logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Hope and Love

Hope and Love

Morie Lilac


1. Perasaan yang Rumit

Sae menghela napas panjang. Ia menutup pintu ruang kerjanya. Pekerjaannya sudah selesai, dan sekarang ia berhak pulang.
Tubuhnya terasa lelah. Seharian penuh ia bekerja, menghadapi banyak orang yang menjadi pasiennya juga cukup menguras energi. Apalagi dia tipe introvert yang sebenarnya tidak terlalu suka basa-basi dengan orang lain. Tapi pekerjaannya sebagai dokter tidak memungkinkan dia bersikap dingin atau jutek. Jadi demi menjaga profesionalitas, Sae selalu memakai “topeng” dan bersikap sebaik mungkin saat berhadapan dengan pasien.
Capek banget rasanya. Andai saja dia tidak punya janji, mungkin dia sudah lari secepat mungkin ke parkiran, mengambil kendaraannya, lalu pulang untuk menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Tapi janji itu tidak bisa diabaikan. Apalagi dia sendiri yang membuatnya. Mau tidak mau, pria 30 tahun itu berjalan agak terburu-buru menuju parkiran untuk segera menemui Ririka. Wanita yang ia ajak kencan itu tadi sudah menghubunginya.
Maroon Cafe
Sae masuk ke dalam dan mencari Ririka. Matanya menyapu seluruh ruangan. Tidak butuh waktu lama, ia melihat Ririka melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun langsung menghampiri wanita itu.
“Maaf aku telat. Kerjaanku baru selesai,” kata Sae sambil menarik kursinya.
Ririka menggeleng sambil tersenyum cerah. “Nggak apa-apa. Aku malah datang lebih awal karena penasaran sama kafe ini.” Ia memang antusias datang ke tempat ini. Itulah kenapa ia meminta Sae menjadikan kafe ini sebagai tempat kencan rahasia mereka. Lokasinya yang agak tersembunyi membuat Ririka merasa nyaman—tidak terlalu ramai, tapi tetap hangat untuk menghabiskan waktu dengan pria selain suaminya.
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Sae sambil tersenyum.
Di atas meja sudah ada pastry favoritnya: Kouign Amann. Terbuat dari puff pastry dengan lapisan gula dan mentega, bagian luarnya renyah dan karamelisasinya pas—persis yang ia suka. Sae menatapnya sebentar sebelum mulai memakannya. Ririka sekarang sudah hafal makanan kesukaannya.
“Kamu kelihatan senang. Kamu suka? Rasanya menyenangkan bisa mentraktir orang dengan makanan yang dia suka,” kata Ririka dengan wajah bahagia. Mungkin hal seperti ini tidak pernah bisa ia lakukan untuk suaminya yang sering bersikap acuh.
“Aku suka. Terima kasih ya,” jawab Sae sambil menikmati Kouign Amann itu.
Meski pastry itu memanjakan lidahnya, jauh di dalam hati, Sae sebenarnya sedikit terganggu dengan kenyataan bahwa ia sedang menikmati momen seperti ini bersama wanita yang sudah menikah.
Hubungan aneh ini sudah berjalan sekitar tiga bulan. Semua berawal dari kejadian yang tidak terduga. Ririka adalah pasiennya—korban kecelakaan lalu lintas yang dirawat di rumah sakit tempat Sae bekerja. Awalnya ia hanya menjalankan kewajiban sebagai dokter. Tapi entah bagaimana, semuanya berubah… sampai akhirnya ia menjadi kekasih dari wanita yang sudah bersuami.
“Sae, nanti setelah dari kafe… kamu nggak usah antar aku ya. Hari ini aku dijemput,” kata Ririka pelan, terdengar sedikit ragu, seolah takut menyinggung.
Begitulah kalau berhubungan dengan wanita yang sudah menikah. Semua harus serba hati-hati—mulai dari memilih tempat yang tersembunyi sampai tidak bisa mengantar pulang setelah kencan. Risiko seperti ini sebenarnya sudah Sae pahami dengan jelas. Tapi tetap saja… anehnya, ia tidak pernah menyangka dirinya akan menjalani hal seperti ini.
“Aku ngerti. Tenang saja,” jawab Sae. Ia jelas tidak bisa menuntut apa pun.
“Ngomong-ngomong, sebentar lagi jadwal kontrol kamu selesai. Jadi kamu sudah nggak perlu rutin ke rumah sakit lagi.”
Senyum lembut muncul di wajah Ririka. “Ternyata waktu cepat juga ya. Kayaknya aku bakal kangen rumah sakit… tempat aku dulu dirawat,” katanya setengah bercanda.
“Dasar. Mana mungkin orang kangen rumah sakit.”
“Tapi di sana aku ketemu kamu. Kedengarannya mungkin aneh, tapi sekarang rumah sakit terasa jadi tempat yang menyenangkan buat dikunjungi. Dan itu semua karena kamu,” kata Ririka.
Entah itu rayuan atau ketulusan, tetap saja terdengar menyenangkan bagi Sae… walaupun dalam hati ia berharap Ririka bukan wanita yang sudah menikah.
Sudut bibir Sae sedikit terangkat. Ia lalu menjentik ringan dahi Ririka.
“Kata-kata kayak gitu harusnya kamu pakai buat suami kamu. Kalau kamu bisa menyampaikannya dengan benar, mungkin dia nggak bakal memperlakukan kamu seperti ini.”
Terdengar sarkastik, tapi sebenarnya Sae sendiri merasa tersindir oleh ucapannya.
Ririka tertawa canggung. Ia tahu Sae memang suka bicara blak-blakan. Tapi anehnya, justru itu yang ia suka dari pria itu.
“Kata-katamu tajam banget. Tapi anehnya aku malah suka orang kayak kamu.”
“Aku yang lebih aneh. Bisa-bisanya punya hubungan sama wanita yang sudah punya suami.”
Percakapan sempat terhenti. Suasana jadi sedikit hening. Tapi tidak lama, Ririka kembali membuka obrolan.
“Aku sebentar lagi mau buka toko bunga. Kalau kamu punya waktu luang, datang ya,” katanya, sengaja mengalihkan suasana yang sempat canggung.
“Toko bunga? Cepat juga. Tiba-tiba sudah mau buka usaha,” ujar Sae sambil menopang dagunya dengan tangan.
“Sebenarnya sebelum kecelakaan, aku sudah mempersiapkannya. Tapi karena kejadian itu, semuanya sempat tertunda. Sekarang, pelan-pelan, dengan bantuan temanku, aku mulai menjalankannya lagi,” jelas Ririka.
“Begitu ya. Aku salut kamu tetap berusaha mewujudkan mimpimu, meskipun kondisinya nggak mudah,” kata Sae. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut hitam Ririka.
“Aku bangga sama kamu,” lanjutnya tulus.
Deg.
Mendengar itu, jantung Ririka berdegup sedikit lebih cepat. Ia merasa gugup… tapi juga bahagia. Kata-kata Sae terasa tulus dan benar-benar menyentuh hatinya. Perasaan dihargai atas usahanya membuatnya terharu.
Sayangnya, rasa itu bukan datang dari suaminya… melainkan dari pria lain. Dan itu membuatnya sedikit kecewa.
Andai saja suaminya bisa memperlakukannya seperti ini… atau Sae-lah yang menjadi suaminya… mungkin ia akan merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
“Terima kasih, Sae,” ucap Ririka sambil tersenyum manis.
Melihat senyum itu, Sae ikut merasa hangat.
Andai saja Ririka benar-benar miliknya… mungkin perasaan ini akan terasa jauh lebih utuh.

Book Comment (7)

  • avatar
    salsaaaa

    bagus seru cerita nya

    2h

      0
  • avatar
    HitamKuda

    nice

    6d

      0
  • avatar
    epieya

    love bngett

    28/04

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters