Homepage/Aku Kembali sebagai Ibu untuk Anak Duda Beku itu!/
Chapter 4 Ayah
Bab 4: Ayah "Papa, ada apa? Papa baik-baik saja?" Valeria terhuyung masuk, tas dan kotak kardus yang basah hampir terjatuh dari genggamannya. Di ruang tengah yang minim penerangan, Papa Danu terlihat duduk lunglai di sofa. Di pangkuannya, tergeletak surat kabar dengan wajah Valeria terpampang besar di halaman utama. Ekspresinya yang pias membuat hati Valeria mencelos. Papa Danu mendongak, matanya yang redup menatap putrinya. Sorotnya penuh kesedihan, bukan kemarahan. Ia mengabaikan koran itu, hanya menatap Valeria dari ujung rambut hingga kaki. "Valeria, ya ampun, kamu basah kuyup nak. Masuk, sini dekat Papa," ucapnya pelan, suaranya parau dan lemah. Sebuah batuk kering keluar dari kerongkongannya. Tangannya mencoba meraih Valeria. Valeria melangkah mendekat, menjatuhkan semua bawaannya di lantai, lalu berlutut di depan ayahnya. Air mata yang sudah mengering di pipinya, kini mengalir lagi, bercampur tetesan air hujan. "Papa melihatnya, kan? Papa pasti sudah tahu semua. Tapi Papa harus percaya padaku, Pa. Semua itu fitnah, semua itu tidak benar." "Papa percaya, Nak," jawab Papa Danu, suaranya begitu lemah namun tegas. Ia mengelus kepala Valeria. "Papa tahu anak Papa tidak mungkin melakukan itu. Adrian itu busuk, Nak. Dia selalu iri pada warisan Kakek Suryadi yang sejatinya milikmu, bukan miliknya. Apalagi setelah kakeknya sendiri memutuskan sebagian usaha untuk keturunanku. Hanya sebagian kecil dariku. Tapi kau punya koneksi bisnis yang erat dengan Adrian selama ini." "Bukan warisan saja, Pa. Lebih dari itu," sela Valeria, menyela tangisnya. "Mereka menuduhku korupsi puluhan miliar dan menjual rahasia perusahaan Adrian ke kompetitor. Bahkan Saras juga terlibat. Dia menari-nari di atas penderitaanku." Papa Danu menutup mata sesaat, napasnya tersengal. "Adrian tidak punya harga diri. Dia sudah melenceng jauh dari almarhum ayahnya. Kakek Suryadi tentu akan malu melihat tingkahnya." Ia membuka mata lagi. "Tidakkah mereka memikirkan hati manusia, Nak? Apalagi hatimu." Valeria merasakan ada kerikil tajam di dadanya. "Apa Papa baik-baik saja? Wajah Papa sangat pucat. Jangan pikirkan ini Pa, aku yang salah karena tidak hati-hati." "Bukan kamu yang salah, Nak," Papa Danu mengibaskan tangan, seolah menepis perasaan itu. "Tapi berita itu, membuat Papa jadi berpikir keras. Papa baru saja membaca di internet dan di koran. Perusahaan yang Papa rintis, yang Kakek Suryadi juga punya sebagian andil kecil, hancur reputasinya. Bahkan klien kita di Jepang mengundurkan diri dan membayar denda dengan terpaksa." Valeria kaget. Ia tidak menyangka imbasnya akan sejauh itu. Ayahnya memiliki perusahaan desain interior kecil, yang memang berhubungan erat dengan beberapa proyek yang juga ia kerjakan untuk Suryadi Group di masa lalu, terutama proyek di Jepang. "Apa?" bisik Valeria, terkejut. "Tapi bukankah mereka seharusnya tahu itu bukan dari perusahaanku?" "Itu perusahaan yang terdaftar atas nama kita, nak. Tapi di belakangnya, atas nama kita, Adrian memasang bendera Suryadi Group. Seolah-olah usaha itu juga milik Adrian. Dia sengaja mencampuradukkan aset kita. Dan saat ini klien di Jepang itu percaya itu milik Adrian, sehingga fitnah yang dilemparkan kepada kita otomatis membuat klien Jepang itu trauma dan memilih pergi," jelas Papa Danu. Wajahnya semakin pias. Ia batuk lagi, lebih parah kali ini. "Maafkan aku, Pa. Aku terlalu buta untuk melihat siapa Adrian yang sebenarnya." Valeria meraih tangan ayahnya yang terasa dingin. "Aku berjanji, aku akan memperbaiki semua. Aku akan membersihkan nama kita." "Jangan, Nak," lirih Papa Danu. "Adrian itu terlalu kejam. Papa tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk padamu. Sudahlah, biarkan saja. Reputasi Papa tidak penting lagi. Yang penting kamu selamat. Kamu aman." Valeria menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak bisa begitu, Pa. Papa baru sembuh dari sakit jantung, dan ini pasti membuat kondisi Papa semakin buruk." Ia mencengkeram tangan ayahnya lebih erat. "Kita butuh uang, Pa. Uang untuk pengobatan Papa, uang untuk menopang hidup kita." Papa Danu mendesah berat. "Sakit jantung Papa kambuh sedikit saja gara-gara membaca semua ini. Tapi Papa tidak apa-apa. Lebih dari itu, Papa khawatir dengan nasibmu. Di mana kamu akan tinggal? Apartemenmu itu...." "Apartemenku sudah disita, Pa," Valeria memotong, suaranya berusaha terdengar stabil meskipun ada perih di dalamnya. "Bahkan bankku dibekukan, semua kartu kreditku ditolak. Aku tidak punya apa-apa lagi." Mata Papa Danu melebar. "Adrian... ia sekejam itu?" "Ya, Pa. Adrian melakukan ini untuk merebut warisan yang seharusnya menjadi milikku. Ia serakah. Ia ingin semuanya," ucap Valeria penuh getir. "Termasuk hak atas sebagian kepemilikan saham di Suryadi Group, yang kakek Adrian sendiri titipkan atas nama keluargaku. Itulah inti dari semua ini." Papa Danu menatap kosong ke depan. "Warisan Kakek Suryadi yang dijanjikan pada cucu-cucunya. Salah satunya kamu. Karena kakekmu pernah berjasa besar pada keluarga itu. Ya, Papa ingat. Adrian tidak punya hak atas warisan itu karena dia cucu tiri. Memang dari dulu Papa sudah mewanti-wanti kamu, Nak." Ia meremas keningnya yang berkerut dalam. "Itu adalah impas, Pak. Aku bahkan tidak berniat mengambil saham yang cukup besar seperti Ethan Suryadi. Bagiku hanya secukupnya saja agar impas," balas Valeria, kini mulai tersulut amarah yang lama terpendam. "Tapi ini berbeda. Ini bukan hanya tentang warisan lagi. Ini tentang harkat martabat kita. Adrian memperlakukan kita seperti sampah. Mereka menginjak-injak harga diri Papa, keluarga kita, dan karier yang kubangun seumur hidup." "Tapi bagaimana kamu akan bertahan, Nak?" tanya Papa Danu, nada suaranya sangat mengkhawatirkan. "Mereka sudah menghancurkan segalanya. Reputasimu hancur. Tidak ada klien yang akan berani bekerja sama denganmu lagi." "Tidak apa-apa, Pa. Aku sudah memikirkannya," kata Valeria, meskipun hatinya berteriak menahan pedih. "Aku akan mulai dari nol lagi. Akan kucari pekerjaan apapun yang bisa membayar kita." Ia mengingat kembali iklan lowongan kerja pengasuh yang ia lihat. "Asalkan aku punya kesempatan untuk mendekati mereka, aku tidak akan menyia-nyiakannya." "Apa maksudmu, Nak?" tanya Papa Danu curiga. Valeria memandang ayahnya dengan mata berkaca-kaca, namun ada kobaran api di dalamnya. "Aku melihat sebuah iklan. Di rumah utama keluarga Suryadi, mereka mencari pengasuh untuk Liam." Tubuh Papa Danu menegang. "Liam? Anak Ethan? Kamu... kamu akan kembali ke sana?" "Hanya itu satu-satunya jalan, Pa. Mereka mencari pengasuh dengan gaji besar, dan aku sangat menyayangi Liam. Setidaknya Liam akan berada di lingkup yang benar bersamaku." ucap Valeria. "Itu sangat berbahaya, Valeria," tegur Papa Danu. "Adrian tinggal di paviliun rumah utama. Apa kamu tidak takut?" "Aku tidak takut lagi, Pa," jawab Valeria, nada suaranya begitu dingin dan tenang. Ia sudah bukan Valeria yang naif. "Rasa takut itu sudah digantikan oleh dendam. Dendam atas semua yang mereka lakukan padaku, padamu, pada keluarga kita." Valeria mengangkat wajah, membiarkan hujan di wajahnya mendinginkan kulit yang panas. Namun tidak hatinya. "Lagipula, ada Papa yang harus aku jaga. Aku tidak bisa membiarkan Papa jatuh sakit lebih jauh lagi karena ulah mereka. Aku membutuhkan uang untuk Papa." "Demi Papa?" Papa Danu mencoba untuk bangkit, tapi batuknya semakin parah, dan ia kembali duduk. Ia terhuyung. Wajahnya semakin pucat. "Ya, Pa," ucap Valeria tegas, menekan rasa takutnya melihat kondisi ayahnya. "Aku tidak akan membiarkan Papa menderita. Tidak akan. Aku akan memastikan Adrian membayar semuanya, hingga ke akarnya." Valeria mendekatkan diri, memeluk Papa Danu dengan erat. Tubuh ringkih ayahnya terasa gemetar di dalam dekapannya. Inilah alasannya. Ini motivasi utamanya. Adrian tidak hanya mengambil kekayaannya, Adrian telah menghancurkan kebahagiaan dan kini mengancam kesehatan ayahnya. Sebuah desahan panjang keluar dari mulut Valeria. "Jaga diri, Nak," bisik Papa Danu. "Papa percaya padamu. Tapi Papa mohon, jangan terlalu berani mengambil risiko. Hati-hati. Mereka kejam. Mereka benar-benar jahat." "Aku tidak akan menyerah, Pa. Tidak kali ini," janji Valeria. "Aku akan menunjukkan pada Adrian, siapa Valeria yang sebenarnya. Aku akan mengambil kembali semuanya, dengan cara apapun." Ia tahu dirinya sudah membuat keputusan. Inilah pemicu bagi setiap langkahnya selanjutnya. Pengorbanan ayahnya tidak akan sia-sia. Kebencian pada Adrian adalah api. Tapi cinta pada ayahnya adalah bahan bakarnya. Ia harus bertransformasi. Ia mendirikan ayahnya perlahan ke dalam kamarnya, menyelimuti Papa Danu, lalu meletakkan secangkir air putih hangat di sampingnya. Pandangannya terhenti pada secercah luka kecil di jari tangannya yang perih akibat pisau Adrian tadi. Bahkan luka sekecil ini terasa sebagai pengingat betapa piciknya Adrian. Ia bertekad, api dendam itu kini menguat, mengalir bersama darah di jari mungilnya. Ini bukan hanya perjuangan membersihkan nama, tapi pertarungan hidup dan mati demi ayahnya, demi masa depan mereka. Valeria menarik napas dalam. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Dia siap menjadi 'Ria', menyusup masuk ke sarang musuh.
Sangat baguss ceritanyaa🥰
02/05
0bagus banget
19/04
0ceritanya menarik utk dibaca
12/04
0View All