logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Perbincangan Enam Mata

Reki memandang Deksa dengan tatapan tidak senang. Demikian juga dengan Deksa yang langsung curiga pada sosok pria bercincin kawin yang saat ini hadir di meja mereka. Pembicaraan apa yang akan menghampiri nanti?
“Mau pesan apa?” tawar Pratnya pada Reki yang baru saja duduk.
“Moccacino.” pesan Reki. 
“Saya pesankan dulu,” Sebelum pantat Pratnya terangkat, Deksa menawarkan diri memesankan minum ke meja pemesanan.
“Kakak pesan apa?”
“Moccacino,”
Deksa menatap Pratnya dan Reki bergantian. Kok selera mereka berdua bisa sama. “Oke,” tanggapnya yang sudah menandai espresso sebagai pesanannya nanti. Khususnya straight espresso.
“Kakak?” ujar Reki mempertanyakan panggilan Deksa padanya.
“Dia adikku.”
“Oh begitu,” ucap Reki agak mengendurkan urat rahangnya. “Kirain pacarmu masih brondong.” godanya.
Tidak ada tanggapan dari Pratnya. Dia mengalihkan pandangannya pada si adik yang tengah memesan minum untuk mereka bertiga.
Deksa telah kembali ke meja mereka. Sebuah meja saji warna moka yang terletak di pojokan dekat dengan patung biji kopi. Wallpaper kafe juga ramai bergambar biji kopi yang tersebar acak.
“Oh ya, ini Deksa.” Pratnya memperkenalkan adiknya secara resmi.
Mendengar namanya disebut, Deksa langsung mengulurkan tangannya pada Reki. Jabat tangan erat menyambut Deksa.
“Pak Reki, guru atau staf tata usaha?” tanya Deksa.
“Guru.”
“Guru apa?”
“Bahasa Inggris.”
“Oh,” Deksa melirik Pratnya yang duduk di sebelahnya. “Dulu…”
“Dek,” potong Pratnya dengan bola mata yang membulat sempurna.
“Oh, maaf. Silakan, kalian lanjutkan mengobrol.” Deksa tahu diri. Dia juga tahu kakaknya orangnya sangat efisien tidak suka membuang kata-kata percuma.
Namun, setelah Deksa berhenti bicara yang terjadi malah hening tanpa alunan lagu Mengheningkan Cipta. Deksa jadi serba salah sendiri. Apa kehadiran dirinya justru mengganggu keduanya? Terpaksa dia ikut arus menundukkan kepala dengan mata fokus ke ponsel pintarnya. Pura-pura tak acuh saja.
Pratnya menghela napas. Sedari tadi dia tengah sibuk merangkum kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Mengganti terus, dengan memberi coretan pada kalimat yang tercipta di kepala. Nah, mari kita langsung ke intinya tak perlu basa-basi lama. 
“Pak Reki tahu tentang gosip kita?”
“Tahu,” sahutnya seraya mengangguk. Gerak tubuhnya sangat santai terlihat tidak terganggu dengan berita yang beredar.
“Menurut Pak Reki siapa sumber berita tersebut?” tanya Pratnya membuat Deksa yang telah asyik bermain game turut memandang Reki.
“Aku juga nggak tahu.” gelengan kepala samar terpasang.
“Pak Reki tidak bicara yang aneh-aneh pada orang lain, kan?” cecar Pratnya berbuah tatapan dari Deksa yang masih belum mengerti arah pembicaraan keduanya.
“Cerita aneh apa ya? Seingatku enggak,” Reki menyandarkan tubuh ke kursi berwarna hitam. Serasi dengan nuansa kopi yang cokelat hitam. 
“Kalau demikian tolong jangan sering mendatangi saya di loket.” pinta Pratnya.
“Kenapa? Itu tempat umum lho, siapa pun bisa melongok ke loketmu.”
Kepala Deksa telah mirip wasit pertandingan bulu tangkis. Berpindah pandangan dari Pratnya ke Reki, dari Pratnya ke Reki lagi. “Kalian ada sesuatu?” 
“Kamu jangan berpikir macam-macam, Dek!” bentak Pratnya membuat Reki cukup terkejut. Gadis di depannya ini berubah menjadi garang.
Saat suasana semakin tegang, pesanan kopi mereka datang. Deksa lalu menghirup aroma kopi dari cangkirnya sendiri. Dia lupa dengan pertanyaannya tadi.
 “Diam, dan nikmati aja kopimu!” perintah Pratnya sengit. Meski Deksa sudah tidak peduli lagi dengan mereka berdua.
“Stay woles, Bray!” balas Deksa tak terlalu kaget dengan gertakan Pratnya. “Silakan lanjutkan. Tapi sebelumnya, boleh aku pesan pancake?”
“Silakan,” jawab Reki sangat melegakan Deksa.
Dia bergegas ke meja pemesanan. Saat kembali, dua orang yang tengah duduk berhadapan masih belum mengeluarkan suara lagi. 
“Ah, aku baru ingat.” ucap Reki tiba-tiba. “Bu Dyah Ayu pernah menanyaiku tentang masa SMA kita.”
“Pak Reki bilang apa?”
“Aku bilang kalau kamu pernah nge-fans sama aku.” tawa kecil mengiringi perkataan Reki yang seolah tanpa dosa.
Seketika Pratnya mengetuk jidatnya, dengan siku tangan menempel meja. Deksa nyengir kuda melirik pada kakaknya.
“Kenapa? Bukankah kalian akrab? Kupikir kamu juga cerita tentang hal itu.” Reki memandang ulah Pratnya dengan kebingungan.
“Apa Pak Reki tidak terlalu kege-eran ya, menganggap saya sebagai fans Bapak?” Pratnya memicingkan mata. “Dan perlu Pak Reki ketahui, saya dengan Dyah Ayu nggak seakrab itu. Dan sebenarnya aku tidak terlalu menyukai anak itu. Mana mungkin aku cerita tentang masa laluku dan keluargaku.”
“Dia memang tidak suka berteman,” celetuk Deksa. “Kalau kamu sampai suka dia, sungguh sebuah keajaiban.”
“Dek!” pekik Pratnya melotot pada adiknya. Namun, setelah dipikir-pikir Pratnya baru menyadari kalau saat ini dia memang tidak punya teman. Tadi saja dia bingung mau mengajak siapa ke kedai kopi untuk menemani.
“Woke!” Deksa mengangkat dua tangan membuka ke atas tanda menyerah.
“Jadi salah ya?” Reki menatap Pratnya yang tidak berani menatap balik. “Tapi menurut temanku yang menerima kertas puisi itu. Dia mengatakan gadis yang memberikan puisi itu kamu.”
“Bisa kita kembali membahas tentang masalah kita yang sekarang?” pinta Pratnya mengalihkan percakapan.
“Baik, tapi bukankah cinta memang sebuah keajaiban ya, Dek.” lontar Reki tak terduga. 
“Tolong jangan bicara yang tidak jelas.” Pratnya menyahuti cepat sebelum adiknya menanggapi. Kaki Pratnya juga sudah bergerak menginjak kaki Deksa dengan ujung hak sepatunya.
Deksa meringis menahan sakit. Tetapi tidak ada yang memperhatikan. Dua orang yang bersamanya terlalu fokus pada lawan bicara masing-masing.
“Apanya yang tidak jelas?”
“Ah, mungkin saya yang kege-eran. Tapi tolong jangan bicara sesuatu yang membuat saya berpikir macam-macam.” tandas Pratnya .
“Bu Anya kege-eran? Apa justru sekarang yang mau jadi fans saya?” Reki berkata-kata dengan senyum jahil.
Pratnya menggeleng cepat. “Pak Reki sudah punya hidup sendiri, kan? Hidup yang sempurna bersama istri tercinta. Dan, saya ingin hidup saya damai tanpa ada gangguan apa pun atau siapa pun.”
“Jadi kamu terganggu?” Reki memajukan tubuh meletakkan dua tangan ke meja dengan jemari saling bertaut.
“Sangat terganggu.” Kebalikan dari Pratnya yang menarik diri dari meja merapat ke sandaran kursi.
“Sepertinya terjadi banyak kesalahpahaman. Maaf kalau begitu. Sebenarnya aku hanya ingin bernostalgia tentang masa SMA kita, tak lebih.” aku Reki membuat Pratnya tertampar sekaligus lega.
“Baguslah kalau begitu. Setelah ini, sebaiknya kita menjaga jarak dengan benar.”
“Mm, jadi kalian berdua menjadi berita hoaks di sekolah ya?” tanya Deksa memberanikan diri dengan sebuah kesimpulan. “Love affair?”
“Itu sama sekali tidak benar!” pertegas Pratnya.
Pelayan kedai datang membawa pesanan pancake Deksa. Sepotong pancake yang disiram saus karamel.
“Kak Reki udah berkeluarga?” tanya Deksa sambil menyuap potongan pancake pertama.
“Sebentar lagi dia mau punya anak.” jelas Pratnya.
Deksa manggut-manggut sambil mengulum sendok. “Aku pikir si pembuat gosip perlu diberi pelajaran tuh! Biar tidak lagi menebar berita hoaks.”
“Tapi kita tidak tahu siapa sumber gosip itu.” ujar Pratnya.
“Dyah Ayu itu, barangkali.” tebak Deksa.
“Enggak bisa menuduh orang tanpa bukti, lho.” ujar Reki bijak.
“Mungkin saya perlu melakukan klarifikasi.” kata Pratnya dengan tatapan yang mengancam. “Kita lihat saja besok.”

Book Comment (31)

  • avatar
    ana nabila

    baguss

    14/04/2025

      0
  • avatar
    YusufAcichaa

    ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍

    18/03/2025

      1
  • avatar
    Yuni II

    😍😍😍

    03/12/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters