#Dear My Lovely Dita, Sayang, saat kamu membaca surat ini, aku sudah berada di London. Mungkin aku terlalu lemah karena harus mengatakan semua ini melalui sebuah surat. Tahukah kamu betapa aku sangat mencintaimu? Ya, aku sangat sangat mencintai kamu melebihi diriku sendiri. Aku bahkan rela memberikan apa pun yang aku miliki untuk kamu bisa bahagia meski itu nanti bukan denganku. Berat rasanya mengatakan hal ini, aku bahkan tak mampu mengatakannya saat percakapan kita di taman sebelum aku berangkat ke London, aku tidak sanggup mengucapkannya padamu. Aku ingin mengatakan bahwa kita harus mengakhiri hubungan ini, bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku tidak ingin membuat kamu menunggu ketidak pastian dariku. Aku ingin kamu menemukan pria yang lebih baik dariku, setia, dan bukannya pengecut sepertiku yang selalu membuat hatimu kecewa. Maaf... hanya itu yang bisa aku katakan, dan aku ingin kamu tahu meski hubungan kita harus berakhir seperti ini aku tidak akan pernah melupakan setiap kenangan indah yang pernah kita lalui bersama. Aku harap kamu pun demikian, maafkan aku harus mengatakan perpisahan dengan cara seperti ini. Aku berharap kita dapat bertemu kembali suatu saat nanti dalam keadaan yang lebih baik lagi. Ingatlah kenangan baikku, dan buanglah kenangan buruk tentangku. Kenanglah aku dalam kebaikan di hatimu, aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun. Dari mantan CEOmu tersayang, Diko Argawinata♡# Demikianlah isi surat dari Diko yang membuat Dita merasa sangat bodoh. Ya, ia harus dibodohi lagi oleh Diko yang selalu menyakiti hatinya namun tetap menjadi pria yang sangat ia cintai. Dita meremas surat dari Diko, air mata perlahan menetes menjatuhi pipinya. Impian yang selama ini mereka bangun bersama untuk hidup sebagai sebuah keluarga telah dihancurkan kembali oleh Diko. Kini Dita tak tahu harus bagaimana menyikapi perasaannya sendiri, ia merasa hatinya telah mati oleh cinta. Diko adalah orang pertama yang membuatnya jatuh cinta, dan Diko pula orang pertama yang membuatnya patah hati karena kehilangan cinta. Namun hidupnya harus terus berjalan, ia harus melanjutkan kisahnya meski tanpa Diko. Dengan sibuk bekerja adalah satu-satunya cara yang bisa membuatnya sedikit lupa akan rasa sakit yang telah Diko perbuat padanya lagi. * “Dita... Dita...,” panggil Adrian dengan suara bariton khas miliknya membuat Dita tersadar dari lamunannya. “Ya Pak Adrian, ada yang bisa saya bantu?” tanya Dita selembut mungkin. “Kamu melamun ya? Di panggil dari tadi nggak langsung jawab, belum makan lagi? Atau lagi galau? Apa pun itu saya nggak mau ya karyawan saya melamun di jam kerja seperti ini,” omel Adrian membuat kepala Dita terasa pening. Dita memijat keningnya dengan kedua jarinya, “Saya minta maaf Pak, ini nggak akan terulang lagi. Saya hanya...” “Kamu sakit?” potong Adrian cepat seraya menempelkan telapak tangannya di kening Dita, “Nggak panas,” katanya. “Saya hanya sedikit pusing Pak,” terang Dita lalu mengalihkan tangan Adrian perlahan dari keningnya. “Kalau memang nggak enak badan ya istirahat saja di sofa itu, atau di klinik kantor. Dari pada pingsan nanti saya yang repot lagi,” ujar Adrian meski cukup sinis, namun menyimpan perhatian di dalamnya. Dita menggeleng pelan, “Saya sudah nggak papa kok Pak,” kilahnya. Adrian mengedikkan bahunya acuh, “Yasudah, saya mau minta laporan bulan kemarin,” pintanya. “Laporan bulan kemarin sudah ada di meja Bapak, saya berikan kemarin sore. Bapak ingat?” tanya Dita menyelidik. “Apa iya? Yasudah nanti saya cari,” jawab Adrian tanpa dosa lalu berjalan pergi, “Oh ya, apa menu makan siang saya nanti?” tanyanya seraya berbalik badan. “Sop iga, ayam + tempe goreng, dan salad buah,” sahut Dita tanpa memalingkan wajahnya dari laptop. “Oke, thank’s,” ucap Adrian lalu keluar dari ruangan Dita. Kehilangan cinta Diko tidak membuat Dita harus meratapinya sepanjang waktu, ia lebih memilih disibukkan dengan berbagai pekerjaan daripada harus bersedih terus menerus. Meski berat, sebisa mungkin ia berusaha akan menghapus Diko dari hidupnya. Tak mudah memang, tapi ia harus berusaha bukan? Cinta tidak boleh membuatnya kalah, ia harus terus bangkit dan melanjutkan hidup demi orang-orang yang ia sayangi. * Jam makan siang tiba, Dita telah menyelesaikan tugasnya menyiapkan makanan untuk Adrian. Setelah itu ia segera kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan, ia melewatkan makan siangnya lagi kali ini. Hanya dengan sebungkus roti yang dibelinya di kantin dan segelas air mineral sudah cukup membuat perutnya kenyang, kemudian ia melanjutkan kembali pekerjaannya. [From Cya : Kamu nggak makan siang lagi?] [From Dita : Udah tadi, kamu makan aja sama Niko ya. ] [From Cya : Oke sist, we love you.] Dita menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas miliknya, lalu ia beralih pada laptop di depannya. Wallpaper pada laptop itu belum sempat ia ganti, potretnya bersama keluarga Diko senantiasa menjadi gambar favoritnya sebelum tadi pagi saat ia membaca surat itu. Kini gambar di hadapannya hanya bisa menjadi kenangan untuknya. Ia masuk ke dalam folder album foto, tanpa pikir panjang segera menghapus foto itu kemudian menggantinya dengan foto Daniel yang sedang tertawa lepas seakan menjadi penyemangat tersendiri untuknya. Dita tak tahu harus mengatakan apa pada keluarganya, terutama papinya. Papinya baru saja kembali percaya pada keluarga Diko, namun kini mereka mengecewakan keluarganya lagi. Dita tak sanggup untuk mengatakan pada papinya jika hubungannya dengan Diko telah berakhir. Namun cepat atau lambat, keluarganya berhak tahu dan harus menerima kenyataan yang ada. Sama sepertinya, dipaksa percaya oleh kenyataan yang tengah ia hadapi. “Kamu telah menyakiti hatiku begitu dalam Diko, aku harap tidak akan pernah bertemu denganmu lagi,” gumam Dita lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya. * * Sesampainya di rumah, Dita memberi tahu semua keluarganya tentang surat Diko. Mereka mencoba berbesar hati menerima kenyataan bahwa keluarga Diko telah menyakiti mereka kembali. Dave berusaha tegar demi putrinya, ia tak boleh bersedih karena putrinya sangat membutuhkan dukungan keluarga terutama dirinya untuk kembali bangkit pasca ditinggal sang kekasih begitu saja hanya melalui sebuah surat. Ia menyesal telah mempercayakan putrinya pada lelaki yang tak bertanggung jawab seperti Diko, ia berjanji akan melindungi dan menjaga putrinya lebih baik lagi mulai saat ini. “Kurang ajar si Diko, kakak nggak akan biarkan dia hidup tenang. Seenaknya datang dan pergi, lihat saja nanti kalau sampai dia berani menampakkan dirinya kakak nggak akan tinggal diam,” geram Dino seraya mengepalkan kedua tangannya. “Sabar mas...,” hibur Dina pada suaminya. “Kamu jangan sedih terlalu larut ya sayang. Papi, kak Dino, Dina dan Daniel akan selalu ada untuk kamu. Apa pun yang kamu butuh kan kamu bisa minta sama kami, keluarga yang tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam keadaan apa pun,” tutur Dave pada Dita seraya mengusap sayang rambut putrinya. Dita mengangguk lalu tersenyum tipis, “Terima kasih atas semua kasih sayang kalian,” ujarnya lalu memeluk papinya. Dino, Dina dan Daniel pun turut bergabung memeluk Dita dan Dave. Obat hati yang paling ampuh untuk Dita saat ini adalah kasih sayang dari keluarganya. Ia begitu merasa beruntung memiliki sebuah keluarga yang selalu ada untuknya, terutama di saat terburuknya seperti saat ini. * * * Next...
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 26 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
20/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0View All