logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 3

Hujan turun tepat saat Damian mengatakan tiga kata yang merobek ketenangan Lila.
“From me, Lila.”
Dari aku.
Ucapan itu bergema di kepala Lila bahkan saat ia berdiri membeku di bawah atap sempit depan gedung. Orang-orang berlalu-lalang di trotoar sibuk dengan urusan masing-masing, menyibakkan payung, menutup mantel, menggerutu soal langit yang selalu muram. London seperti biasa tetap berjalan, tapi dunia Lila berhenti.
Ia menatap Damian atau lebih tepatnya, bayangan Damian karena sesuatu tentang lelaki itu tidak masuk akal.
“Dari Anda?” suara Lila nyaris tidak keluar. “Kenapa saya harus takut pada Anda?”
Damian tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, hanya membiarkan hujan memercik ujung sepatu kulitnya. Gerakan kecil itu saja terasa penuh perhitungan. Seolah setiap detail yang ia biarkan terjadi sudah ia rencanakan.
“Aku bukan pria baik, Lila,” katanya pelan.
“Kau seharusnya menjauhiku.”
“Terlambat,” Lila membalas hambar. “Kau yang mendatangiku.”
Damian mengangkat wajahnya sedikit, menatap Lila dengan sorot mata yang sulit dijelaskan: bukan marah, bukan sedih, bukan prihatin… tetapi seperti seseorang yang terjebak antara melakukan hal benar atau menghancurkan sesuatu yang rapuh.
“Benar,” katanya dengan nada datar.
“Aku memang bodoh.”
Lila merasakan dadanya mengencang. Ini pertama kalinya ia melihat retakan kecil dalam sikap Damian yang biasanya dingin dan tak tersentuh. Tapi retakan itu justru lebih menakutkan.
Ia tidak mengerti pria ini.
Dan itu justru berbahaya.
“Lila!”
Suara Clara terdengar dari pintu gedung. Ia berlari sambil memegang payung, menatap Lila dan Damian bergantian dengan kecurigaan besar.
“Is everything okay?” tanya Clara, matanya langsung mengevaluasi Damian dari ujung kepala hingga sepatu.
Damian langsung berubah — dingin, datar, profesional. Seolah seluruh intensitas tadi hilang dihapus tombol.
“Kami selesai bicara,” katanya singkat. “Miss Bennett, jangan ikuti kasus itu. Anggap ini peringatan.”
Kemudian ia membuka pintu mobil hitamnya.
Tapi sebelum masuk, Damian menoleh sedikit, cukup agar Lila melihat matanya.
Dan itu… adalah tatapan seorang lelaki yang menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang sangat buruk.
Mobil itu pergi dalam hitungan detik.
Clara menatap Lila, wajahnya campuran antara bingung dan khawatir.
“Lila Bennett. Kau berhutang penjelasan besar.”
Lila menarik napas panjang. “Itu… panjang ceritanya.”
Clara menyipitkan mata. “You’re shaking.”
“Aku tidak,” Lila melihat tangannya, dan benar saja. Ia gemetar.
Clara langsung menggandeng nya. “Masuk. Kau butuh teh panas sebelum aku interogasi.”
“Jadi,” kata Clara sambil menaruh secangkir teh di depan Lila.
“Sebutkan. Semua. Dari. Awal.”
Lila menggosok pelipisnya sambil menceritakan apa yang terjadi dari pesta, suara Damian yang penuh dominasi, peringatan tadi, sampai kalimat terakhir yang membuat jantungnya seperti dicengkeram.
Clara mendengarkan tanpa memotong. Tapi ekspresinya berubah sedikit demi sedikit. Dari penasaran kemudian tegang lalu…
“Kau tahu dia bukan orang biasa, kan?” Clara akhirnya berkata.
Lila mengangkat alis. “Apa maksudmu?”
Clara mencondongkan tubuh. “Kemarin aku lihat dia. Di pesta itu. Hanya sebentar. Dan aku langsung merasa dia… bukan orang normal.”
“Nggak mungkin kamu bisa tahu hanya dari melihat.”
Clara mengangkat bahu. “I have instincts. And my instincts say he’s dangerous. The kind that doesn’t just break hearts. He breaks people.”
Lila menggigit bibir bawahnya. “Tapi dia memperingatkan aku.”
“Lila. Orang paling berbahaya adalah mereka yang merasa perlu melindungi seseorang. Kau tau kenapa? Karena mereka tahu persis monster macam apa mereka.”
Ucapan itu menusuk.
Terlalu dalam.
Lila berdiri. “Aku harus kembali ke penyelidikan.”
“Tidak, kau harus istirahat!” Clara berdiri juga. “Holton memberimu kasus itu karena dia percaya padamu, bukan karena dia ingin kau mati!”
Lila berhenti. Kalimat itu menggema aneh di pikiran.
“Kenapa kau bilang mati?”
Clara menggigit bibir. “Kau bener-bener harus berhati-hati.”
Beberapa jam berikutnya Lila memutuskan untuk bekerja di perpustakaan kota, bukan kantor. Ia butuh suasana netral, jauh dari tatapan khawatir Clara dan peringatan kasar Damian.
Ia menyalakan laptop, meletakkan file Hilangnya Empat Tokoh Masyarakat di meja, dan mulai melakukan penelusuran lebih dalam.
Satu pola muncul jelas:
Semua korban punya keterkaitan dengan satu perusahaan besar Eropa yaitu Valtieri Industries.
Lila menegang.
Valtieri.
Nama yang sama seperti Damian.
Ia memencet pulpen berulang-ulang. “Jangan bilang…”
Ia mencari lebih lanjut.
Damian Valtieri seorang CEO bayangan, tidak pernah muncul di media, memimpin perusahaan teknologi dan keamanan terbesar di Eropa. Punya koneksi dengan politikus, pengusaha, intelijen. Data publik tentangnya sangat sedikit. Terlalu sedikit.
Lila menelan ludah.
“Clara benar… dia bukan orang biasa.”
Ia melanjutkan pencarian.
Tapi tiba-tiba… layar laptopnya berkedip.
Bzzzt
Bzzz
Access restricted.
“Eh?”
Halaman yang ia buka… berubah menjadi hitam.
Kemudian deretan kata muncul:
STOP.
THIS FILE IS RESTRICTED.
LEAVE THIS. NOW.
Jantung Lila berdegup keras.
“Ini… apa?”
Ia mencoba kembali...
tapi yang muncul justru kalimat lain:
YOU’RE BEING WATCHED.
Lila mendorong kursinya ke belakang, panik. Ia menoleh cepat ke sekeliling perpustakaan. Tapi semua orang sibuk dengan buku dan komputer mereka sendiri.
“Tidak… tidak mungkin…” Lila memegang kepala. “Ada orang yang mengawasi laptopku?”
Atau lebih buruk...
...mengawasinya.
Ia menutup laptop cepat-cepat, memasukkannya ke tas, dan keluar dari perpustakaan dengan napas terengah. Hujan makin deras saat ia melangkah ke luar.
Namun baru ia berjalan beberapa meter, seseorang menariknya masuk ke lorong sempit. Lila terpekik, tapi suara hujan menelan petikannya. Punggungnya menabrak dinding. Kedua tangan seseorang berada di sisi kepalanya. Nafas panas menyentuh pipinya.
“Lila.”
Suara itu...
gelap. Terlalu dekat. Terlalu familiar.
Damian.
“L- Lepaskan aku!” Lila berusaha mendorongnya, tapi Damian justru menahan pinggangnya agar tidak kabur.
“Aku bilang berhenti menyelidik,” katanya, tatapannya menusuk seperti baja. “Kenapa kau tidak pernah mendengar?”
“Nggak ada alasan buat saya nurut sama Anda! Siapa Anda pikir Anda!?” Lila membalas, menahan takutnya dengan kemarahan.
Damian menggertakkan rahang.
“Aku seseorang yang sedang mencoba menyelamatkan nyawamu.”
“Bukan hak Anda!”
“Ya, itu hakku,” Damian membalas cepat. “Karena kau tidak tahu apa yang kau buka.”
Lila menatapnya tajam.
“Kasus itu ada hubungannya sama Anda, kan?”
Damian membeku.
Sekejap.
Tapi cukup.
“Jawab aku!” Lila menuntut.
“Hentikan.”
Damian bersuara rendah, hampir seperti geraman.
“Terlalu banyak orang mati karena menyentuh garis ini.”
“Jadi benar?!”
Damian menutup mata sejenak seolah menahan dorongan untuk membentur dinding atau berteriak. Ketika membuka mata, sorotnya lebih gelap dari sebelumnya.
“Pergi dari London malam ini, Lila.”
Aku tidak bercanda.”
Lila tersenyum pahit. “Itu ancaman?”
“Peringatan.”
“Kenapa Anda peduli?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Tapi Damian… menatapnya lama sekali. Lila hampir bisa merasakan sesuatu bergerak di balik mata gelap lelaki itu sesuatu yang ia sembunyikan mati-matian.
“Karena…”
Damian berhenti.
Rahangnya mengetat.
“Kau membuatku… lupa.”
“Lupa apa?”
Damian mendekat.
Bisa dipastikan Lila merasakan panas tubuhnya meski hujan membasahi semuanya.
“Lupa bahwa aku bukan manusia baik. Lupa bahwa aku berbahaya.”
Suara Damian nyaris seperti bisikan.
“Kau membuatku ingin melakukan hal-hal yang tidak boleh aku lakukan.”
Ucapan itu membuat perut Lila berputar.
Takut.
Tertarik.
Takut lagi.
“Damian…”
Ia ingin menjauh.
Ia harus menjauh.
Tetapi Damian seperti gravitasi gelap yang menelan logika.
Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar dari ujung lorong.
Damian membalikkan badan cepat, berdiri sedikit di depan Lila seperti perisai hidup.
Mata pria itu berubah dingin, tajam, mematikan.
Seperti seorang pemburu yang mencium ancaman.
“Tetap di belakangku,” bisiknya.
“Kenapa? Ada siapa...“
“Diam.”
Langkah-langkah itu berhenti tepat di mulut lorong.
Seseorang berdiri di sana.
Tinggi. Tubuh gelap tertutup mantel. Wajahnya tidak terlihat jelas.
Tapi suara rendahnya menyayat udara:
“Valtieri… akhirnya kau keluar dari sarang.”
Damian berbisik ke Lila tanpa menoleh:
“Jangan bergerak.”
Lila merasakan jantungnya menghantam tulang rusuk.
Tatapan orang asing itu berpindah pada dirinya.
“Jadi ini… alasanmu melanggar aturan?”
Damian merengut tajam. “Dia tidak ada hubungannya.”
“Oh, aku pikir dia punya banyak hubungannya,” kata sosok itu sambil melangkah lebih dekat.
“Dan Direktur Nero ingin memastikan dia tidak mengganggu urusan kita.”
Nama itu...
Nero Drakov
...muncul seperti petir di kepalanya.
Nero… orang yang sama dari daftar penyelidikan.
Damian memajukan bahu, tubuhnya tegang.
“Jika kau menyentuhnya, aku buat kau menyesal.”
Orang itu tertawa singkat.
“Lalu buatlah, Valtieri.”
Hujan semakin deras.
Lorong itu semakin gelap.
Dan Lila baru mengerti sesuatu:
Ini bukan sekadar kasus hilang.
Ini bukan sekadar journalism.
Ini perang.
Dan ia baru saja berdiri tepat di tengah antara dua monster.

Book Comment (7)

  • avatar
    Kilerbibi

    bagus

    17/05

      0
  • avatar
    NoraElvia

    penasaran

    03/01

      0
  • avatar
    Z.NFaza

    Wow cerita ini sangat seru

    24/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters