logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 3

"Sini Dis deketan gue mau kompres memar di pipi lo," pinta Skafi. Dirinya berada di rumah Disa di taman belakang sedang mengobati luka memar di pipi Disa.
"Sstt, pelan-pelan Fi."
"Tahan bentar sayang."
Wajah Disa bersemu merah mendengar panggilan sayang dari mulut Skafi meski dirinya menahan perih dipipinya.
"Eh kok merah pipinya?" tanya Skafi geli nemandang Disa.
"Ishh apaan sih," elak Disa dengan wajah masih memerah.
"Karena gue panggil sayang ya?" tebak Skafi, "Ga usah malu-malu gitu kali sama pacar sendiri juga."
Disa mengabaikan godaan dari Skafi.
"Nah sudah selesai."
"Terimakasih, Fi."
"Sama-sama sayang. Kalau gitu gue pamit pulang."
"Gue anterin ke depan."

Sinar mentari pagi memasuki celah-celah jendela kamar seorang remaja yang tak lain Skafi yang masih tertidur pulas hingga ia mulai terusik dengan silaunya cahaya matahari. Membuka mata dan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
Hari ini weekend jadi ia gunakan waktunya untuk ngegym di lantai atas rumahnya dan udah kebiasaan setiap weekend ia ngegym atau latihan boxing.
Jam menunjukan pukul setengah 8 pagi dan Skafi sudah selesai dengan kegiatan olahraganya. Aktivitas hari ini ia akan mengajak Disa untuk pergi jalan-jalan dengannya.
Keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah Disa. Sebelum itu Skafi mengirimi pesan ke Disa bahwa dirinya akan kesana tapi belum ada balasan sama sekali bahkan chat nya aja belum dibaca.
"Pagi sayang," sapa mama Skafi, Ani yang berada di dapur.
"Pagi juga ma. Papa kemana?" ucap Skafi tak melihat batang hidung papanya.
"Papa masih molor biasalah weekend pasti papa capek makanya masih tidur. Tumben udah rapi gini mau kemana?"
"Mau ketemu pacar ma."
"Kamu udah punya pacar kok engga ngenalin ke mama sih, Fi. Siapa namanya pacar kamu? Kok bisa pacaran? Setau mama kamu ga pernah dekat sama cewe?" Ani langsung mencerca Skafi dengan berbagai pertanyaan pasalnya Skafi memang tak pernah terlihat membicarakan soal pacar maupun cewe manapun.
"Nanti kalau ada waktu luang aku kenalin deh ma. Namanya Disa ma anak murid pindahan anaknya baik. Aku pacaran ya aku suka sama Disa saat waktu pertemuan pertama."
Ani mengerling menggoda anaknya. "Hm, jadi cinta pandangan pertama jadinya. Beneran loh ya kamu harus kenalin ke mama dan papa?"
"Iya."
"Jangan iya-iya pokoknya mama tunggu jangan lama-lama mama ga sabar pengin ketemu pacar kamu itu."
"Iya ma iya."
Setelah selesai sarapan Skafi mengambil kunci mobilnya dan pamit ke mamanya untuk pergi keluar ke rumah Disa. Mobil Lamborghini Aventador keluar area parkir mansion yang dikemudikan Skafi untuk menuju rumah Disa.
Tok tok tok.
Pintu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya tante Tia mamanya Disa.
"Assalamualaikum tante," sapa Skafi
"Waalaikumsalam Al, pasti mau ketemu sama Sasya ya?" tebak Tia sambil tersenyum.
"Iya tante Skafi mau ketemu Disa."
"Ayo masuk dulu," ajak Tia, "Disanya masih tidur susah buat di banguninnya. Setiap weekend selalu seperti ini karena malamnya habis maraton drakor jadi paginya begitu susah buat di bangunin. Kalau kamu mau boleh tante minta tolong bangunin Disa soalnya tante udah nyerah deh. Ga bakal bangun kalau tante bangunin paling bangun sendiri nanti pas jam 11 siang," ucap Tia sambil tertawa kecil. " Kalau boleh tante minta tolong kamu bangunin Disa, Fi.''
"Hm,  iya Skafi bangunin aja deh tante Disanya."
"Kalau gitu kamu naik ke lantai dua dan nanti ada pintu warna biru itu pintu kamar Disa."
"Ya sudah tante Skafi tinggal dulu."
Skafi memasuki kamar Disa yang bernuansa biru langit bercampur abu-abu. Terlihat dari pintu masuk Disa masih bergelung di alam mimpinya dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.
Skafi menghampiri Disa dan mengelus pipi Disa lembut.
"Sayang bangun yuk." Den
"Nanti dulu," ucap Disa dengan suara parau.
Disa hanya menggeliatkan badanya sebentar dan kembali tertidur.
"Sayang ayo bangun dong kalau kamu ga bangun aku cium loh," ancam Skafi.
Disa langsung membuka matanya dan terduduk spontan diranjang mendengar kata cium dan hampir saja dirinya terjatuh dari ranjang saking kagetnya. Untung ada Skafi yang dengan sigap memegang Disa agar tak terjatuh.
"Hati-hati dong sayang nanti kalau kamu jatuh gimana," nada bicara Skafi terdengar khawatir.
"Sorry," ringis Disa, "lo gapain di kamar gue, Fi?"
"Aku bangunin kamu dan aku mau ngajak kamu jalan-jalan."
"Jalan-jalan?" beo Disa.
"Iya, sana mandi ih mukanya kucel gitu habis bangun tidur," ejek Skafi.
Disa malu mendapat ejekan dari Skafi. Dirinya sehabis bangun tidur memperlihatkan muka bantalnya pasti sangat jelek.
"Eh bentar, lo kok manggilnya aku kamu?" tanya Disa berkerut.
"Kita kan pasangan masa panggilnya masih lo-gue?"
"Ya iya sih tapi geli gue dengernya nanti - nanti aja deh manggil aku kamunya masih ga nyaman guenya."
"Terserah sih, guenya juga ini mau ngebiasain biar ga lo gue. Tapi ya pelan pelan aja sih. Senyamanya lo aja."
Disa mengangguk.
"Sekarang cepet kamu mandi udah bau iler, dih."
Disa langsung saja ngacir ke kamar mandi meninggalkan Skafi yang tertawa melihat wajah Disa yang malu-malu gemesin bikin Skafi pengin ciumin seluruh wajah Disa.
Skafi keluar kamar Disa menuju ruang tamu yang ada papa dan mamanya Disa.
Selesai Disa mandi dan bedakan hanya bedak bayi serta memakai liptint agar bibirnya engga kering. Ambil tas selempang, hp dan dompetnya.
Di lantai bawah ruang tamu terdapat papa dan mamanya yang berbincang dengan Skafi.
Skafi yang melihat Disa datang dan sampai di samping mama dan papanya segera berbicara dan pamit untuk mengajak Disa pergi.
"Om tante Skafi mau pamit sekarang untuk mengajak Disa pergi."
"Oh iya Fi, silahkan. Sering-sering main kesini biar om ada teman ngobrolnya," ucap Anan.
"Skafi usahain om."
"Assalamualaikum om tante," salam Skafi menyalimi mama dan papanya Disa.
"Waalaikumsalam, Fi."
Disa pun sama, "Pa ma Disa pamit pergi dulu sama Skafi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam sayang."
"Hati-hati kalian di jalan," pesan Tia.
"Siap tante."
Hari berganti hari. Hubungan Skafi dengan Disa makin lengket yah meskipun masih ada yang bisik-bisik tak suka hubungan antara Skafi dan Disa. Apalagi di tambah dengan adanya Clara sosok yang terobsesi dengan Skafi yang ingin merebut Skafi dari Disa.
Namun, Skafi tak akan membiarkan seseorang pun mengganggu hubungan antara dirinya dan Disa.
Bel istirahat berbunyi di seluruh penjuru sekolah yang memekikan telinga tetapi tidak sebanding dengan kesenangan para murid yang sudah tidak sabar untuk ke kantin mengisi perut mereka yang meminta jatah makanan.
Skafi, Gino, dan Raka menuju kekantin sebelum itu Skafi mendatangi kelas Disa diikuti kedua sahabatnya.
"Dis, ayo kantin," ajak Skafi.
"Eh gue ga ke kantin deh Fi, gue masih nyalin catatan kimia," tolak Disa tanpa melihat ke arah Skafi. Dirinya belajar rajin mulai sekarang.
"Emang catatan itu lebih penting daripada kesehatan lo?!" ucap Skafi dingin matanya menyorot tajam ke arah Disa.
Disa yang mendengar perubahan nada suara Skafi mendongakan kepalanya dan dapat ia lihat Skafi menatap dirinya dengan tajam seakan tatapanya itu dapat menembus tubuhnya.
Disa langsung merinding di tatap seperti itu. Skafi masih menyorot tajam ke arah dirinya.
"Lo jangan gitu dong Fi lihatnya." Disa tergagap melihat mata tajam Skafi.
Skafi yang sadar langsung mengubah tatapan matanya menjadi lembut.
"Makanya jadi orang tuh harus nurut kalau waktunya istirahat tuh istirahat bukanya malah ga isitrahat."
"Iya Fi. Ini gue beresin." Disa langsung membereskan semua alat tulisnya dan menunda mencatat materi kimia agar Skafi tak menatap dirinya tajam.

Book Comment (8)

  • avatar
    KhoirKhalisa Naadhira

    bagus banget seruu ih

    27d

      0
  • avatar
    Nardi Aditya

    bagus

    02/06

      0
  • avatar
    YafaaaMdza

    bagus asik seru

    27/05

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters