[Aku tahu kamu sudah menikah dan memiliki keluarga, jika perlu aku akan menemui suami kamu dan meminta izin langsung darinya.] Suara Aira memohon karena Serena tidak menjawab permintaannya. [Apa kamu yakin jika aku menjenguknya, Kaisar akan sadar?] tanya Serena dengan suara yang dia usahakan setenang mungkin. [Iya. Aku sangat yakin jika kamu mau datang dan berbicara dengannya InsyaAllah dia akan sadar,] jawab Aira penuh keyakinan. [Kenapa kamu begitu yakin?] kembali Serena mempertanyakan keputusan Aira menghubungi mantan kekasih suaminya. Apa hatinya tidak terluka? pikir Serena. [Karena dia menunggumu. Tolonglah!] pintanya memohon. [Kamu yakin?] tanya sekali lagi untuk memastikan. Serena tidak ingin kehadirannya menjadi bumerang untuk rumah tangga Aira dan Kaisar. [Iya aku yakin. Percayalah sama sekali tidak akan ada yang mempermasalahkan kedatangan mu menemui Kaisar] jawab Aira mengerti apa yang ada pikiran Serena. [Baiklah besok aku akan datang,] putus Serena. [Aku akan mengirim pesan alamat rumah sakitnya. Terima kasih banyak. Kami sangat menunggu kedatanganmu,] ucap Aira sebelum menutup panggilan telfonnya. Serena menghela nafas sepenuh dada. Masih ada rasa sakit di lubuk hatinya yang paling dalam, mengingat mantan kekasihnya itu. Tanpa terasa ada lelehan bening merembes dari sudut mata indahnya. Kaisar Danu Adtmaja, pria tampan yang dulu mengisi hari-harinya sejak masa putih abu-abu. Kaisar selalu bersikap baik dan memanjakan Serena. Suka duka sudah mereka jalani bersama namun kisah yang sudah mereka rajut selama empat tahun itu harus kandas di tengah jalan karena kebohongan Kaisar. Serena menengadahkan kepalanya, "Itu semua masa lalu yang harus kamu ikhlaskan," gumamnya lirih. "Tidak perlu lagi di sesali. Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah dari apa yang sudah kita rencanakan." Wanita berwajah ayu itu mengusap pelan air matanya yang sempat membasahi pipi mulusnya. "Semangat! Kamu harus bekerja sekarang! Tidak ada yang memanjakan kamu sekarang!" Serena kembali memeriksa lembaran kertas yang ada di hadapannya dan berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya tadi sebelum mendapatkan telfon dari temannya. 🥀🥀🥀 Sesampainya di rumah Serena mengerutkan dahinya sesaat setelah ia membuka gerbang rumahnya. Nampak mobil Dirga sudah terparkir di teras rumah mereka. Serena menggandeng Zena masuk ke dalam rumah setelah ikut memarkir motornya dan menutup kembali gerbang rumah mereka. "Jadi benar sekarang kamu kerja lagi?" tanya Dirga yang duduk di sofa ruang tamu begitu Serena dan Zena memasuki ruang tamu rumah mereka. Serena sempat terkejut beberapa detik lalu berusaha bersikap tenang dan menoleh pada pria yang duduk di sofa seraya berkata, "Iya," Serena menjawab singkat lalu melanjutkan langkahnya. Sontak membuat emosi Dirga tersulut melihat respon tidak peduli yang di berikan Serena, "Pantaskah istri bekerja tanpa izin suaminya?" cibirnya dengan nada sinis. Seketika Serena kembali menghentikan langkahnya lalu menoleh pada putrinya, "Zena, duduk di ruang tengah dulu ya! Mama kasih pinjam ponsel Mama sebentar, Zena boleh lihat YouTube sembari menunggumu Mama bicara sama Papa." Serena memberikan ponselnya pada Zena lalu menunggu putrinya berjalan menuju ruang tengah. Setelah memastikan Zena sibuk dengan ponselnya di ruang tengah, Serena mengalihkan pandangannya pada Dirga yang masih berdiri sambil memandangnya sinis. "Apa ada masalah?" tanyanya pada laki-laki yang sudah menikahinya sejak delapan tahun yang lalu itu. "Bagaimana bisa kamu bekerja tanpa meminta izin dariku? Aku masih suamimu jika kamu lupa?" ucap Dirga dengan wajah merah padam menahan emosi. "Suami yang seperti apa? Suami yang selalu mengabaikan aku dan tidak pernah meminta pendapatku? Apa kamu pernah berbicara dulu padaku jika memutuskan sesuatu? Apa kamu pernah mendengarkan aku berbicara? Mengapa sekarang seolah kamu menganggap apa yang aku lakukan penting untuk kamu ketahui? Rasanya sangat lucu sekali." Serena mengucapkan serentetan pertanyaan pada lelaki di depannya itu. "Bukankah sekarang aku melakukan apa yang kamu inginkan sejak dulu. Tidak berbicara jika tidak penting, tidak menelpon jika tidak penting. Apa aku tetap masih salah?" sambungnya menatap Dirga dengan tenang tanpa rasa marah dan takut sedikitpun.Hatinya sudah sangat tegar sekarang, dia tidak lagi ingin menangis atau mengiba di depan Dirga. "Mengapa aku harus menganggap kamu suami jika kamu tidak pernah menghargai aku sebagai istri?" tambahnya mengungkapkan kekesalannya yang selama ini dia pendam. Dirga terdiam karena merasa tersindir, semua yang di katakan Serena memang benar adanya. Selama ini dia tidak pernah bertanya apa yang di lakukan Serena selama dirinya bekerja. Dia juga tidak pernah bercerita atau sekedar mengeluh capek setelah bekerja seharian pada istrinya itu. Setiap pulang kerja dia hanya sibuk dengan ponsel dan pekerjaan yang dibawa pulang. Dirga tidak pernah menghiraukan cerita dan keluhan Serena saat dia pulang kerja. Baginya Serena di rumah tidaklah capek karena bisa istirahat dan bersantai tanpa ada yang melarang, tidak seperti dirinya yang harus bekerja di kantor. Sampai akhirnya istrinya itu menjadi pendiam tidak pernah lagi bercerita atau mengeluh padanya. "Tapi bagaimana dengan Zena? Siapa yang menjaganya saat kamu bekerja?" tanya Dirga mencari celah untuk menyalahkan Serena. Serena menghela nafas lelah namun tetap menjawab pertanyaan suaminya, "Sepulang sekolah aku mengantarnya ke rumah temanku Nurida," jawab Serena. "Kamu tidak perlu khawatir Nurida sangat baik dan menyayangi Zena, anaknya juga menyukai Zena," beritahunya agar Dirga tidak perlu khawatir. Namun sepertinya Serena salah, penjelasannya tidak berguna bagi Dirga. "Aku tidak setuju, jika Zena harus di titipkan di rumah orang lain ketika kamu bekerja," tolak Dirga. "Kita tidak tahu kondisi keamanan tempat tinggal teman kamu itu," Dirga mengutarakan alasannya. "Lalu, mau bagaimana?" tantang Serena menatap Dirga sinis. "Kita panggil pengasuh saja, untuk mengasuh Zena di rumah," kata Dirga mengambil keputusan. Sontak Serena melebarkan matanya menatap penuh amarah pada Dirga, "Maksudmu, kamu ingin memanggil Ratna, janda yang membuatmu membentakku bahkan kamu rela meminta maaf pada wanita itu, padahal dalam mimpi pun kamu tidak pernah meminta maaf padaku," ucap Serena tidak terima.
cerita nya menarik sekali
24/11/2024
0iya
04/08/2024
0bagus
02/08/2024
0View All