"Disa bangun, udah siang!" Seorang wanita menggoyangkan bahu anaknya agar segera bangun. "Ish, ma masih pagi ini lho! Nanti ajalah." Sang anak menepis pelan tangan mamanya yang masih berada dibahunya. Sang mama berkacak pinggang melihat anaknya yang malah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. "Kamu ini susah banget dibangunin. Ingat loh kamu masuk kesekolah baru hari ini. Jangan buat masalah dengan terlambat masuk." Dengan suara terbenam dibalik selimut Disa menjawab, "Ish, ma santai aja kali. 10 menit lagilah nanti aku bangun." "Ga usah bandel kamu itu. Buruan sana bangun siap-siap." Menarik tangan Disa yang mau tak mau membuat Disa duduk diranjang dan membuka matanya. Raut muka kesal Disa tampilkan pada mamanya. "Mama ih, ganggu Disa tidur aja." "Kalau ga sekolah mama juga ga bakal ganggu tidur kamu! Tapikan ini hari pertama kamu masuk sekolah baru!" "Iya ma Disa tau." "Kalau kamu tau sana bangun buruan siap-siap." "Iya deh ma iya," gerutunya dan memasuki kamar mandi. "Ingat jangan buat masalah. Cukup disekolah lama kamu bebas, disekolah sekarang semua peraturan ketat jadi ga bisa kamu buat bolos-bolos lagi makanya papa dan mama pindahin kamu disekolah sekarang." Disa hanya mengabaikan ocehan mamanya dan menutup pintu kamar mandi. Sang mama hanya geleng kepala melihat sifat anaknya, Disa. ** "Hadeh, bingung deh. Ini gue nyari ruang kepala sekolah dimana ya? Susah banget jadi anak baru ga kenal siapa-siapa kaya anak orang ilang aja!" monolog Disa yang sudah berada disekolah barunya tepat ketika bell sekolah masuk. Pelataran sekolah pun sudah sepi tinggal dirinya yang berkeliling mencari ruang kepala sekolah. Disaat sedang melihat kekanan kekiri untuk mengetahui ruang kepala sekolah Disa tak menyadari akan menabrak sesuatu hingga membuatnya mengaduh. "Aduh,"ringis Disa. Disa yang merasa menabrak seseorang mendongakkan kepala. Seorang cowo tinggi semampai, kulit putih, tampan, namun tidak ada ekspresi sama sekali diwajahnya hanya datar-datar saja macem tembok. "Sorry ga sengaja gue nabrak lo." Disa menatap wajahnya barangkali cowo itu akan marah karena dia yang menabrak duluan walau tak tau. Yang ada malahan cowo itu masih terdiam dengan tatapan lurus kewajahnya. Entah apa yang dipikirkanya sulit untuk menebak raut wajahnya. Bahkan, tanpa sepatah katapun cowo itu pergi meninggalkan Disa. "Aneh banget tuh cowo," gumam Disa lalu mengedikan bahunya acuh. Dan kembali mencari ruang kepala sekolah. "Gimana ga lelah coba sekolah segede gini! Bikin cape aja cuman nyari ruang kepala sekolah yang ga ketemu-ketemu!" Ketika sedang mencari ada seorang siswi tak jauh di depannya berjalan menuju kearah Disa, Disa pun bertanya padanya. "Hai, sorry boleh tanya engga ruang kepala sekolah? Soalnya gue udah muter muter ga ketemu?" "Lo anak baru ya?" tanyanya. "Iya, jadi gimana?" "Oh boleh kok, sekalian aja gimana kalo gue anterin?" "Tapi ga ngrepotin lo nih?" "Engga kok santai aja sama gue." "Eh iya, belum kenalan nama lo siapa? Nama gue Disabella Kinzly panggilanya Disa,"ucap Disa sambil mengulurkan tangan. "Nama gue Arnila Garnira. Bisa di panggil Arni kelas 12. Ipa 1. Btw, kenapa bisa pindah sekolah?" ucap Arni sambil menjabat tangan Disa. "Sstt, gimana ya ceritanya?" Disa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Cerita aja kali." "Disekolah lama gue kan aturan sekolahnya ga terlalu ketat jadi gue sering bolos deh, makanya papa mama gue kesel liat gue selalu bolos makanya dipindahin disekolah ini." Arni merespon malah dengan tawa. "Haha jadi itu masalahnya. Kita sefrekuensi kalau gitu. Kadang kalau gue bosen masuk kelas juga bolos," kata Arni enteng. Disa tercengang mendengar penuturan Arni. "Serius?" tanya Disa tak yakin tampang-tampang Arni itu seperti siswi yang rajin sekali belajar jadi tak mungkin bisa bolos. "Serius, gue ga bohong ada satu sahabat gue yang biasa bolos bareng." "Wow." Takjub Disa. "Kapan-kapan kita bisalah bolos bareng sama sahabat lo juga nanti kenalin ke gue." "Itumah bisa diatur." Arni yang malah menyetujui diajak bolos bareng. Setelah mereka berkenalan dan berbincang bincang sambil menuju ruang kepsek akhirnya mereka sampai. "Ini ruang kepseknya kalau gitu gue tinggal dulu ya, gak papakan sendiri?Nanti kalo butuh bantuan cari aja gue ke kelas," ucap Arni. "Iya thanks udah mau nganterin gue." "No problem. Ya udah kalau gitu gue balik kelas dulu, byee." Arni pergi sambil melambaikan tangan. "Iya byee Ar," balas Disa sambil membalas lambaian tangan Arni. Disa kemudian mengetuk pintu. Dari dalam ada yang menyahuti "Silahkan masuk," ucap seorang pria yang ku dengar dari dalam dan ternyata itu kepala sekolah . Disa memasuki ruang kepsek. "Oh kamu yang murid baru itu ya?" tanya kepala sekolah. "Iya pak, saya kesini mau nanya kelas saya." Pak kepala sekolah menunjuk guru wanita di hadapanya. "Oh iya. Bu Rina ini Disabella Kinzly murid baru dan Disa Bu Rina ini wali kelas kamu dan guru Matematika. Beliau yang akan mengantar kamu ke kelas 12. Ipa 1." "Iya pak bu terimakasih." "Kalo gitu saya mau antar Disa ke kelas dulu ya pak," ijin Bu Rina. "Iya silahkan Bu." "Permisi pak," ucap Bu Rina. Kemudian Bu Rina dan Disa menuju kelas 12. Ipa 1. Sesampainya di kelas itu Bu Rina memasuki kelas dan aku menunggu di luar kelas. "Anak-anak kita kedatangan teman baru, silahkan masuk nak, nah Disa perkenalkan nama kamu," ucap Bu Rina untuk Disa yang masih didepan kelas. Disa memasang senyum manis terbaiknya. "Hai semua nama gue Disabella Kinzly bisa di panggil Disa salam kenal ya." "Ada yang yang di tanyakan anak-anak?" "Cantik." "Imut." "Boleh minta id line ga?" "Udah punya pacar belum?" "Boleh dong gue jadi pacar lo? Kalau belum punya pacar." Begitulah sorak sorakan seisi kelas. "Udah-udah sekarang diam. Disa kamu duduk sebelahan sama Arni. Arni angkat tanganmu," perintah Bu Rina, yang di panggil mengangkat jarinya. Disa tidak menyangka bahwa Arni yang sudah dia anggapa teman sekelas dengannya. Disa menuju ke tempat duduknya. "Hai Ar, ga nyangka loh kalo kita sekelas." "Iya sama gue juga makanya gue kaget tadi." Arni dan Disa sama-sama diam karena pelajaran Bu Rina udah dimulai. Beberapa jam murid murid mengkuti pelajaran akhirnya bel istirahat berbunyi. Terdengar sorakan para murid sekelas mendengar bell istirahat kemudian Bu Rina meninggalkan kelas dan para murid sekelas pun sama segera keluar untuk mengisi perutnya. "Mau ke kantin ga?" tawar Arni. "Iya ayo gue dah lapar soalnya." Kemudian mereka keluar kelas dan jalan bersama ke kantin. Sesampainya di kantin Arni bagian memesan makanan dan Disa mencari tempat duduk. Disa duduk di meja dekat pedagang soto. Setelah beberapa menit menunggu Arni datang sambil membawa nampan makanan nasi goreng mereka. Dia datang dengan perempuan yang belum Disa kenal. Mendapat tatapan penjelasan dari Disa, Arni pun mulai memperkenalkan perempuan disebelahnya. "Ini sahabat gue yang gue ceritain ke lo tadi. Yur, kenalin nih Disa anak baru sekelas sama gue." Yang dipanggil Arni memperkenalkan dirinya. "Gue Yura Shakira salam kenal." "Disabella Kinzly salam kenal juga." Disa yang menjabat tangan Yura. "Kuy makanlah keburu bell masuk lagi." Kemudian mereka makan dalam diam. Tiba-tiba terdengar sorakan anak kantin lebih tepatnya siswi perempuan. Dan disitu ada cowo 3 tampan semua. "Itu mereka siapa? Kok siswi disini pada histeris gitu pas kedatangan mereka?" tanya Disa sambil melihat ke arah 3 cowo itu. Disa ingat yang salah satunya dia tabrak dikoridor tadi. "Oh itu most wanted skolah ini, yang tengah itu Skafi dia cowok paling tampan, dingin, irit bicara, cuek dia anak pemilik sekolah ini, terus yang samping kananya Gino dan samping kirinya Raka mereka berdua sahabatnya Skafi, mereka tuh semua tipe cowo cuek, mereka kelas 12. Ipa 4," penjelasan Arni. "Oh." Disa hanya berohria, tapi tak sengaja mata Disa dan Skafi saling memandang, tapi itu semua tak berlangsung lama karena Disa memutuskan sepihak dan kembali memakan makanannya. Kemudian 3 cowo itu duduk di tempat biasa pojok kantin yang masih kosong, karena tempat itu ga ada yang berani nempatin. Disa, Arni dan Yura selesai makan dan mereka balik ke kelas keburu bell masuk. Untuk saat ini mereka mau jadi anak teladan dulu entah untuk nanti. Yura yang notabenya tidak sekelas sama Arni dan Disa berpisah di depan kelas 12. Ipa 1. ** "Dis, lo naik apa pulangnya?" "Gue naik angkotlah Ar, lo?" "Gue naik mobil. Mau sekalian gue anterin?" tawar Arni. "Engga usah deh soalnya nanti ngerepotin lo?" tolak Disa sambil mengibaskan tanganya. "Udah deh gak papa sekalian bareng aja sama gue, Yura juga semobil sama gue soalnya dia tetanggaan sama rumah gue." "Ga usah lo pulang dulu aja." "Ya udah deh gue pulang dulu ya? Keburu si Yura ngomel kalau gue ga cepet keparkiran padahal dia yang nebeng gue malah dia yang ngomel," gerutu Arni yang mengingat setiap omelan Yura padanya. "Iya udah buruan sana." Mereka berjalan keluar kelas sesampainya di koridor Arni berpamitan sama Disa. "Byee, sampai ketemu besok." "Iya." Disa berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi karena semua murid udah pada pulang. Di tengah perjalanan tangan Disa terasa ada yang menariknya dan ternyata itu cowo yang dia tabrak dan di kantin tadi. Siapa lagi kalau bukan Skafi yang Disa tahu namanya dari Arni. Cowo itu menyeret Disa ke taman belakang. Disa udah mencoba melepaskan tangan cowo itu tapi sulit karna genggaman terlalu kuat pada tangannya. Sesampainya di taman belakang Disa disudutkan ke tembok dan dikurung oleh tangan cowo itu. Disa dengan berani menatap wajahnya. Raut kesal dia tampilkan pada Skafi. "Lo kenapa sih main seret-seret tangan gue! Kenal aja ga! Ini lagi kenapa gue pake dikurung segala!" Disa mencoba keluar dari kukungan tangan Skafi namun sia-sia bergerak sedikitpun tidak. "Gue mau lo jadi pacar gue sekarang." "What?! Apa lo bilang!" "Gue mau lo jadi pacar gue sekarang!" "Jadi pacar lo? Mimpi kali lo ah! Kenal aja ga main ngajak pacaran aja!" Dengan seringainya yang terlihat mengerikan Skafi berkata, "Gue Skafi Agraria Illioz dan lo Disabella Kinzly murid pindahan SMA KASAN." "Jadi ga ada kata ga kenal karena lo udah tau nama gue bergitupun dengan gue. Sekarang kita pacaran!" "Gue ga mau jadi pacar lo!" "Ga ada kata penolakan!" "Pokoknya gue ga mau jadi pacar lo! Lo ngerti ga sih!" bentak Disa dan menantang Skafi. "Oh, lo ga mau ya? Apapun yang gue mau harus gue dapetin termasuk lo! Jika lo nolak gue bisa lakuin hal yang ga bisa lo bayangin bahkan gue bakal ganggu lo terus disekolah ini!" Raut wajah Skafi yang semula datar-datar saja berubah semakin dingin dan menakutkan. Disa yang tadinya menampilkan raut menantang seketika menciut. "Aduh gimana ini? Kok gue was-was ya? Apalagi ditempat ini sepi lagi! Apa gue terima aja kali ya dia jadi pacar gue? Tampangnya juga oke. Mumpung gue juga jomblo. Terima ga masalah kan?" "O-oke gue mau jadi pacar lo dan jauhin muka lo itu!" Disa dengan spontan mendorong wajah Skafi yang tak dia tahu sudah dekat banget dengan wajahnya. Mendengar Disa menyetujui ajdi pacarnya Skafi tersenyum puas. "Good girl." Secepat kilat kecupan mendarat dipipi Disa. "Apaan sih pakai cium segala!" sewotnya mengelap pipi yang baru saja dicium Skafi. Melengos akan segera pergi namun ditahan oleh Skafi. "Mau kemana?" "Pulanglah! Emang mau kemana lagi!" sewotnya masih merasa kesal dengan Skafi. "Gue anter." "Ga usah. Gue bisa pulang sendiri!" "Ga lo harus pulang bareng gue! Ga ada penolakan!" Menyeret tangan Disa untuk mengikuti langkahnya. "Nyebelin banget sih lo!" Disa mau protes lagi tapi mendapat tatapan tajam Skafi dia agak menciut. Akhirnya Skafi mengajak Sasya pulang dengan motor sportnya. Saat Disa akan naik ke atas motor Skafi ia mencegahnya. "Tunggu. Pakai ini." Skafi menyodorkan jaket hitamnya. "Buat apa?" Disa menaikan alisnya heran. "Nutupin paha lo." Disa seakan paham ia pun segera melilitkan jaket tersebut ke pinganggnya dan segera naik ke atas motor Skafi. ** Drtt. Ponsel milik Disa diatas nakas tempat tidur berdering. Si empu yang baru saja keluar kamar mandi membukanya dan mengernyit saat nomer asing yang masuk ponselnya. +6288765901xxx Bsk brngkt sm gw! Siapa ya? Pacar lo! Oh. Ingt brng gue! Tanpa membas lagi Disa meletakan ponselnya kembali dan beristirahat.
ceritanya baguss banget
3d
0bagus banget seruu ih
06/06
0bagus
02/06
0View All