logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Misteri Kematian Ibu Rival

Mereka memasuki mobil dan membelah jalanan.
"Apa kita pulang?" tanya Hani saat dalam mobil.
"Tidak, kita pergi ke komisaris," ucap Rival, yang fokus menyetir.
Jalanan di malam hari cukup lengang, Rival melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sebenarnya ia sendiri merasa lelah, tapi entah mengapa, rasanya ingin segera menanyakan seluruh aset Pak Deris, papanya.
Tinggal sepuluh menit lagi perjalanan menuju kediaman komisaris Marvin, yang telah dipercaya oleh Pak Deris. Rival melihat bensin mobilnya menyusut, jadilah berbelok ke pom bensin terlebih dahulu.
'Kenapa Hani enggak cerewet, ya?' ucapnya dalam hati kemudian menoleh ke jok sebelah.
Hani tertidur sangat pulas. Saking fokusnya menyetir Rival tak sadar kalau Hani telah terlelap.
Melihat wajah Hani yang tertidur nampak kelelahan, Rival memutuskan untuk tak jadi menemui komisaris Marvin, setelah bensin terisi penuh, langsung putar balik menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Rival menepuk pelan pipi Hani, bermaksud membangunkan namun nihil, yang dibangunkan sudah terlanjur pulas.
Akhirnya dengan terpaksa Rival menggendong Hani memasuki rumah. Pintu dibukakan oleh Bi Ijah.
"Tuan," sapa Bi Ijah.
Rival hanya mengangguk, kemudian berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar Rival membaringkan Hani di tempat tidur. Manis, terlihat sangat anggun saat tertidur. Rival tersenyum tipis.
Setelah itu, Rival memilih untuk tertidur juga di sofa.
*****.
Hani terbangun, tepat saat adzan subuh berkumandang. Merasa heran karena terbangun diatas tempat tidur, seingatnya ia tertidur di mobil.
Segera ia ke kamar mandi dan mengambil wudhu kemudian sholat.
"Mas .... ," bisik Hani sambil menepuk-nepuk pelan lengan Rival.
Rival mengerjap, kemudian bangun dan langsung ke kamar mandi.
Hani duduk di sofa, menunggu Rival selesai sholat.
"Han, Hani!" panggil Rival.
"Eh, iya, apa?"
"Kenapa melamun?"
"Eng .... enggak apa-apa, kok."
"Karena kamu lebih tua dari aku, aku panggil Mas aja, ya?"
"Terserah,"
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini?"
Rival tersenyum miring.
"Papaku memelihara ular berbisa, yang suatu saat bisa membunuhnya, tapi aku tak rela jika ular itu menguasai semuanya," tutur Rival, matanya tajam, menyiratkan kebencian mendalam.
"Aku, ke dapur dulu, Mas mau sarapan apa?"
Sepertinya belum saatnya Hani bertanya terlalu dalam, Rival belum sepenuhnya terbuka. Jadilah Hani mengalihkan pembicaraan kepada sarapan.
"Apa saja, biar kuantar."
Rival dan Hani berjalan menuju dapur, ada Bi Ijah dan beberapa asisten rumah tangga lainnya sedang berkutat dengan masakan.
"Bi, masak apa? Biar aku bantu," tawar Hani pada Bi Ijah.
"Enggak usah, lah, Non, nanti kotor, biar Bibi aja, lagian Bibi cuma siapin sarapan buat Tuan sama Non aja, kok," tutur Bi Ijah.
"Hanya buat saya dan Mas Rival? Lalu yang lain?"
"Katanya kurang cocok sama masakan Bibi, asisten rumah tangga lainnya dipecat diganti yang baru. Nah, Bibi cuma masak buat Tuan Rival sebelum ada Non Hani." Bi Ijah bercerita sambil sibuk mengolah masakan.
"Aneh," gumam Hani pelan.
"Jangan berisik, Non, nanti bisa dilapori sama mereka," bisik Bi Ijah sepelan mungkin.
Hani mengerti dan tak banyak bertanya, ia ikut membantu Bi Ijah dan bicara hal yang umum diobrolkan.
"Makanan kesukaannya Mas Rival apa, Bi?"
"Semur ayam kecap, Non, itu masakan yang sering Nyonya masak dulu, ibunya Tuan," jawab Bi Ijah.
"Andai Nyonya masih ada, Bibi kangen .... sekali, Non," lanjutnya.
"Memangnya ibunya Mas Rival sakit apa dulu, Bi?" tanya Hani sambil asik mengaduk ayam kecap di wajan.
"Dulu itu .... , eh sudah mateng ini, Non, yuk, dihidangkan, biar Non sama Tuan cepet sarapan," ucap Bi Ijah, yang dengan segera mematikan kompor dan menyalin ayam kecap itu ke piring.
Ayam kecap, kerupuk, tempe dan sambal telah tersaji di meja makan sisi kanan, sementara di sisi kiri ada beberapa menu lain yang katanya untuk Meta dan anak-anaknya.
"Mas, ayo, makan dulu!" panggil Hani pada Rival yang berada di ruang tengah.
Rival bangkit menuju ruang makan, ia sudah tahu tempat duduknya dan makanannya. Hani duduk di samping Rival.
"Wah, wah .... kok menantu baru makan gak ngajak-ngajak ibu mertuanya, sih." Tiba-tiba Meta sudah memasuki ruang makan bersama Widia dan Reza.
"Ayo, makan, Bu," ucap Hani dengan senyum dipaksakan.
"Ah, baiklah menantuku yang baik," ujar Meta dengan nada mengejek.
"Ayo, Sayang, kita makan," ajak Meta pada Widia, mereka kemudian duduk di sisi kiri meja makan.
Selesai makan, tanpa banyak bicara Rival mengajak Hani untuk pergi dari ruang makan itu.
"Ayo, kembali ke kamar," ajak Rival.
"Mentang-mentang pengantin baru, ngamar aja terus!" ledek Widia.
"Diam kau!" bentak Rival, sorot matanya tajam menatap Widia.
"Dasar perempuan murahan!" teriak Widia tiba-tiba.
"Apa kamu bilang?! Sekali lagi!" Kali ini Hani sudah berada di belakang kursi yang diduduki Widia dan menjambak rambut halus itu.
"Aw... heh, apa-apaan kamu!" Meta mendorong tubuh Hani tapi ia dapat bertahan.
"Sekali lagi kalian hina aku, awas kalian! Orang tuaku tidak menduduki untuk diam saat dihina, mengerti?!" tegas Hani.
Rival hanya tersenyum geli saat melihat pemandangan di depannya. Tak sama sekali mencegah ataupun mendukung aksi Hani.
Hani kemudian berjalan dan menggandeng Rival ke arah kamar, seakan ingin menunjukan siapa dirinya sekarang.
Setelah memasuki kamar, Rival berdehem dan Hani segera melepas tangannya yang menggandeng lengan Rival.
"Eh, maaf, habis ibu tiri kamu itu nyebelin banget!" Hani terlihat salah tingkah, wajahnya memerah. Manis.
Rival hanya tersenyum, dan lansung mendudukan diri di sofa untuk menonton tv.
"Mas," panggil Hani sambil ikut duduk di sofa.
"Hm?" Rival menoleh sebentar kemudian kembali memandangi layar tv.
"Kalau boleh tahu, sebenarnya ibu Mas meninggal karena apa? tanya Hani penasaran.
Rival menghembuskan nafas kasar, seakan sakit sekali setiap mengenang ibunya.
Ia memang sangat dekat dengan ibunya, hingga akhirnya ibunya meninggal, seakan anak ayam yang kehilangan induknya Rival kehilangan arah.
"Kecelakaan," jawab Rival pendek.
"Kecelakaan?"
"Iya."
"Siapa pelakunya?"
"Dia adalah ....

Book Comment (606)

  • avatar
    Sabattinielkana

    cerita nya menarik

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Delima muhtarAdel

    baguss bgtt ceritanya

    25/11/2024

      0
  • avatar
    CaturMahmudah

    lanjut

    31/10/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters