Kata-kata Mei Lin masih menggantung di udara dapur kos, menusuk ulu hatiku. “Terkadang, menolong orang yang tidak ingin ditolong justru akan memperburuk keadaan.” Kalimat itu, begitu lugas dan jujur, membuatku merasa kecil dan tak berdaya. Aku memandangi Mas Arya yang berlalu, pintunya tertutup rapat, seolah mengunci semua rahasianya dari dunia luar. Pikiranku kalut, dipenuhi bayangan luka dan beban yang dipikul Mas Arya. Perasaan asing itu, campuran antara kasihan, penasaran, dan takut, begitu menyesakkan. Aku yang selama ini hanya tahu hidup nyaman di bawah perlindungan kedua orang tua, mendadak dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa dunia di luar sana, dunia yang baru kumulai ini, tidak seindah dongeng. Dalam pusaran kebingungan itu, ingatan tentang sore terakhir di rumah, sebelum aku berangkat merantau, tiba-tiba menyeruak. Momen itu begitu jelas, seolah baru terjadi kemarin. Aroma masakan Ibu, suara televisi yang menyala pelan di ruang tengah, dan tatapan lembut mata Ibu saat memandangku. Aku masih ingat, waktu itu, kami duduk berdua di teras belakang, di bangku kayu panjang yang sering jadi tempatku membaca buku. Langit mulai merona jingga, menyelimuti desa kami dengan kehangatan terakhir hari itu. Ibu menatapku lekat-lekat, tangannya menggenggam jemariku, terasa hangat dan menenangkan. “Dens,” panggilnya lembut, suaranya sedikit bergetar. “Kamu sudah besar sekarang. Sebentar lagi mau pergi jauh.” Aku hanya mengangguk, tenggorokanku tercekat. Perasaan haru bercampur antusiasme memenuhi dadaku. “Ibu bangga sekali sama kamu, Nak,” lanjutnya, senyum tipis terukir di bibirnya. “Bisa kuliah di kota besar. Ini impian kita semua.” “Aku akan berusaha yang terbaik, Bu,” jawabku, menatap matanya. “Aku akan belajar sungguh-sungguh, biar Ibu dan Bapak bangga.” Ibu mengusap rambutku perlahan. “Ibu tahu, Nak. Kamu itu anak yang baik. Tapi dunia di luar sana tidak sama seperti di sini.” Aku mengerutkan kening. “Maksudnya, Bu?” “Dunia luar itu keras, Dens. Penuh godaan,” bisiknya, matanya menerawang jauh. “Banyak orang dengan berbagai macam niat. Ada yang baik, ada juga yang tidak. Kamu harus pintar-pintar menjaga diri.” Nasihat itu, yang kala itu kudengar hanya sebagai omongan umum, kini terasa begitu relevan dengan apa yang kualami di kos. Kata-kata Mei Lin tentang Mas Arya yang berurusan dengan "orang-orang kasar" kembali terngiang. “Jangan mudah percaya sama orang asing, Nak,” lanjut Ibu. “Tapi juga jangan jadi orang yang tertutup. Cari teman yang baik, yang bisa membimbingmu ke jalan yang benar. Jaga pergaulanmu.” “Iya, Bu. Aku pasti hati-hati,” janjiku, meskipun saat itu aku belum benar-benar mengerti kedalaman dari peringatan Ibu. “Ingat, Dens, kamu pergi ke sana bukan hanya untuk diri sendiri. Ada harapan Ibu dan Bapak, ada harapan desa kita. Jadi, jangan sampai mengecewakan. Jangan sampai terjerumus hal-hal yang tidak baik.” Suara Ibu terdengar lebih tegas sekarang, namun tatapannya tetap penuh kasih sayang. “Jaga salatmu, jangan pernah tinggalkan. Itu peganganmu. Itu yang akan menjagamu dari semua keburukan.” “Aku akan selalu ingat pesan Ibu,” kataku, mencoba meyakinkan dirinya. Aku merasa beban yang tak terlihat diletakkan di pundakku. Beban harapan dan tanggung jawab. “Kalau ada masalah, jangan sungkan cerita sama Ibu atau Bapak. Jangan dipendam sendiri, ya,” pintanya. “Kadang, masalah itu kelihatan berat karena kita pikul sendiri. Kalau dibagi, pasti lebih ringan.” Aku teringat Mas Arya yang memikul bebannya sendiri, bahkan sampai terluka. Apakah ia tidak punya siapa-siapa untuk berbagi? “Jaga kesehatanmu juga. Jangan lupa makan teratur, jangan sampai sakit,” pesan Ibu lagi, kembali ke hal-hal praktis. “Kalau uang saku kurang, bilang. Jangan sampai kelaparan. Ibu selalu ada untukmu.” Aku tersenyum getir. “Iya, Bu. Aku akan jaga diri baik-baik.” “Dan yang paling penting,” Ibu menatapku dalam, suaranya sangat pelan, seolah hanya ingin aku yang mendengarnya. “Jadilah anak baik, Dens. Anak yang jujur, yang bertanggung jawab, yang selalu menolong sesama. Jangan pernah berubah jadi orang lain karena tuntutan lingkungan. Tetaplah jadi Dens yang Ibu kenal.” Air mata menggenang di pelupuk mata Ibu. Ia memelukku erat, pelukan hangat yang penuh dengan doa dan kekhawatiran seorang ibu. Aku balas memeluknya, merasakan betapa berharganya momen itu. Aku berjanji dalam hati, aku akan menjaga semua nasihatnya. Aku tidak akan mengecewakannya. Aku akan menjadi "anak baik" yang ia inginkan. Kilasan ingatan itu memudar seiring dengan suara Bu Ratih yang memanggil dari dapur, membuyarkan lamunanku. “Dens, sudah sarapan belum? Jangan melamun terus nanti kesambet!” Aku tersentak, kembali ke realitas dapur kos yang dingin. Tatapan Bu Ratih yang cerewet, namun entah mengapa kini terasa seperti pengingat akan kasih sayang Ibuku. Mei Lin dan Li Hua masih duduk di meja, tapi sorot mata mereka kini dipenuhi kekhawatiran yang sama sepertiku. Nasihat Ibu tentang kerasnya dunia luar, tentang godaan, tentang pentingnya menjaga diri dan tidak mudah percaya, kini terasa sangat nyata. Peringatannya tentang tidak memikul masalah sendiri, dan mencari orang untuk berbagi, bergaung di telingaku. Aku baru menyadari, semua yang Ibuku katakan dulu bukan sekadar nasihat biasa. Itu adalah peta jalan, peringatan, dan juga perisai yang ia coba berikan kepadaku. Namun, bagaimana jika peta jalan itu tidak mencakup semua medan yang akan kulalui? Bagaimana jika perisai itu tidak cukup kuat untuk menangkis semua bahaya yang tak terduga? Aku menatap pintu kamar Mas Arya yang tertutup rapat. Dunia yang Ibu maksud, sepertinya, sudah mulai menampakkan wajah aslinya kepadaku. Dan aku, anak polos yang hanya bermodal nasihat dan harapan, merasa sekecil biji sesawi di tengah samudra luas yang mengerikan ini. Haruskah aku hanya diam seperti kata Mei Lin, atau apakah ada cara lain untuk menjaga "anak baik" yang Ibuku titipkan? Sebuah pertanyaan yang kini terasa jauh lebih berat daripada semua pelajaran kuliah yang harus kuhadapi.
bagus bgt ceritanya menarik sekali
30/10
0seru
15/10
0lanjutkan
10/10
0View All