Pelet Tetangga Bab 1. Pindah Rumah Baru satu minggu Aku pindah rumah. Bukan rumahKu sendiri, tapi rumah Abang ipar suami, Yang notabene kehidupannya lumayan sukses Rumah ini memang satu diantara empat rumah nya yang lain, Tapi dengan kondisi full AC dimana-mana alias masih bilik (gerebeg: Anyaman yang terbuat dari bambu), dan setengah dinding tembok bata, Tapi masih bersyukur boleh menempati rumah ini asal tak keberatan dengan kondisi yang alakadar nya, tak masalah aku orang yang bisa masuk kondisi apapun Seminggu awal masih kerasan dirumah ini karena adem dan cukup nyaman juga disamping rumah ada tanah kosong cukup luas. Juga tetangga ternyata sangat baik respon nya. Minggu kedua malam jumat, suami ijin mau ke tempat keponakannya yang hanya beda beberapa gang saja “Bun, Ayah mau keluar yah mau ambil Oleh-oleh dari Kak Lia, kemarin titip si Izul saat dia mau kembali kesini” Katanya sambil berlalu keluar rumah Aku jawab dengan anggukan saja, Dan mengawasi dari balik jendela depan. Sebelum melesat naik kuda besi kulihat suami sedang bertegur sapa dengan seseorang didepan rumah, ternyata sedang tegur sapa dengan Dewi, Tetangga baru ku Kulit nya agak coklat, dengan rambut panjang sebahu, dengan postur tubuh mirip denganku tak kurus tak pula gemuk. Tapi memang suara nya khas cempreng dan kencang khas daerah betawi “Mau kemana kak Irfan? Udeh malem loh, kasihan bininya di tinggal nanti ada yang ambil loh” Guyon nya sambil tersenyum agak didramatisir. ‘heleh, tuh, orang kenapa yah caper banget deh’ gumam ku dalam hati sambil ku perhatikan, gerak tubuhnya yang kemayu. Enek, tapi masa iya harus ku labrak Cuma karena tingkah polah nya itu? Tak lama kak Irfan berlalu pergi, sicentil itu pun berjalan lenggak-lenggok kembali ke rumahnya. Mimpi apa yah kemarin punya tetangga kok, punya penyakit gatal. Tapi mungkin saja itu memang karakter nya begitu agak kemayu. Abaikan sajalah toh, tak baik juga over bad thinking yang ada bisa stres ga jelas, sakit terus yang mau beres-berea siapa coba? Ini saja sudah pegal, nyeri tangan, punggung berikut kaki serta kepala. “ Jangan sakit ya badan, besok masih banyak kerjaan” gumam ku dalam hati. Entah sudah berapa lama aku tidur, tapi tiba- tiba kok tubuh ku tak dapat ku gerak kan, Seperti nya aku kena erep-erep. Mata pun tak kuasa ku buka tapi aneh nya aku bisa lihat seisi kamar dan anak-anakKu, Mau teriak mustahil pita suara ku seperti putus, Ya Rabb aku kenapa..? Tiba-tiba entah dari mana muncul sosok wanita berkemben dan wanita itu memakai hiasan bunga mawar merah. “Hei siapa kamu,..!” jerit bathin ku, tapi aneh makin terikat semua tubuhku kaku. Sorot mata nya nanar dan marah lalu dia mendekat ingin mencekikku “ Astagfirullah...!!!Allah,Allah,Allah” bathin ku terus melafadzkan nama nya, ada sesuatu ini bukan wanita sesungguhnya ini pasti makhluk ghaib. Ku mantapkan hati dengan mengingat namanya dan terakhir aku membaca ayat kursi, entah sudah berapa kali kubaca dalam hati kecilku “ Tolong Aku ya Allah,..” Sekuat tenaga berontak , Namun sia-sia saja sosok wanita berkemben dan memakai hiasan bunga mawar merah menatap dengan amarah, Dan mengarahkan kedua tangan nya ke arah leher, melesat sekejap mata sudah berada didepan pelupuk mata. Sontak kaget bukan kepalang, tapi tangan itu tertahan sejengkal didepan mata, membeku tak bisa mendekat, ada dinding tak kasat mata sepertinya yang menahan tangan berkuku hitam dan panjang menyentuh tubuh yang kaku ini. Entah siapa sosok itu? Tak tahu, tapi bisikan hati berkata ini bukan manusia. Dalam diam berusaha melepaskan diri dari raga yang tetap tak bergerak dan mulut yang membungkam. Hanya jeritan hati saja terus melafal istigfar disertai mata yang melihat tapi dalam keadaan terpejam. Sangat menyebalkan situasi seperti ini. Dalam ketakutan yang merajai hati, melafal ayat Kursi, entah seperti ada sesuatu yang mendorong sosok yang menyeramkan itu ke pojok kamar tidur. Tak lama dia kembali lagi, tatapan nya seperti hendak memangsa kelinci kecil. Kembali hati terus membisik kalimat suci yang ku mampu. Lagi-lagi seperti ada perisai mahluk itu tertolak mundur dan ambruk. Rupanya mahkluk itu tak menyerah dengan keadaannya kemudian kembali menyerangku. Mahkluk itu terlihat bersimbah darah dari mulut, Hidung, Juga mata nya serta rambut sanggulnya pun kusut masai saat dia kembali terdorong kekuatan yang aku tahu itu adalah perlindungan Sang Maha kuasa, penguasa langit dan bumi. Sepertinya mahkluk itu mulai kesal, terlihat dari mata nya yang berubah memerah Semerah darah, dan menggeram dengan erangan yang sulit di artikan. “GRRRHHH....GRHHH...” dia dengan cepat menerjang lagi tapi kemudian terpental kembali serta ambruk seketika. “ Ya Tuhanku, selamatkan hambamu ini, Usir makhluk itu ya Allah.” Tak putus-putus aku memohon pada penguasa alam semesta untuk membebaskan diri dari pengaruh makhluk yang entah darimana datangnya. Sejenak mahluk itu bangkit dan hanya menatap dengan nyalang, tapi kemudian wujud nya seperti menembus bilik kamar tidur ke arah kamar mandi dan menghilang. Seketika belenggu yang mengikat tubuh ini terlepas, aku bangkit dan beristigfar berulang-ulang. “Astagfirullah, Astagfirullah, Alhamdulilah ya Allah kau kabulkan doa hamba mu ini, terima kasih ya Allah.” Sambil kupeluk dan kucium kedua buah hati ku. Sebut saja namaku ==Lala usia 28 tahun dan suami Irfan 30 tahun, Kami dikaruniai dua orang Putri Yura dan Yuri. Si sulung Yura baru usia lima tahun beda dua tahun dengan Yuri. Selama menikah kak Irfan tak pernah macam-macam dia tipe suami setia dan selalu dekat dengan kedua buah hatinya. Keesokan hari nya, tubuh terasa remuk redam, berusaha bangkit dari tidur yang sama sekali tidak nyaman. Pergelangan tangan kanan-kiri, juga pergelangan kaki kanan-kiri kaku tak bisa bergerak. Pasrah tak bisa bangun dari tempat tidur. Jika dipaksakan luar biasa sakit, alhasil acara beberes rumah diambil alih bang Irfan. Jangan kan beberes, bangun saja aku sulit. Aku mengeluhkan sakit pada suami. “Kak, pergelangan tangan kenapa yah? Sakiiiit banget! Kak, ga bisa ditekuk, pegang gelas aja tadi malah jatuh gelas nya kak, untung ga kena kaki, seinget adik tak pernah sakit seperti ini, tiba-tiba saja sudah seperti ini waktu bangun tidur.” Keluhan panjang lebar pada kak Irfan. Dia hanya tersenyum manis banget kalah tuh gula, aish suka kali yah aku sakit. “Udah istirahat aja dulu, adik kecapean kali yah, nanti kakak carikan tukang urut yah, soal cucian yang beranak di dapur gampang nanti kakak yang cuciin oke..” Ucap nya sumringah sambil memijit pelan pergelangan tangan yang terasa mau copot. “Tapi jemurnya jangan ditumpuk yah kak, yang ada kering gak apek iya.” Sungutku, Takut kak Irfan kumat lupa cara ngejemur pakaian yang benar jangan sampai deh, kejadian ke sekian kali. Pergelangan tangan dan kaki yang nyeri hebat kalau di ajak jalan dan aktifitas lain, sungguh menganggu, sholat saja aku harus nyender ke kasur, entah sakit apa ini. Saat sedang tiduran, Inget kejadian erep-erep semalam. “ itu beneran apa tidak yah..?” Bathin ku Sepertinya kena Asam urat, atau kena sakit radang sendi saja . = = = Sebulan sudah tapi belum ada kesembuhan dari sakit ini. Sholat dan aktifitas lain terganggu, kedokter juga sudah, hanya diberi resep anti radang saja. Tapi keluhan itu tidak menghilang malah menjadi. Suatu hari saat rebahan tak sengaja suami, menjatuhkan buku-buku dari atas lemari. “Kak hati-hati cari apa sih..? Kok ngacak-ngacak tempat buku sih??” Tanya ku sambil menyusui Yuri yang sudah rewel mau bobo. “Enggak tadi mau cari kertas, Tapi gak ada disini.” Sahut kak irfan menimpali, belum sempat kak Irfan beresin buku yang berserakan jatuh, Yura sudah keburu mainin buku yang berjatuhan. “Yura pinjam yah, mau main sekolah-sekolahan mah boleh gak?” Ucap nya memohon ijin. “Iya deh, tapi janji ga boleh di coret-coret , juga di robek oke cantik..” Sahut ku pada Yura di balas dengan anggukan riang. “Dek, kakak mau pergi dulu yah, mau ke tempat Deni, lagi ada acara manggang ikan, gak enak kalo ga datang, boleh yah de..?” Kata kak Irfan sambil bolak balik cari sesuatu ke lemari, ternyata cari jaket tebal, karena acara nya malam pasti dingin, kak Irfan paling ga kuat udara dingin, maka nya dia antisipasi pakai jaket yang tebal. “ Ya sudah, tapi jangan lama-lama yah kelar acara langsung pulang, ade masih sakit loh kak,” kata ku sambil memelas . “ Iya dek, kak Irfan tahu, oke makasih yah sayang, kamu tidur aja yah, kakak bawa kunci cadangan” kata nya sambil mengangsurkan tangannya untuk ku cium. “Hati-hati kak dijalan bawa motor jangan ngebut” seru istri nya yang cerewet ini dari dalam kamar. Terdengar pintu di kunci dan suara motor distarter. Tinggal kami bertiga, hati terenyuh lihat Yura yang sedang asyik sendiri mainan buku dan tas juga boneka yang dia ajak ngobrol sedari tadi. Sekilas diantara tumpukan buku yang dibuat main yura, mata terpaut pada satu buku kecil, iya aku ingat itu buku pemberian guru mengaji waktu ditempat tinggal yang dulu. Kok aku jadi mau baca deh. “Yura sayang, mama pinjam dong buku yang itu boleh kan?” sambil menunjuk buku kecil seperti buku Yasin ditumpukan buku lain yang masih dimainkan Yura. “Boleh dong mah, kan ini buku mama Yura yang pinjam sama mama,” saut nya sambil menyodorkan buku bersampul coklat “ terima kasih ya, sayang.” Sambil mengusap pucuk kepala nya Terlihat dia sibuk main kembali. Ku tatap buku berjudul “ Ruqyah syar’i dan Ruqyah Mandiri” ‘Ya Rabb’ hanya itu yang terucap lirih di lisan ini. “Alhamdullilah ini mungkin jawaban dari doa yang ku langit kan meminta petunjuk kesembuhan ” Dengan cepat kubaca lagi setiap halaman buku kecil itu, untuk menggali lagi ingatan ku akan hal yang pernah diajarkan Ustaz Maimun. Malam ini terjaga pukul setengah 3 pagi, seperti biasa badan , pergelangan tangan, kaki, punggung juga kepala terasa sakit. Namun harus dipaksakan bangun karena hati ini mantap bersahutan penyakit ini aneh bukan medis, dan harus diruqyah secepatnya. Yah, malam ini harus , berat susah atau apalah jangan muMaimu Yang biasanya untuk ke kamar mandi begitu mudah, sekarang untuk mengangkat bobot tubuh saja begitu berat, dan sampai berpeluh sebesar biji jagung, terpaksa pula berpegangan ke dinding kamar untuk mencapai kamar mandi. Suamiku belum kembali dari rumah keponakan. Pasti acara bacakan (makan bareng) sama keponakan yang lain, dilanjut mengobrol ngalor ngidul. Angin dingin, serta suara burung bersahutan, seperti sedang tertawa. Tapi burung apa yang suara nya seperti orang sedang tertawa. Ya sudah lah, anggap saja tak mendengar apa pun, berusaha memantapkan hati yang mulai kalut . dengan berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, untuk mengambil wudhu. Di belakang kerling mata, sekilas tertangkap netra terlihat ada sosok yang mengawasi , Tidak berani mendekat hanya mengawasi saja. Setelah ku tengok, tak ada seorang pun disana. Kembali ke dalam kamar bilik itu, entah sangat berat sekali, antara sesak yang tetiba menghantam dada, entah karena apa, juga karena sendi pergelangan tangan dan kaki yang sakit nya malah menjadi saat terkena air wudu tadi. “Kenapa yah, kok perasaan jadi kalut begini? Kaku semua sendi tangan dan kaki, sakitnya malah makin menjadi” Ku awali dengan Shalat Taubat, karena sadar banyak debu dosa yang menempel sana-sini. Lalai, Riya, ujub, bahkan jarang bersyukur saat diberi keluasan rejeki dan diberi nikmat sehat. Dilanjut dengan Shalat tahajud, dan Shalat hajat, setelah itu baru mulai meruqyah secara mandiri, seperti yang dijabarkan dalam buku pemberian ustaz Muhaimin. Perlahan tapi pasti, saat ayat-ayat yang kulafalkan, serta Merta membangkitkan bulu kuduk yang tadi nya aman sentosa ditempat nya . Perasaan aneh menyesaki tubuh. Mentransfer pesan bahwa malam itu ada yang sedang mengawasi, aku tak sendiri, gerak dan lelaku di intai . Ah, mana bisa fokus saat perasaan tak menentu. Tapi semua harus dipaksakan, jika tidak raga ini seperti cangkang telur, makin rapuh dari hari ke hari. Tak berapa lama selesai juga, aku meruqyah tubuh ini, dengan bacaan ayat suci, sesuai yang tertera dalam buku panduan kecil itu. Dilanjut dengan subuh, karena lelah , terlelap diatas sajadah hingga udara pagi menina-bobo dalam buaian yang sejuk.
good
18/03/2025
1bagus
02/12/2024
0good
01/11/2024
0View All