Revan, sedari tadi hanya berdiri di belakang fio, memandangi fio dengan perasaan iba, dia sedikit banyak tau, bagai mana Fioni sangat bergantung pada Fairuz, Fioni yang cantik hidup sebagai sebatang kara, dari kecil di tinggal orang tua dan di rawat oleh paman dan bibi yang kejam, Fioni yang kekurangan kasih sayang, Revan sangat tau bahwa Fairuz yang berusaha keras memperbaiki dan menyelamatkan hidup Fioni, sehingga beberapa tahun terakhir menjadi sangat berwarna, namun warna itu mungkin saja telah sirna bagi Fioni, "sudah kak, ikhlaskan kak fai, dia sudah tenang di sana, jangan buat ia ikut bersedih karna air mata mu kak," Revan merengkuh kedua bahu Fioni, Fioni yang masih tergugu, dengan air mata berurai tiada henti, "aku tidak bisa hidup Tampa mas fai Van, aku tidak bisa, aku tidak sanggup Van, aku harus bagaimana, aku ingin ikut mas fai," suara lirih Fioni, sambil tergugu, tangisan yang sangat mengenaskan, hati Revan mencelus, mendengar tangisan menyayat hati itu, "sabar kak, masih ada aku, masih ada mamah papah dan yang paling penting , ada Fasya di sini," Revan berusaha menenangkan kakak ipar nya, "kasihan Fasya Van, kasian Fasya," Fioni masih tergugu, Tampa sadar, ia menenggelamkan wajah nya ke dada bidang Revan, dan menangis tergugu dalam pelukan sang adik ipar, "ikhlaskan kak, kakak bisa melewati semua ini, masih ada kami di sini," Revan memenangkan kakak ipar nya, Sembari mengelus rambut hitam yang tergerai sepinggang Fioni, Fioni masih menangis tergugu, sampai akhir nya Fioni merasa ada bayangan besar hitam menghujam kepala, dan setelah itu Fioni tak mengingat apa pun lagi, Revan yang terkejut, Fioni tiba tiba hilang kesadaran nya, untung saja saat itu ia dalam pelukan Revan, sehingga tidak terjermbab ke tanah kuburan baru itu, "kak, kak fio, bangun kak," Revan menggerak kan tubuh fio, tetapi fio tidak kunjung sadar kan diri, Tampa fikir panjang Revan membopong tubuh kakak ipar nya ke dalam mobil, tak lama terdengar deru mobil, meninggalkan pemakaman itu, "Kak, yang sabar ya, bertahan ya kak, aku bawa kakak ke rumah sakit," nafas Revan tersengal sengal, menyetir mobil dengan gesit melintasi jalan yang syukur nya tak begitu ramai, sehingga sedikit leluasa untuk menuju rumah sakit , sesekali Revan menoleh ke wajah kakak ipar nya, wajah yang tetap terlihat manis, meski Tampa pulasan mek up dan sebagai nya, ~~~ Hospital "Jadi bagai mana keadaan nya dok," Revan bertanya pada sang dokter, "tidak apa pak, hanya saja nyonya fio seperti nya terlalu setres dan kelelahan, nanti saya buat kan resep yang harus di tebus di apotik, tidak perlu rawat inap, minum vitamin dan obat yang saya resepkan secara teratur, dan usahakan jangan banyak fikiran," tutur dokter itu kepada Revan, Tak lama fio membuka mata, kepala nya terasa pusing, melihat ke sekitar , ruangan yang ia yakini itu bukan kamar nya. "hey kak, sudah bangun," terdengar oleh fio suara adik ipar nya, "Van, kamu di sini, aa-ku kenapa ada di sini van," fio mendongak kan kepala, mencoba mengingat ingat apa yang sudah di terjadi. "iya, tadi kak fio pingsan di pemakaman," ucap Revan lirih. Air mata mulai mengalir di sudut mata fio, mengingat semua nya membuat fio lagi lagi merasa tergoncang. fio mulai menangis terisak isak, tubuh nya bergetar hebat, kedua tangan nya menggenggam erat alas kasur eumah sakit itu, suara tangisan menyayat hati tak bisa fio kendalikan, rasa kehilangan itu benar benar membuat nya merasa lemah. Revan yang melihat itu pun menjadi panik sendiri, Revan berdiri dan memeluk kakak ipar nya. "kak, kak fio sabar yang sabar, di sini ada aku, menangis lah, tapi jangan menyerah, masih ada aku di sini, kak fio tidak akan sendiri, " Revan memeluk erat kakak ipar nya, membelai rambut panjang nan indah itu, sesekali ia menyeka air mata Fioni. "Van, aku dan Fasya, kami hanya berdua sekarang, aku harus gimana Van, kenapa dunia kejam sekali terhadap ku dan Fasya, apakah begitu besar dosa ku, sehingga kebahagiaan itu tidak bisa bertahan lama dalam hidup ku, aku lelah Van aku lelah " fioni menangis tergugu di pelukan adik ipar nya, " masih ada aku di sini, aku bersama kakak dan Fasya, kakak jangan menangis lagi, aku mohon jaga kesehatan kakak" tutur Revan lembut, "sekarang kakak lihat aku, lihat mata ku, kakak percayakan denganku," Revan memegang erat kedua bahu sang kakak ipar. fio perlahan mengendalikan diri nya, dan mendongak kan kepala nya, memandang mata hazel coklat ipar nya, fio mengerjapkan mata nya, kala memandang hazel coklat milik adik ipar nya, pandangan itu seakan mengatakan, akan selalu ada aku di sini. "kakak percaya aku kan," Revan mengulangi ucapan nya, dalam keadaan kalut dan kesakitan hati nya, fio tidak bisa mencerna apa pun ucapan Revan, dia hanya menganggukkan kepala nya perlahan. "aku akan selalu ada untuk kakak dan Fasya," Revan menekan kan suara nya, seakan menegas kan, bahwa dia sungguh sungguh. "jadi kak fio, jangan pernah merasa sendirian lagi," sambung Revan lagi, "sekarang kakak minum obat nya ya, nanti sore kita sudah bisa pulang," ucap Revan sembari menyandarkan punggung fio ke sandaran brangkar. " Kakak harus sehat, harus kuat dan semangat, ingat kak, ada Fasya dan... Juga ada aku di sini," sambung Revan lagi. "Terimakasih Van," timpal fio lirih. "Sama sama kak, ini makan dulu, setelah itu minum obat dan vitamin," Revan menyodorkan sendok berisi bubur dari rumah sakit, ke mulut kakak ipar nya. Meski fio nampak ragu dan canggung, karna selama menjadi keluarga dia sangat menghargai hubungan nya dengan ipar nya, ia tak pernah sedekat ini dengan Revan, tapi ia tetap membuka mulut nya untuk menerima suapan itu. "Apa gak bisa kita pulang sekarang saja Van, aku kangen Fasya, aku takut dia rewel dan ngerepotin Oma nya," cicit fio lirih. "Sabar kak, setidak nya kakak harus kuat dulu, aku janji sore ini kita udah pulang, dan tentang Fasya, kakak jangan risau kan , Fasya anak pintar dan kuat, dia pasti baik baik saja," Revan meyakinkan Fioni. Setelah selesai makan dan minum obat fio kembali merebah kan badan nya di brangkar itu. Masih terbayang oleh nya terakhir kali Fairuz mengecup kening nya, pamit pergi ke kantor, dan ternyata Fairuz pergi untuk selama nya. Ini semua terlalu cepat bagi fio, rasa nya baru kemarin fai datang pada nya, merengkuh jiwa sepi nya yang kehilangan kasih sayang orang tua, fai datang dengan sejuta kasih sayang dan cinta yang tak pernah fioni dapat kan dari siapa pun. Bayang bayang wajah fairuz Zaldi terus berputar putar dalam ingat Fioni Santika, senyum indah, bisikan bisikan cinta, belaian belaian lembut yang selalu Fairuz berikan pada nya. Tak terasa air mata mengalir dari sudut mata indah itu, lagi dan lagi tubuh Fioni bergetar hebat, Isak demi isakan mulai terdengar, menggoncang kan bahu nya. Revan yang melihat itu menajdi panik dan kalang kabut sendiri. Akhir nya Revan berdiri dari sofa nya dan menghampiri fio, serta Merta memeluk erat tumbuh ringkih fio, air mata yang melesak membasahi kemeja Revan. Tampa sadar fio pun memeluk erat adik ipar nya, dan semakin mengeraskan isakan nya, hingga sedetik kemudian ia tersadar dan berusaha menguasai diri nya, fio sedikit tersentak ketika ia mulai menguasai diri. "Van," cicit fio lirih, sembari berusaha menarik diri dari pelukan adik ipar nya. Revan yang sedari tadi hanya memeluk kakak ipar nya sambil membelai rambut hitam panjang itu pun ikut tersentak. "Ee-eh, maaf kak, aa-ku, aku panik melihat kakak menangis," ucap Revan sedikit gugup. Fio hanya mengangguk kan kepala, dan berusaha menguasai diri. 'aku harus kuat demi Fasya, aku harus tetap berdiri meski Tampa kamu di sini mas,' batin Fioni, mensugesti diri nya, agar ia tidak tumbang lagi. "Van, terimakasih ya sudah menemani ku, dan maaf jika aku merepotkan," ucap fio sambil menatap adik ipar nya. "Sama sama kak, aku tidak merasa repot, ini kewajiban ku sebagai seorang adik, dan sebenar nya," Revan menggantung kata kata nya, dia belum sanggup mengatakan. Fioni hanya tersenyum, Tampa memikirkan ucapan Revan yang menggantung, fikiran dan hati nya terlalu kalut untuk mencerna itu semua.
romance novel
08/07/2025
0Bagus kakak
01/06/2025
0bagus
19/05/2025
0View All