7: Kesialan Membawa Berkah Pagi ini rasanya sangat berat untuk berangkat sekolah. Seperti dejavu. Sewaktu SMA Pratnya juga kena sindrom malas berangkat sekolah. Pertama karena pelajaran matematika yang mematikan otaknya. Kedua, karena tidak ada teman yang dekat dengannya. Pratnya selalu sendiri di kelas. Temannya hanya buku yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah. Tak beda dari sekarang. Penyebab kemalasan berangkat kerja, karena pekerjaan yang akan dia hadapi bukan sesuatu yang datang dari hati. Tidak ada teman untuk saling berbagi dan bertukar cerita secara pribadi. Sungguh keadaan yang sama seperti dulu. Datang ke sekolah yang sama. Pembedanya pada seragam yang dikenakan. Dan, pagi ini perjalanan Pratnya terasa semakin berat. Gerbang sekolah baginya mirip kotak pandora dengan aneka kejutan tak menyenangkan. Sebuah gerbang yang akan membawanya memasuki kotak kesengsaraan. Sebuah gerbang yang di dalamnya menyimpan gosip tentang dirinya yang terkesan tidak punya urat malu dan perasaan. Rasa berat itu harus ditambah dengan bensin motornya yang habis. Terpaksa Pratnya harus mendorong si Scoopy sampai menemukan penjual bensin atau POM bensin terdekat. Lengkap sudah penderitaan tokoh protagonis kita. Sudah dua kali ini terjadi. Sebenarnya bukan watak Pratnya untuk teledor. Biasanya dia seorang yang rapi, segala sesuatu selalu terantisipasi. Entah mengapa, akhir-akhir ini dia menjadi pelupa. Salah satunya adalah mengecek jarum penanda bensin. Meski jarum penanda bensin terlihat, tetapi pikiran Pratnya menjadi tidak fokus dengan apa yang dia lihat. Cukup berbahaya juga sih, kalau kebanyakan bengong saat mengendarai sepeda motor. Untung Pratnya bawa motornya mirip siput yang berjalan. Kadang suara klakson sering meneriakinya bila secara tidak sadar motornya melaju agak ke tengah. Bila sudah begitu, Pratnya akan mencoba fokus lagi berjalan lurus di pinggiran. Selama perjalanan mendorong Scoopy-nya, beberapa kali Pratnya mendesah. Rasanya ingin menyerah. Bukan sekadar membolos sekolah. Rasanya ingin lari. Tetapi kemana ia harus melarikan diri. Bila pun telah lari, tidakkah dia nanti menjadi pengecut yang membiarkan persoalan berkeliaran lalu memberikan kesan buruk. Pratnya mengelap dahinya dengan ujung lengan baju. Padahal matahari belum tinggi, tetapi entah mengapa keringatnya telah bercucuran begitu deras. Rasa malu tidak lagi melumat diri Pratnya. Biar saja orang-orang mengasihaninya atau merutuki kecerobohannya dengan membiarkan bensin sampai habis tak bersisa. “Habis lagi bensinnya?” sapa seseorang tak terduga. Pratnya menoleh pada sumber suara yang telah mendahului di depan lalu berhenti tak jauh darinya. Letih lesu, kepayahan, muka kusam mendadak sirna dari diri Pratnya. Lihat, wajahnya kini mulai bercahaya mengalahkan matahari yang masih malu bersinar. “Kamio Fuju?” seru Pratnya tertahan. Senyum rasanya telah merekah dari mulutnya. “Apa?” ujar laki-laki yang telah mendekati Pratnya. “Saya bantu lagi sampai POM bensin ya.” “Tentu, dengan senang hati.” jawab Pratnya tanpa berpikir dua kali. Energinya mendadak terisi penuh kembali. “Kenapa bisa ketemu lagi?” gumam Pratnya bertanya pada diri sendiri. “Maaf, nama Ibu siapa?” tanya laki-laki itu sambil turun dari motor lalu membuka joknya. Mengeluarkan tali tambang. “Saya Kamil.” “Ibu?” gumam Pratnya sedikit kecewa dengan panggilan itu. Apakah aku setua itu? Tetapi Pratnya tetap menyebut namanya, “Anya.” balas dengan kesan malu-malu. “Tadi siapa namanya, Kamil?” Pratnya memastikan pendengarannya. Laki-laki muda itu mengangguk. Bahkan namanya terdengar nyaris homofon atara Kamio dengan Kamil. “Itu buat apa?” Pratnya kembali bertanya tentang tali tambang yang