"Ini si fio aneh banget, kan Revan emang udah bawa calon nya." Celetuk Tante ana. "Hah?, mana?." Fio menoleh ke kanan ke kiri, Merasa heran sebab dari tadi ia tidak melihat sosok asing di antara mereka. "Yang mana sih, kenapa enggak masuk kesini ma, calon nya revan?." Tanya fio Heran. "Kamu gimana sih fi, kok malah bingung gitu, aneh deh, emang Revan engga bilang apa apa sama kamu?." Giliran Tante Ratih Terheran heran. "Apaan Tan, engga ada bilang apa apa, dari tadi malahan riweh sendiri sama Fasya." Timpal Fioni sambil melirik sinis adik ipar nya, merasa tidak di anggap oleh Revan. 'Kurang asem kamu, memang ini anak ya, songong kebangetan, kakak ipar nya sendiri engga di kasih tau.' Sungut fio dalam hati, sambil memandang sinis Revan. Revan yang sekilas melihat lirikan sinis itu pun semakin menenggelam kan kepala dalam dalam sambil mengurut dada nya, akibat tersedak tadi. "Ehem, jadi gini fi." Akhir nya Mama Raisa mertua fio mengambil alih pembicaraan ini. Pasal nya, Semua ini tidak di ketahui pasti oleh Adik kandung dan adik ipar mama Raisa itu sendiri, yang Ratih dan ana tau, hanya lah, Revan yang akan memperkenal kan calon menantu. "Sebelum nya mama mau meminta saran hal dengan mu fi." Mama Raisa memulai pembicaraan dengan serius, meletak kan sendok dan garpu yang sedari tadi ia pegang. "Apa ma?." Timpal fioni dengan suara lembut nya, sambil tersenyum. "Mama dan papa, selama ini kami menganggap mu anak kami, kami tidak ingin melihat mu terluka kecewa, apa lagi di sakiti orang lain, Mama berharap, untuk kali ini mama meminta satu hal ke fio, mama harap jawaban fio tidak mengecewakan mama dan papa." Jelas mama Raisa panjang dan lebar. Semua yang ada di meja itu tampak hikmat, Diam tampa pergerakan atau pun suara, Tak terkecuali Revan. "Maksud mama apa, mama mau apa dari fio, mama tau kan, fio mencintai mama seperti ibu sendiri, begitu pun dengan papa, dan keluarga ini, fio sangat menyayangi kalian, Fio akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengecewakan kalian." Fio menimpali ucapan mama mertua nya. "Mama mau apa dari fio, Fio akan berusaha tidak mengecewakan mama." Sambung Fioni lagi. "Mama mau Fio menikah dengan Revan." "Mama mau Fio menikah dengan Revan." Ucap mama Raisa dengan tegas. "Hah?, Apa ma?, engga salah?." Mata fio membeliak tidak percaya. "Kamu udah janji sama mama fi, kamu udah janji enggak mengecewakan mama." Mama Raisa menatap tajam ke arah menantu nya, bukan Tampa alasan ia bersikap demi kian. "Mama lagi bercanda kan sama fio?." Fioni berusaha untuk mengaggap ini hanya candaan mertua nya. "Engga fi, mama enggak bercanda." Tegas mama Raisa. Sementara Yang lain hanya terdiam mendengar perdebatan, menanti dan mertua itu. Revan hanya bisa berdoa di dalam hati, berharap mama Raisa akan mampu untuk membujuk Fioni. "Tapi ma, Revan itu adik mas fai, dan adik mas fai itu adikku, bagai mana mungkin aku bisa menikah dengan adik dari mendiang suami ku." Jelas fio tidak percaya dengan permintaan Mertua nya. "Yaaa bisa aja lah, Turun Ranjang nama nya." Celetuk Tante Ratih dengan wajah acuh. "Naah, betul kata Tante Ratih." Revan memberanikan diri menyahuti. Fioni menoleh ke arah Revan, Lalu mendelik kan mata nya. "Anak kecil diam." Fioni berkata dengan lirih kepada Revan sembari mendelik kan mata nya. Revan membelalakkan matanya. 'Bisa bisa nya dia bilang aku anak kecil, Awas kau.' Gerutu Revan dalam hati, Namun tetap saja, ketara sekali wajah nya menjadi masam. "Fio, Kamu sudah janji kan untuk tidak mengecewakan mama?." mama Raisa kembali memohon pada fio. "Iya ma, fio sudah janji, tapi apa mama serius?." Fio menimpali mertua nya. "Mama serius fi, kamu tidak keberatan kan." Mama Raisa dengan nada memohon. "Tapi ma, bagai mana dengan Revan ma, aku juga masih belum berfikir untuk menikah lagi, aku masih mau fokus ke Fasya." Ucap Fioni dengan nada lirih. "Revan mau kok fi, malah revan yang minta." Kali ini papa mertua Fioni yang bicara namun dengan nada yang santai, malah terkesan acuh. "Apa?." Fioni terkejut dan mata nya membelikan lebar. Fioni melirik ke arah Revano yang menunduk kan kepala nya. Dalam hati Fioni berfikir, bagai mana mungkin bisa, bahwa Revano lah yang meminta untuk menjadi suami nya, apa yang di inginkan Revano. 'Aku tidak mau mengecewakan mama Raisa, tetapi ini terlalu engga mungkin.' Batin Fioni berkecamuk. "Fi, kamu engga akan mengecewakan mama kan?." Mama Raisa membuyarkan lamunan fio. "Ma, jangan paksa dong kalau fio enggak mau." celetuk papa mertua fio. "Papa apaan sih, mama tanya fio ya, bukan papa." Revan menimpali dengan nada sewot. Kini semua pandangan tertuju kepada fio, hanya papa Abram yang terlihat santai saja. 'Please fi, please say ya.' Jerit Revan dalam hati. 'Aku janji fi, aku janji, akan jaga kalian berdua, aku janji, suatu saat aku akan jujur tentang rahasia besar, yang selama ini kamu ingin tau.' Revan terus memohon dalam hati nya. "Fi, kamu keberatan dengan keinginan mama?." Sekali lagi mama mertua fio memecah keheningan. Fioni melirik ke arah Revan, mata mereka bertemu, Revan melihat seolah hazel mata indah itu bertanya, dengan cepat Revan menganggukkan kepala nya. "Iya ma, Fioni tidak akan mengecewakan mama, kalau ini memang keinginan mama." Akhir nya Fioni memberikan jawaban, meski hati nya pun masih kebingungan sendiri, namun ia juga tak ingin mengecewakan sang mama mertua, yang selama ini turut menyayangi nya setulus hati. "Alhamdulillah." Semua orang yang ada di meja makan bersyukur dengan jawaban Fioni, tak terkecuali Revan, senyum samar terbit di bibir nya, namun tidak begitu ketara. "Jadi Bulan depan kita akan langsung kan pernikahan nya, begitu kan Van." Mama Raisa menoleh ke arah Revan. Revan hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Haaah?, apa engga terburu-buru banget ma?." Fioni terkejut dengan ucapan mama mertua nya. "Sebulan lama kalik kak." celetuk Revan. "Lama buat kamu yang enggak sabaran." cetus papa Abram dengan wajah acuh. semua yang ada di meja makan terkekeh geli. "Tau nih Revan, engga sabaran banget." Celetuk Tante Ratih pula. mereka hanya memikir kan keinginan dan keyakinan Revan, dan semua sudah terjawab malam ini, tidak perduli bagai mana tanggapan papa Abram. "Ya udah lah, kita pindah ke ruang tengah, kalau semua sudah selesai makan." cetus papa Abram lagi. "Yee belum juga makan." Tante ana menyahuti dengan sewot. "Ya udah ayo kita makan, merayakan kebahagiaan kita semua." ucap mama Raisa dengan wajah sumringah. Semua yang ada di situ, menyantap makan yang sudah mulai dingin, semua lega setelah mendengar jawaban Fioni malam itu. sementara Fioni sendiri masih dalam kebingungan dan kebimbangan, mengapa bisa mama mertua nya berfikir hal yang seperti ini. Setelah selesai makan semua pergi ke ruang tengah, untuk bersenda gurau mengobrol dan para nenek asik bermain dengan cucu satu satu nya, Fasya Alexa Zaldi. Sedang kan Fioni malah pergi ke taman belakang, memandangi bunga bunga yang ada di taman itu, fio dan mama Raisa memiliki minat yang sama, ya itu menanam bunga, beda nya rumah fio tidak seluas rumah mertua nya, jadi ia tidak bisa membuat taman di rumah nya sendiri. Tampa fio sadari, Revan sudah berdiri di samping nya. "Ehem." Revan sengaja ber dehem, untuk menarik perhatian kakak ipar nya itu. Fioni menoleh, dan melihat adik ipar nya yang menyilang kan kedua tangan nya di dada. "Van, kenapa kamu melakukan ini, apa maksud mu." Fioni Tampa basa basi, langsung mengutarakan hal yang mengganjal di hati nya. "Maksud kakak apa, melakukan apa." Revan menimpali dengan santai, Tampa menatap sang kakak ipar. "Melaku kan apa?, apa kamu sedang bermain sandiwara pura pura bodoh hah!." suara fio sedikit meninggi. "Apa maksud mu untuk menikahiku Van, apa yang kamu mau dari ku, bukan kah sejak dulu, sebelum aku menikah dengan mas fai, kamu terlihat sangat membenci ku, tidak menyukai ku, memandang remeh dan rendah pada ku, lalu apa maksud mu untuk menikahi ku hah!." Fioni memandang tajam wajah sang adik ipar. "Apa kamu sengaja, ingin kembali menyakiti hati ku Van, kamu sengaja menikahi ku untuk melampiaskan rasa benci mu, yang entah apa penyebab nya itu, iya begitu?, lalu kamu akan mengkhianati ku, dan meninggalkan ku, menyakiti anakku, dan kamu sengaja meminta mama yang mengatakan itu, karna kamu tau Van, kamu tau aku tidak bisa menolak mama, iya kan Van!." Fioni semakin meledak ledak. mata nya terus menatap nyalang wajah sang adik ipar, yang sedikit pun tak mau melihat wajah nya. Sedetik kemudian Revan memandang wajah Fioni. "Cukup bicara mu Fioni, aku hanya ingin menjadi ayah Fasya, aku iba pada Fasya, camkan itu!." Sentak Revan dengan wajah dingin.
romance novel
08/07/2025
0Bagus kakak
01/06/2025
0bagus
19/05/2025
0View All