"Iya Mas, ini aku di parkiran mau otw pulang. Tadi keasyikan sama temen, gatau kalo Mas telfon" suara Luna di ujung telfon terdengar sangat lembut. "Yasudah, hati-hati lho ya! Mas tadi khawatir, Luna ndak ada kabar soalnya. Cepet pulang, bawa mobilnya sante aja. Jangan kebut-kebutan , Mas tunggu di rumah Sayang. Assalamualaikum" akhirnya Fathir bisa bernapas lega mengetahui istri tercintanya dalam kondisi baik-baik saja. "Waalaikumsalam" Luna tersenyum simpul. *** "Aman Mas, aku pulang dulu ya. Mas Frans ati-ati lho" Luna mengerlingkan mata menatap Frans di depannya. "Siap Sayangku, udah sana gih naik!" Ucap Frans memerintah. Mereka baru saja berkencan menikmati momen berdua, tentunya di belakang pasangan sah mereka. *** "Istriku darimana aja ? Sampe susah dihubungi" Fathir menyambut kedatangan Luna. "Auchh Sayangnya akuuu, tadi Arum ngajakin minum bentar di Cafe . Mau nolak ya ndak enak Mas. Maaf deh" Luna bergelayut mesra di leher Fathir. "Oiya Mas, weekend depan aku mau ke Puncak bareng temen-temen. Karna yang ikut cewe semua, jadi kita memutuskan berangkat tanpa pasangan. Boleh ya aku ikut ? Sabtu pagi aku berangkat, Minggu siang udah pulang ke rumah kok. Suer" Luna memelas. "Hmmmm aku ikut ya Sayang? Kenapa pake nginep sih, apalagi cewe semua. Aku jadi parno takut kamu kenapa-napa lho" Fathir membelai pipi mulus Luna. "Ahh Mas Fathir gak pernah nyenengin Luna, gaasik ah" Luna menepis tangan Fathir kasar ,berlalu ke kamar mandi. Fathir menghela napas panjang. *** "Baru pulang Mas?" Suara Lita mengagetkan Frans yang baru saja menutup pintu. Biasanya Lita sudah tidur jam segini, tumben. "Eh ehm iya Lit, tadi ketemu temen lama. Keasyikan ngobrol aku jadi lupa waktu . Kok belum tidur?" "Belum ngantuk Mas" Lita asyik menatap layar LED berukuran 52inch di depannya. "Oh iya Lit, Sabtu depan aku ada meeting soal proyek baru di daerah Puncak , rencananya menginap , Minggu sore sudah pulang. Mas pamit ya?" Ucap Frans hati-hati. Lita melirik Frans sekilas, lantas menyahut. "Aku sama Lala diajak Mas? Sudah lama juga lho kita ga liburan, hampir ndak pernah" Frans terhenyak, bingung membalas perkataan istrinya. "Ini masalah kerjaan Lit, lagian baru pengenalan sama Client. Biar Mas pergi sendiri ya? Nanti kalo Mas libur, kita jalan-jalan deh" Frans berusaha terlihat meyakinkan. "Oke deh siap Mas. Ntar biar aku siapkan keperluan buat disana. Oh iya, Mas lapar kah? Biar aku angetin dulu makanannya" Lita tersenyum hangat, hendak berdiri dari tempatnya. "Ehmm ndausah Sayang, Mas tadi udah makan. Kamu istirahat aja" Frans menggeleng lemah. Sebersit rasa bersalah muncul di kepalanya. Bagaimana bisa dia begitu tega menghianati istri sahnya yang begitu baik dan pengertian ini? Tanpa Frans sadari, Lita menyematkan jari-jarinya gusar. Ada satu perasaan yang membuatnya tak tenang akhir-akhir ini. Tapi entah, ia sendiri bingung . Lita merasa Frans banyak berubah semenjak pindah kesini. Ke kota lamanya dimana Frans dilahirkan dan tumbuh besar, hingga akhirnya Frans pindah ke kota Lita karna pekerjaan dan akhirnya menikahi Lita . Lita tak pernah tau dan tak ingin tau masalalu Frans. Frans sudah bersikap baik saja sudah untung baginya, karna memang pernikahan ini hanya demi bisnis kedua keluarga mereka. Lita pun awalnya ingin menolak, karna tak cinta dengan Frans. Namun seiring berjalannya waktu, Lita mulai bisa membuka hati untuk Frans. Apalagi dengan kehadiran Lala, membuat Lita merasa bahagia mempunyai keluarga kecil yang utuh. Lita pun berharap keluarganya bisa samawa dan harmonis hingga tutup usia. *** "Udah dong ngambeknya, kan Mas udah ijinin ke Puncak" Fathir memeluk Luna dari belakang. "Nyebelin banget sih Mas" Luna membalas pelukan Fathir. Jauh di dalam hati, Fathir sudah mulai mencurigai istrinya. Namun , ditepis pikiran buruk yang mengganggu pikirannya. Drrt drrt drrt...... 'gimana nih Say? Jadi kan ke Puncak?' 1 pesan masuk ke ponsel Luna. Fathir melirik, dengan sigap Luna menyembunyikan ponselnya. Fathir menjadi semakin curiga. "Dari siapa? Ih kok sembunyi-sembunyi gitu?" Fathir menggoda Luna, padahal dalam hatinya sangat penasaran siapa yang mengirim pesan sepagi ini, sikap Luna pun tampak salah tingkah. "Sejak kapan nih Mas kepo?" Luna berpura-pura cemberut. Padahal hatinya was-was , takut ketahuan. "Huh dasar, yaudah Mas mandi dulu" Fathir keluar kamar menuju kamar mandi. Luna menghela napas lega. 'kan aku udah bilang, jangan ngehubungi duluan kalo aku belum kabari' balasnya kepada si pengirim 'oke' terlihat nama Frans membalas singkat pesan Luna. *** Hari yang ditunggu pasangan haram itupun tiba, mereka bisa bebas leluasa bermesraan tanpa takut ketahuan. Fathir seharian uring-uringan, ingin ia menyusul Luna. Tapi tugas dinas PAM tak bisa ia tinggalkan. Begitupun dengan Lita, merasakan perubahan Frans yang semakin kentara. Suaminya lebih betah diluar, pulang tengah malam dan tak lagi peduli pada Lala. Dandanannya pun seperti orang yang jatuh cinta. Harum parfum menguar ke penjuru ruangan. Lita harus segera bertindak, apapun jawabannya nanti. Lita siap, daripada ia harus mati penasaran dengan pikirannya. "Ke Puncak nginep dimana Mas?" Lita memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koper mini suaminya. "Gatau Lit, belum pasti. Tergantung klien nanti. Kenapa?" Frans yang sedang menggulung kemeja menatap Lita dalam. "Gapapa Mas, cuma tanya kok" Lita takut Frans melihat rasa curiganya. Lita tak mau penyelidikannya gagal, ia harus berhati-hati. Mengingat siapa yang sedang dihadapinya, Lita tau pasti. *** Sabtu malam , ponsel Lita bergetar.... Ia yang sedang menyusui Lala tak bisa mengangkatnya. Setelah Lala terlelap, Lita bergegas mengambil ponselnya. Matanya berkaca-kaca... Mela, sepupunya mengirimkan 1 foto dan 1 video yang membuat hatinya sakit. 'Lit, ini Frans kan? Sorry ya aku ganggu malem-malem. Cuma mau mastiin, are you okay?' Baru akan membalas pesan Mela, ponsel Lita kembali bergetar, panggilan masuk dari Mela. "Lita? Assalamualaikum" suara Mela terdengar sedikit berbisik. "Waalaikumsalam, aku udah liat Mel. Itu memang Mas Frans, aku yang menyetrika kemejanya tadi pagi. Jadi aku tau betul itu dia" suara Lita terdengar serak. "Lho he ! Stop it ! Jangan menangis b*doh. Jangan jadi wanita lemah, kamu Alita Suherman pemilik perusahaan ternama, jangan mau diperlakukan seperti ini. Sekarang yang harus kamu selidiki, wanita jalang itu. Apa kau kenal?" Ucap Mela kali ini berapi-api. "Sedikit samar, tapi aku bisa mengenalnya. Mungkin jika tak salah orang, aku harus memastikannya terlebih dahulu. Yah kamu benar, aku Alita Suherman. Tak seorangpun bisa merendahkanku seperti ini. Terimakasih infomu Mel" Lita langsung mematikan panggilan Mela, tangan Lita bergetar seiring dengan jatuhnya air mata. 1 pesan dari Mela kembali masuk. 'udah gausah cengeng! , Kapanpun kamu butuh bantuanku, aku siap. Alita harus strong, biar kubantu habiskan jalang itu' Lita tak membalas pesan dari Mela, hatinya sakit, perasaannya hancur lebur. Sakit sekali rasanya.... Disaat ia sudah membuka hati, belajar mencintai Frans dan menjadi istri serta Ibu yang baik untuknya, inikah balasannya? Tangan Lita terkepal kuat, emosi di dadanya membuncah. Dipandanginya Lala yang sedang terlelap. "Tenang Sayang, kita berjuang bersama ya. Mama sayang sama Lala" ujarnya seraya mengelus kepala putrinya. Diambil lagi ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, sorry ya aku ganggu. Aku butuh bantuan kamu nih...... ****** ***** ***** Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
bagus
6d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0View All