masih Kamil pegang. “Katanya lebih aman kalau memberi bantuan pada motor lain dengan menggunakan tali. Menyetut selain mengganggu pengendara lain, juga berbahaya.” “Oh, gitu.” Pratnya memperhatikan Kamil yang mulai sibuk mengikatkan tali pada setang motornya. “Bu Anya guru apa?” tanya jawab terjadi lagi. Melihat dari baju korpri yang dikenakan Pratnya hari ini sudah barang tentu akan memunculkan dugaan kalau dia itu guru. Padahal belum tentu guru. Semua ASN setiap tanggal 17 memang wajib mengenakan seragam korpri. Tak terkecuali para honorernya. Biar seragam, mengikuti aturan. Pada titik ini Pratnya memaklumi kenapa Kamil memanggilnya Ibu. Pasti untuk menghormati profesinya yang terkira sebagai guru. “Bukan, saya di bagian tata usaha.” “Oh, bukan guru?” balas Kamil. “Saya kira yang di kantor juga guru.” “Enggak, pendidikan kami yang bekerja di kantor tata usaha bukan dari kependidikan. Bisa dari lulusan apa saja. Tapi diutamakan yang berkaitan dengan perkantoran.” Kamil mengangguk-angguk. Pekerjaan mengikat tali telah selesai. “SMA, SMP?” tanya Kamil. “SMA Perwira,” “Bisa telat nih, Bu Anya.” ucap Kamil melihat ke jam tangannya. “Paling ketinggalan upacara.” sahut Pratnya. “Ayo Bu, kita berangkat.” ajak Kamil setelah memastikan ikatan talinya aman dan kencang. Pratnya menurut. Dia berupaya menjaga keseimbangan mengikuti anak muda yang ada di depan. Cukup jauh juga perjalanan mereka berurut-urutan. Lebih jauh dari titik bensin habis sebelumnya. Plang Pom Bensin akhirnya terlihat. Ada kelegaan tersirat dari wajah Pratnya. Setidaknya dia tidak akan mengganggu perjalanan orang itu lagi. “Baik, udah hampir sampai.” seru Kamil ketika dua putaran roda lagi mereka sampai di POM bensin. Kamil mengerem motornya di areal pengisian bensin. Sigap dia segera melepaskan ikatan tali dari kedua motor. Pratnya telah turun dari motor bersiap menuntun. “Makasih ya, Kamil.” ucap Pratnya sebelum melangkahkan kaki. “Tunggu Bu,” cegah Kamil. “Ada apa?” Pratnya kebingungan. Kamil menghampiri. “Biar saya yang mengantri ke sana. Bu Anya tunggu di sini sama motor saya.” “Nanti kamu telat juga loh ke tempat kerjamu.” “Sesekali enggak pa-pa, permisi.” Kamil memaksa mengambil alih kendali kendaraan sehari-hari Pratnya. “Bu Anya udah jalan jauh tadi. Pasti capek.” Mau tak mau Pratnya menyingkir membiarkan Kamil menguasai motornya. “Eh, ini uangnya.” buru-buru Pratnya mengeluarkan uang dari tas slempang kecil. “Nanti aja, gampang.” ujar Kamil segera berlalu dari Pratnya yang menjadi bengong bercampur terpana. Apakah ini berarti kami berjodoh? Takdir pertemuan melalui kesialan. Semacam sengsara membawa nikmat. Pratnya mulai terbang meski tanpa sayap. Potret dirinya kini mirip orang gila yang senyum-senyum sendiri di area Pom Bensin. “Bu, Bu Anya!” Sebuah suara menarik jiwa Pratnya kembali ke bumi. “Oh, sudah?” geragap Pratnya. “Tadi diisi berapa?” Kamil tidak menanggapi. Dia telah menaiki motornya, menstater siap melaju. “Bayar lain kali aja, saya mau mengejar waktu.” “Lah, tadi katanya enggak pa-pa telat.” “Masih bisa terkejar, kalau saya ngebut.” ucap Kamil tersenyum. “Mari, Bu!” Pratnya termangu beberapa saat. Sangat bersyukur mendapat kebaikan dari orang di pagi yang rusuh. Akankah ini menjadi jalan bagi perjodohan kami. Bisik Pratnya dalam hati. “Eh, uangnya!” Terlambat. Kamil telah melaju kencang, bahkan punggungnya sudah tidak terlihat. “Woi, bengong! Buruan udah telat, tau!” runtuk hati A menggugah gerak Pratnya melaju mengikuti jejak ban yang Kamil tinggalkan. ‘Selamat pagi! Entah apa yang akan menanti di balik gerbang seharian nanti.’
baguss
14/04/2025
0ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍
18/03/2025
1😍😍😍
03/12/2024
0View All