Pratnya sebenarnya enggan saat Dyah Ayu tiba-tiba menempel dekat dengannya seperti lintah. Ada rasa risih menggerayang. Ada ketakutan Dyah Ayu bakal meminum habis darahnya secara tidak terduga. Mungkin tepatnya menyedot kesenangan Pratnya yang suka menyendiri dibanding beramai dalam bincang. Apalagi pemikiran mereka berdua sama sekali tidak sejalan. Seperti kali ini Dyah Ayu merajuk ingin ikut ke perpustakaan sekolah. Tumben. Padahal sebelumnya dia bilang paling tidak suka dengan bau buku. “Mau ngapain kamu ikut?” tanpa basa-basi Pratnya bertanya. Dia tidak ingin lintah itu terus menempel di tubuhnya. Jijik, geli dan membuat merinding. “Pengin tahu suasana perpustakaan sekolah kita seperti apa? Pacarku itu juga kutu buku. Dia penasaran dengan perpustakaan sekolah tempatku bekerja.” “Oh gitu...” Pratnya mengangguk tanggung. “Yuk, kita ke sana. Mumpung masih pagi, selagi belum ada pelanggan datang.” “Benar, aku juga belum ada surat datang.” Dyah Ayu yang berdiri di ambang pintu loket lalu menghilang ke ruangan TU. Pratnya menyusulnya dan berpamitan pada Pak Hasan yang baik hati nan budiman, tentu saja mengizinkan. “Nah, begitu. Sesekali keluar biar tahu lingkungan sekolah.” katanya. “Tapi jangan lama-lama.” “Siap, Pak!” sahut Dyah Ayu ceria. “Baik,” Pratnya tersenyum penuh rasa hormat. Keduanya lalu keluar dari gedung Tata Usaha berjalan ke arah kiri melewati lorong antara ruang kepala sekolah dengan ruang guru. Tiba pada area luas, yang merupakan ruang bersantai guru, di situ terdapat seperangkat sofa, televisi dan tumpukan koran, mereka berdua terus melangkah lurus melewati perempatan koridor, menyisir laboratorium komputer pada sisi kanan, sementara sisi kiri berupa bangunan besar aula yang menyatu perpustakaan. Namun pintu masuk keduanya berpunggungan. Bila pintu masuk aula sebelah selatan, maka pintu masuk perpustakaan berada di sisi utara menghadap lapangan rumput. Tulisan Perpustakaan pada tembok yang mereka lewati membawa keduanya pada pintu kaca dorong-tarik. Pak Ridwan yang duduk di balik meja lobi pelayanan, lurus pintu segera menyambut kedatangan tamu tak biasa. “Ada angin apa ini? Duo wanita cantik telah mendatangiku.” ucap Pak Ridwan sambil tersenyum lebar. “Bu Dyah, tumben kemari?” “Mau inspeksi, Pak! Buku-bukunya lengkap enggak?” ujarnya tertawa hihi. “Bu Tika kemana, Pak?” tanya Pratnya. “Lagi beres-beres di atas.” Pratnya manggut-manggut seraya menyodorkan buku yang beberapa hari lalu dia pinjam. Gerak selanjutnya dia telah berjalan menuju deretan buku fiksi fantasi yang berada segaris lurus dengan Pak Ridwan, sisi sebelah kanan. “Saya boleh foto-foto perpustakaannya?” Anjani meminta ijin pada Pak Ridwan. “Buat apa?” “Buat pacar saya. Dia bilang ingin punya perpustakaan sendiri. Katanya ingin mencontek konsep penataan perpustakaan sekolah ini.” “Dilarang plagiat lho.” goda Pak Ridwan. “Plagiat apa?” “Meniru hasil karya orang lain.” “Buat inspirasi, Pak. Lagian, pacar saya tidak mungkin membuat perpustakaan model seperti ini. Pasti lebih bagus, lah.” Pratnya melirik Dyah Ayu dan Pak Ridwan. Tangannya telah memegang satu buku yang menarik hatinya. “Syukur deh, kalau gitu.” “Saya foto-foto dulu ya,” Dyah Ayu mulai beranjak dari hadapan Pak Ridwan. Tergantikan Pratnya yang menyodorkan buku yang bakal dia pinjam. “Selera Bu Anya selalu fantastis, suka novel negeri antah berantah.” komentar Pak Ridwan begitu melihat Pratnya mengambil novel pertama berjudul Bliss. Buku heptalogi yang menceritakan tentang sihir yang terkandung dalam makanan. Pak Ridwan menggunakan istilah antah berantah untuk menggambarkan novel dengan tema tema sihir, peri dan segala yang berbau ajaib. Sebelumnya Pratnya meminjam novel tetralogi Ingo, novel tentang kehidupan manusia setengah ikan. ‘Mer’, istilah di novel tersebut. Kalau dalam dongeng anak-anak, sih, putri duyung. “Yah, buat inspirasi.” sahut Pratnya tersenyum simpul. “Kok jawaban kalian sama tapi beda?” tanggap Pak Ridwan sambil tangannya memproses buku yang akan Pratnya pinjam. “Maksudnya?” Pratnya tidak mengerti siapa yang disebut kalian oleh Pak Ridwan. Masa iya, dia sama Dyah. Jelas beda, dong! “Bu Dyah lihat buku cari inspirasi untuk bangun perpustakaan, kalau Bu Anya cari inspirasi dari buku untuk apa?” tanya Pak Ridwan seraya menyodorkan buku bersampul biru gelap. “Apa ya? Inspirasi biar tidak stres hidup di dunia nyata.” sahut Pratnya asal karena tidak ingin ketahuan tentang hobinya yang mungkin bagi sebagian orang terkesan aneh tidak biasa. Apalagi menghadapi kenyataan, karya-karya selama ini tidak bisa menjual ke penerbit. “Hem, perlu banyak piknik nih, Bu Anya.” Pak Ridwan tertawa terkekeh. Gema salam memecah konsentrasi penghuni ruang. Reki nongol dengan elegan. Sebelah tangan menenteng buku. Tangan satunya memegang tas laptop hitam selempang yang tersandang di pundak. “Bu Anya di sini? Masih suka baca buku rupanya. Apa masih suka menulis juga?” rentetan pertanyaan Reki membuat Pratnya menjadi keki. “Bu Pratnya menulis apa?” tanya Pak Ridwan seperti menemukan titik terang tentang inspirasi tersebut. Duh! Seketika Pratnya ingin menendang Reki keluar dari perpustakaan. Tidak peduli betapa dulu dia memujanya. “Sewaktu SMA dia suka menulis puisi.” “Ah, itu cuma iseng aja kok, Pak.” tanggap Pratnya cepat. “Puisi yang berhasil menggugah hati seseorang. Sayangnya, seseorang itu, kala itu sudah punya pacar, dan tidak mungkin berpaling. Ada janji untuk sehidup semati. Mereka akhirnya menikah. Dan seseorang itu, harus bisa meninggalkan gejolak baru yang menggebu.” “Berasa baca novel” lontar Pak Ridwan terkekeh lagi. “Itu bisa menginspirasi, kan Bu Anya.” Reki memandang Pratnya penuh arti. Sementara yang dipandangi malah melongo meresapi pernyataan dirinya. Saat tersadar jantung Pratnya telah menandak-nandak mengikuti alunan melodi gaib yang menghentak. “Seseorang itu siapa?” Pak Ridwan memang suka kepo orangnya. “Buat siapa, Bu?” pertegas Pak Reki membuat Pratnya terkesiap. Pratnya menjadi gagu. Dan sudah pasti mukanya saat ini telah berubah menjadi terong ungu. Dia jadi berpikir alangkah indah jika seseorang segera memetiknya lalu memasak si terong ungu itu hingga tak menjadi ungu lagi. Tolong, siapapun itu! “Kok Pak Reki bisa tahu?” interogasi Pak Ridwan, cukup menyelamatkan Pratnya yang hampir tenggelam dalam lautan hampa udara. “Saya dulu kakak kelasnya. Saya