“ibu, ana bingung” teriaku sambil menghampiri ibu “ bingung kenapa sayang?” “ ana hanrus pakai baju apa kepesta ulang tahun perusahaan, ana kan ga pernah dateng keacara begitu” “ anak ibu pakai baju apa saja cantik ko” “ ah ibu, aku ga mau dateng ah, malu” rajukku sambil tertidur dipangkuan ini “ anak ibu sudah besar ko masih malu begitu, berbaur lah nak. Kamu juga perlu bersosialisasi. Bunya ibu tak suka kamu menjadi anak rumahan, hanya saja kamu terlalu menutup diri” ucap ibuku sambil mengusap rambutku “ bagaimana kalau kamu pakai baju ibu yang dulu pernah ibu beli sewaktu ulang tahunmu yang ke 21 tahun. Kamu kan belum pernah pakai. Kata kamu akan kamu pakai disaat hari penting” “ oh ya, ana lupa kalau punya baju dari ibu. Aku taro mana ya bu?” “ ada di kamar ibu sayang.” Aku berlari kekamar ibu, aku buka kotak pakaian yang masih tersimpan rapih. Aku keluarkan pakaian berwarnah hitam tersebut. Bagus, hanya saja terlalu mewah bagiku, dan aku tak biasa menggunakan pakaian seperti ini. “ Ibu, Ana malu, ini apa tak terlalu berlebihan?” tanyaku pada ibu “ ana, itu biasa saja ko, simple. Dipesta pasti banyak yang lebih wah dari itu. Lagian itu bagus dikamu sayang. Coba dulu” Aku melihat jam didinding yang sudah menunjukan pukul 4 sore. Mas Ryan bilang akan menjemputku. Sebenarnya aku tak mau, tapi karena is bersikeras menjemputku jadilah aku menerima tawarannya. Lagipula Mas Ryan sudah kenal ibuku. Tidak sengaja sebenarnya. Waktu itu ibu bertemu dengannya saat ibu menjemputku pulang kerja, Ryan keluar kantor berbarengan denganku dan dia berkenalan dengan ibu. Semenjak itulah setiap ibu mengantar atau menjempuku, mas Ryan pasti mengobrol sebentar atau hanya sekedar menyapa dan pernah suatu hari mas Ryan tiba – tiba datang kerumah. Alasannya hanya sekedar mampir karena ia lewat daerah rumahku. Begitulah kami menjadi dekat. Hanya dekat sebagai teman tentunya, karena hanya itu yang aku rasakan. Tok tok tok ….. Ibu membukakan pintu. Aku masih menyelesaikan tatanan rambutku. Aku masih bingung apakah lebih terliat pas jika digerai atau aku sanggul. Akhirnya aku lebih memilih tergerai dengan sedikit gelombang dibawahnya. Aku tak banyak menggukan aksesoris, aku rasa cukup dengan sebuah kalung minimalis tp tampak elegan. Aku keluar kamar karena tak mau membuat mas Ryan lama menunggu. “Mas, sudah lama?” Mas Ryan masih tertegun memandangku. Sepertinya penampilanku ada yang aneh, batinku. “Mas, aku aneh ya?” “Mmmmmm..” “mmmmmm apa mas” sambungku “ Cantik” jawabnya “ Mas bisa ajah, jangan bohong ya, soalnya aku ga PD pake baju begini, Jelek ya mas, jujur” “ Cantik ana, pokonya kamu disana dekat – dekat akua ja, nanti lalat banyak yang menclok” “ih mas Ryan, emang aku bau” Jawabku cemberut “Sudah sana berangkat, nanti kalian terlambat, katanya mau jalan jam setengah 5, ini sudah jam 5 masih saja berdebat” “hehehe oke tante, saya ajak putri pergi dulu ya bu, nanti sebelum jam 12 pasti saya kembalikan. Saya pastikan sepatu kacanya tidak akan ketinggalan”. Semua tertawa. Diperjalanan mas Ryan tak henti – hentinya bercanda. Dia memang orang yang humoris dan hal itu yang membuatku merasa nyaman dengannya. Sesampainya ditempat tujuan, mas Ryan menurunkanku diloby karena dia harus memarkirkan mobilnya, dia tak mau aku temani karena tak mau aku kesulitan berjalan dari basemen karena gaun yang aku gunakan. Aku berjalan masuk dan belum apa – apa aku sudah mulai pusing. Pusing dengan suara musik yang keras dan kebisingan lainnya. Yang jelas acara ini sangat ramai. Perusahaan kami mengundang seluruh klien, kantor cabang, dan bahkan semua karyawan tanpa terkecuali. Aku memilih tempat dipojok, mengambil segelas minuman, dan mengamati orang – orang, siapa tau aku bertemu teman divisiku yang lain. Handphoneku bergetar, ternyata SMS dari mas Ryan. “ Kamu dimana, aku kesana” “ aku dipojok aula sebelah kanan dari loby depan ya mas.” Sudah 10 menit tapi mas Ryan belum datang, teman yang lain juga tak kelihatan Tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku “ Hei” “ aaaa” “ Iya saya, tutup mulutmu, nanti lalat masuk” godanya “ Bapak kenapa ada disini,” “mengapa kamu selalu bertanya mengapa saya disini. Hahaha seperti aneh jika saya disini” “ sepertinya saya salah bertanya pak, tentu bapak disini, bodoh sekali saya. Tapi maksud saya kenapa bapak tidak disana berkumpul dengan klien-klien yang lain dari pada disini.” “saya bosan, saya tidak terlalu suka keramaian” “sama” jawabku lirih, takut ia mendengarku Dia hanya tersenyum. Sunguh senyum yang tampan, batinku “Mau keluar dengan saya?” Pertanyaan ap ini, dia tak salam bertanya atau pendengaranku yang salah “maaf pak?” “tak mau?” tanyanya Kembali “bukan begitu pak, tapi…” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ia sudah menarik tanganku. Aku tak tau ia membawaku kemana, yang jelas tempat ini asing bagiku. kami berjalan keluar dan menuju baseman dan terdapat 1 ruangan kecil, kami memasuki ruangan tersebut, dan ternyata didalamnya adalah sebuah lift. Lift pribadi milik beliau. Pantas saja beliau tak pernah terlihat datang dan pulang kerjanya, ternyata memiliki jalur tersendiri. Kami menaiki lift menuju lantai atas perusahaan, Ketika pintu lift terbuka betapa terkejutnya aku melihat pemandangan didepanku. Sebuah ruangan kaca berisi tanaman Bungan dan pohon – pohon rindang. Sungguh layaknya surga buatan. “ sadarkan dirimu ana.” Aku tersadar dalam ketakjubanku. Kini aku memandang bosku. Aku tersadar ternyata dari awal beliau masih menggenggam tanganku. Jantungku rasanya mau copot. Ya Tuhan, bagaimana aku menhadapi perasaan ini. Sadarlah wahai hatiku yang takt ahu diri, dia yang berada dihadapamu ini adalah bosmu. Jangan menghayal jauh, nanti kamu Lelah dan tanpa sadar kamu mati, batinku tertawa sedih.
menarik
11/09
0ceritanya menarik bgttttt
25/07/2025
0asikkk juga isi ceritanya
12/07/2025
0View All