logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 2

Kabut pagi masih menggantung tipis di atas sungai Thames ketika Lila melangkah keluar dari stasiun. London selalu terlihat abu-abu di pagi hari, tapi hari ini… warna itu terasa lebih pekat, seperti ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya.
Ia menarik mantel hitamnya rapat-rapat dan berjalan cepat menuju kantor The Clarion Gazette, surat kabar independen tempat ia bekerja sebagai jurnalis baru. Langkahnya tergesa tapi pikirannya tidak.
Sejak malam pesta itu… pikiran Lila seperti macet di satu titik. sosok laki-laki berjas hitam dengan tatapan gelap yang menembus kulitnya seperti belati.
Damian Valtieri.
Entah kenapa, namanya terasa seperti haus di lidah setiap kali ia mengucapkannya dalam hati.
Lila berhenti di zebra cross. Suara klakson kendaraan belakang membuatnya tersentak. Ia buru-buru menepi. “Fokus, Lila…” gumamnya.
Tapi sulit untuk fokus ketika seseorang seperti Damian muncul begitu saja di hidupmu, menyentuh dagumu seolah dia punya hak, lalu menghilang sebelum kau bernapas.
Dan yang paling mengganggu…
Ia tidak terlihat seperti orang yang Lila bisa lupakan.
Ketika Lila masuk ke ruang redaksi, suara mesin printer, telepon berdering, dan orang-orang berteriak menuntut berita terbaru menyambutnya. Udara ruangan bau kopi dan sedikit asap rokok yang entah bagaimana selalu masuk dari jendela lantai enam.
Clara Jayes, sahabat sekaligus seniornya, melambai dari meja pojok. Rambut pirangnya digulung tinggi, dan dia sudah memegang dua cangkir latte.
“You look like hell,” ujar Clara tanpa basa-basi.
“Thanks. Exactly what I needed to hear this morning,” balas Lila setengah malas.
Clara menyerahkan kopi. “So? What happened last night? You disappeared after dragging me to that awful charity party.”
Lila membuka laptopnya sambil mencoba terdengar casual. “Aku cuma… ketemu seseorang.”
Clara langsung berhenti mengetik. “Someone? Someone?” Tatapannya menyempit. “Is he hot?”
Lila mendesah. “Clara...”
“Tall?”
“…yes.”
“Dark aura? Broody? Looks like he kills people for breakfast?”
Lila melotot. “Clara!”
Clara terkekeh. “Oh my God, I’m right.”
Ia bersandar ke kursi, pura-pura dramatis. “Tell me everything.”
Lila mencoba menjelaskan: pesta mewah itu, pertemuan singkat, bagaimana Damian menyentuhnya dengan cara yang… tidak bisa ia jelaskan. Rasanya terlalu intens untuk orang asing. Terlalu gelap untuk logika.
Clara mendengarkan sambil mengibaskan tangan. “Lila, you met him for one minute. Maybe he’s just charismatic.”
“Mungkin…” Tapi Lila tahu itu bukan hanya karisma. Tatapan Damian seolah sudah mengenal dirinya. Senyumannya tidak ramah, lebih seperti… ancaman.
Sebelum ia menjelaskan lebih jauh, pintu ruang redaksi terbuka dengan keras.
Editor mereka, Mr. Holton, muncul sambil memegang beberapa berkas. Mata tuanya menyapu ruangan dan berhenti tepat pada Lila.
“Bennett. My office. Now.”
Clara menatap Lila dengan alis terangkat. “You’re in trouble again?”
“Aku bahkan belum melakukan apa-apa,” gumam Lila sambil berdiri.
Di dalam ruangan Holton, tumpukan koran tua dan potret hitam putih wartawan legendaris menutupi dinding.
Holton duduk tanpa mempersilakan. “I’m giving you a story.”
Lila mengangkat dagu. “A story?”
“A big one.” Ia melemparkan map tipis ke meja Lila. “Ada serangkaian hilangnya tokoh masyarakat dalam tiga bulan terakhir. Politisi, bankir, pengusaha. Sumber mengatakan polisi tutup mulut.”
Jantung Lila berdetak sedikit lebih cepat. “Kenapa saya?”
Holton menatapnya tajam. “Karena kamu satu-satunya di sini yang cukup keras kepala untuk menyelami tempat yang seharusnya tidak diselami.”
Lila menelan ludah. “Apa yang Anda inginkan dari saya?”
“Temukan pola. Temukan pelakunya. Atau setidaknya.”
Holton membungkuk, suaranya mengecil.
“...temukan kenapa semua orang mati-matian menutup kasus ini.”
Sebuah sensasi aneh merayap naik di tulang belakang Lila.
Ada sesuatu tentang cara Holton mengatakannya. Seolah ia tahu sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Lila mengangguk. “Baik. Saya ambil.”
“Good,” ujar Holton. “Dan Lila...”
Ia menatapnya dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan: kekhawatiran.
“Hati-hati.”
Siang hari, Lila duduk di perpustakaan kecil kantor, memeriksa file yang diberikan Holton. Empat nama hilang. Semua kaya. Semua memiliki hubungan dengan perusahaan Eropa besar. Semua menghilang tanpa jejak.
Ia menuliskan poin-poinnya.
Tidak ada catatan penculikan. Tidak ada tuntutan tebusan. Tidak ada saksi.
Seolah mereka… menguap dari dunia.
“Hm…” Lila mengetuk meja dengan pensil. “Apa yang menghubungkan kalian?”
Jawabannya tidak muncul. Namun pikirannya malah kembali pada Damian, entah kenapa.
Ia menggeleng. “No. He has nothing to do with this.”
Baru saja ia menutup laptop, telepon perpustakaan berbunyi. Lila mengangkat. “Perpustakaan Clarion Gazette, Lila berbicara.”
Suara di ujung telepon rendah. Gelap.
Dan ia mengenalinya.
“Miss Bennett.”
Jantung Lila berhenti satu detik.
Suara itu… milik Damian.
“Bagaimana Anda mendapat...”
“Kamu meninggalkan sesuatu semalam.”
Lila menelan ludah. “Aku tidak...”
“Aku ingin mengembalikannya.”
Hening sejenak, lalu ia menambahkan, pelan namun mengancam,
“Keluar dari gedung. Sekarang.”
Telepon terputus.
Lila mematung.
Clara pasti akan menyuruhnya untuk tidak pergi. Holton pasti melarang.
Tapi ada sesuatu tentang suara Damian. Sesuatu yang menarik.
Menyeretnya.
Mengikatnya.
Ia mengambil mantel dan berjalan keluar tanpa memikirkan kemungkinan terburuk.
Udara dingin menerpa wajahnya saat ia keluar dari gedung. Jalanan London ramai, tapi terasa sunyi. Lila memandang sekeliling, mencari tanda.
Lalu ia melihatnya.
Damian berdiri di seberang jalan, bersandar pada mobil hitam yang terlihat terlalu mahal untuk parkir di area itu. Jas gelapnya rapi, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.
Dan tatapan itu…
Tatapan yang sudah mengganggu pikirannya sejak semalam.
Ia melangkah mendekat. “Bagaimana Anda tahu di mana saya bekerja?”
Damian tidak menjawab. Ia hanya mengamati Lila dari atas ke bawah seperti sedang menilai apakah ia berbahaya atau tidak.
“Kau terlihat terkejut melihatku,” katanya akhirnya. Suaranya tetap datar. Tetapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang menahan. Sesuatu yang gelap.
“Aku tidak meninggalkan apapun,” kata Lila defensif.
Damian mendekat satu langkah.
Lila mundur secara refleks.
Damian mengangkat alis, seolah senang melihat reaksi itu.
“Tidak. Kau memang tidak meninggalkan apapun,” katanya.
“Tapi aku butuh alasan untuk bertemu denganmu.”
Lila terpaku. “Mengapa?”
Tatapan Damian berubah… intens, tajam, seolah ia ingin mengatakan sesuatu namun menahannya.
Karena alasan yang jelas.
Karena ia berbahaya.
“Aku pikir aku sudah cukup jelas di pesta itu,” ujarnya pelan. “Aku tidak suka mengulang.”
Lila mencengkeram tasnya. “Apa yang Anda inginkan dari saya?”
Damian menunduk sedikit, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Lila.
“Aku ingin memastikan kamu tahu apa yang sedang kamu dekati.”
“Apa maksudnya?”
Senyum kecil muncul di bibirnya. Bukan senyum manis, tapi… mematikan.
“Kau sedang menyelidiki sesuatu yang tidak seharusnya kau sentuh.”
Darah Lila membeku. “Anda bagaimana Anda tahu itu?”
“Ada banyak hal yang aku tahu, Lila Bennett.”
Suara Damian serendah bisikan.
“Termasuk fakta bahwa empat orang yang kau teliti… tidak hilang.”
Lila mengerutkan dahi. “Lalu mereka ke mana?”
Mata Damian gelap-gelap seperti laut malam.
“Mereka dibunuh,” katanya akhirnya.
“Dan orang yang melakukannya… sedang melihatmu.”
Lila terdiam. Antara takut dan tidak percaya.
Damian melangkah lebih dekat. “Aku tidak akan membiarkanmu terlibat. Sebaiknya kau berhenti sekarang sebelum sesuatu terjadi.”
“Tidak.”
Lila mengejutkan dirinya sendiri. “Saya jurnalis. Saya tidak lari hanya karena seseorang berkata saya harus takut.”
Damian memejamkan mata satu detik seolah berusaha menahan sesuatu.
Ketika ia membuka mata, tatapannya lebih gelap dari sebelumnya.
“Kamu tidak mengerti, Lila.”
Suaranya kecil, hampir lirih.
“Aku mencoba melindungimu.”
“Dari siapa?”
Damian menatapnya lama.
Lama sekali.
Lalu ia menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Dari aku.”
Dan itulah pertama kalinya Lila mengerti bahwa Damian bukan sekadar orang berbahaya. Dia adalah bahaya itu sendiri.

Book Comment (7)

  • avatar
    Kilerbibi

    bagus

    17/05

      0
  • avatar
    NoraElvia

    penasaran

    03/01

      0
  • avatar
    Z.NFaza

    Wow cerita ini sangat seru

    24/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters