"Sialan! Mereka datang." Rival langsung terduduk di sofa, gurat lelah terlihat jelas di wajahnya. "Siapkan mentalmu." "Hah, memangnya siapa mereka?" "Mereka, ibu tiri dan anak, sudahlah abaikan saja, nanti malam mungkin kita bertemu di bawah," jawab Rival dingin. "Apa keduanya anaknya?" tanya Hani lagi. "Satu menantu, kenapa kau ini cerewet sekali?" Rival mulai kesal. Mendapat pertanyaan seperti itu, Hani mengerucutkan bibirnya. Kesal. 'Menggemaskan juga dia, kalau lagi ngambek gitu,' gumam Rivaldi dalam hati. "Oke, aku tak akan banyak bicara lagi!" Hani berlalu ke kasur, dan memainkan gawai. Rivaldi tak peduli, dan memilih untuk kembali memejamkan matanya. Adzan asar berkumandang merdu. "Hey, bagaimana aku sholat disini? Ada mukena?" tanya Hani sambil menepuk-nepuk pelan lengan Rivaldi yang tengah terlelap. "Hmm, nanti aku ambilkan," ucap Rivaldi, sambil berbalik. "Sholatlah di awal waktu! Mana mukenanya?" Hani mulai kesal. "Iya, Iya, bawel!" Rivaldi keluar kamar dan mengambil mukena dari mushola rumah ini. Mushola yang penuh kenangan. Mushola itu dibangun papanya, saat Rivaldi masih kecil dan ibu kandungnya masih hidup, sejak ibunya meninggal dan papanya sakit kini mushola itu sepi. Ibu tirinya, sholat hanya saat cari perhatian papa. Kenangan masa kecil itu melekat dalam ingatan, menggores luka masa kini yang tiada obatnya. Rivaldi meninggalkan mushola, dan kembali ke kamar. "Ini." Rivaldi menaruh mukena itu di sofa. "Kita berjamaah?" "Kamu duluan saja." "Tapi sholat berjamaah pahalanya 27 kali lipat, loh!" Rivaldi terkekeh geli, wanita di hadapannya ini bukankah tadi sedang ngambek. "Sudahlah, cepat sholat duluan! Bukankah kamu takkan banyak bicara lagi?" "Ah, aku lupa!" Hani menepuk jidatnya sendiri, kemudian berdiri dan masuk ke kamar mandi. Hani sholat di karpet dekat tempat tidur. Khusyuk, ia terlihat sangat tenang bagai air mengalir. Diam-diam Rivaldi memperhatikan dari pantulan gambar di tv yang mati. 'Andai, ibu masih ada, mungkin ibu bahagia aku menikahi gadis seperti dia,' gumam Rivaldi dalam hati, ia menarik nafas dalam. "Cepatlah, giliranmu!" titah Hani sambil melipat mukena. Rivaldi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Hatinya terasa sejuk. Sejak berada di rumah Hani waktu itu ia seperti menemukan kembali oase di padang pasir. Rivaldi sholat dengan tenang. Hani melihatnya secara terang-terangan, "Tampan juga dia," gumam Hani pelan. Tok... tok... Pintu kamar diketuk, saat Rivaldi baru selesai sholat. Ia bangkit untuk membukanya. Rupanya Bi Ijah yang berdiri di ambang pintu. "Ada apa, Bi?" "Masyaa Allah, Tuan, akhirnya Tuan sholat lagi!" Mata Bi Ijah nampak berbinar. "Ada apa, Bi?" Rivaldi mengulang pertanyaanya. "Itu, Tuan, Nyonya mau ketemu, sama Tuan dan Non," jawab Bi Ijah sopan. "Baik." "Bibi, pergi ke dapur lagi." Rivaldi hanya mengangguk. "Hey, ayo ikut aku!" panggil Rivaldi pada Hani. Canggung menggunakan panggilan lain, apalagi yang terkesan mesra. Hani menghampiri Rival, mengikuti langkahnya dari belakang, hingga tiba di ruang keluarga yang sangat luas. Sofa besar yang berjejer, dilengkapi televisi besar yang sedang menayangkan sebuah film. Meta, Widia dan Reza duduk di sofa menikmati siaran televisi sambil asik mengunyah cemilan. "Hey, Rivaldi! Lama tak jumpa anakku," Meta mengucapkannya dengan nada mengejek. "Apa maumu?" tanya Rivaldi sambil menggandeng tangan Hani untuk duduk di sofa. "Oh, ini rupanya istrimu itu!" celetuk Widia. "Iya, perkenalkan namanya Hani, istriku!" tegas Rivaldi. Meta dan Widia menganguk-anggukan kepala, sambil tersenyum sinis. "Darimana kau, menemukannya? Aku terkesan sekali dengan seleramu," ledek Meta. "Bukan urusanmu!" "Baiklah .... , Papa kesayanganmu itu, kan, sebentar lagi gak ada, meninggal ya, kamu juga rupanya sudah menikah, bagaimana kalau kita bagi saja warisan sekarang?" Meta berucap dengan lembut tapi dengan senyum menyebalkan. "Hey, apa kamu bilang?! Papa akan sembuh, tunggu saja!" Rivaldi berdiri, Meta sukses memancing amarahnya. Hani juga berdiri menenangkan Rivaldi. "Sudah, sudah," desis Hani pelan sambil mengusap punggung Rivaldi. "Jangan berharap terlalu tinggi, nanti jatuh sakit! Lagipula jika papamu itu sembuh, dia akan mencintai ibuku lagi," ucap Widia enteng, kemudian tertawa bersama ibunya. "Jangan harap kalian dapat sepeser pun dari harta orang tuaku!" desis Rivaldi tajam. Reza hanya tersenyum miring menyaksikan keluarga ini, suami Widia itu tidak benar-benar mencintai Widia, ia hanya ikut permainan istrinya agar mendapat bagian dari harta papa Rivaldi. "Sudahlah, kalau kalian tak akan bicara lagi, aku pergi." Rivaldi menggandeng tangan Hani. Percuma bicara dengan mereka hanya akan membuat naik darah. Rivaldi terus berjalan keluar, bersama Hani. "Kita mau kemana?" tanya Hani, saat mereka memasuki mobil. "Kamu harus tahu, tentang Papa," jawab Rivaldi kemudian melajukan mobilnya. Saat melewati gerbang, Hani melihat satpam yang berjaga di pos jaga. Ia menatap Rivaldi iba. "Apa satpam itu sudah lama bekerja disini?" tanya Hani dalam perjalanan. "Tinggal satpam dan Bi Ijah, yang lain dipecat ibu tiriku dan diganti dengan orang mereka." "Oh, sebenarnya apa masalah keluargamu?" "Nanti kau akan mengetahuinya, yang pasti aku hanya ingin kau diam dan ikuti. Mereka seperti ular yang berbisa, dan licik tentunya." "Baru kali ini, kau bicara panjang padaku, hehe," Hani terkekeh. "Diamlah, kau rupanya sangat cerewet." "Baiklah, bosku," canda Hani. Mobil diparkirkan, di depan sebuah rumah sakit. Rivaldi turun, Hani mengikutinya, tidak ada adegan lelaki membukakan pintu mobil untuk wanitanya karena memang Rival tidak mencintai Hani. Rivaldi masuk ke dalam rumah sakit tersebut, Hani mensejajari langkah Rivaldi. Mereka memasuki lift menuju lantai lima. Ruang perawatan VIP. Berjalan melewati lorong rumah sakit, dan akhirnya sampai di depan sebuah ruang perawatan. Rivaldi masuk diikuti Hani. Ruangan yang cukup luas, dengan satu tempat tidur besar. Ada fasilitas pendukung seperti sofa, lemari, tv dan kamar mandi disini. Seorang pria paruh baya terbaring lemah, di tempat tidur dengan infus di tangan dan beberapa alat lain yang menunjang kehidupannya. Matanya sudah lama terpejam. Entahlah dengan keadaan seperti ini kapan ia sembuh, atau mungkin malah pergi untuk selamanya. Rivaldi duduk di sebuah kursi pinggir tempat tidur. "Pa," panggil Rivaldi pelan. Nihil. Mata itu tetap terpejam, kesadarannya entah kemana. Hani berdiri di samping Rivaldi, menatap nanar pemandangan di depannya. Dia mulai iba dengan kehidupan Rivaldi. Pasti sulit sekali bertahan dengan rongrongan para penggila harta seperti Meta dan Widia. "Pa, aku bawa Hani, yang kata Papa berasal dari keluarga berhati tulus. Aku sudah penuhi keinginan, Papa. Bangunlah!" bisik Rivaldi pelan di samping papanya. Hani terenyuh, entah apa maksud dari perkataan Rivaldi tadi, keluarga berhati tulus. Tak mungkin ia menanyakannya sekarang, meski ia sangat penasaran. Tanpa aba-aba, satu bulir air mata turun dari mata Rivaldi. Ia menyesal tak pernah peduli dengan papanya, kini mungkin tinggal menunggu waktu, akankah papanya pergi atau kembali. Rivaldi segera mengusap matanya. Pintu terbuka rupanya seorang berjas putih yang masuk, Dokter Ferdinand dan Suster Helda. "Malam, Pak Rivaldi," sapa Dokter Ferdinand ramah, Suster Helda pun tersenyum ramah tapi berbeda dengan sorot matanya. Ia terlihat sedih dan iba. "Malam, Dok," ucap Rivaldi, ia hanya tersenyum tipis, bahkan hampir tak terlihat. "Coba saya lihat kondisi papanya Pak Rivaldi dulu, ya." Dengan cekatan Dokter Ferdinand memeriksa berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi papanya. Suster Helda menuliskannya. "Bagaimana, Dok?" tanya Rivaldi. "Belum ada reaksi apa-apa, mungkin hanya menunggu waktu," ucap Dokter Ferdinand. "Anda ini dokter terbaik, kenapa tidak bisa menyembuhkan papa saya?" tanya Rivaldi pelan namun sarkas. "Saya mohon maaf, Pak, saya hanya berusaha yang terbaik," ucap Dokter Ferdinand sambil menyuntikan cairan obat kedalam infus yang digantung. "Ayo!" Rivaldi menarik tangan Hani untuk keluar. Tanpa Rivaldi sadar Dokter Ferdinand tersenyum miring menatap kepergiannya, tapi rupanya Hani menyadari hal itu. Tapi untuk saat ini bukan saatnya membicarakan soal Dokter. Mereka memasuki mobil dan membelah jalanan. "Apa kita pulang?" tanya Hani saat dalam mobil. "Tidak, kita pergi ke ....
cerita nya menarik
08/07/2025
0baguss bgtt ceritanya
25/11/2024
0lanjut
31/10/2024
0View All