Dino’s Restaurant... Seorang lelaki berkaca mata hitam turun dari mobil sedan miliknya, kemudian ia berjalan memasuki sebuah restoran yang sudah cukup lama tak ia kunjungi. Restoran tersebut adalah milik sahabatnya semasa mereka kuliah dulu, dan sejak 2 bulan setelah kembalinya dari luar negeri ia bertemu dengan sahabat yang ternyata adalah pemilik restoran ini. Sejak saat itu restoran Dino menjadi salah satu tempat makan yang paling sering ia kunjungi setiap bulannya selama setahun ini ia berada di Indonesia. “Iyan, akhirnya kamu datang juga. Mau pesan seperti biasa?” tanya Dino setelah bersalaman dengan sahabatnya itu. Adrian melepas kaca matanya, “Yes, biasanya ya. Thank’s bro,” sahutnya antusias. Iyan begitulah panggilan akrab Adrian di kalangan orang-orang terdekatnya. “Makin sukses aja sekarang nih, perusahaan semakin banyak ya di mana mana,” puji Dino seraya berbincang dengan Adrian di salah satu meja. “Apa sih, nggak lah. Justru kamu ini yang restorannya makin sukses, banyak cabang juga kan,” kilah Adrian balik memuji Dino. “Ya syukurlah, kita bisa sama-sama sukses di bidang masing-masing ya,” kata Dino dan Adrian mengangguk setuju. “Tapi aku belum sesukses kamu kalau di bidang asmara,” kata Adrian dengan tertawa renyah. Dino pun ikut tertawa, “Kamu tampan, sukses, punya segalanya. Pasti banyak wanita yang mengantre kan, kenapa tidak pilih salah satu dari mereka?” Adrian menggeleng, “Tidak ada yang seperti hatiku mau haha,” candanya, “Cobalah kamu carikan untukku, siapa tahu sesuai dengan yang aku mau,” usulnya. “Serius kami mau kucarikan?” tanya Dino memastikan. Adrian mengangguk lalu meminum jusnya yang sudah dihidangkan bersamaan dengan makanan yang ia pesan, “Tentu saja, kenapa nggak.” “Aku punya satu kandidat yang sepertinya cocok denganmu, tapi dia baru saja di putuskan kekasihnya. Jadi mungkin agak lama untuk siap memulai hubungan lagi, tapi kalau untuk berteman sepertinya nggak masalah,” kata Dino. “Boleh, kenalkan saja padaku. Tapi kamu sudah kenal baik dengannya kan?” “Tentu lah, mana mungkin aku menjodohkanmu dengan wanita sembarangan,” sahut Dino sambil terkekeh pelan. “Siapa dia? Apa aku mengenalnya?” “Kalian belum pernah bertemu, karena dulu setiap kamu main ke rumahku dia pasti akan selalu mengurung diri di dalam kamar.” “Tunggu... Apa dia adikmu?” tebak Adrian. Dino mengangguk mantap, “Ya adikku, apa kamu mau berkenalan dengannya?” “Ya, tentu aku mau. Sejak dulu aku selalu penasaran ingin bertemu adikmu, tapi sampai kita lulus dan aku pindah ke luar negeri belum sempat sekali pun bertemu dengannya,” sahut Adrian. “Syukurlah kalau kamu mau, biasanya dia sering kesini sepulang kerja untuk membantuku menjaga restoran. Tapi semenjak dia semakin sibuk dengan pekerjaannya, jadilah hanya akhir pekan saja dia bisa membantuku di sini,” terang Dino. Mereka terus berbincang sambil menunggu Adrian menghabiskan makanan yang ia pesan. Tak berapa lama, Dita datang dengan membawa Daniel dalam gendongannya. Dita mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran untuk mencari sosok Dino kakaknya, ternyata Dino sedang asyik berbincang dengan seseorang yang duduknya membelakangi dirinya. Dino melihat kedatangan Dita segera pamit pada Adrian untuk menemui adiknya sebentar. “Panjang umur banget, itu adikku datang Yan,” ujar Dino seraya menunjuk Dita. Begitu Adrian menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok adik Dino, Dita sudah masuk ke ruangan Dino bersama dengan Daniel. “Aku temui dia dulu ya, kamu nikmati saja makanannya. Jangan sungkan untuk pesan lagi, nanti aku segera kembali,” pamit Dino segera menyusul Dita masuk ke dalam ruangannya. Adrian hanya mengangguk dan kembali menikmati makanan di hadapannya. * “Duh kak, ini Daniel tumben loh rewel terus sama aku. Minta di anter kesini ketemu kalian, yaudah ku bawa aja kesini,” keluh Dita seraya menghempaskan tubuhnya di sofa empuk dalam ruangan Dino. “Kayaknya dia nggak sekangen itu sama kita ya, ada yang di mau ya sama Daniel?” tanya Dina pada putra tersayangnya. Daniel mengangguk, “Nta ec kim (minta es krim),” celotehnya. “Tuh kan, yaudah sana dek kamu antar ke depan minta sama pelayan bawain es krim kesukaannya,” pinta Dino. “Aiih, baru aja duduk nih,” keluh Dita. “Hehe tolong ya adekku sayang, kita harus selesaikan laporan penjualan dulu,” pinta Dina memohon. “Iya oke, ayo anakku sayang ikut mama Dita ya,” ujar Dita seraya menggandeng Daniel yang sudah bisa berjalan sendiri. Sejak mulai bisa berbicara, Daniel tak mau memanggil Dita dengan sebutan onty seperti yang selama ini mereka ajarkan. Dengan spontannya, bayi mungil yang kini beranjak balita memanggil sendiri tantenya itu dengan sebutan “mama” jadilah hingga sekarang sebutan itu melekat dan menjadi gelar baru untuk Dita. Sedangkan untuk Dina ibu kandungnya, Daniel sudah bisa memanggilnya “Mommy”. Dita menggandeng tangan mungil Daniel keluar dari ruangan Dino, dan berkeliling restoran mencari pelayan yang biasa mereka minta tolong untuk membuatkan es krim kesukaan Daniel. “Mana ya chef yang biasanya, kalau Dan lihat kasih tau mama ya,” pinta Dita. Daniel mengangguk mengerti, mereka terus berkeliling dan berhenti tepat di belakang Adrian yang sedang menikmati es krim sebagai makanan penutupnya. “Ec kim ma, tu,” celoteh Daniel yang menunjuk es krim milik Adrian. Merasa ada yang berbicara di belakangnya, sontak Adrian menoleh dan melihat Dita yang sedang menggandeng seorang anak kecil yang ia pikir adalah anak Dita. Karena samar ia dengar anak kecil itu memanggil Dita dengan sebutan mama, jadi ia pikir itu memanglah anak Dita. Adrian tak menyangka, bahwa sekretaris sekaligus asisten pribadinya itu telah memiliki seorang anak. Ia merasa kesempatan untuk mendekati Dita telah pupus saat itu juga. “Di.. Dita...,” sapa Adrian lalu berjalan menghampiri Dita. Dita tak menyangka akan bertemu atasannya di restoran ini, segera ia menggendong Daniel yang mulai merengek karena es krim yang di mau belum ia dapatkan. “Pak Adrian... Bapak makan di sini?” tanya Dita lalu Adrian mengangguk. “Apa anak ini... Anak kamu?” tanya Adrian hati-hati. “Ma.. nta ec kliim, ckalang! (minta es krim sekarang!),” rengek Daniel akan menangis. “Iya.. iya sayang, sabar ya. Maaf Pak saya permisi dulu ya,” pamit Dita segera membawa Daniel ke tempat chef yang berdiri di depan etalase es krim, tanpa menjawab pertanyaan Adrian yang masih mematung di tempatnya sambil melihat dari kejauhan Dita yang menggendong Daniel. “Mereka mirip, apa benar itu anaknya,” gumam Adrian lalu mendapat tepukan di bahunya dari Dino yang membuatnya tersadar. “Sorry ya jadi lama nunggu, kenapa berdiri di sini?” tanya Dino mengernyit heran. “Ah, nggak itu tadi...” “Sampai lupa aku mau kenalkan kamu dengan adikku, kebetulan dia di sini,” potong Dino. "Dia di sini?" * * * Next...
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 25 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
20/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0View All