Pratnya menghentikan langkah mendekati ruang Tata Usaha. Di ruang istirahat merangkap pantry minimalis untuk staf TU, Pratnya mendengar namanya disebut. Nama Reki juga ikut tercatut. Penasaran, Pratnya terpaksa menguping sambil menata koran yang berantakan di meja. Sebuah sofa tua menemani dengan memandang TV layar datar di depan. Sudah menjadi kebiasaan Pratnya berangkat-pulang kantin melalui jalan yang berbeda. Seringnya Pratnya pergi ke kantin dengan melewati lobi depan. Belok ke kiri menyusur tempat parkir guru dan karyawan. Dua belas langkah kemudian sampailah dia di bangunan kantin dan minimarket sekolah. Pulangnya Pratnya mengambil jalan lain dengan melewati depan perpustakaan, melompati ruang BK lalu melangkah dibalik tembok deretan ruang wakil kepala sekolah, sampai menemukan pintu masuk bagian belakang ruang tata usaha. Jika digambar, jejak kaki Pratnya berangkat-pergi ke kantin membentuk satu lingkaran. “Masa sih? Bu Anya ada affair sama Pak Reki.” Bu Ranti sangsi. Menurut cerita, Bu Ranti ini termasuk orang yang beruntung dapat diangkat menjadi ASN tetap atau PNS secara langsung, melalui tes formalitas. Bisa dibilang Bu Ranti menjadi orang terakhir yang akan berstatus ASN tetap. “Benar Bu,” terdengar suara Dyah Ayu mantap. “Bisa jadi mereka dulu pacaran saat SMA.” “Tahu dari mana kamu?” tanya Pak Adi yang masih berstatus honorer seperti Pratnya tetapi honorer tua. Masuk ke SMA Perwira jauh sebelum Pratnya dan datang sebelum Bu Ranti. “Tatapan mata Pak Reki pada Kak Anya terlihat beda, ada semacam binar cinta.” jelas Dyah Ayu dengan sangat meyakinkan. Pak Adi tertawa, “Kamu kebanyakan baca novel atau nonton sinetron, Yah?” “Bukan sinetron, Pak.” Dyah Ayu mengelak. “Saya sukanya nonton drakor. Masa sinetron, sih?” “Sama aja sinetron, cuma dari Korea, kan?” Pak Adi tidak mau salah. “Eh, waktu itu, pas saya ke kantin memang melihat mereka sedang duduk berduaan.” lapor Bu Hening memperkeruh air yang sudah tercemar. “Padahal istri Pak Reki sedang hamil, gimana tuh.” Bu Rana bersuara dengan miris. Dia satu angkatan menjadi PNS bersama Bu Ranti. Termasuk salah satu orang yang beruntung lainnya. Entah dengan nasib honorer lainnya. “Bawaan bayi itu.” celetuk Pak Sono yang hampir purna tugas. “Maksudnya?” Pak Adi minta penjelasan. “Pak Reki ngidam ingin pacaran,” jawab Pak Sono nyengir lebar. “Ada gitu, hal seperti itu?” Bu Ranti tidak yakin. “Barangkali...” jawab Pak Sono seolah asal bicara. Selepas Pak Sono bersuara, tiba-tiba secara tidak terduga Pak Adi muncul di ambang pintu ruang istirahat tata usaha. Pratnya terkejut. Pak Adi tak kalah kaget. “Bu Anya lagi beresin koran, toh?” kata Pak Adi membuat suara di belakangnya mendadak senyap. Seperti serangga anjing tanah yang keinjak. “Eh iya, Pak. Berantakan banget.” sahut Pratnya tersenyum canggung. “Nah, udah selesai. Permisi,” ucapnya ketika Pak Adi masih berdiri menghalangi pintu. “Silakan.” Pak Adi segera turun dua anak tangga ke tempat Pratnya berdiri dan bersiap melangkahi anak tangga dan masuk ke arena pergosipan yang telah terhenti. “Dari mana Bu Anya?” sapa Bu Hening manis. “Dari kantin, Bu.” jawab Pratnya mencoba bersikap biasa. Padahal hatinya seperti tertusuk-tusuk. “Ih, nggak ngajak-ngajak.” letus Dyah Ayu tanpa merasa bersalah telah berbicara buruk di punggung Pratnya. “Kamu tadi terlihat sibuk.” balas Pratnya berusaha tersenyum wajar. “Mari, saya ke loket dulu.” pamitnya segera karena merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang mulai membicarakannya di belakang. Bisik-bisik samar terdengar selepas Pratnya menghilang ke balik pintu loket. Pratnya mencoba mengabaikan, meski telinganya terasa panas. Dia pun menepuk-nepuk telinganya dengan kedua tangan, ingin menghalau hawa panas yang menguar. Selanjutnya Pratya mengambil duduk menghadap jendela setengah lingkaran. Pikirannya serta merta teraduk-aduk. Siapa sih, biang keladi gosip antara dia dengan Reki? “Dyah Ayu! Pasti anak itu, tersangkanya.” suara hati B langsung menghakimi. Bukankah dia tadi penyampai berita pertama. “Jangan main hakim sendiri. Selidiki dulu. Bisa jadi dia juga mendapat hembusan cerita dari orang lain.” “Selidiki gimana? Tanya langsung sama Dyah Ayu? Mana mau ngaku dia.” suara B melengking-lengking tinggi. “Kalau kamu bertanya baik-baik, dia pasti mau cerita siapa si sumber berita?” “Kalau sumber cerita ternyata dia sendiri?” “Setidaknya kamu harus melakukan klarifikasi.” saran suara A. “Menceritakan hal yang sebenarnya antara kamu dengan Reki.” “Klarifikasi?” suara B sangsi. “Memangnya dia mau langsung percaya?” “Tidak ada salahnya mencoba. Dari pada kabar berita itu telanjur merajalela.” “Itu teorinya. Kelihatan gampang. Aku tidak akan sanggup mengatakan hal itu. Itu sebuah rahasia diri. Dan belum tentu yang tersampaikan nanti, tertangkap oleh khalayak dengan benar.” Pratnya menghela napas kembali. Matanya tak sengaja menumbuk beberapa tumpukan uang yang belum dirapikan. Tak mau memikirkan gosip yang tersiar di ruang tata usaha, Pratnya segera menghitung pendapatan hari ini untuk disetor pada Bu Hening. Sambil berharap, esok hari gosip itu telah menguap. *** Pratnya bersusah payah menahan gemuruh di dada. Gosip hubungan tidak sehat antara dirinya dengan Reki entah bagaimana ceritanya telah menjadi perbincangan viral seantero sekolah. Terkadang malah ada yang menyindir-nyindir sedap agar dia mundur mencari lelaki lain yang masih lajang. Ini sungguh keterlaluan. Tuduhan mereka semua tidak benar. Setelah memantapkan hati. Pratnya nekat mengajak Reki bicara mengenai hal yang mengganggu jiwa raganya tersebut. [Sebaiknya kita bicara langsung.] kata Reki dari seberang telepon. [Sepulang sekolah di Kedai Kopi 99.] “Kita bicara sekarang!” sambungan telepon telah terputus. Pratnya mencoba menelepon, tetapi Reki tidak mau mengangkat. Resah dan gelisah melumuri sekujur tubuh Pratnya. Bimbang. Antara datang atau tidak. Bila datang, bukankah akan membuat mereka terlihat berduaan. Bagaimana kalau ada yang memergoki. Bukankah akan semakin menguatkan prasangka buruk yang telanjur melayang di udara SMA Perwira. Kalau tidak datang, dia akan semakin terkurung penasaran sebab-musabab berita tidak benar itu berkeliaran tidak terkendali. Ini sungguh seperti makan buah simalakama. Makan celaka, tidak makan juga celaka. Mendekati bel pulang, Pratnya semakin gemetar. Tangan dan kakinya menjadi dingin seolah habis tamasya ke kutub utara. Tetapi ini harus segera diselesaikan. Pratnya merogoh ponsel dari saku baju. Memencet satu nama lalu menunggu nada dering berganti sahutan dari seberang. “Dek, lagi di mana?” tanya Pratnya harap-harap cemas. [Baru aja pulang kuliah, kenapa?] “Mau ngopi?” tanya Pratnya langsung. [Tumben,] sahut suara di telepon. [Lagi dapat bonus apa nih?] “Udah cepatan ke Kedai Kopi 99.” [Siap!] Pratnya menghembus napas lega. Deksa, si adik laki-laki beda ayah untungnya maniak kopi. Dapat tawaran minum kopi gratis, apalagi minuman yang tersaji nanti langsung memeras dari biji kopi. Tentulah dia tidak akan menolak. Sempurna! Kehadiran Deksa bisa jadi tameng bagi Pratnya agar tidak terlihat kencan berdua.
baguss
14/04/2025
0ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍
18/03/2025
1😍😍😍
03/12/2024
0View All