logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 2 Bekerja Lagi

Istri mana yang tidak sedih saat melihat suami pulang dengan wajah kusut, uring-uringan, dan menyerahkan selembar surat pemutusan kerja? Begitu pula dengan dirinya. Kaget dan tidak percaya, tapi ini benar adanya.
Ardi pulang dengan membawa berita yang sangat tidak enak bagi kelangsungan hidup keluarga mereka. Suaminya terkena pemutusan hubungan kerja sepihak oleh perusahaannya. Dia salah satu dari karyawan yang terkena pengurangan sebagai bentuk efisiensi akibat perekonomian yang semakin lesu.
“Mas...” Hani memeluk suaminya. Setetes air mata jatuh di pipinya.
Mereka berpelukan cukup lama. Ardi bahkan ikut menangis. Seumur hidup mereka bersama, Hani belum pernah melihat suaminya menitikkan air mata. Bahkan saat ayahnya meninggal, dia terlihat sangat tegar.
“Maafkan mas, ya. Udah bikin adek kecewa,” ucapnya terisak.
Ardi bukan lelaki lemah. Dia tangguh, cerdas, dan berprestasi. Masa kerjanya sudah cukup lama—enam tahun, bahkan sejak sebelum mereka menikah. Dia beberapa kali mendapat penghargaan dari kantor atas prestasinya di beberapa acara.
Dulu mereka bekerja di perusahaan yang sama. Namun karena aturan tidak memperbolehkan suami-istri bekerja di satu tempat, akhirnya Hani memutuskan untuk mengundurkan diri setelah menikah dan mengurus rumah, sesuai permintaan suaminya.
Rumah tangga mereka bahagia. Sederhana, tapi berkecukupan. Sampai akhirnya Tuhan menitipkan seorang anak lelaki. Rasanya hidup mereka sudah lengkap.
“Anggap saja ini ujian naik kelas, Mas. Kita mau dikasih rezeki lebih. Semoga nanti dapat ganti kerjaan yang lebih baik, ya,” ucap Hani dengan lembut.
Pelukan Ardi semakin erat. Dia bersyukur memiliki istri seperti Hani, yang tidak banyak menuntut atas apa-apa yang belum mampu dia berikan. Wanita itu ikhlas menerima segala yang bisa dia upayakan selama ini.
Hani memandangi kertas itu. Berulang kali membaca dan meneliti setiap poin yang tertulis. Sebenarnya, kompensasi dari surat ini cukup lumayan. Suaminya mendapatkan pesangon yang bisa digunakan untuk biaya hidup mereka selama satu tahun. Tapi tetap saja, bagi seorang lelaki, harga diri itu bekerja.
Hani mengusap rambut suaminya dengan lembut saat Ardi mengubah posisi dan berbaring di pangkuannya. Dia mengucapkan kata-kata penghibur, menjadi penenang hati.
Sebagai istri yang taat, Hani selalu berusaha menyenangkan suaminya dengan segala cara. Selama pernikahan ini, Ardi tidak pernah berlaku kasar. Dia selalu memperlakukan istrinya dengan lembut.
Ardi memang suami idaman. Kasih sayang dan perhatiannya sangat berlimpah, baik untuk istri maupun anaknya.
***
Tiga bulan sudah sejak wawancara terakhir di gedung besar itu. Tidak ada panggilan. Itu berarti Hani tidak lolos. Entah sudah berapa banyak lowongan yang dia lamar, belum ada satu pun yang memberi kabar.
Hani mulai merasa sedikit putus asa. Semangat yang tadinya menggebu perlahan memudar seiring waktu.
Ada satu dua perusahaan yang memanggil, tapi langsung dinyatakan tidak lolos karena usianya dianggap kurang produktif. Wajar saja, di usia segini, banyak hal sulit dia tangkap. Memori di kepalanya mulai menurun.
Sambil menunggu, Hani mencoba berjualan kue kecil-kecilan untuk menambah uang belanja. Hasilnya lumayan, cukup menutup kebutuhan sehari-hari.
Setiap hari Hani mengantar kue ke pasar untuk dititipkan ke beberapa toko. Kadang habis, kadang tidak. Jika sisanya masih banyak, dia bagikan kepada tetangga atau pemilik toko sebagai ucapan terima kasih.
Suaminya sampai sekarang juga belum mendapat pekerjaan. Berkali-kali melamar, belum ada yang memanggil.
Sering kali Hani mendapati rona kecewa di wajah Ardi setiap kali mendapat penolakan atau tidak ada kabar lanjutan dari perusahaan yang dilamar.
Uang pesangon yang mereka tabung sedikit demi sedikit mulai menipis. Keluarga pun tidak tahu karena mereka tinggal jauh dari kampung halaman.
Ardi masih tetap mengirim uang untuk ibunya dan biaya sekolah adiknya setiap bulan. Ayah mereka sudah tiada.
Keluarga tidak tahu bahwa Ardi sedang tidak bekerja. Semuanya dirahasiakan agar tidak menambah beban pikiran, terutama ibunya yang sudah lanjut usia.
“Bunda, abang mau pipis.” Si kecil datang menghampiri dengan langkah tertatih.
“Sini, Sayang.” Hani menggendongnya.
Putranya manja sekali. Usianya tiga tahun, bicaranya belum terlalu lancar. Masih cadel, hanya kalimat-kalimat tertentu yang bisa jelas dia ucapkan.
Hani menuntunnya ke kamar mandi. Dengan telaten dia mengurus dan mengajarinya. Walaupun lelah, hatinya bahagia. Anak adalah anugerah Tuhan yang luar biasa.
Ponselnya berbunyi. Hani memilih mengabaikannya. Mungkin hanya orang iseng. Nanti saja setelah selesai mengurus anaknya, dia akan mengeceknya.
Setelah menyerahkan putranya kepada Ardi di kamar, Hani mengambil ponsel di atas nakas. Ada panggilan tak dikenal—telepon rumah lagi. Pikirnya kalau itu memang penting, pasti akan menelepon lagi.
Benar saja, tak lama...
“Selamat sore. Apakah ini benar dengan Ibu Hani?” terdengar suara wanita dari seberang.
“Ya, saya sendiri,” jawabnya.
“Kami dari PT. Sejahtera Abadi. Apakah benar pada tanggal sekian Ibu mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan kami?”
“Iya, benar, Mbak.”
“Oh, baiklah.”
Jantung Hani berdetak kencang. Apa ini pertanda baik?
“Begini, Ibu. Kami ingin menyampaikan bahwa Ibu dipanggil untuk sesi wawancara lanjutan besok pagi pukul sembilan. Apakah Ibu bersedia?”
“Apa? Eh, iya. Saya bersedia datang be-sok pa-gi,” jawabnya terbata-bata, antara gugup dan bahagia.
“Baiklah. Kami menunggu kedatangan Ibu besok pagi pukul sembilan,” ulang wanita itu.
“Iya, saya akan datang,” ucap Hani penuh semangat.
“Baik, Ibu. Kami tunggu kedatangannya. Selamat sore.” Telepon terputus.
Air mata Hani mengalir. Haru, bahagia, semuanya bercampur jadi satu. Bergegas dia masuk ke kamar. Dilihatnya Ardi tertidur. Putranya sedang asyik bermain bola plastik. Sesekali melempar ke arah ayahnya, tapi lelaki itu tetap terlelap.
Ardi tampak kelelahan setelah seharian membantu mengurus rumah dan anak. Saat Hani membuat kue, Ardi yang pergi ke pasar. Kadang dia membantu di dapur jika si kecil sedang rewel. Namanya juga anak-anak, tak bisa jauh dari ibunya.
Hani tertawa melihat bola yang memantul berkali-kali ke kepala suaminya, namun dia tetap terlelap. Hal sederhana seperti itu saja sudah membuatnya bahagia.
Dia memutuskan nanti malam saja bercerita. Semoga Ardi ridho. Hani tidak sabar ingin menyampaikan kabar baik ini.

Book Comment (11633)

  • avatar
    DITAPUSPAADYTIA

    fix perasan2 seperti di aduk2 antara baper bimbang di lema bingung dan sedih terus bahagia awal suami nya seperti idaman dan retak karna masalah ekonomi meski hubungan sudah lama gak menjamin keutuhan . patut di pelajari kehudupan cerita ini. seperti kayalan tapi terasa di dunia nyata best saya jujur terharu😢 apalagi awal keluarga sempurna masalah selalu ada dikehidupan di setiap cerita ❤

    17/08/2022

      0
  • avatar
    Yona Astuti

    saya suka bnget ceritanya ada kelanjutan gak..soalnya seru menginspirasi banyak bnget pelajaran yg dapet dipetik dari cerita ini..semangat ya semoga makin sukses dan ttap dalam lindungan Allah SWT aamiin☺️

    27/01/2022

      0
  • avatar
    lavoisierrz

    keren banget selalu bikin penasaran buat ngelanjutin ceritanya, bahasanya juga mudah dipahami, semangat kak

    21/01/2022

      1
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters