"Waalaikumsalam" kuakhiri dengan salam telfon dari Mba Ningsih. Semenjak menikah dengan Luna, hampir setiap hari aku mendapat sindiran secara halus yang dibungkus dengan lelucon, bahkan tak jarang aku mendapat teguran secara terang-terangan dari semua orang yang mengenalku. Apa yang Luna perbuat? Hingga semua orang ingin aku bersikap tegas atau meninggalkannya. Tak pantas bersanding denganku katanya, mengapa? Aku juga bukan orang yang pandai beragama dan berakhlak mulia. Hingga sebuah ingatan beberapa tahun lalu muncul di benakku. "Gimana Thir? Parah sih kamu. Bisa-bisanya toh ndak ingat apa-apa. Kalo sampe cewe itu lapor, kita semua bisa kena imbasnya. Malu lah kalo sampe kita diturunkan jabatan , syukur-syukur ndak dimutasi" Sahwan~teman sejawatku kala itu menyalahkanku. Gara-gara ide Rohim~yang juga teman se-angkatan, membuatku terjebak dalam situasi genting yang akan mempertaruhkan pekerjaanku nantinya. Sampai frustasi aku dibuatnya. Saat itu kami sedang bertugas ke Kota X. Karena Ryan sedang berulang tahun, Rohim memberikan ide untuk pergi ke Club yang terkenal di Kota X. Aku yang sebelumnya tak pernah menyentuh dunia malam, tertarik untuk ikut. Sedang asyik menikmati alunan lagu yang sebelumnya terdengar memekakkan telinga, seorang gadis menghampiriku sambil menawarkan minuman. Sahwan , Ryan dan Rohim juga sibuk dengan kenalannya masing-masing. Sedikit berbincang-bincang dan berkenalan dengan gadis yang bernama Luna, aku sangat menikmati moment kala itu. Hingga tak sadar sudah berapa kali aku minum , tiba-tiba saja aku terbangun di sebuah kamar hotel dengan kondisi tanpa busana, bersama Luna. Aku sama sekali tak mengingat apa yang sudah terjadi, terakhir yang kuingat aku hanya duduk dan bergurau dengan Luna sambil minum. "Kkaaa...kaaamuuu siapa?" Gadis yang kutau bernama Luna kini berteriak histeris di sampingku tanpa sehelai pakaian. Aku tergagap, aku juga bingung bagaimana bisa aku ada di tempat seperti ini. "Mmaaaa....maaf aku tidak tahu" napasku terasa sedikit sesak. "Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu harus tanggung jawab! Kamu sudah menodaiku" Luna menjerit. "Eh ssstttt sssst , jangan keras-keras. Bagaimana bisa aku tanggung jawab? Bahkan aku sendiri tak sadar dengan apa yang sudah aku lakukan. Sungguh, aku tak menyentuhmu sedikitpun" Aku berusaha menenangkannya. "Apa kau bilang? Dasar bajingan! Aku akan sebarkan kebusukanmu. Biar semua orang tau! Lelaki macam apa kamu!" tatapan tajam itu membuat nyaliku ciut. "Oke oke tenang. Sabar, kita selesaikan baik-baik. Aku kemarin pergi bersama ketiga temanku. Mungkin mereka bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi semalam, kamu tenang aja. Ini identitasku, aku gaakan kabur" "Mana KTP mu? sertakan SIM sekalian" Aku meneguk ludah, tanpa pikir panjang aku menyerahkan kedua kartu identitasku tersebut. Biarlah, semoga teman-temanku bisa menyelamatkanku. "Ini no Hp ku, besok kita ketemu ke tempat lain. Aku ajak sekalian teman-temanku" Setelah mencatat nomer yang aku berikan, Luna bergegas memakai baju dan pergi meninggalkanku. Aku melongo...aku bingung....rasanya aku malu mau keluar dari tempat ini. **** Keesokan harinya...... Ketiga temanku menceritakan bahwa mereka melihat aku dan Luna yang sedang mabok parah, keluar sempoyongan dari Club. Mereka tak berpikir macam-macam, tak ingin ikut campur jelasnya . Hingga masuk tiga pesan ke ponselku dari nomer yang tidak kukenal. Dua foto memperlihatkan aku dan Luna sedang berpelukan telanjang. Terlihat jelas wajahku disana sedang mencumbu Luna, tapi mataku terpejam . "Gimana? Kamu jadi tanggung jawab apa ndak?" pesan singkat setelah foto cukup mengejutkanku. "Temui aku di Resto Y jam tiga sore nanti" aku segera membalasnya. Ketiga temanku tentu saja menyuruhku mengikuti perintah gadis itu. Mereka cari aman pastinya, dan aku yang dikorbankan. Karena aku yang selalu pasrah dan sudah pasti tidak tegaan, membuat ketiga temanku sedikit semena-mena memperlakukanku. ***** Sesampainya di Restaurant "Kamu pesen apa? Mau sekalian makan?" Luna baru saja sampai dan duduk berhadapan denganku. "Alah, udah gausa basa-basi. Sekarang gimana?" Ketusnya. Aku menghembuskan napas kasar. "Aku juga bingung , kamu maunya apa?" Balasku. "Nikahin aku, kalo kamu gamau foto-foto ini kesebar, lagian kan percuma. Endingnya juga kita bakalan dinikahin kalo sampe foto ini kesebar, hanya bedanya lebih malu aja sih, apalagi buat karirmu. Sayang kan? Kalo keluarga besarmu tau hal ini berdampak buat karirmu? Jadi ya terserah" terukir senyum sinis dari bibirnya yang indah itu. Ahhhh mikir apa sih aku.
Tapi darimana dia tau? Tentang karirku? Tiba-tiba.... Terbayang wajah Bapak dan Ibu , serta Mba Ningsih , Mba Chintya dan semua keluarga besarku. Bagaimana mereka nantinya jika tau aku mengecewakan mereka? Bahkan Bapak dan Ibu mati-matian menjadikanku hingga menjadi sekarang. Aku gusar. Lalu apa jadinya? Jika aku menikahi wanita didepanku ini! Aku bahkan belum mengenalnya, belum tau seluk-beluk dan tetek bengek lainnya. "Heh bengong! Ayo cepat, aku butuh jawabanmu sekarang. Aku gapunya banyak waktu" , masih saja tingkahnya songong. Semoga pilihanku menjadi yang terbaik, mungkin saja ini memang sudah takdirku, bukankah jodoh ,maut dan rejeki itu rahasia Allah? Aku tidak ingin mengecewakan keluargaku terutama Bapak&Ibu, aku akan korbankan semua perasaanku demi mereka. Toh juga nantinya sama aja aku bakalan menikah, terlepas siapa istrinya juga sama saja. Aku awali dengan niat yang baik dari dalam hati, walaupun aku tidak yakin sepenuhnya. Bismillah..... "Oke, aku akan nikahi kamu" tegasku mantap. Luna tersenyum , ada binar bahagia di matanya terlihat . Entah kenapa hatiku menghangat melihatnya tersenyum. Apakah aku sudah mulai ada rasa ? Luna sangat cantik, pakaiannya modis dan sepertinya wanita baik. Terlihat dari sifat ketus dan angkuhnya terhadap lelaki asing , menambah keyakinanku untuk menikahinya adalah pilihan yang tepat. "Kalau gitu, sekarang kita pacaran. Jalani saja dulu beberapa bulan ini. Tapi segera kenalkan aku ke keluargamu, agar aku yakin kalo kamu sungguh-sungguh dengan uacapanmu. Selama kamu belum membawaku ke orangtuamu, aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi. Jadi jangan coba-coba lari dariku" ujarnya sarkastik. Aku hanya terseyum masam Semakin sering kita bersama, rasa ini mulai hadir. Aku yang belum pernah tau apa itu cinta kepada lawan jenis. Baru pertama ini bisa merasakan dengan Luna. Rasa ingin selalu menjaganya, menyayanginya dan ingin membuatnya bahagia cukup kuat disebut jatuh cinta. Aku sungguh jatuh cinta pada Luna. Sehari tak mengabariku, hatiku gusar. Pikiranku kacau dan membuatku tidak fokus bekerja. Sedalam ini aku jatuh pada pesona Luna. Luna bisa membuat hidupku penuh warna, mengubah hariku menjadi istimewa dan membangkitkan semangatku. Apapun yang diminta, aku selalu memenuhi semuanya. Tak peduli tabunganku terkuras, tak peduli tenagaku dibilas , semua hanya ingin membuatnya bahagia bersamaku. Semakin aku mantap menjadikan dia satu-satunya permaisuri hingga tutup usia. Aku bergegas menemui Bapak&Ibu, mengenalkan Luna dan menjadikannya seorang Ratu bermahkota di istana rumah tanggaku. Bayangan indah saling berkelebat, indahnya nanti rumah tanggaku bersama orang yang aku sayangi sepenuh hati. Tokkk...tokkkk....tokkkk "Le ? Di dalam toh?" terdengar suara ketukan pintu kamar cukup keras menyadarkanku dari lamunan. Aku segera membuka pintu "Nggeh Buk, punten" sahutku Ternyata Ibu yang mengetuk. "Luna pergi kemana kok belum pulang? Mau jam sepuluh lho ,Le. Apa ndak kamu telfon? Khawatir terjadi apa-apa" suara Ibu terlihat sedikit cemas. "Nggeh Bu,sebentar ini Fathir telfon dulu" ijinku keluar menuju ruang tamu untuk menghubungi Luna. Hingga tiga panggilan , tak kunjung diangkat. Mungkin saja lagi di jalan mau pulang, pikirku. Aku merasa cemas , takut terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa Luna. Aku berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Luna. Perasaanku kalut, kemana Luna sebenarnya? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini. Kutengok ke arah luar, belum juga ada pertanda Luna sampai. Hingga suara ponsel mengagetkanku... Luna memanggil...... Segera kuangkat panggilan dari istri tercinta, semoga dia baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. "Assalamualaikum, Halo Lun?, Dimana sayang? Kok belum pulang? Mas khawatir" tanyaku bertubi-tubi karena khawatir dengannya. Suara gemerisik terdengar dari seberang telfon. "Halo Lun? Lun Lunaaaaaa?" kembali aku bertanya, kali ini sedikit kukeraskan suaraku. Barangkali Luna tak mendengar. Masih sama..... Hanya suara gemerisik yang terdengar. "Luna baik-baik aja? Masih disana? Sharelock ya sayang? Mas jemput, Mas otw ya sayang? Lunnnnn.... Luna???" Tak ada sahutan........ Hatiku semakin cemas. ***** ***** ***** Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘 "Waalaikumsalam" kuakhiri dengan salam telfon dari Mba Ningsih. Semenjak menikah dengan Luna, hampir setiap hari aku mendapat sindiran secara halus yang dibungkus dengan lelucon, bahkan tak jarang aku mendapat teguran secara terang-terangan dari semua orang yang mengenalku. Apa yang Luna perbuat? Hingga semua orang ingin aku bersikap tegas atau meninggalkannya. Tak pantas bersanding denganku katanya, mengapa? Aku juga bukan orang yang pandai beragama dan berakhlak mulia. Hingga sebuah ingatan beberapa tahun lalu muncul di benakku. "Gimana Thir? Parah sih kamu. Bisa-bisanya toh ndak ingat apa-apa. Kalo sampe cewe itu lapor, kita semua bisa kena imbasnya. Malu lah kalo sampe kita diturunkan jabatan , syukur-syukur ndak dimutasi" Sahwan~teman sejawatku kala itu menyalahkanku. Gara-gara ide Rohim~yang juga teman se-angkatan, membuatku terjebak dalam situasi genting yang akan mempertaruhkan pekerjaanku nantinya. Sampai frustasi aku dibuatnya. Saat itu kami sedang bertugas ke Kota X. Karena Ryan sedang berulang tahun, Rohim memberikan ide untuk pergi ke Club yang terkenal di Kota X. Aku yang sebelumnya tak pernah menyentuh dunia malam, tertarik untuk ikut. Sedang asyik menikmati alunan lagu yang sebelumnya terdengar memekakkan telinga, seorang gadis menghampiriku sambil menawarkan minuman. Sahwan , Ryan dan Rohim juga sibuk dengan kenalannya masing-masing. Sedikit berbincang-bincang dan berkenalan dengan gadis yang bernama Luna, aku sangat menikmati moment kala itu. Hingga tak sadar sudah berapa kali aku minum , tiba-tiba saja aku terbangun di sebuah kamar hotel dengan kondisi tanpa busana, bersama Luna. Aku sama sekali tak mengingat apa yang sudah terjadi, terakhir yang kuingat aku hanya duduk dan bergurau dengan Luna sambil minum. "Kkaaa...kaaamuuu siapa?" Gadis yang kutau bernama Luna kini berteriak histeris di sampingku tanpa sehelai pakaian. Aku tergagap, aku juga bingung bagaimana bisa aku ada di tempat seperti ini. "Mmaaaa....maaf aku tidak tahu" napasku terasa sedikit sesak. "Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu harus tanggung jawab! Kamu sudah menodaiku" Luna menjerit. "Eh ssstttt sssst , jangan keras-keras. Bagaimana bisa aku tanggung jawab? Bahkan aku sendiri tak sadar dengan apa yang sudah aku lakukan. Sungguh, aku tak menyentuhmu sedikitpun" Aku berusaha menenangkannya. "Apa kau bilang? Dasar bajingan! Aku akan sebarkan kebusukanmu. Biar semua orang tau! Lelaki macam apa kamu!" tatapan tajam itu membuat nyaliku ciut. "Oke oke tenang. Sabar, kita selesaikan baik-baik. Aku kemarin pergi bersama ketiga temanku. Mungkin mereka bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi semalam, kamu tenang aja. Ini identitasku, aku gaakan kabur" "Mana KTP mu? sertakan SIM sekalian" Aku meneguk ludah, tanpa pikir panjang aku menyerahkan kedua kartu identitasku tersebut. Biarlah, semoga teman-temanku bisa menyelamatkanku. "Ini no Hp ku, besok kita ketemu ke tempat lain. Aku ajak sekalian teman-temanku" Setelah mencatat nomer yang aku berikan, Luna bergegas memakai baju dan pergi meninggalkanku. Aku melongo...aku bingung....rasanya aku malu mau keluar dari tempat ini. **** Keesokan harinya...... Ketiga temanku menceritakan bahwa mereka melihat aku dan Luna yang sedang mabok parah, keluar sempoyongan dari Club. Mereka tak berpikir macam-macam, tak ingin ikut campur jelasnya . Hingga masuk tiga pesan ke ponselku dari nomer yang tidak kukenal. Dua foto memperlihatkan aku dan Luna sedang berpelukan telanjang. Terlihat jelas wajahku disana sedang mencumbu Luna, tapi mataku terpejam . "Gimana? Kamu jadi tanggung jawab apa ndak?" pesan singkat setelah foto cukup mengejutkanku. "Temui aku di Resto Y jam tiga sore nanti" aku segera membalasnya. Ketiga temanku tentu saja menyuruhku mengikuti perintah gadis itu. Mereka cari aman pastinya, dan aku yang dikorbankan. Karena aku yang selalu pasrah dan sudah pasti tidak tegaan, membuat ketiga temanku sedikit semena-mena memperlakukanku. ***** Sesampainya di Restaurant "Kamu pesen apa? Mau sekalian makan?" Luna baru saja sampai dan duduk berhadapan denganku. "Alah, udah gausa basa-basi. Sekarang gimana?" Ketusnya. Aku menghembuskan napas kasar. "Aku juga bingung , kamu maunya apa?" Balasku. "Nikahin aku, kalo kamu gamau foto-foto ini kesebar, lagian kan percuma. Endingnya juga kita bakalan dinikahin kalo sampe foto ini kesebar, hanya bedanya lebih malu aja sih, apalagi buat karirmu. Sayang kan? Kalo keluarga besarmu tau hal ini berdampak buat karirmu? Jadi ya terserah" terukir senyum sinis dari bibirnya yang indah itu. Ahhhh mikir apa sih aku.
Tapi darimana dia tau? Tentang karirku? Tiba-tiba.... Terbayang wajah Bapak dan Ibu , serta Mba Ningsih , Mba Chintya dan semua keluarga besarku. Bagaimana mereka nantinya jika tau aku mengecewakan mereka? Bahkan Bapak dan Ibu mati-matian menjadikanku hingga menjadi sekarang. Aku gusar. Lalu apa jadinya? Jika aku menikahi wanita didepanku ini! Aku bahkan belum mengenalnya, belum tau seluk-beluk dan tetek bengek lainnya. "Heh bengong! Ayo cepat, aku butuh jawabanmu sekarang. Aku gapunya banyak waktu" , masih saja tingkahnya songong. Semoga pilihanku menjadi yang terbaik, mungkin saja ini memang sudah takdirku, bukankah jodoh ,maut dan rejeki itu rahasia Allah? Aku tidak ingin mengecewakan keluargaku terutama Bapak&Ibu, aku akan korbankan semua perasaanku demi mereka. Toh juga nantinya sama aja aku bakalan menikah, terlepas siapa istrinya juga sama saja. Aku awali dengan niat yang baik dari dalam hati, walaupun aku tidak yakin sepenuhnya. Bismillah..... "Oke, aku akan nikahi kamu" tegasku mantap. Luna tersenyum , ada binar bahagia di matanya terlihat . Entah kenapa hatiku menghangat melihatnya tersenyum. Apakah aku sudah mulai ada rasa ? Luna sangat cantik, pakaiannya modis dan sepertinya wanita baik. Terlihat dari sifat ketus dan angkuhnya terhadap lelaki asing , menambah keyakinanku untuk menikahinya adalah pilihan yang tepat. "Kalau gitu, sekarang kita pacaran. Jalani saja dulu beberapa bulan ini. Tapi segera kenalkan aku ke keluargamu, agar aku yakin kalo kamu sungguh-sungguh dengan uacapanmu. Selama kamu belum membawaku ke orangtuamu, aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi. Jadi jangan coba-coba lari dariku" ujarnya sarkastik. Aku hanya terseyum masam Semakin sering kita bersama, rasa ini mulai hadir. Aku yang belum pernah tau apa itu cinta kepada lawan jenis. Baru pertama ini bisa merasakan dengan Luna. Rasa ingin selalu menjaganya, menyayanginya dan ingin membuatnya bahagia cukup kuat disebut jatuh cinta. Aku sungguh jatuh cinta pada Luna. Sehari tak mengabariku, hatiku gusar. Pikiranku kacau dan membuatku tidak fokus bekerja. Sedalam ini aku jatuh pada pesona Luna. Luna bisa membuat hidupku penuh warna, mengubah hariku menjadi istimewa dan membangkitkan semangatku. Apapun yang diminta, aku selalu memenuhi semuanya. Tak peduli tabunganku terkuras, tak peduli tenagaku dibilas , semua hanya ingin membuatnya bahagia bersamaku. Semakin aku mantap menjadikan dia satu-satunya permaisuri hingga tutup usia. Aku bergegas menemui Bapak&Ibu, mengenalkan Luna dan menjadikannya seorang Ratu bermahkota di istana rumah tanggaku. Bayangan indah saling berkelebat, indahnya nanti rumah tanggaku bersama orang yang aku sayangi sepenuh hati. Tokkk...tokkkk....tokkkk "Le ? Di dalam toh?" terdengar suara ketukan pintu kamar cukup keras menyadarkanku dari lamunan. Aku segera membuka pintu "Nggeh Buk, punten" sahutku Ternyata Ibu yang mengetuk. "Luna pergi kemana kok belum pulang? Mau jam sepuluh lho ,Le. Apa ndak kamu telfon? Khawatir terjadi apa-apa" suara Ibu terlihat sedikit cemas. "Nggeh Bu,sebentar ini Fathir telfon dulu" ijinku keluar menuju ruang tamu untuk menghubungi Luna. Hingga tiga panggilan , tak kunjung diangkat. Mungkin saja lagi di jalan mau pulang, pikirku. Aku merasa cemas , takut terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa Luna. Aku berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Luna. Perasaanku kalut, kemana Luna sebenarnya? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini. Kutengok ke arah luar, belum juga ada pertanda Luna sampai. Hingga suara ponsel mengagetkanku... Luna memanggil...... Segera kuangkat panggilan dari istri tercinta, semoga dia baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. "Assalamualaikum, Halo Lun?, Dimana sayang? Kok belum pulang? Mas khawatir" tanyaku bertubi-tubi karena khawatir dengannya. Suara gemerisik terdengar dari seberang telfon. "Halo Lun? Lun Lunaaaaaa?" kembali aku bertanya, kali ini sedikit kukeraskan suaraku. Barangkali Luna tak mendengar. Masih sama..... Hanya suara gemerisik yang terdengar. "Luna baik-baik aja? Masih disana? Sharelock ya sayang? Mas jemput, Mas otw ya sayang? Lunnnnn.... Luna???" Tak ada sahutan........ Hatiku semakin cemas. ***** ***** ***** Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
bagus
7d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0View All