Sesampainya dirumah ia makan dan langsung istirahat tak sampai lima belas menit ia memejamkan matanya ia terbangun karena suara smartphone yang begitu keras entah itu panggilan masuk atau pesan masuk ia tidak peduli, Rara kembali tidur dan lagi smartphone itu berdering lagi, mau tak mau ia harus mengecek, Rara pun langsung meraih iphone 7plus itu dengan rasa setengah sadar dan masih mengantuk, ternyata itu merupakan panggilan masuk dari nomor tidak dikenal, haruskah ia mengangkat nomor tidak dikenal yang sudah menggangu waktu tidurnya, dengan keadaan yang masih mengantuk sebaiknya ia mengangkat panggilan masuk itu agar bisa kembali tidur. "Siapa nih? Ngapain nelpon gue, mau nipu atau mau modus, ga mempan", ucapnya asal agar orang itu tidak menelponnya lagi dan langsung mematikannya. Tetapi nihil orang itu masih menelepon Rara dan membuat emosi Rara semakin memuncak dan.. "Apaaa lagii mas, om, mbak, atau siapa lah yang disana orang ga kenal juga malah ditelepon gabut banget deh, gatau orang lagi tidur apa, mau apalagi emangnya haa", ucapnya cepat. "Astagaa neng santai atuhh lu ga save nomor gue ya?", suara itu membuat Rara menutup mulutnya karen kaget dan malu akan sikapnya kepada orang itu. "Gue Gibran, ck tut....tut....tut", Gibran langsung memetika teleponnya karena kesal. "Aduuuh bego bangett, gue ngapain ke gitu pasti dia marah", Rara mencoba tenang dan berfikir bagaimana ia harus meminta maaf pada Gibran, ia sudah meneleponnya berkali kali namun tidak ada jawaban. "Oh iyaa diakan waktu itu ngechat gue pake nomor ini, mudah mudahan dia mau bales", ucapnya sambil mengcopy nomor itu dan langsung ia save. "Lahh gilaa on nya tiga hari yang lalu woi astaaga, semestinya nomor ini masih dia pakai, hmm mudah mudahan masuk pesan yang gue kirim", harapannya "Bang maafin gue yaa, gue udah save nomor lu kok barusan, pokoknya gue minta maaf engga sengajaa tau", pesannya kepada Gibran akhirnya terkirim tapi belum ada balasan, sudah beberapa kali Rara meminta maaf tapi tetap tidak ada balasan dari lelaki itu. "Huh yaudahlah yaa bodoamat kan gue udah minta maaf dianya aja yang ambekan", ucap Rara santai dan kembali tidur, ia malah tidak bisa tidur karena masih kepikiran dengan Gibran. Rara menyesal akan perbuatan bar barnya yang membuat Gibran marah dengannya apalagi Gibran selama ini selalu baik kepadanya saat awal ketemu. "Apa gue kesekolah dia aja ya, eh tapii gue gatau dia pulang jam berapa", batinnya dan di saat itu juga ia mengingat sesuatu. "Ohhh iyaa kan bumi sekolah disana juga gue chat aja lah", ucapnya sebelum ia sadar kalau ia tidak memiliki nomor temannya itu. "Asatagaa gaada nomornya lagi, nah iyaa instagramnya, dm aja", ia langsung membuka medsosnya dan langsung mencari user temannya itu untungnya mereka sudah saling follow jadi gabakalan ada basa basi lagi. "Hai bum lu sekolah di SMK1 kan", ucapnya to the poin, tak lama kemudian Bumi pun membalas chat Rara. "Hai Ra iyaa emangnya kenapa?", Rara punsegera membalas chat itu. "Ga cuman mau nanya biasanya disana pulang jam berapa?", tanyanya berharap akan mendapat jawaban dari bumi. "Oo biasanya jam setengah dua Ra emang kenapa?", balas Bumi yang membuatnya senang akan itu. "Oh gapapa kok, gue cuman mau jemput teman gue, btw makasi yaa daa", ucap Rara berbohong dan cepat cepat menyelesaikan percakapan itu agar Bumi tidak curiga. "Iya sama2 santai aja" Keesokan harinya sepulang sekolah ia langsung bergegas ke sekolah Gibran sebenarnya ia malas melakukan ini tapi rasa malasnya lebih kecil dari rasa bersalah. Sesampainya disana ia tidak melihat satupun orang hanya ada motor yang berparkiran Rara berfikir, "Lahh kok belum pulang kan udah jam..", Rara langsung kaget ketika ia melihat kearah jam tangannya itu. "Owalah masih jam setengah 12 pantesan belum pulang, hmm nunggu atau pulang aja,kalo pulang ntar gue ga dibolehin lagi ama bunda keluar ck yaudahlah nunggu aja", ucapnya sambil mencari kantin agar bisa istirahat dan sekalian makan siang disana, walaupun menunggu bukan hal yang mudah dan nunggunya 1jam lebih ia masih tetap ingin bertemu dengan Gibran dan ingin meminta maaf. "Nah disana ada kantin tuh makan siang dulu kali yaa?", ucapnya sambi melihat dan menuju kantin sekolah itu, untungnya kantin itu sepi jadi ia tidak akan menjadi pusat perhatian karena baju seragam yang berbeda. "Permisii", ucapnya karena belum melihat tampang ibu ibu kantin di sekitar sana. "Oh iyaaa mau pesan apa", saut seorang wanita dari dapur kantin tersebut. "Buk ada pecel ayam", ucapnya tersenyum kepada ibu kantin itu. "Oh ada neng mau berapa bungkus", tanya ibu itu "Cuman satu buk makan sini", ucapnya dan langsung mencari tempat duduk "Iya ditunggu ya", jawab ibu itu sambil memakai apron bewarna merah miliknya "Kamu bukan murid disini kan?", ucap ibu itu sambil mangambil ayam mentah dari lemari es "Bukan buk dari sekolah swasta yang dekat jembatan", ucap Rara tersenyum memperhatikan ibu itu menyiapkan makananya "Ohh terus ngapain kesini kamu ada perlu sama sama siapa? Atau nunggu pacarnya ya haha", terka ibu itu sambil ketawa kecil "Haha nggak kok buk saya cuman nunggu teman", ucapnya yang juga ikut ketawa. Tak lama kemudia datanglah beberapa siswi yang wajahnya tak asing bagi Rara. "Itukan cewe gatel yang waktu itu support bang Gibran pas tanding gasih?", batinnya.
bagus
23/01
0seru
21/05/2025
0bagus
21/04/2025
0View All