"Ini pak minumannya," ucap gadis dengan penampilan seksi dan wajah penuh make up tersenyum genit kepada Gandhi.Berharap seorang Ceo kaya raya ini melirik dan tergoda karena kecantikannya,dia sebenarnya sudah mendengar rumor mengenai kutukan wanita yang mendekat kepada Gandhi pasti akan bernasib buruk atau bahkan lebih menakutkannya menyebabkan kematian. Chery gadis yang ingin kaya secara mudah, dia membuang rasa takutnya dan memberanikan diri melamar menjadi sekretaris Gandhi dengan bertujuan untuk menjadi istrinya, selain sukses menjadi ceo dan memang terlahir dari keluarga kaya raya.Gandhi juga memiliki wajah yang tampan dengan postur tubuh tinggi,kulit putih,dan alis tebal.Namun orang-orang tidak tahu bagaimana sifat Gandhi yang ternyata tidak setampan wajahnya. "Pak?"panggil Chery lagi karena tidak digubris oleh Gandhi yang masih fokus dengan laptopnya. "Iya letakan saja disana," jawab Gandhi dengan suara dinginnya tetapi tidak melihat ke arah Chery sama sekali, dan sangat fokus dengan pekerjaanya di laptop. Chery tidak mudah menyerah, dia dengan beraninya melangkah maju mendekat kepada Gandhi dan menyentuh tangannya,namun secara tak sengaja Gandhi terkejut dan mengelak terkena gelas minuman yang dibawa Chery lalu tumpah ke tangan Chery. "ah!" teriak keras Chery karena minuman tersebut kopi panas,tentu saja membuat tangannya terluka. "Sialan! Dasar kamu memang laki-laki penuh kutukan! Awalnya aku tidak mempercayai rumor itu, dan ternyata itu memang benar! Matilah kau laki-laki pembawa sial." caci maki Chery dengan sangat kesal lalu keluar dengan membanting pintu sangat keras,bersamaan dengan Arkan asisten Gandhi yang masuk. "Gagal lagi?"tanya Arkan. "Siapa sih yang membawanya," tanya Gandhi dengan kesal lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. "Bibi dari pihak ayahmu," jawab Arkan santai, memang hubungan bos dan asisten ini sudah sangat dekat. "Dalam satu bulan ini sudah berapa perempuan?" tanya Gandhi. "Enam termasuk yang tadi." Jawab Arkan. "Huft kapan semua ini berakhir," keluh Gandhi. "Berakhir kalau tuan Gandhi menikah dong haha," ledek Arkan. "Berani meledek mau aku potong gajimu hah? Bukan aku yang tidak mau menikah,tetapi tidak ada satupun wanita yang mau karena kutukan sialan itu." ucap Gandhi terlihat sedikit sedih, karena memang dia sedikit lelah perkara perjodohan ini. Menjadi anak tunggal membuatnya dituntut oleh keluarganya agar segera menikah dan memiliki keturunan,apalagi usia Gandhi yang sudah memasuki 31 tahun, membuat keluarganya jadi semakin khawatir jika Gandhi tidak menikah dan tidak memiliki keturunan. "Semua sudah selesaikan?besok aku akan liburan,kamu urus sisanya." ucap Gandhi. "Tidak ada rencana untuk kita liburan bersama bos?" tanya Arkan penuh harap. "Semakin menyebar luas rumor kalau kita ini homo jika liburan bersamamu,lagi pula kenapa kamu juga tidak mempunyai pacar sih."ucap Gandhi lalu keluar dari ruangannya. "Masih bisa dia bertanya kenapa aku tidak memiliki pacar? Ya karena semua pekerjaan yang selalu dia limpahkan terhadapku seperti sekarang ini, bagaimana aku bisa membagi waktuku untuk berpacaran." Gerutu Arkan. Tiba-tiba Gandhi kembali masuk. "Aku masih bisa mendengarnya,aku potong 20% gajimu bulan ini." ucap Gandhi mengangetkan Arkan. "Eh bos yang baik jangan dong, aku hanya bercanda." teriak Arkan yang membuat Gandhi tersenyum sambil berjalan. Hubungan Gandhi dan Arkan memang sangat akrab, karena memang cuma Arkan yang mau bertahan dan mengerti sifat Gandhi, karena itu Gandhi juga sangat percaya dengan Arkan.Sebelum pergi untuk berliburan dia mengunjungi rumah orang tuanya terlebih dahulu untuk berpamitan. "Mau berlibur lagi?" tanya Ratna, mama Gandhi. "Udah ketebak ya." ucap Gandhi memeluk mamanya. "Sebelum pergi mau ya ketemu sama Tari, anaknya tante Vita." ucap Ratna membuat sang anak melepas pelukannya. "Tante Vita teman baiknya mama dan keluarga mereka juga sangat baik, Gandhi tidak tega kalau harus membuat anak kesayangan mereka terluka atau bahkan kena sial, jika bertemu denganku." ucap Gandhi. "Kamu anak yang baik padahal, kenapa harus ada kutukan seperti itu." ucap Ratna mengelus perlahan pungung anaknya. Sementara itu disebuah cafe, terlihat gadis yang sangat lincah melayani pembeli dengan sangat ramah. "Masih belum pulang kamu?" tanya Dimas pemilik cafe tersebut kepada gadis lincah tadi yang bernama Molly. "Sebentar lagi kak," jawabnya dengan penuh semangat. "Sudah selesaikan saja, lihat tuh di pojok sana udah cemberut nungguin kamu."ucap Dimas. "Ya ampun, aku tidak tau kalau Bara menungguku dari tadi." ucap Molly langsung bergegas mengahmpiri kekasihnya. "Bara,kenapa nungguin aku." tanya Molly. "Sudah selesai? ayo pulang." ucap Bara. "Kak, duluan ya." pamit Bara kepada Dimas yang ternyata kakaknya. Di dalam mobil. "Itu uang untuk ayahmu," ucap Bara menunjuk amplop di dahboard mobilnya. "Sepertinya tidak perlu Bara," jawab Molly tertunduk malu karena ulah ayahnya yang selalu meminta uang kepada Bara. "Ayahmu mengizinkanmu untuk berlibur denganku kalau diberikan uang 10 juta kan? itu berikan kepadanya, atau kamu tidak mau pergi bersamaku?"tanya Bara. "Aku mau, tapi tidak perlu memberi ayah uang sebanyak ini." ucap Molly. "Tidak usah khawatir, berikan saja." ucap Bara dengan santainya, karena uang 10 juta bukan sesuatu hal besar menurutnya.Perlahan tangannya mulai ingin mengambil tangan Molly untung digengamnya, melihat itu Molly memang sedikit takut, tapi dia tidak enak kalau harus menolak terus menerus, terakhir dia dan Bara bertengkar karena Molly memang sama sekali tidak ingin sentuhan fisik padahal mereka sudah hampir tiga tahun dalam hubungan berpacaran. Bara sedikit tersenyum karena tidak ada penolakan dari Molly, tapi tak sampai lima menit Molly langsung menarik tangannya dengan alasan mengambil ponselnya di dalam tas. "Kamu masih tidak ingin sentuhan fisik denganku?"tanya Bara dengan wajah seriusnya. "Hm itu,aku hm aku." ucap Molly ragu. "Sudahlah," ucap Bara marah lalu melajukan mobilnya dengan sangat kencang, dan tanpa mengobrol apapun lagi bersama Molly.Sesampainya di depan lorong rumah Molly, Bara langsung menyuruh turun. "Besok jam 10 langsung ke bandara saja." ucap Bara. "Iya, kamu hati-hari di jalan ya." ucap Molly, lalu melihat kepergian mobil Bara yang melaju sangat kencang. Dia berjalan menuju rumahnya yang lumayan jauh dari tempat dia diturunkan tadi karena memang jalan menuju rumahnya tidak bisa dilewati mobil.Saat masuk ke rumah, Molly sudah disambut dengan pemandangan ayahnya dengan beberapa botol minuman keras,dan terlihat sudah mabuk berat.Melihat itu, Molly berjalan perlahan perlahan menuju kamarnya agar tidak terlihat oleh ayahnya, tetapi ternyata ayahnya mengetahui kehadiran Molly. "Hei anak cantik," panggilnya. "I-iya ayah." ucap Molly gemetaran. "Sini kamu," panggil ayahnya yang dengan polosnya dituruti oleh Molly. "Ada apa a-ayah?" tanya Molly. "Mana sepuluh jutaku?" tanya ayahnya yang sudah menunggu uang dari Bara. "Tidak ayah, aku tidak akan meminta uang sebanyak itu kepada Bara." ucap Molly. Plak Ayahnya melayangkan sebuah tamparan kepada Molly. "Ayah,aku sudah bilang kalau ingin pukul jangan dibagian wajah." ucap Molly yang memang sudah terbiasa dipukul oleh ayahnya. Ayahnya yang mabuk langsung mengambil sapu, dan dengan tidak berperasaanya,dia tega memukul pungung Molly beberapa kali karena dia kesal Molly tidak membawa uang dari Bara. Molly hanya bisa menahan semua rasa sakit itu, tubuhnya memang sudah dari kecil dipukul oleh kakak dan ayahnya.Setelah hampir pingsan, ayahnya baru menghentikan tindakannya yang memukuli anaknya, ketika melihat ayahnya berhenti memukulinya, Molly langsung bergegas masuk ke kamar sambil menahan rasa sakit dibagian pungungnya yang sudah penuh luka dan lebam.Dia membuka bajunya, dan melihat dari cermin punggungnya yang terluka, lalu hanya menatapinya sambil menangis sedih. Keesokan paginya,Molly terpaksa keluar dari rumah sangat pagi karena dia tidak ingin bertemu dengan ayah atau kakaknya padahal keberangkatan dia jam sepuluh nanti, tapi jam enam pagi Molly sudah keluar dari rumah.Dia duduk menunggu jam sepuluh dikursi taman kota yang terlihat sepi.Pungungnya masih terasa sangat perih karena terluka sangat parah dan diobati seadanya tadi malam.Sampai akhirnya jam sepuluh pun tiba, dia langsung bergegas ke bandara.Sampai disana, Bara sudah menunggu dikursi tunggu sambil memainkan ponselnya. "Bara," sapa Molly lalu duduk disebelahnya. "Kamu tidak ambil uang tadi malam?" tanya Bara. "Tidak apa-apa, buktinya sekarang aku boleh tetap pergi kan tanpa harus memberikan uang kepada ayah." ucap Molly dengan tersenyum ceria, berusaha menutupi rasa sakit dan sedihnya. "Yasudah kalau begitu, ayo." ucap Bara mengandeng tangan Molly. Saat dipesawat juga Bara tidak melepas gengamannya, padahal Molly sudah mulai risih karena dia sangat tidak nyaman, dia pun mencari cara agar melepas gengaman tersebut dan akhirnya lepas saat Bara tertidur.Ketika sudah sampai di penginapan, Molly agak sedikit terkejut mendapati Bara yang hanya memesan satu kamar.Di lift, memang hanya ada mereka berdua saja karena itu Molly memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa hanya satu kamar saja?" tanya Molly dengan hati-hati. "Memangnya harus berapa kamar?" ucap Bara balik bertanya. "Kita tidak mungkin satu kamar kan?" tanya Molly. "Kenapa tidak mungkin? kamu pasti ngerti kan maksudku mengajak liburan, kita pasangan sudah seharusnya untuk tidur bersama." ucap Bara mendekat kepada Molly ingin mencium bibirnya namun dengan sangat cepat Molly menghindar, tetapi Bara masih tetapi memaksa untuk mencumbu Molly. "Bara jangan lakukan itu," ucap Molly menolak Bara. "Heh kamu sudah aku kasih semuanya selama ini,berapa ratus juta telah aku berikan kepada keluargamu.Dan aku hanya ingin tidur bersamamu sebagai pasangan, apa itu salah?kamu cinta kan sama aku?" ucap Bara lalu langsung memaksa Molly, karena berusaha menolak terus menerus,punggung Molly terhentak yang tentu saja membuat dia sangat kesakitan. "Bara aku mohon hentikan," ucap Molly sangat memohon tapi tak digubris oleh Bara dan tetap melanjutkan kegiatannya, tiba-tiba pintu lift terbuka. TRING Bara langsung menghentikan tindakannya, dan Molly yang merapikan bajunya melihat seorang pemuda yang berada di depan pintu lift mematung karena merasa ragu untuk masuk atau tidak takutnya malah mengangu. Pemuda itu adalah Gandhi yang ternyata juga memilih penginapan disana, mata Molly memandanginya dengan air mata yang mengalir seolah ingin meminta pertolongan kepada Gandhi. "Aku tidak seharusnya ikut campur kan," batin Gandhi ragu untuk masuk atau tidak.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 34 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (629)
HasanIstiqomah
cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih
cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih
16/07/2025
0good
05/06/2025
0baguss banget kak
24/04/2025
0View All