Namaku Brastian Samuel. Biasa dipanggil Sem. Sekaranng usiaku 35 tahun. Bisa dibilang usia yang cukup matang untuk sekedar memiliki pasangan hidup. Tapi sayangnya aku tak pernah memiliki waktu untuk sekedar mengobrol dengan Wanita. Aku sudah biasa sendiri. Sejak usiaku 20 tahun, aku telah dipaksa keadaan untuk menjalankan perusahaan keluarga yang telah dirintis dengan susah payah oleh ayahku. Jika kalian bertanya dimana ibuku. Entahlah, mungkin ia sudah mati. Karena beliau aku tidah percaya cinta Wanita, semua hanya klise bagiku. Ayahku kini hanya menjalankan aktifitas biasa dirumah. Aku tak mempebolehkannya bekerja, beliau cukup istirahat dan terkadang menjalankan hobinya berkebun. Pagi ini aku berangkat bekerja seperti biasa, biasanya ayah akan mengantarku hanya untuk sekedar jalan – jalan pagi. Tapi kali ini beliau ingin pergi keluar kota. Sepertinya beliau butuh liburan. Aku berjalan menuju lift pribadiku, aku tak pernah bertemu karyawanku yang lain kecuali kami meeting atau ada urusan peusahaan lain makanya aku membuat lift pribadiku sendiri. aku tekan tombol naik tapi tak berfungsi, sepertinya lift ini rusak. Aku telpon secretarisku. “ Dian, lift pribadi saya rusak, tolong kamu urus” “baik pak” Aku bukan tipe orang yang mempersulit sesuatu tapi jika harus masuk loby dan menggunakan lift disana rasanya akan mengundang banyak pertanyaan, sepertinya aku harus naik tangga, batinku. Aku berjalan menaiki tangga, baru aku membuka pintu langsung berhadapan dengan sosok Wanita cantik. “cantik” batinku Aku tak pernah berkomentar tentang penampilan Wanita, lebih tepatnya tidak tertarik. Tapi Wanita ini benar – benar cantik, seperti Wanita lucu yang manis. Tanpa sadar aku menyapanya “hai” Kenapa dia melamun, apakah ada yang aneh. Aku melambaikan tanganku dihadapannya. “oh hai, maaf” jawabnya Dia meninggalkanku gugup, sungguh lucu. *** Siang ini pekerjaanku menumpuk, sepertinya banyak projek baru yang harus aku tanda tangani. Aku angkat gagang telpon, “ Diana, tolong hubungi bagian administrasi, saya minta document projek yang akan kita bahas besok” “baik pak” Aku memandangi luar ruangan, sepertinya ada seseorang diluar. Jendela kaca ruanganku memang didesain 1 arah, hanya dapat melihat dari arah dalam ruangan. Jika dari luar hanya terlihat gelap seperti kaca biasa. Aku melihat ada Wanita waktu itu datang. Aku tersenyum. Ternyata ia karyawan perusahaan ini. Tak lama Diana masuk “ Pak permisi, saya membawa berkas yang bapak minta, dan ini ada berkas yang harus bapak tanda tangani, sudah ditunggu oleh bagian admin projek” “ oke, suruh saja dia masuk, ada yang perlu saya bicarakan” “ Baik pak” Diana meninggalkan ruanagn, diluar ruangan terlihat Wanita itu kebingungan. Sungguah ekpresi yang lucu. Aku terus – terusan tersenyum dibuatnya padahal aku takt ahu siapa dia. Dia mengetuk pintu “Masuk” “ silahkan duduk “ “Baik” jawabnya Dia sungguh lucu, ingin rasanya aku menggodanya. Apakah sebegitu takutnya ia masuk ruanganku. “ Kamu bisa angkat wajahmu jika sudah siap berbicara dengan saya” ucapku Dia angkat wajahnya, sungguh cantik. Penampilan sederhana dengan rambut disanggul rapih. Leher jenjang menampakan kulit sawo matang yang manis. “ Masih ingat saya” tanyaku “Maaf pak,” Baik cukup, :kamu harus focus sem, batinku “Oke, yang mu saya bahas adalah ini” Selesai saya menjelaskan, ia masih sibuk mencatat semua yang aku sampaikan. Sepertinya ia Wanita yang giat dan pintar. Ia langsung bergegas Kembali keruanganya. Setelah ia keluar, aku menelpon Diana “Dian, Tolong berikan saya data karyawan yang tadi keluar dari ruangan saya” “ baik pak” Tak berselang lama, Diana sudah mengirimkan data Wanita itu. Ternyata Namanya Briana, masih magang, masih anak kuliah toh. Rasanya aku mulai tertarik padanya. Padahal tak biasanya aku begini, atau mungkin terlalu lama sendiri membuatku bosan sendiri. entahlah. *** Hari minggu biasanya aku berkebun Bersama ayah, tapi karena ayah sedang pergi jadi aku terpaksa menghilangkan kebosananku dengan jalan – jalan. Tak ada tempat tujuan, hanya mengemudi mengikuti instingku. Aku tak suka pergi ke tempat ramai. Aku hanya butuh tempat yang nyaman. Aku tiba – tiba teringat taman tempat ayah pernah mengajakku jalan – jalan. Tempatnya cukup jauh dari rumah. Membutuhkan waktu 1 jam dari rumah karenaletaknya dipinggir kota. Sesampainya disana aku memarkirkan mobilku, dan mencari tempat yang ternyaman. Aku butuh tidur. Entah kenapa rasanya aku mengantuk, mungkin karena aku semalaman begadang mengerjakan semua berkas – berkas kantor yang membuatku penat. Aku menemukan sebuah pohon yang nyaman dan rindang. Entah berapa lama aku tertidur, suara dering handphone membangunkanku. Aku mendengarnya tapi enggan untuk mengangkat panggilan itu. Aku mendengar seperti ada sebuah Langkah. Aku masih pura – pura tertidur. Apakah ada orang lain selain aku disini. Setelah suara Langkah itu hilang, aku bangun dan mencari dari mana asal suara tersebut, aku tengok dibalik pohon ternyata ada Wanita itu. Aku mengusap mukaku, takut aku salah liat, ternyata benar, itu briana. Aku maju mendekatinya dari belakang, dia sedang menyuap makanan kemulutnya. Ehhhemmm… Dia kaget dan hamper memuntahkan makanan dari mulutnya “Bapak?” “iya ini saya, maaf mengganggu makan siangmu, aku hanya memastikan apakah ini benar kamu. Saya terbangun mendengar Langkah laki tadi, dan ternyata saya liat ada perempuan yang saya kenal sedang menikmati makan siang enaknya” ucapku “Oh bapak kenapa bisa disini?” “kenana? Saya tidak boleh berada disini?, apa saya boleh duduk disini” “oh oh silahkan pak, tentu bapak boleh disni, hanya saja kebetulan sekali.” “ Saya hanya kebetulan lewat sini dan rasanya saya butuh tempat yang tenang untuk sekedar merebahkan badan” Dia tak menjawab, hanya anggukan yang aku terima. Apakah dia kesini menunggu pacarnya, rasanya aku ingin tahu. Lebih tepatnya aku penasaran siapa tau dia sudah memiliki kekasih. “kamu menunggu seseorang?” tanyaku “saya?” “iya kamu” “saya hanya sendiri” Aku tersenyum puas, rasanya senang hanya mendengar jawab itu. “Bapak tak percaya saya memang sendiri disni?, saya memang biasa sendiri kesini dan saya memang suka membawa bekal makanan sebanyak ini.” “hahahahahaha” dia sungguh lucu batinku “kenapa bapak tertawa, apakah lucu. Saya rasa makanan ini tidak sebanyak itu jika untuk sendiri” ucapnya sambil cemberut “maaf, maaf saya hanya merasa mukamu lucu jika berbicara dengan makanan penuh dimulutmu.” Mungkin hari ini cukup sampai disini, aku tak mau nanti dia malah menggapku mengganggunya, aku berdiri, beranjak pergi. “oke, saya tak mau mengganggu waktu makan siangmu. Saya pergi dulu” Sebenarnya aku ingin lebih banyak mengobrol tapi mungkin bukan hari ini. Hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan, aku sudah disibukkan dengan semua berkas projek yang menumpuk. Para tamu undangan yang harus aku temui. Rasanya aku tak mau hadir, tapi ini adalah hari penting dan kewajibanku ada disana. Aku datang dengan ayah. Aku senang ayah dapat membantuku menghandle klien – klien yang harus aku sapa. Ayah tau jika anaknya ini lebih suka menyendiri dari pada harus basa basi mengobrol. Aku sudah selesai meberikan pidato perusahaan, rasanya haus. Aku mengambil minuman dan menepi dari keramaian. Dari jauh aku melihat Wanita cantik, anggun, sungguh penampilan beda dari biasanya. Polos saja ia tampak cantik apalagi ini dengan balutan dress yang menampakan bahunya yang indah. Aku datang mendekatinya. “ Hei” “ aaaa” “ Iya saya, tutup mulutmu, nanti lalat masuk” godaku “ Bapak kenapa ada disini,” “mengapa kamu selalu bertanya mengapa saya disini. Hahaha seperti aneh jika saya disini” “ sepertinya saya salah bertanya pak, tentu bapak disini, bodoh sekali saya. Tapi maksud saya kenapa bapak tidak disana berkumpul dengan klien-klien yang lain dari pada disini.” “saya bosan, saya tidak terlalu suka keramaian” “sama Aku tersenyum. terbesit dibenakku ingin mengajaknya ketempat terindah di perusahaan ini, tempat yang aku desain kusus untukku. “Mau keluar dengan saya?” “maaf pak?” “tak mau?” tanyaku Kembali “bukan begitu pak, tapi…” Aku langsung menggandeng tangannya. Entah apa yang merasukiku, entah keberanian apa yang membuatku menggandeng tangan lembut ini. Aku membawanya kelantai atas, dia masih terdiam. Didalam liftpun dia masih tetap membisu. Apakah aku mengambil keputusan yang salah. Setelah lift terbuka, aku melihat raut wajahnya berubah. Ada raut wajah Bahagia disana. Dia tersenyum. sungguh cantik. Dia bahkan masih berada digenggamanku, tak ingin rasanya aku lepaskan.
menarik
11/09
0ceritanya menarik bgttttt
25/07/2025
0asikkk juga isi ceritanya
12/07/2025
0View All