Pov Serena. Sudah satu bulan aku bekerja di kafe Mas Gibran, selama itu juga aku dan Mas Dirga masih saling diam. Mas Dirga selalu pulang malam namun aku tidak pernah bertanya atau mengirim pesan padanya untuk menanyakan kapan dia akan pulang? Setiap hari aku berusaha belajar tentang cara menghandle sebuah kafe. Namun sesibuk apapun, aku tidak pernah lupa tugasku sebagai seorang ibu untuk Zena. Setiap kali di rumah aku menghabiskan waktuku untuk Zena. Baru setelah Zena tidur aku mengerjakan tugas yang aku bawa pulang. sore ini aku sedang bercanda dengan Zena ketika Mas Dirga pulang. Entah apa yang membuatnya pulang lebih awal hari ini jika biasanya dia akan pulang pukul 8 malam berbeda hari ini laki-laki itu sudah terlihat memasuki rumah pada pukul 5 sore dia. Seperti biasa dia pulang membawa tas kerja dan tumpukan Map di tangannya. Zena langsung turun dari sofa dan berjalan menuju kamarnya tepat ketika Mas Dirga bejalan masuk menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Zena. Mas Dirga sama sekali tidak menyapa atau menegur Zena padahal dengan jelas dia melihat putrinya itu berjalan didepannya. Tiba-tiba hatiku terasa ngilu melihat sikap cuek Mas Dirga. Sontak aku berdiri, "Gadis kecil yang berjalan di depanmu tadi itu putri kandungmu," ucapku kesal. "Apa tidak sedikitpun kamu merindukannya?" tambahku mencibirnya. Aku mengerutkan keningku, ketika melihat Mas Dirga tersenyum remeh, "BukanKah ini yang kamu inginkan? Zena tidak dekat denganku dan keluargaku? Karena kamu membenci keluargaku karena itu kamu doktrin Zena supaya ikut membenci keluargaku." Tuduhnya padaku yang seketika meruntuhkan semua rasa cinta yang aku bangun semenjak dulu. Kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki depanku ini seperti hujaman pisau di jantung dan hatiku. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Bukankah dia sendiri sudah melihat seperti apa perlakuan keluarganya kepadaku dan Zena? Seburuk itukah aku di matanya? Baik jika memang seperti itu yang di pikirkannya. "Kamu benar, aku ingin Zena tidak dekat denganmu jadi aku tidak perlu repot-repot bertahan 12 tahun lagi" ucapku mengingatkan perjanjian kami. Mas Dirga menatapku tajam, rahangnya mengeras terlihat sekali dia begitu marah. Namun aku sama sekali tidak takut. Kali ini tidak ada air mata yang keluar dari mataku tidak seperti sebelum-sebelumnya setiap kami bertengkar aku pasti menangis dan mengiba agar dia memahami perasaanku. Aku membalas tatapannya, "Semoga prasangka kamu menjadi kenyataan," ujar ku lalu berlalu menuju kamar Zena. Inilah batas kesabaran dan penantianku. Aku tutup pintu kamar Zena, tidak lupa aku mengunci rapat untuk jaga-jaga Mas Dirga memaksa masuk karena emosi. Jujur aku takut jika sampai Mas Dirga emosi. Aku masih ingat pertengkaran terakhir kami, dia seperti akan menelanku hidup-hidup. Ku tarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku ulangi beberapa kali sampai aku merasa tenang. Pandanganku beralih pada Zena yang sedang duduk di meja belajarnya, fokus pada buku di depannya. "Zena, sedang apa?" tanyaku berjalan mendekatinya. "Apa ada tugas sekolah?" sambung ku begitu sampai di samping Zena. Zena mendongakkan kepalanya kepadaku, "Lagi mewarnai Ma," jawabnya menunjukkan gambaran seorang anak perempuan bersama ibunya yang belum selesai di warnai. "Bagus banget, pinter ya Zena," pujiku sambil mengelus rambut panjang milik Zena. "Besok harus di kumpulkan Zena lupa kalau belum di warnai," tuturnya sembari melanjutkan kegiatannya tadi. "Kalau begitu Mama tinggal sholat dulu ya," kataku setelah mendengar suara adzan magrib berkumandang. Aku beranjak setelah mendengar jawaban Zena. Setelah sholat magrib aku mengajak Zena makan malam sambil melihat televisi. Aku sengaja menyuapi nya supaya lebih cepat selesai karena aku malas jika harus bersitegang dengan Mas Dirga lagi. Setelah selesai makan aku segera mencuci alat makan yang baru selesai aku gunakan. Aku terkejut ketika hendak kembali ke ruang tengah, nampak Mas Dirga duduk di samping Zena mengajaknya bicara tapi Zena hanya menyahut dengan mengangguk dan menggeleng. Saat Zena melihatku dia langsung berdiri dan berlari ke arahku. "Ma, gendong," pintanya mengulurkan tangannya padaku. Aku terkejut melihat sikap Zena, ku alihkan pandanganku pada Mas Dirga. Terlihat dia menatapku tajam. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang lalu menggendong Zena dan membawanya masuk ke kamar. Mas Dirga pasti berpikir jika aku yang menyuruh Zena untuk menjauhinya. Terserah, aku sudah tidak peduli lagi. Apapun nanti hasil akhir dari pernikahan kami, aku akan tetap membawa Zena bersamaku. 🥀🥀🥀 Seperti biasa setiap pagi aku mengantar Zena ke sekolah dan langsung menuju kafe. Ini sudah menjadi rutinitasku hampir dua bulan ini. Aku sangat bersyukur karena aku sudah terbiasa dengan semua pekerjaanku di kafe. Itu tidak lepas dari bantuan Mas Gibran dan Mbak Lina tentunya. Setiap pagi aku akan memastikan semua bahan di dapur lengkap lalu memastikan kafe di buka dalam keadaan rapi dan bersih. Sesekali aku memeriksa ke dapur untuk melihat makanan yang di pesan pelanggan kafe lalu kembali ke meja kerjaku untuk memeriksa laporan. Sekitar pukul 9 pagi aku kembali ke meja kerjaku untuk memeriksa laporan belanja bulanan. Baru setengah jam aku berkutat dengan kertas-ketas itu sebuah panggilan masuk ke ponselku. panggilan dari Dewa, teman sekolahku yang bekerja di kota Bali. 📞 [Hallo,] sapaku begitu aku menerima panggilannya. [Hallo Rena,] sahutnya. [Iya, apa kabar kamu?]tanyaku basa basi. [Alhamdulillah sehat, kamu bagaimana?] tanya Dewa balik. [Sehat. Alhamduliilah. Ada apa tumben telpon?Pasti lagi patah hati makanya telpon,] tebakku. Temanku yang satu ini adalah plaboy cap kadal. Dia akan menelpon aku dan Nurida jika sedang patah hati. [Ha...ha...ha..] Terdengar tawanya meledak, "Kamu jangan do`ain yang jelek dong,] ucapnya setelah berhenti tertawa. [Gak do`ain jelek cuma mengingat kebiasaan kamu saja. Memang ada apa tumben sekali kamu telpon,] [Kamu sedang kerja?] [Hemm.] Aku mengangguk meski Dewa juga tidak bisa melihat. Terdengar Dewa menghela nafas, [Aku kemarin menelpon Nurida.] beritahunya, [Apa kamu sudah yakin?] tanyanya terdengar khawatir dari nada suaranya. Aku sudah tahu apa yang di maksudnya. [Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin belajar mandiri, entah seperti apa nanti keputusan akhirnya setidaknya aku punya poin untuk mendapatkan hak asuh Zena.] jawabku realistis. [Baiklah. Ingat jika perlu bantuan jangan lupa kamu masih punya aku! Jadi jangan sungkan mengatakannya padaku.] ujarnya serius. [Iya, terima kasih,] ucapku tulus. [Sebenarnya aku menelepon mu ada yang ingin aku katakan.] akunya jujur. [Apa?] [Aku sekarang ada di jakarta untuk satu bulan ke depan. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.] beritahu nya, [Kemarin malam istri Kaisar menghubungiku. Dia meminta nomer telpon kamu. Dia ingin berbicara penting denganmu,] tutur Dewa yang membuatku agak terkejut dan keheranan. [Untuk apa?] tanyaku. Aku agak sensitif jika mengenai mantan kekasihku itu. [Dia ingin meminta bantuan kamu,] jawab Dewa. [Menurutku tidak ada salahnya kalian berbicara. Dia benar-benar butuh bantuan kamu Ren, masalah kamu dan Kaisar jangan sampai menghalangi kamu berbuat baik. Itu adalah masa lalu,] tutur Dewa karena aku hanya diam saja. [Rena. Serena Ayu Anjani,] panggil Dewa menyebut nama lengkap ku. [Baiklah,] putusku akhirnya. Dewa benar aku tidak bisa terus mengingat masalalu. Masalahku dan Kaisar sudah lama berlalu, aku harus bisa melupakannya. [Setelah aku menutup telpon, dia akan menelpon mu.] kata Dewa sebelum menutup panggilan telponnya. Dan benar saja belum lima detik ponselku sudah berdering lagi sebuah panggilan telpon dari nomer yang tidak di kenal. [Halo,] sapa ku. [Halo, Serena?] Suara seorang wanita terdengar cukup merdu masuk ke gendang telingaku. [Iya. Ini siapa?] [Aku Aira istri Mas Kaisar Danu Adtmaja.] jawabnya terdengar tenang. [Iya.] sahutku singkat. [Maaf mengganggu waktu kamu. Aku ingin meminta tolong padamu.] Aira langsung mengutarakan maksudnya menghubungiku. [Minta tolong apa?] tanyaku dengan nada datar atau mungkin terkesan tidak peduli. [Mungkin kamu merasa aku tidak punya harga diri, namun aku benar-benar terpaksa melakukan ini. Aku tidak punya cara lain selain meminta tolong padamu,] ujar Aira meminta pengertian dariku. Dari suaranya dia benar-benar membutuhkan bantuan. [Iya aku mengerti. katakan saja apa yang bisa aku bantu?] kataku to the point. [Tolong datang ke rumah sakit, Mas Kaisar mengalami kecelakaan dan sekarang dalam keadaan koma. Sudah satu bulan dia belum juga sadar, dia sedang menunggumu Serena. Jadi tolong datanglah menjenguknya supaya Mas Kaisar segera sadar. Aku mohon padamu!] Aira mengungkapkan permintaannya yang membuatku sangat terkejut. Aku terdiam beberapa saat, sebelum bisa memahami ucapan wanita ini. Koma? Kaisar koma. Apa yang terjadi? Benarkah laki-laki itu koma dan sedang menungguku? Aku seperti tidak percaya mendengarnya. Apa yang harus aku lakukan? Menemuinya sebagai rada simpati karena dulu kami pernah memiliki hubungan atau mengabaikannya karena jujur aku masih merasa sakit hati karena masalah kami dulu. Namun tidak aku pungkiri jauh di relung hatiku ada rasa sedih mendengar apa yang terjadi padanya. Bagaimanapun masa lalu kami belum benar-benar berakhir dengan kata ikhlas. Apa aku harus menemuinya? 🥀🥀🥀
cerita nya menarik sekali
24/11/2024
0iya
04/08/2024
0bagus
02/08/2024
0View All