pengurus mading sekolah, dan saya yang menyeleksi karya mana yang layak tampil dan yang enggak. Pasti tahulah.” “Gitu toh?” “Aku mau lho dibuatin puisi lagi.” ucap Reki tak terduga. “Ehem, maksudnya jadi pembaca pertama karya Bu Anya.” “Saya sudah lama enggak nulis puisi.” “Kenapa?” kejar Reki. “Lagi enggak mood, enggak ada inspirasi.” Pratnya menekuri sampul buku berwarna biru yang dipegangnya. “Benarkah?” “Makanya jadi pinjam buku ya, Bu.” balas Pak Ridwan. “Biar dapat inspirasi lagi?” “Kurang lebih.” sahut Pratnya makin merasa tidak nyaman. Matanya lalu mencari sosok Dyah Ayu yang masih asyik memfoto lalu mengetik sesuatu di ponselnya. “Bu Dyah, sedang apa? Kok mojok sendirian di situ?” seru Reki yang mengikuti pengembaraan mata Pratnya. “Loha, Mister Reki!” Dyah Ayu menghentikan aktivitasnya. Dia telah berjalan mendekat ke arah perkumpulan kecil di depan counter peminjaman. “Ini, nih, lagi dapat tugas mencari inspirasi model perpustakaan. Buat pacar aku.” “Baik hati sekali.” puji Reki. “Demi pacar, hukumnya wajib. Sebagai bentuk pembuktian cinta.” tawa Dyah Ayu meringkik. “Menurut Bu Anya, apa cinta butuh pembuktian?” “Ah, itu... entahlah.” kata Pratnya menghempas napas. “Perlu dong, menurut saya perlu.” ucap Dyah Ayu berapi-api. “Seperti mengorbankan waktu buat si dia, mengorbankan tenaga, mengorbankan ego sendiri, dan pengorbanan yang lain.” “Apa pengorbanan itu suatu saat nanti tidak akan menyesakkan?” balas Reki. “Kalau saya, saya hanya ingin dia tahu kalau saya juga mencintainya. Tanpa perlu pembuktian. Sebab cinta, sudah merupakan bentuk pembuktian kasih sayang.” “Enggak gitu juga, kali!” tentang Dyah Ayu. “Maaf, saya mau ke kantor dulu.” tiba-tiba Pratnya melakukan interupsi pada diskusi mengenai cinta dan pembuktian. Saat bersamaan Tika turun dari lantai atas dan ikut bergabung. “Loh, udah mau balik? Saya datang malah terus pergi?” “Udah dari tadi Bu,” Rencana kabur Pratnya sedikit terhalang. “Bu Dyah mau balik kantor sekarang atau nanti?” Dyah Ayu melihat pada jam dinding, “Wah, kita udah terlalu lama ya, di sini.” katanya. “Hayuklah! Terima kasih, Pak Ridwan, Bu Tika.” Dyah Ayu melambaikan tangan. Pratnya bergegas meninggalkan counter peminjaman sebelum dirinya meledak oleh kata-kata tidak jelas Reki. Maksudnya apa sih, ngomong melantur seperti itu. Lalu benarkah dirinya menjadi besar rasa? Melanglang putaran waktu berharap bahwa benar cintanya kala itu tidak bertepuk sebelah tangan. “Woi, sadar!” suara hati A mengingatkan. “Dia milik orang sekarang. Kau hanya akan menjadi pelakor yang mengenaskan.” “Tahu! Aku tahu itu.” “Lalu kenapa hatimu muncul tunas berbentuk hati?” “Baik, aku akan membunuhnya. Kau puas?” “Lakukan segera sebelum menjadi bibit dosa.” “Aku sedang berusaha.” “Kalau begitu, mulai hindari dia.” “Berisik amat sih!” desis Pratnya. “Apa, Kak?” suara Dyah Ayu menghentikan pertengkaran batin Pratnya yang membara. “Aku nggak ngomong apa-apa kok.” “Enggak, kamu salah dengar.” Pratnya mempercepat langkahnya. Tidak peduli Dyah Ayu berlari kecil mengejar ketertinggalannya.
baguss
14/04/2025
0ceritanyaa bagus bangett kakkk,, semangatt nulisnyaa😍😍
18/03/2025
1😍😍😍
03/12/2024
0View All