dekat dengan Dita. Ia tahu luka hati Dita tidak akan bisa sembuh dengan mudahnya, namun ia ingin di beri kesempatan untuk membuat wanita yang dalam waktu singkat selama 1 tahun ini telah berhasil mengetuk pintu hatinya yang sedingin es di kutub utara.
Selama 1 tahun ini sikap Adrian yang sedingin es perlahan mulai mencair dengan memberikan perhatian kecil pada sekretaris sekaligus asisten pribadinya itu. Seperti saat ini, Adrian mengajak Dita untuk makan siang bersama di kantin.
Tentu saja hal itu menjadi gosip baru di kalangan para karyawan, namun ia tidak memedulikannya. Baginya, kebahagiaan dirinya tidak ditentukan oleh perkataan orang lain terhadapnya.
Dita yang sudah kebal dengan gosip akan dirinya sejak saat dulu hubungannya dengan Diko yang selalu menjadi gosip hangat di kantor, menunjukkan sikap yang sama cueknya dengan Adrian. Ia merasa tidak merugikan siapa pun, lagi pula ia dan Adrian hanya sekedar makan siang bersama tidak lebih pikirnya.
“Aku salut sama kamu, kamu bisa nggak marah meski mereka bicarain kamu di belakang,” kata Adrian membuka percakapan.
“Untuk apa harus marah? Kita juga hanya makan siang kan. Ada yang pernah bilang padaku, jangan pernah dengarkan kata orang yang nggak ada kontribusinya di hidup kita. Jadi ya selama kita nggak ganggu mereka, dan mereka nggak mengusik kita ya biarkan saja,” ujar Dita santai.
“Memang benar yang kamu bilang, yaudah kita makan ya. Selamat makan,” ucap Adrian mulai menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Dita hanya mengangguk dan mengikuti Adrian untuk makan.
*
Dita yang dulu sangat lemah lembut dan selalu memikirkan perkataan orang lain tentang dirinya telah berubah menjadi pribadi yang lebih tegas dan tidak peduli akan perkataan orang asal mereka tidak mengusik kehidupannya.
Kehilangan akan cinta telah membuat pribadi dan hatinya berubah menjadi keras, dengan bersikap begitu ia berharap tidak akan tertipu lagi dengan manisnya cinta yang telah menghancurkan hatinya.
Ia berusaha membentengi dirinya agar tak kembali jatuh ke lubang yang sama, seperti saat ini meski selama ini Adrian telah berusaha merebut hatinya namun tak sedikit pun ia berniat untuk membuka hati. Entah sampai kapan ia akan mengunci hatinya, ia pun tidak mengerti apa yang sebenarnya hatinya cari.
Ataukah ia masih menunggu sosok itu kembali? Sosok yang telah membuatnya jatuh cinta lalu menghancurkan hatinya berkeping-keping hingga membuatnya sulit percaya kembali akan adanya cinta, atau ia akan menerima pria di hadapannya yang dengan terang-terangan sedang berjuang untuk mendapatkan cintanya?
*
Malamnya, Dita dan Adrian pergi menonton bioskop di salah satu pusat perbelanjaan.
“Kamu mau nonton film apa? Action, horor, komedi, atau yang lain?” tawar Adrian sambil menunjuk beberapa judul film yang sedang tayang.
“Terserah kamu aja mas, aku ikut,” sahut Dita yang tampak tidak semangat.
Sejak mereka dekat, Adrian meminta Dita untuk tak memanggilnya Bapak jika sedang di luar kantor. Jadilah Dita memanggilnya mas untuk tetap menghormati karena Adrian yang sebaya dengan kakaknya.
“Kamu capek ya? Atau mau pulang aja?” tanya Adrian dengan memegang lengan Dita.
Dita menggeleng pelan, “Nggak mas, aku nggak papa. Mas pilih aja filmnya, aku mau beli pop corn,” sahut Dita dengan tersenyum tipis.
Adrian mengangguk, “Aku beli tiketnya dulu.”
Selesai membeli tiket dan pop corn, mereka segera masuk ke dalam teater 1 karena film akan segera di mulai. Adrian memilih film dengan genre komedi romantis, selain ingin menghibur Dita dirinya pun ingin tertawa melepas kepenatan setelah seharian bekerja.
Dita dan Adrian duduk berdampingan di kursi paling belakang, Adrian terpaksa memilih bangku paling belakang karena tempat lain sudah terisi penuh oleh penonton lain yang datang lebih dulu.
Film pun di mulai, sepanjang film di putar Dita hanya sibuk memakan pop corn sambil sesekali melirik filmnya dengan malas. Adrian yang menyadari akan hal itu mencoba menarik perhatiannya agar menikmati film yang mereka tonton.
“Kamu lihat nggak tadi anak kecil itu ketawa lucu banget ya,” kata Adrian setengah berbisik pada Dita.
“Ehm ya mas, sepertinya dia sangat terhibur dengan kehadiran badut itu,” sahut Dita.
Meski seperti tak antusias, namun rupanya Dita cukup menikmati dan mengikuti alur cerita filmnya. Adrian telah salah menilainya, ia mengira Dita tidak suka dengan film pilihannya namun kenyataannya berbanding terbalik. Adrian melirik sekilas Dita yang terkekeh pelan saat adegan lucu di tampilkan, membuat hatinya menghangat melihat wanita yang ia cintai dapat tersenyum kembali.
Tak terasa film pun usai, para penonton mulai meninggalkan area bioskop termasuk Dita dan Adrian. Adrian memberanikan diri menautkan jemarinya dengan Dita untuk bergandengan dan berjalan bersama di sampingnya, Dita yang awalnya merasa kaget akhirnya mencoba menerima perlakuan manis yang coba Adrian tunjukkan padanya.
*
*
*
Next...

Book Comment (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters