logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

2. Arah yang Tidak Jelas

Sae mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Sudah 15 menit sejak Ririka meninggalkan kafe, sementara dia masih duduk di sana.
Buat sebagian pria yang malas, tidak perlu mengantar pasangan pulang mungkin terasa menyenangkan. Tapi Sae justru sangat, sangat ingin mengantar kencannya pulang dengan aman. Lalu saling mengucapkan perpisahan manis, dan berjanji akan bertemu lagi lain waktu.
Sayangnya, itu tidak bisa dia lakukan. Posisi sebagai selingkuhan dari wanita yang sudah menikah membuat semua harus dilakukan diam-diam.
Kadang, Sae juga ingin menjalani hubungan yang normal. Tapi untuk sekarang, itu belum bisa ia dapatkan. Bahkan dia sendiri masih bingung… kapan waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Ririka.
Saat Sae mulai tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba seseorang memanggil namanya dan sedikit mengejutkannya. Ia menoleh ke arah sumber suara itu.
Seorang wanita berpakaian santai berjalan mendekat. Rambut cokelat gelap sebahu, langkahnya santai menuju ke arahnya.
“Sae?” panggilnya dengan nada ceria.
Melihat wanita itu, Sae langsung menghela napas panjang. Rasa malas seketika muncul. Kehadiran wanita itu sering kali membuatnya kehilangan mood.
“Ada apa, Violet?”
Wanita yang dipanggil Violet itu langsung menarik kursi dan duduk di depannya—tanpa permisi, seolah itu hal yang wajar.
“Wah, beruntung banget ketemu kamu di sini. Aku traktir ya,” tawarnya.
Violet adalah rekan kerja Sae, seorang perawat di rumah sakit yang sama. Usianya 26 tahun, dikenal ceria dan ramah. Ia cukup populer di kalangan pasien dan rekan kerja. Dari luar, tidak ada yang terlihat buruk dari dirinya—apalagi dengan penampilannya yang menarik.
Tapi Sae jelas pengecualian.
Bagi Sae, Violet sering bertindak seenaknya dan terlalu agresif. Violet menyukainya, bahkan pernah menyatakan perasaan. Sayangnya, Sae tidak merasakan hal yang sama, jadi dia tidak bisa membalas. Sejak ditolak, Violet malah jadi semakin terobsesi mengejarnya.
“Nggak usah. Aku juga sebentar lagi mau pulang. Cari tempat lain saja, aku ingin sendiri,” tolak Sae.
Tapi penolakan seperti itu jelas tidak mempan untuk Violet. Ia mengabaikannya dan tetap mencoba mengajak ngobrol. Bahkan terus bicara tanpa henti, hanya untuk menahan Sae agar tetap di situ.
“Maaf ya, aku benar-benar mau pulang. Permisi,” kata Sae sambil melambaikan tangan, lalu berdiri dan meninggalkan Violet.
“Tunggu!” Violet menahan tangannya.
Kesabarannya habis. Sae akhirnya terpaksa bersikap sedikit kasar. Ia menepis tangan Violet, lalu mengabaikan panggilan yang terus memanggil namanya.
Melihat Sae mencoba menghindar, Violet bahkan nekat mengejarnya. Tapi sayangnya, langkah panjang Sae terlalu cepat—seolah menghilang begitu saja.
“Sial… kenapa susah banget sih deketin dia!” gerutu Violet kesal. Ia frustrasi karena tidak bisa mengejar orang yang diinginkannya.
Berhasil kabur dari Violet membuat Sae merasa sangat lega. Ia bersyukur kakinya yang panjang membuatnya bisa berjalan cepat—cukup untuk menjauh dari sosok yang menurutnya seperti penyihir, meskipun di mata orang lain mungkin terlihat seperti malaikat.
“Nggak ngerti lagi kenapa efeknya masih terasa,” gumam Sae sambil merinding. Ia sudah masuk ke dalam mobil, tapi masih ada rasa tidak nyaman yang mengganggunya.
Benar saja, Violet terlihat memperhatikannya dari balik jendela kafe. Sae pura-pura tidak melihat, lalu segera menyalakan mesin mobil. Terlalu berbahaya berlama-lama di area yang sama dengan “wanita penyihir” itu.
Violet tetap berada di dalam kafe setelah Sae pergi. Ia terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kepalanya tertunduk, wajahnya tertutup rambut sebahu yang terurai.
Tenang… kendalikan dirimu, Violet, batinnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Berurusan dengan Sae memang sering membuatnya frustrasi. Kalau Sae merasa dikejar penyihir, justru Violet merasa seperti sedang kehilangan mangsa berharganya. Di matanya, Sae terasa dekat… tapi sulit sekali dijangkau.
Seperti hari ini. Kebetulan sekali ia bisa bertemu Sae di kafe ini. Ia bahkan tidak merencanakannya. Tapi lagi-lagi, Sae berhasil lolos darinya. Meski begitu, ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
Wanita yang tadi bersama Sae terasa familiar. Entah kenapa… wajahnya seperti pernah ia lihat.
Violet sebenarnya sudah cukup lama berada di kafe itu. Ia sengaja memperhatikan gerak-gerik mereka berdua karena merasa ada yang mencurigakan. Ia baru memutuskan menyapa Sae setelah wanita itu pergi lebih dulu.
Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepalanya. Ia terus memikirkan sosok wanita itu—wajahnya terasa tidak asing, dan sepertinya punya hubungan dekat dengan Sae.
“Itu siapa, ya…?” gumam Violet pelan.
Ia menatap ke luar jendela, membiarkan pikirannya mengembara, mencoba menebak siapa sebenarnya wanita itu.
“Kamu dari mana?” tanya Ness yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Tidak seperti biasanya, suami Ririka itu terlihat santai. Padahal biasanya Ness hampir tidak pernah di rumah, selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai peneliti.
“Dari kafe. Lagi pengin yang manis, jadi mampir,” jawab Ririka. Dalam hatinya, ia sebenarnya bingung. Kenapa Ness yang biasanya cuek tiba-tiba menanyakan hal seperti ini? Padahal selama ini, suaminya jarang sekali peduli dengan aktivitasnya.
“Begitu ya. Kenapa nggak pesan saja dari rumah? Nggak perlu repot-repot keluar,” balas Ness dengan nada dingin.
Ucapan itu membuat Ririka sedikit kesal. Suami yang biasanya tidak peduli, sekarang malah seperti ingin melarangnya keluar rumah hanya untuk ke kafe?
“Aku cuma mau cari udara segar. Terlalu lama di dalam rumah juga bikin bosan. Nggak baik juga kan kalau terus-terusan di dalam?” kata Ririka, sedikit ketus, meski masih berusaha menahan emosi.
Ness tidak terlihat terpengaruh. Ia tetap tenang, sibuk membalik halaman buku tebal di tangannya. “Nggak ada yang salah sih dengan yang kamu bilang. Cuma… aku agak penasaran. Kenapa akhir-akhir ini kamu sering keluar rumah?”
Salah satu alis Ririka terangkat. Ia mulai merasa tidak nyaman. Rasanya seperti Ness tahu sesuatu, tapi sengaja tidak mengatakannya.
“Kamu tahu aku harus rutin kontrol ke rumah sakit. Ditambah lagi aku lagi sibuk ngurus persiapan toko yang sebentar lagi buka. Lagi pula, aku rasa kamu nggak terlalu peduli sama kegiatanku,” jawab Ririka. Ada rasa cemas bercampur khawatir dalam suaranya. Jujur saja, ia tidak ingin hubungannya dengan Sae diketahui suaminya.
Terdengar helaan napas berat dari Ness. Pria berambut cokelat kemerahan itu tampak terganggu. Konsentrasinya pada buku mulai buyar.
“Aku akui, aku memang sering nggak bisa menemani kamu. Tapi aku juga nggak ingat kamu pernah sekalipun minta bantuan dariku. Seolah kehadiranku nggak terlalu penting buat kamu,” kata Ness.
“Aku nggak mau berdebat. Jadi anggap saja pembicaraan ini nggak pernah ada. Aku capek… mau istirahat,” ucap Ririka, memilih mengakhiri percakapan.
Setelah itu, ia langsung pergi ke kamarnya. Ness menghela napas, memijat pelipisnya. Wajahnya kini terlihat sedikit murung. Ia memang buruk dalam mengekspresikan perasaan, dan itu sering menimbulkan salah paham.
Rasa frustrasi memenuhi dirinya. Sebenarnya, Ness sedang gelisah. Tingkah laku istrinya terasa aneh. Dari luar memang terlihat biasa saja, tapi Ness yang cukup teliti bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
Memang benar, selama ini ia tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan istrinya. Tapi belakangan, pikirannya mulai berubah. Sejak Ririka mengalami kecelakaan, ia tidak bisa berhenti merasa cemas. Sayangnya, karena ia terus menyangkal perasaan itu, kecemasan itu justru semakin menumpuk.
Mungkin Ness belum benar-benar memahami perasaannya sendiri. Tapi bagaimanapun, Ririka tetap istrinya. Dan sejak kecelakaan itu, rasa ingin melindunginya mulai muncul. Setidaknya, ia hanya ingin membuat hubungan rumah tangga mereka sedikit lebih hangat dengan mencoba lebih perhatian.
Sayangnya, niat itu tidak berjalan mulus. Ririka tampaknya menyembunyikan sesuatu darinya. Untuk sekarang, yang bisa ia lakukan hanya bersabar dan menunggu waktu yang tepat.
Ririka menggigit kuku jarinya dengan gelisah. Ia takut suaminya mengetahui hubungannya dengan Sae. Sebisa mungkin, ia mencoba menyingkirkan pikiran buruk itu. Ia meyakinkan dirinya bahwa Ness belum tahu apa-apa.
Tenang… tenang Ririka, semuanya akan baik-baik saja, batinnya.
Bayangannya terlihat di cermin kamar mandi. Wajahnya agak pucat, dengan ekspresi ketakutan yang jelas terlihat. Melihat dirinya yang seperti itu, Ririka buru-buru membasuh wajahnya dengan air.
Ia kembali menatap cermin. Kali ini, ia memaksakan senyum. Meyakinkan dirinya bahwa rasa takut itu tidak akan membuatnya mundur.
Sae meletakkan cangkir cokelat panasnya di atas meja. Ia lalu membuka jendela kamar dan menikmati udara malam. Angin sepoi-sepoi menyentuh wajahnya. Dari sana, ia bisa melihat kota yang masih ramai meski sudah malam.
Pemandangan dari tempat setinggi ini membuatnya teringat pada sebuah kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan.
Hari ketika ia menyelamatkan seorang pasien yang hampir saja mengakhiri hidupnya.
Seorang wanita yang putus asa, berdiri di ketinggian dan ingin menjatuhkan dirinya. Kejadian itu begitu membekas—menegangkan sekaligus menakutkan.
Seandainya saat itu ia tidak mengulurkan tangan… tidak berteriak mati-matian untuk menghentikannya… mungkin bayangan itu akan terus menghantuinya selamanya.
Untungnya, ia berhasil mencegah wanita itu melakukan hal yang mengerikan.
Dan siapa sangka, dari kejadian itu… ia justru menjadi dekat dengan wanita tersebut.
Wanita yang ia selamatkan waktu itu adalah Ririka. Pasiennya yang menjadi korban kecelakaan mobil. Meskipun selamat, Ririka terlihat sangat putus asa. Mungkin karena adiknya meninggal dalam kecelakaan itu. Dari kejadian tersebut, hanya Ririka yang selamat—bahkan tanpa luka fatal. Seperti keajaiban… tapi tidak berlaku untuk adiknya.
Sae menghela napas panjang. Ia masih ingat jelas pertama kali melihat Ririka saat mencoba mengakhiri hidupnya. Wajahnya pucat, ekspresinya kosong. Ditambah lagi, hampir tidak pernah ada kehadiran suaminya. Membuat Ririka seperti… hidup tanpa jiwa.
Awalnya, Sae hanya menjalankan tugasnya sebagai dokter. Ia juga kebetulan menjadi orang yang menggagalkan usaha Ririka saat itu. Tapi melihat betapa tragis dan kosongnya hidup wanita itu… rasa iba muncul. Dan dari rasa iba itulah, perlahan tumbuh kedekatan yang tidak pernah ia duga.
Sae memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang berputar di kepalanya—meskipun sulit.
Ia tahu, hubungan ini salah.
Tapi tetap saja… ia belum bisa mengakhiri semuanya sekarang.
Ada perasaan egois dalam dirinya yang membuatnya tidak sanggup melepaskan Ririka.

Book Comment (6)

  • avatar
    HitamKuda

    nice

    6d

      0
  • avatar
    epieya

    love bngett

    28/04

      0
  • avatar
    Ultramen Z

    bagus

    28/04

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters