logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 7

POV Revan.
"Cukup bicara mu Fioni, aku hanya ingin menjadi ayah Fasya, aku iba pada Fasya, camkan itu!." Sentak Revan dengan wajah dingin.
Aku jengah dengan pembicaraan fioni, kenapa pula ia harus mengungkit ungkit masa lalu, kenapa pula harus membicarakan siapa Revan yang dulu.
"Kamu memang engga pernah berubah Van, kamu memang selalu saja brengsek, memanfaat kan keadaan, kamu selalu merendah kan orang lain, aku tau, seharus nya aku menolak, namun aku tidak bisa begitu saja menyakiti hati mama."
"Aku benci kamu Van, aku benci!!." Semakin meledak ledak saja amarah kakak ipar ku ini.
Meski aku menyadari, bahwa yang ia kata kan itu memang benar ada nya, tetapi itu kan dulu, sekarang aku sudah berubah menjadi Revan yang lebih baik, dan aku akan berusaha jadi ayah yang baik bagi Fasya.
***
FLASHBACK ON
Empat Tahun lalu.
Di Sebuah taman yang kebetulan saat itu sedang sepi, ada seorang pemuda dan gadis yang sedang berdebat.
"Perempuan Macam kamu fi, aku tau, kamu hanya butuh uang kan, itu tujuan mu untuk dekat dengan semua pria, iya kan fi!." Lelaki itu berteriak di depan wajah Fioni, tatapan nya dingin, dan penuh amarah.
"Apa maksud mu, aku tidak serendah itu, aku benar benar mencintai mu, aku mencintai mu, bukan karna harta, dan aku tidak pernah sembarang dekat dengan pria, jaga ucapan mu aku mohon." lirih Fioni, sambil memandangi wajah sang kekasih, yang beberapa tahun lebih muda dari nya.
"Apa kamu bilang fi, ulangi lagi fi, aku mau dengar, bukan murahan?, tidak serendah itu?, hah?, omong kosong."
"Sekarang layani aku fi, kamu akan mendapat kan uang yang kamu mau." Pemuda itu terus menerus merendah kan Fioni dengan nada menghina.
"Ayo lah fi." Pemuda itu mendekati Fioni.
Tiba tiba saja.
Plak!!!
Fioni melayangkan tamparan ke wajah pemuda itu, lelaki yang amat ia sayangi, lelaki yang ia anggap benar benar memberikan kasih sayang yang selama ini ia rindukan, yang ia butuh kan.
'Bisa bisa nya kamu berprilaku seperti ini terhadap ku.' Air mata Yang sedari tadi terbendung di pelupuk, akhir nya banjir jua.
"Kurang ajar kamu, dasar perempuan munafik, kamu sama saja dengan pelacur pelacur ku yang lain, tau kamu!." lagi lagi pemuda itu berteriak di depan wajah Fioni, dengan wajah penuh amarah dan sedikit senyuman, yang mirip seringai licik dan menghina.
"Aku benci kamu, sangat benci, dasar lelaki brengsek!." Fioni berteriak sekencang mungkin, lalu berlari pergi dari tempat itu.
FLASHBACK OFF.
***
"Tidak usah terus menerus membuat diri mu seolah paling terluka kak, aku muak." Aku tekan kan suara ku, agar Fioni tau, aku jengah dengan setiap tuduhan nya.
"Toh kamu sudah menyetujui nya, jadi untuk apa kamu berteriak seolah kamu sangat membenci semua ini, semua ini tidak akan membuat mu merugi, seharus nya kamu senang, aku akan menghidupi kamu dan Fasya, kamu tidak perlu kesana kemari lagi, bertemu lelaki yang berbeda beda." Sengaja ku buat nada bicara ku mencibir, karna memang itu lah kenyataan nya.
"Kamu memang benar benar kejam Van, sangat kejam, aku fikir kamu sudah berubah menjadi lebih baik, aku menerima semua ini hanya karna mama, bahkan jika nanti pun kamu tidak mau bertanggung jawab atas aku dan Fasya aku tidak perduli Van, aku sama sekali tidak perduli." ku dengar suara Fioni bergetar, aku amat benci situasi seperti ini, situasi di mana aku harus iba dan jengkel di waktu yang bersamaan.
"Cukup Fioni, jangan terus-terusan membuat seolah diri mu yang paling terluka, dan aku lah yang paling jahat dan kejam!." Aku sangat jengkel kepada Fioni yang terus menerus membuat aku merasa paling buruk di dunia ini.
Kata-kata yang keluar dari bibir Fioni, hanya lah seolah aku bajingan brengsek yang tidak pantas di terima, seolah aku lelaki paling jahat yang tidak akan pernah berubah, Rasa nya, aku sangat jengah ada di saat-saat seperti ini.
"Ini kenyataan Van, seharus nya, jika kebencian mu terhadapku, tidak pernah ada penawar nya, maka bunuh saja aku Van, mungkin itu lebih baik bagi mu, meski sampai saat ini aku masih bertanya tanya, atas dasar apa kamu benci aku van." lagi lagi ku dengar Fioni mengucapkan hal bodoh dan mustahil bagi ku untuk melakukan nya.
'Dasar permpuan bodoh!.' Aku hanya bisa mengumpat dalam hati ku, aku tidak tau harus bagai mana juga, apalagi ketika ku lihat permpuan ini menangis tersedu sedu, namun Tanpa suara.
'Ya bagus juga, jadi tidak ada yang perlu mendengar, lalu terjadi drama drama di taman belakang ini.' Aku membatin, sambil tersenyum.
Aku tidak tau lagi bagai mana bersikap pada seorang wanita, aku tidak ingin wanita, yang ku lakukan pada Fioni, hanya lah karna rasa iba ku kepada keponakan ku, Fasya, dan juga, aku tetap menghargai mendiang kak Fairuz, biar bagai mana pun mas Fairuz selalu menjadi kakak yang baik untukku, selalu membela ku di saat aku butuh di bela, selalu menolong ku di saat aku butuh di tolong, ia orang nomor satu yang akan maju, jika ada yang ingin menyakiti ku, aku akan membalas kebaikan nya dengan cara ini meskipun,~~
'Aaah sudah lah, untuk apa aku mengungkit ini.' Aku menghela nafas.
***
FLASHBACK ON
Beberapa hari sebelum Fairuz kecelakaan.
Hari itu bengkel Revan kebetulan tidak begitu ramai.
Tiba Tiba terdengar Decitan rem mobil di depan bengkel Revan, nampak mobil putih Sedang memarkir di depan bengkel.
Revan sangat mengenali mobil itu, itu mobil sang kakak, Ya itu mobil Fairuz Zaldi.
"Tumben pak Fairuz kesini mas." Celetuk salah satu montir Revan.
"Iya tuh, mungkin lagi ada kendala mobil ny, kalau kesini kan gratis.," Canda Revan sambil terkekeh. dan montir itu pun ikut tertawa sambil menggeleng geleng kan kepala, dia sudah sangat paham dengan sifat dua kakak beradik ini, bahkan ia juga tau, salah paham yang pernah membuat kakak beradik ini hampir saling tikam satu sama lain.
Terlihat Oleh Revan dan Yatno, Fairuz keluar dari mobil, dan melangkah ke arah mereka, sembari memutar Mutar kunci mobil di telunjuk nya.
"Hai Van, Lagi sibuk ya." Fairuz lebih dulu menyapa adik nya.
"Eh ini dia montir senior kita, pak Yitno." dengan nada jenaka nya menggoda montir Revan itu.
"Yatno pak, kok demen banget ganti ganti jeneng wong to." Pak Yatno menggerutu.
Mereka pun tertawa mendengar ucapan pak Yatno.
"Tumben pak bos kesini." Revan menimpali kakak nya.

Book Comment (78)

  • avatar
    Fani ArisnawatiNur

    romance novel

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Aura Aura

    Bagus kakak

    01/06/2025

      0
  • avatar
    WulanNesmawulan

    bagus

    19/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters