logo
logo-text

Download this book within the app

anak jakarta

Angin pagi yang dingin tak mampu mengusir gerah di hatiku. Setelah percakapan berat di dapur, dan bayangan Mas Arya yang terluka terus menghantuiku, aku memutuskan untuk mencari sedikit ketenangan. Langkah kaki membawaku keluar dari kamar, menyusuri lorong kos yang masih sepi. Mungkin udara luar, atau sekadar pemandangan baru, bisa sedikit menjernihkan pikiran yang kusut. Nasihat Ibu tentang dunia yang keras, tentang orang-orang yang harus diwaspadai, kini terasa begitu dekat, begitu nyata.
Namun, ketenangan yang kucari mendadak terusik. Dari salah satu kamar di ujung lorong, terdengar suara musik menggelegar. Ritme hip-hop dengan lirik yang entah apa maksudnya, berdentum-dentum menembus dinding, seolah tak peduli dengan telinga penghuni lain. Kepalaku langsung berdenyut. Suara sekeras itu tak pernah kudengar di rumah. Biasanya, Bapak hanya memutar musik keroncong atau dangdut koplo sesekali, dan volumenya selalu sopan. Ini jauh dari kata sopan.
Aku mendekat, penasaran sekaligus sedikit jengkel. Pintu kamar memang tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil. Dari celah tersebut, asap tipis mengepul, beraroma tembakau yang agak aneh. Samar-samar terlihat seorang pemuda sedang duduk bersila di lantai, kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik, dan tangannya sibuk memegang sebuah joystick. Layar televisi di depannya menampilkan visual permainan yang intens.
"Woy, bro! Nyantai aja kali!" tiba-tiba sebuah suara menyentakku.
Aku terlonjak kaget. Pemuda di dalam kamar menoleh, senyum lebarnya memperlihatkan deretan gigi putih. Ia memiliki rambut cepak rapi, kulit sawo matang khas pesisir, dan tatapan mata yang entah mengapa terlihat sedikit menantang. Aku merasa canggung, tertangkap basah sedang mengintip.
"Eh, maaf," kataku pelan, merasa bersalah. "Suaranya kok keras sekali, ya?"
Pemuda itu tertawa, mengabaikan ketidaknyamananku. "Baru tahu ada orang selain Bu Ratih yang protes volume musikku. Santai aja, Bro. Ini kan kamar aku, suka-suka aku dong mau setel seberapa kencang." Ia kemudian menurunkan volume musiknya sedikit, namun masih pada taraf yang menurutku sangat berlebihan. "Tapi demi kamu, aku kasih diskon suara dikit, lah." Ia tersenyum lagi, kali ini lebih seperti seringai.
"Aku Dens," kataku, mengulurkan tangan.
Pemuda itu menjabat tanganku erat, tarikannya kuat. "Gue Fajar. Anak Jakarta asli. Lo anak baru, ya?"
"Iya, aku baru dua hari," jawabku. "DariTulungagung."
Fajar mengerutkan kening, lalu tertawa lagi, lebih keras. "Tulungagung? Wah, jauh juga, ya. Pantesan aksenmu medok gitu."
Perkataan Fajar menusuk langsung ke ulu hatiku. Aku tahu aksenku memang kental, logat Jawa Timuran yang belum terpoles. Di kampung, semua orang berbicara seperti itu. Di sini, ucapan Fajar membuatku merasa kecil, merasa asing, dan bodoh. Pipi rasanya memanas. Aku berusaha tersenyum, meski rasanya lebih seperti meringis.
"Kenapa? Memang kenapa kalau medok?" tanyaku, mencoba terdengar biasa, padahal jantungku berdebar kencang.
"Ya nggak kenapa-kenapa sih," kata Fajar santai, mengangkat bahu. "Cuma, lucu aja dengarnya. Kayak dari desa banget, gitu. Kan sekarang zamannya gaul, Bro. Jakarta style!" Ia menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. "Di sini, kalau ngomong jangan terlalu kaku. Santai aja, kayak gue."
Aku merasa lidahku kelu. Apa yang harus kukatakan? Aku ingin membela diri, menjelaskan bahwa aksen adalah bagian dari identitasku, bukan sesuatu yang memalukan. Tapi kata-kata Fajar terasa seperti tamparan, merobohkan sedikit kepercayaan diri yang baru saja kubangun. Ibu selalu bilang aku anak baik, anak jujur, tapi dunia di luar tidak mengenal kebaikan semacam itu. Mereka melihat keanehan, perbedaan.
"Jadi, kamu kuliah di mana?" tanyaku, mencoba mengalihkan topik.
"Gue di kampus sebelah. Manajemen," jawab Fajar, kembali fokus pada gamenya, tapi masih menyisakan sedikit perhatian padaku. "Lo?"
"Aku di Teknik Informatika," kataku.
"Ooh, anak IT, ya. Pasti kutu buku, nih," ledek Fajar, tanpa melihat ke arahku. "Jangan terlalu serius, Bro. Kuliah boleh serius, tapi hidup itu harus dinikmati. Jangan kayak Mas Arya, tuh. Muka tegang mulu kayak kurang piknik."
Aku terdiam mendengar nama Mas Arya disebut. Perasaanku semakin tidak nyaman. Fajar seolah merendahkan semua orang, menganggap dirinya paling tahu segalanya.
"Mas Arya itu orangnya baik," kataku pelan, mencoba membela.
Fajar mendengus. "Baik sih baik. Tapi kalau hidup cuma gitu-gitu aja, kapan serunya? Lo jangan ketularan Mas Arya, ya. Nanti ikutan kaku." Ia akhirnya menghentikan gamenya, meletakkan joystick ke samping, lalu bangkit berdiri. Tubuhnya lebih tinggi dariku, dan tatapannya terasa mendominasi. "Intinya, di sini itu beda sama kampungmu. Jakarta itu pusatnya segala-galanya. Kalau mau bertahan, ya harus bisa adaptasi. Jangan jadi udik."
Kata "udik" itu membuatku merasa seperti dihantam batu. Selama ini, aku bangga dengan asal-usulku, dengan kesederhanaanku. Tapi di depan Fajar, semua kebanggaan itu runtuh, digantikan rasa malu dan minder yang luar biasa. Aku merasa seperti orang asing di tengah kerumunan, membawa beban perbedaan yang tak bisa kusembunyikan.
"Maaf, aku harus ke kamar dulu," kataku, memutar badan, ingin segera pergi dari hadapan Fajar dan perkataan-perkataan yang menyakitkan.
"Oke, santai aja," kata Fajar sambil tersenyum, senyum yang entah mengapa terlihat meremehkan. "Kapan-kapan kita ngopi bareng, ya. Biar lo tahu rasanya ngopi ala Jakarta."
Aku hanya mengangguk kecil, tanpa menoleh. Langkah kakiku semakin cepat. Aku ingin segera masuk ke kamar, mengunci pintu, dan bersembunyi dari dunia yang baru saja menunjukkan wajahnya yang lain. Wajah yang menghakimi, yang merendahkan. Perkataan Fajar tentang aksen dan kampungku, serta tegurannya agar "jangan jadi udik", terus terngiang di telinga.
Dunia yang Ibu bilang "keras" tidak hanya tentang bahaya fisik seperti yang dialami Mas Arya, tapi juga tentang serangan verbal, tentang cara orang lain mencoba mengecilkanmu. Aku merasa sesak, seperti paru-paruku dipenuhi asap rokok Fajar yang aneh. Apakah ini yang Ibu maksud dengan "godaan"? Godaan untuk berubah, untuk tidak menjadi diriku sendiri, agar bisa diterima di lingkungan baru?
Aku masuk ke kamar, menghempaskan diri di kasur. Pandanganku kosong menatap langit-langit. Aksenku. Aksen yang selalu menjadi bagian dari diriku, sekarang justru menjadi bahan ejekan. Aku yang selama ini hanya mengenal lingkungan yang menerima, kini harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan bersikap ramah. Tidak semua orang akan menerima "Dens yang polos" dari Tulungagung. Fajar adalah cermin pertama dari bagian dunia yang akan mencoba membentukku, mengikis identitasku. Pertanyaannya, apakah aku akan membiarkan diriku berubah demi pengakuan, ataukah aku harus tetap berpegang pada "anak baik" yang Ibu titipkan, meski harus menghadapi cemoohan dan rasa minder yang menggerogoti? Berat. Terlalu berat untuk remaja 17 tahun sepertiku.

Book Comment (13)

  • avatar
    EliyaniDewi

    bagus bgt ceritanya menarik sekali

    30/10

      0
  • avatar
    RudinJava

    seru

    15/10

      0
  • avatar
    ApriliyantoBagus

    lanjutkan

    10/10

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters