logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 4

Skafi yang memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya berbicara, "Dis, pulang sekolah kita mampir ke rumah gue mama gue mau ketemu sama lo soalnya."
"Hah mama lo?"
"Iya mama gue. Dia pengin ketemu pacar gue."
"Tapi Fi gue takut mama lo ngga suka—" ucapan Disa terpotong.
"Mama pasti suka sama lo dan pasti senang karena kedatangan lo untuk ketemu mama." potong Skafi.
"Ya udah gue ikut ke rumah lo."
Skafi kemudian menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah dengan Disa.
Gerbang utama rumah terbuka lebar ketika mobil Skafi sampai di depan gerbang utama.
Rumah bergaya eropa dengan desain yang mewah. Disa turun dari mobil Skafi seketika terpana melihat rumah Skafi.
"Ayo Dis masuk," ajak Skafi sambil menarik tangan Disa memasuki rumahnya.
"Dis, tunggu sini gue  mau ke kamar ganti baju dulu," ujar Skafi menunjuk sofa ruang tamu.
"Oke."
Sepeninggalan Skafi, Disa hanya duduk diam sembari menunggu Skafi. Mengedarkan pandangan melihat sisi rumah Skafi dengan pandangan berdecak kagum. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya.
"Eh kamu siapa?" tanya wanita paruh baya.
"Eh tan-te aku Disa aku kesini sama Skafi," jawab Disa gugup sekaligus terkejut dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba.
"Ga usah gugup dong, tante tebak pasti kamu pacarnya Lioz kan?" tanya wanita itu.
"Lioz?" dahi Disa mengerut mendengar nama yang terasa asing ditelinganya.
Mamanya Skafi mengangguk menjelaskan. "Iya Lioz anak tante keluarganya memanggil Skafi dengan nama Lioz."
"O gitu ya tan," Disa mulai paham siapa itu Lioz nama terakhir dari nama panjang Skafi.
"Saya Isa mamahnya Lioz panggil mama aja ya biar enak ga usah panggil tante," ucap Isa sang mama Skafi.
"Iya tan—eh ma," Disa kikuk sekali memanggil mamanya Skafi.
"Ih kamu lucu banget sih cantik lagi,  beruntung Lioz dapat kamu. Kamu tau nggak kalau kamu cewe pertama yang di bawa ke sini loh," ujar Isa sambil mengelus kepala Disa sayang.
"Masa sih ma?" ucap Disa yang sudah tidak canggung dengan panggilan buat mama Skafi.
"Iya sayang, Lioz tuh ga pernah deket sama cewe apalagi kalau cerita sama mama, Lioz ga pernah bahas cewe. Waktu lalu Lioz pernah keluar rumah waktu weekend dan bajunya tuh rapi banget. Padahal Lioz juga kalau weekend di rumah aja. Terus mama tanya mau kemana. Eh kata Lioz mau ketemu pacar otomatis mama kaget dong. Dan mama menyuruh Lioz untuk membawa pacarnya kesini," ucap Isa panjang lebar.
"Hm pantes ya ma, Skafi itu dingin banget kalau sama cewe."
Isa mengerling jahil, "Tapi beda kan kalau sama kamu?"
"Ya gitu deh ma," ucap Disa ya kadang Skafi ada sisi romantisnya.
"Haha dsar anak muda pake malu-malu segala." Isa mengibaskan tanganya sembari tertawa kecil.
"Hm sayang gimana kalau kita masak makan siang? Untuk kita makan siang bersama."
"Boleh deh ma ayo."
Isa dan Disa menuju dapur mereka memasak bersama. Memasak makanan kesukaan Skafi.
Ketika Disa dan Isa memasak Skafi datang dan memeluk Disa dari belakang. Dagunya bertumpu pada bahu kecil Disa.
"Eh.." kaget Disa.
"Lo ngagetin tau, Fi."
"Kamu tuh Lioz tiba-tiba datang ngagetin aja." Isa mengomel Skafi datang tiba-tiba tanpa suara.
Skafi tak menjawab ia malah dan sibuk memeluk Disa dari belakang.
"Lepas dong Fi malu tuh di lihat mama," ucap Disa pipinya bersemu merah sembari melepaskan lilitan tangan Skafi di perutnya namun gagal bukanya terlepas malah semakin erat saja.
"Udahlah biarin aja."
Isa hanya geleng-geleng melihat tingkah Skafi yang seenak jidat pamer keromantisan di depan dirinya bahkan tak malu untuk memeluk sang pacar di depan dirinya.
"Ehem," dehem seorang pria.
"Eh papa," Isa menghampiri seorang pria tadi mengambil tas dan jas kerja pria tersebut.
"Oh jadi kamu yang membuat istri saya menyuruh saya pulang cepat siang ini demi ketemu sama kamu," ucap pria tersebut menunjuk ke arah Disa yang masih di peluk Skafi dari belakang tanpa menghiraukan kehadiran pria tersebut.
"Saya?" tanya Disa bingung.
"Iya sayang kamu. Mama menyuruh suami mama pulang lebih cepat siang ini untuk ketemu kamu pacarnya Lioz," jelas Isa kemudian melenggang pergi untuk menaruh tas dan jas kerja suaminya di tempatnya.
"Saya papanya Lioz, Reno," ucap pria tersebut memperkenalkan diri kepada Disa yang tak lain Reno papa Skafi sambil melirik ke arah Skafi yang masih betah memeluk Disa.
"Iya o-om perkenalkan saya Disa," Disa menggerakan bahunya agar Skafi mau melepaskan pelukanya, "Fi, lepas dong malu sama papa kamu tuh di lihatin nerus," bisik Disa pelan.
Skafi pun melepaskan Disa ia juga tau pasti Disa sangat malu di lihat oleh papanya.
"Kamu panggil saya seperti Lioz saja ga usah om biar lebih akrab," ucap Reno.
"I—iya om eh pa."
"Dasar kamu Lioz main peluk anak orang," gerutu Reno melihat kelakuan anaknya.
"Papa iri?" mengangkat sebelah alisnya, "Ya gak papa lah lagian Disa juga pacar aku," balas Skafi santai.
"Ya ya terserah kamu deh," ucap Reno melenggang pergi dari dapur.
"Ih Fi, kan aku malu nih jadinya kalau nanti ketemu mama dan papa kamu," Disa menggeser tubuhnya menjauhi Skafi.
"Ga usah malu Dis, papa dan mama aku juga biasa aja," ucap Skafi enteng.
"Kamu mah gitu. Kan aku yang ngerasain," ucap Disa cemberut.
"Iya iya aku ngerti kalau kamu malu kita bermesraan di depan mama dan papa aku, tapi kalau berdua engga kan?"
"Gimana ya engga tahu," jawab Disa mengedikan bahunya acuh namun tak urung pipinya merona mendengar godaan Skafi.
"Aihh pipinya merah tuh," goda Skafi gencar.
"Ih udah dong jangan di goda mulu."
"Soalnya kamu lucu sih," gemas Skafi menarik kedua pipi chubby Disa tak terlalu kuat.
"Gitu ya di tinggal mama romantis-romantisan," ucap Isa kembali ke dapur.
Skafi menatap mamanya njengah. "Kaya mama ga pernah romantisan sama papa aja."
Isa menyahut sewot. "Ya pernahlah."
"Nah itu, jadi kenapa aku sama Disa ga boleh romantisan."
"Boleh sih boleh tapi tau tempat kali masa di dapur," ejek Isa.
"Nanti Lioz cari tempat yang bagus tenang aja."
"Nah, modal dong."
Mereka Isa dan Disa kembali berkutat dengan masakan di dapur. Skafi dirinya sudah menunggu di meja makan.
Setelah 15 menitan makanan pun siap di sajikan. Aroma semerbak harum dari masakan Disa dan Ani tercium di seluruh dapur. Hanya masakan sederhana ayam kecap dan capcay makanan favorit Skafi.
Segera Disa membawa makanan ayam kecap dan capcay yang telah jadi ke ruang makan meletakan di meja.
Isa menyusun alat makan di atas meja. Selesai dengan urusan tata menata Isa memanggil suaminya untuk makan bersama.
"Enak," gumam Skafi merasakan makanan yang di masak oleh Isa dan Disa.
"Pasti dong, kan yang masak pacar kamu tuh."
"Disa cuma bantu dikit kan mama yang masak tadi," elak Disa.
Isa menyerukan tidak setujuanya. "Hih padahal kamu loh Dis yang masak."
"Udah selesain makanan kalian baru ngobrol," lerai Reno memang Reno mengajarkan di saat makan tak boleh ada yang bersuara.

Book Comment (8)

  • avatar
    KhoirKhalisa Naadhira

    bagus banget seruu ih

    19d

      0
  • avatar
    Nardi Aditya

    bagus

    23d

      0
  • avatar
    YafaaaMdza

    bagus asik seru

    27/05

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters