Bab 4 Pengajian Berujung Penghinaan Hari ini tepat tiga bulan menempati rumah Kakak Ipar, Ingin mengadakan pengajian kecil-kecilan disini. Yah, anggap saja sebagai rasa syukur kepada Tuhan untuk nikmat yang Dia beri kepada keluarga kecil kami. Rencana Lala mau buat nasi uduk saja untuk selamatan nanti. Sejak pagi, Lala sudah sibuk dengan hal yang remeh temeh, untuk menu pelengkap uduk, juga lauk pendamping Nasi uduk. Telur balado, rendang jengkol, ayam goreng, mie goreng, orek tempe, emping juga tak ketinggalan sambal. Sengaja dari pagi Lala sudah curi start masak, karena dari bau-bau nya tak kan ada yang membantu, walau Sang mertua dan Adik ipar sudah di kabari akan adakan syukuran kecil-kecilan di rumah. Tak ada balasan hanya centang biru dua , tanda pesan singkat itu telah dibaca sang Empu nya. Yang penting sudah diberi kabar, kalau tidak akan ada nada sambung eh, nada Sumbang terdengar merdu di telinga , ish. “Dik, kamu sudah kabari Ibu, Mas Riyan, juga Mbak Ambar kan?” tanya Mas Irfan kepadaku, saat aku sedang kejar target masak untuk menu syukuran. “Sudah, Kenapa memang nya ? Aneh kok tanya-tanya?” timpal ku tanpa menatapnya, tangan sedang sibuk mengaduk rendang jengkol di kuali besar, karena terlihat sudah mulai susut air nya. “kenapa belum datang, Kamu sedari subuh tadi tak henti dari merajang bahan masakan, sampai buat bumbu, repot banget lihatnya, kakak sendiri tak bisa bantu, repot pegang Yuri” sahutnya sambil sesekali membetulkan. Posisi Yuri yang bergerak ke kanan ke kiri dengan aktif, karena memang dia bayi yang sangat aktif. “ sudah biarkan saja, mungkin mereka sedang sibuk, selama aku masih sanggup, ya sudah lah jangan ambil pusing, jaga saja Yuri, jangan sampai jatuh” Lala menanggapi ocehan suami nya dengan biasa saja. Karena sangat tahu tabiat mama mertua nya, sejak dulu mama mertua nya tak pernah berubah selalu menganggap Lala itu musuh bebuyutan. Awal nikah dengan Kak Irfan, Lala tinggal di rumah orang tuanya bahagia saja , layaknya pengantin baru pada umum nya. Tapi entah dapat ide dari mana, mama mertua tiba-tiba wa suami. [ Irfan, kapan uang mas kawin istrimu dikembalikan ke ibu?] Begitu bunyi pesan yang masuk, dan sudah dibaca suami ku. [ Maaf mah, sebelumnya, kok, mama minta uang mas kawin ke Lala dikembalikan? Atas dasar apa mah? Jangan buat aku malu lah mah, didepan orang tua Lala, sudah nikah nya sederhana masa mas kawin tak seberapa mau diminta dikembalikan, yang wajar saja sih mah!] Kembali Kak Irfan membalas pesan mama mertua ku. Air mata lolos begitu saja , aku jelek begini sangat menjaga kegadisan ku, tak pernah juga berlaku amoral. Kenapa mertua ku seperti itu, macam bukan menantu nya saja, dia menilai seperti membeli budak Belian saja. [Mama bilang saja sendiri ke orang tua Lala, itu pun kalo mama sudah putus urat malu nya silakan, aku tak setuju mah!!] Namun balasan pesan terakhir seperti memberi kehangatan , Kak Irfan membela ku, itu sudah cukup aku bertahan dengan ujian mama mertua yang model juragan Arab Sejak itu mama mertua selalu judes, dan kasar dengan nya, kadang sering menyindir soal mahar dan semua hal dibahas, di jadikan bahan pelampiasan kekesalan nya pada Lala. “ Harus nya , kalau orang tua minta mahar kembali yah pantas saja, kan kemarin kalian nikah pinjam uang ke mama, terus biaya resepsi segala macam kan ada uang mama juga, setiap kali di tanya bungkam terus, macam sudah putus saja lidah itu!” rentetan Omelan terus menyambung tak pakai titik apalagi koma. Cuma bisa diam saja selagi suami masih membela. Kembali ke perjuangan memasak, huft, panas dan capek tapi tak apa, daripada meminta bantuan yang ada malah di upload ke seluruh warga whats up keluarga, malas rasanya lebih baik sendiri bebas, tenang pikiran walau capek. Begitu fikir Lala tak berniat melawan atau membela diri, hanya sekedar menjaga hati saja, agar tetap waras. Jam empat sore semua hidangan sudah selesai. Tinggal merapikan rumah saja, Kak Irfan juga membantu, karena Yura dan Yuri sudah tidur dengan pulas, jadi bisa meringan kan beban. Akhirnya selesai, tinggal menata hidangan saja. Di meja sederhana yang tersedia. Jam lima sore, Kak Irfan, Yura ,Yuri, juga aku sudah siap sudah rapi , acara pun dimulai, Kak Irfan memanggil orang yang biasa memimpin doa, Mama mertua juga datang, beserta Kakak Ipar ku. doa kami panjatkan semoga kami diberi keselamatannya, juga keberkahan saat tinggal di rumah ini. “Wah ngadain syukuran, sudah banyak duit rupanya? Boleh nih mama minta hak mama?” ujaran mama sontak bikin raut wajah Kak Irfan merah. Yakin sedang menahan amarah pada orang yang sudah berjasa melahirkan juga membesarkan dirinya. “Mah, bisa gak jangan suka membahas hal yang malah bikin keluarga kita dicap jelek sama orang lain, lagi pula ini bukan hal yang pantas dibicarakan, ini itu acara umum mah, sampai kapan sih mama mau berkeras seperti ini?” dengan suara yang sangat pelan Kak Irfan menegur mama nya, karena bukan hanya cemoohan, tapi bisa jadi bahan gosipan orang-orang yang tidak bertanggung jawab jika diteruskan. “ mama akan berhenti bersikap seperti ini jika, istri mu mengembalikan uang mahar tujuh juta itu!” saat mengatakan itu, tanpa pamit, Mama dan Mbak Ambar pergi meninggalkan kami. Entah sampai kapan, suasana horor seperti ini hilang, tapi jika mengembalikan berarti sama saja , pihak Kak Irfan ingin menyudahi perkawinan. Tapi keperawanan ku bagaimana, ada bisa mereka mengembalikan, ketemu manusia model begini, harus menahan hati dan telinga. Bisa depresi kalau terlalu di pikirkan. Selama merapikan makanan, serta piring dan sisa makanan, air mata lolos tanpa komando, sedih karena bagi Mama, cucu nya tidak ada arti hanya uang dan uang. Lelah kadang, tapi untung suami tidak sepikiran dengan mama, kalau kelakuan nya sama alamat tak berdaging tubuh ini. “Sudah jangan terlalu dipikirkan , Dik, yang ada kamu sakit, kalau kamu sakit mau mengandalkan siapa? Kita sendiri dikampung orang” ucapan Kak Irfan ada benarnya, tapi mau dikata apa, semua nya amat miris. Hanya Kak Dimas yang baik sama Kak Irfan, walau Kak Dimas lebih sering tak dapat ditebak, tapi kenyataan nya dia baik dengan kedua keponakan nya. Maka Tuhan memberi kelebihan Rizki lebih kepadanya. “Tapi Heran saja Kak, ini sudah berapa tahun, kok masih minta uang mahar, kan kalian yang meminta dari keluarga ku, aku juga sesuatu yang sangat berharga untuk keluarga ku, uang itu nilai nya sama sekali tak setara dengan, apa yang aku beri ke keluarga kalian, harus nya mama hati-hati dalam berbicara, jangan seperti manusia tak punya Tuhan, sangat keterlaluan,” “Iya kakak tahu mama salah kaprah, semua arah pembicaraan dia selalu menyakiti hati mu dik. Kamu yang sabar yang penting Kakak tidak seperti itu , iya kan dik?” Mata Kak Irfan berkaca menahan amarah sekaligus kesedihan yang hanya dia sendiri yang tahu. Aku hanya mengangguk saja, dan kembali membisu sambil bersih-bersih rumah.
good
18/03/2025
1bagus
02/12/2024
0good
01/11/2024
0View All