Aku sudah bersiap. Aku sudah biasa merayakan ulang tahun sendiri, bukan karena ibu tidak sayang hanya saja aku sudah dilatih dewasa sejak kecil. Jika ibu tidak bekerja bagaimana aku bisa sekolah hingga setinggi ini. Aku tak bisa mengeluh, hanya bisa menikmati apa yang sudah Tuhan berikan. Rasanya hari ini ingin jalan – jalan menikmati hari libur setelah sekian lama. Aku memasak bekal untuk sekedar menu makan siang, aku ingin pergi berkemping. Bukannya aku tak mampu jalan dan nongrong dicafe, aku hanya tak suka. Aku memilih jalan – jalan kesebuah taman dan membaca buku dibawah pohon rindang, sungguh asri. Baru memikirkannya saja aku sudah senang. Aku membawa bekal buah, sepotong kue ulang tahun yang sudah dibelikan ibu dan omelet menu andalanku. Tempat tujuanku tak jauh, hanya 15 menit berjalan kaki. Taman pinggir kota. Asri dan yang pasti tidak terlalu banyak pengunjung. Mataku tertuju pada sebuah pohon rindang tempat biasa aku menyendiri. Aku gelar tikar yang aku bawa dan aku mulai menyandarkan tubuhku pada pohon yang kekar itu. Aku mulai membaca buku dan mendengarkan alunan music klasik, musik yang tak terlalu eras ditelingaku. Tak terasa sudah 1 jam aku terperangkap dalam cerita novel yang ku baca. Jika bukan karena suara cacing diperut yang saling bersautan, mungkin sampai malampun aku tak akan ingat jika belum mengisi perut sama sekali. Aku mulai membuka bekal yang aku bawa, tiba – tiba aku mendengar suara dering handphone seseorang, yang jelas bukan punyaku karena aku tak membawanya. Aku cari dari mana sumber suara tersebut, ternya dari balik pohon ada seorang pria sedang tertidur dengan wajah tertutup buku. Mungkin saking terlelap tidurnya sampai suara deringan handphone tak didengarnya. Aku Kembali ke tempatku, takut mengganggu. Aku melanjutkan makan siangku, baru saja melahap sudah terdengar suara dering seseorang berdeham. Ehhhemmm… Aku menoleh, dan alangkah kagetnya aku ternyata ada pria dibelakangku. Pria tersebut adalah laki-laki yang tertidur dibalim pohon tadi. Dan alangkah terkejutnya aku ternyata pria tersebut adalah bosku yang tak lain adalah pak Sem. “Bapak?” Hampir saja aku tersedak “iya ini saya, maaf mengganggu makan siangmu, aku hanya memastikan apakah ini benar kamu. Saya terbangun mendengar Langkah laki tadi, dan ternyata saya liat ada perempuan yang saya kenal sedang menikmati makan siang enaknya” ucapnya sambil tersenyum melihat bekal makan siangku “Oh bapak kenapa bisa disini?” “kenana? Saya tidak boleh berada disini?, apa saya boleh duduk disini” “oh oh silahkan pak, tentu bapak boleh disni, hanya saja kebetulan sekali.” “ Saya hanya kebetulan lewat sini dan rasanya saya butuh tempat yang tenang untuk sekedar merebahkan badan” aku hanya mengangguk mendengar jawabannya “kamu menunggu seseorang?” tanya pak Sem “saya?” tanyaku aneh “iya kamu” “saya hanya sendiri” jawabku sambil memandangnya lekat Dia hanya memandangku tersenyum, seperti sesuatu yang aneh ada padaku. “Bapak tak percaya saya memang sendiri disni?, saya memang biasa sendiri kesini dan saya memang suka membawa bekal makanan sebanyak ini.” Ucapku seperti ingin menjelaskan “hahahahahaha”dia hanya tertawa “kenapa bapak tertawa, apakah lucu. Saya rasa makanan ini tidak sebanyak itu jika untuk sendiri” ucapku sebal “maaf, maaf saya hanya merasa mukamu lucu jika berbicara dengan makanan penuh dimulutmu.” Tiba – tiba dia berdiri, beranjak untuk pergi. “oke, saya tak mau mengganggu waktu makan siangmu. Saya pergi dulu” Saya hanya terdiam meliahnya pergi
menarik
11/09
0ceritanya menarik bgttttt
25/07/2025
0asikkk juga isi ceritanya
12/07/2025
0View All