logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 4

Hujan memercik lebih keras ketika sosok berjas gelap itu melangkah masuk ke lorong, membiarkan air jatuh dari mantel panjangnya. Wajahnya masih tertutup bayangan, tapi aura di sekelilingnya terlalu jelas  dingin, terlatih, mematikan.
Lila menelan ludah. Tangannya bergetar. Ia berdiri persis di belakang Damian, merasakan jantungnya berdebar begitu kuat sampai hampir menyakitkan.
Sosok itu berhenti di tiga meter dari mereka.
Damian berdiri tegak, tubuhnya sedikit condong ke depan, seperti singa yang siap menerkam kapan pun. Nafasnya teratur, tapi Lila tahu… ini bukan pria yang mudah goyah.
Ini pria yang siap membunuh.
“You shouldn’t be here,” Damian berkata, suaranya rendah dan terkendali.
Terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya memicu kepanikan.
Pria berjas itu tertawa pendek, seperti mengejek.
“I’ve been ordered.”
Otot di rahang Damian menegang. “Drakov tidak punya hak mengirim siapa pun ke wilayahku.”
“Wilayahmu?” pria itu menyeringai samar. “Namun kau melanggar batas duluan, Valtieri.”
Tatapannya berpindah ke Lila.
Lila langsung mundur setengah langkah.
“Ah,” katanya pelan. “Jadi ini gadisnya.”
Damian langsung bergeser, menutup tubuh Lila sepenuhnya. “Jangan sebut dia begitu.”
“Oh?” pria itu mencondongkan kepala. “Kau biasanya tidak peduli siapapun kecuali dirimu sendiri.”
“Tutup mulutmu.”
Nada Damian berubah gelap, menggigit.
Pria itu mendesis pelan. “Direktur Nero ingin gadis itu. Secepatnya. Dia bilang… ‘siapapun yang menghalangi, singkirkan.’”
Lila merasakan bulu kuduknya berdiri.
Dirinya?
Nero… menginginkan dirinya?
Tapi kenapa?
Ia tidak tahu siapa Nero Drakov. Ia bahkan belum pernah melihat wajahnya. Tapi dari bagaimana orang-orang menyebutnya, ia tahu satu hal:
Jika Nero menginginkan sesuatu, maka ia tidak akan berhenti sampai mendapatkannya.
Damian melangkah ke depan satu langkah, menempatkan dirinya antara pria itu dan Lila.
Suara hujan menjadi lebih keras, hampir menenggelamkan suara bisikan ancaman Damian.
“Kau akan menyentuhnya… lewat mayatku.”
Pria itu mendengus. “Kalau kau tahu konsekuensinya, kau tidak akan mengatakan hal itu.”
Damian tidak berkedip. “Aku tahu semua konsekuensinya.”
Mereka saling menatap dua predator dari dua dunia yang saling membenci.
Tiba-tiba, pria itu merogoh mantel panjangnya.
Lila menahan napas.
Damian refleks menariknya ke belakang.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop hitam tipis.
“Direktur Nero bilang… ‘ini bukan ancaman. Ini pengingat.’”
Ia melempar amplop itu ke kaki Damian.
Damian tidak melihat ke bawah, tapi ketegangan di tubuhnya terlihat jelas.
“Valtieri,” katanya lagi, “kita sedang berada di dua sisi yang salah dari perang yang sama. Jangan buat ini lebih rumit.”
Pria itu mundur perlahan tanpa membalikkan badan, seperti sudah sangat yakin Damian tidak akan menyerang dari belakang. Dan benar Damian hanya berdiri, tangan mengepal.
Ketika pria itu akhirnya menghilang di balik hujan, barulah Damian bergerak.
Ia menendang amplop itu. Kertas hitamnya terlihat tanpa suara.
Lila menatapnya.
“A-apa itu?”
Damian tidak menjawab.
Ia membungkuk, mengambil amplop itu dengan dua jari seolah benda itu beracun. Ia membuka perlahan. Di dalamnya ada satu lembar foto. Damian melihatnya. Wajahnya langsung berubah.
Lila belum pernah melihat ekspresi itu di dirinya bukan marah… tapi duka.
Duka yang terpendam sangat dalam.
“Apa itu?” Lila bertanya lagi, lebih pelan.
Damian tidak langsung memberi.
Ia hanya menatap foto itu lama, rahangnya terkunci, napasnya pendek dan berat seperti seseorang yang baru saja diserang kenangan buruk.
Akhirnya, ia menyerahkan foto itu padanya.
Lila mengambilnya perlahan.
Begitu ia melihatnya nafasnya tercekat.
Itu foto seorang wanita muda.
Cantik, berambut gelap, mata coklat hangat…
Wajahnya lembut, senyumnya manis.
Dan…
Ia sangat mirip Lila. Hampir seperti saudara kembar.
Di belakang foto itu ada tulisan kecil dengan tinta merah:
“She died because of you.
Don’t let history repeat itself.”
Lila menggigit bibirnya, tercekat. “Dia… dia siapa?”
Damian memejamkan mata sejenak.
Ketika ia menjawab, suaranya hampir seperti bisikan.
“Dia… adalah seseorang yang seharusnya tidak pernah aku biarkan mati.”
Hening panjang.
Lila merasakan tenggorokannya mengering. “Jadi… Nero membunuhnya?”
Damian menggeleng pelan. “Tidak langsung. Tapi dia penyebabnya.”
“Dan saya… mirip dengannya.”
“Itu bukan hanya mirip, Lila,” Damian balas. “Kau terlihat seperti bayangannya.”
Lila menunduk pada foto itu.
Sesuatu meremas dadanya.
Tapi lalu pikiran lain muncul.
“Jadi itu sebabnya Anda mendekati saya?” suaranya pecah. “Karena saya mirip dia?”
Damian membuka mata, dan untuk pertama kalinya Lila melihat sesuatu yang ia pikir tidak mungkin ada di pria seperti Damian Valtieri. Rasa bersalah.
“Tidak,” katanya pelan. “Aku mendekat karena kau… terlalu keras kepala untuk aku biarkan mati.”
“Tapi...”
Damian memotong. “Lila, dengarkan aku.”
Ia mendekat sedikit.
Lalu lebih dekat.
Sampai jarak keduanya hanya beberapa jari.
Hujan menetes dari rambut Damian ke pipi Lila.
“Ini bukan permainan. Ini bukan kebetulan. Nero tidak akan berhenti. Dia menginginkanmu karena kau mirip perempuan itu. Dan karena seseorang entah siapa memberitahu dia bahwa kau sedang menggali kasus ini.”
“Jadi Nero menganggap saya ancaman?”
“Lebih dari itu.”
Damian meraih dagu Lila, mengangkatnya lembut namun tegas.
“Nero menganggapmu… umpan.”
Umpan.
Lila merasa dunia berputar.
“Aku… aku tidak mengerti…”
“Dia ingin memancingku.”
Damian berkata pelan tapi jelas.
“Dengan menggunakan mu.”
Hujan turun semakin deras.
Lila berdiri mematung, mencoba menyusun pikirannya yang kacau.
“Kalau begitu…” ia berbisik.
“Apa yang Anda inginkan dari saya, Damian?”
Damian menatapnya lama.
Sangat lama.
Seakan ia sedang menimbang apakah akan merusak hidup Lila atau menyelamatkannya.
Akhirnya ia berkata:
“Aku ingin kau memilih.”
“Memilih?” Lila berulang.
“Ya.” Damian mendekat hingga kening mereka hampir bersentuhan.
“Kau harus memilih sisi, Lila.”
“Ada dua pilihan.”
Jeda.
Satu detik yang terasa seperti selamanya.
“Pertama...”
Damian menatapnya, suaranya berubah rendah.
“Kau pergi dari London. Malam ini. Aku pastikan kau aman. Aku putus semua koneksi. Kau hidup normal. Tanpa aku.”
Lila menahan napas.
“Dan yang kedua?”
Damian mendekat lebih dekat.
Nafasnya hangat di wajah Lila.
“Kau tetap di sini.”
“Tetap dalam perang ini.”
“Tetap di dekatku.”
Ia mengusap pipi Lila dengan ibu jarinya.
“Tapi kalau kau memilih ini, kau tidak bisa kembali. Dunia ini tidak akan pernah melepaskanmu.”
Lila merasakan dadanya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.
“Kalau aku… tetap di dekatmu…”
Suara Lila pecah.
“Apa yang terjadi?”
Damian menatapnya dengan tatapan paling jujur dan paling berbahaya yang pernah ia tunjukkan.
“Kalau kau tetap… maka aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Hening.
Hujan.
Degup jantung.
Semuanya terjadi bersamaan.
Lila menggigit bibir bawahnya. “Damian…”
Ia ingin menjawab.
Tapi sebelum ia sempat, suara langkah cepat terdengar dari ujung jalan.
Teriakan.
Pembicaraan tergesa.
Lalu...
“There she is! Grab the girl!”
Lila menoleh.
Empat pria bersenjata berlari ke arah mereka.
Damian mengumpat rendah.
“Mereka bergerak cepat…”
Ia mencengkram tangan Lila.
“Lari!”
“Apa? Ke mana?”
“Lila, lari sekarang!” Damian menariknya dengan kekuatan yang membuat Lila tersentak.
Pria-pria itu semakin dekat.
“VALTIERI! SERAHKAN GADIS ITU!”
Damian menarik Lila masuk ke gang sempit lain, melewati pintu besi tua, menendangnya hingga terkunci.
“Damian...”
“Tidak ada jalan kembali,” Damian menatapnya, nafasnya berat.
“Sekarang pilihanku… menjadi keputusanmu.”
Ia mendekap wajah Lila dengan kedua tangannya.
“Kau tetap di dekatku…”
Tembakan terdengar dari luar.
“…maka mulai malam ini, kau menjadi milikku.”

Book Comment (7)

  • avatar
    Kilerbibi

    bagus

    17/05

      0
  • avatar
    NoraElvia

    penasaran

    03/01

      0
  • avatar
    Z.NFaza

    Wow cerita ini sangat seru

    24/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters