Hangatnya kamar membuatku merasa mengantuk walau ini masih terlalu sore (walau sudah gelap). Melihatku yang tidak tahan hangat, Raya segera menurunkan suhu ruangan dengan sihir es miliknya. Dia adalah seorang penyihir, tapi sayang dia hanya bisa mengubah suhu saja tanpa bisa memberikan serangan fisik. Selain Raya, ada banyak orang yang mengalami hal serupa di mansion ini. Kebanyakan dari mereka bertugas untuk mengatur suhu di dalam mansion dan bukan seorang pelayan. Untuk Raya, itu beda cerita karena bunda sengaja merekrut dia untuk menjadi pelayan pribadiku. Setelah menurunkan suhu kamar, Raya membantuku menyembuhkan luka dari kejadian sebelumnya. Sebenarnya aku tidak terluka selama penyerangan tadi, tapi aku mendapatkan luka karena tamparan dari Kak Kaehlil. Itu juga salahku sih karena aku sempat menyulut emosinya. Dia yang baru pulang dari tugas, pasti lelah dan aku mengatakan hal seperti itu, sudah jelas dia marah dan memukulku. “Nona, apa anda masih memikirkan apa yang Tuan Muda Oktara katakan?” tanya Raya dengan mengoleskan sebuah salep di pipiku yang masih memar. Aku tidak menjawab. Dibilang aku memikirkannya pun tidak juga, dibilang nggak dipikirkan pun tidak juga. Tidak ada jawaban yang pasti dari semua itu. “Tuan Muda tadi hanya keceplosan saja. Saya yakin beliau tidak bermaksud membuat Nona marah. Jadi-” “Raya, apa masih lama? Aku sudah lapar,” ujarku menyelanya. Sebelum dia mulai mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi, sebaiknya aku harus segera menghentikannya karena itu akan sangat panjang dan lama. Mendengar permintaanku, Raya hanya tersenyum dan mengangguk. Raya kembali berdiri dan menyiapkan makan malam di atas meja bundar yang menjadi meja makan sementara. Itu sebenarnya adalah meja tamu untuk menyambut orang yang masuk ke kamar ini. Tapi, sekarang meja itu berubah menjadi meja makan karena aku sudah mulai jarang makan di ruang makan. Setelah Raya selesai, aku segera bangkit dan duduk di kursi depan meja itu. Aku mulai makan dalam diam tanpa ada gangguan. Setelah selesai makan, aku keluar dari kamar dan berjalan ke arah taman dekat laboratorium. Sebelum pergi, aku sudah bilang pada Raya jika aku akan kemari. Jadi, dia tidak perlu mencari ku terlalu jauh jika aku tidak segera kembali. Aku sengaja pergi ke taman ini bukan untuk melakukan penelitian, melainkan untuk melepas rindu pada bunda. Jujur saja, aku sangat rindu pada bunda. Bahkan ketika beliau menghembuskan nafas terakhirnya, aku ada di sana dan menemaninya hingga akhir. Aku juga mendengar wasiat bunda sebelum meninggal. Tapi sepertinya itu sudah tidak diperlukan lagi. Kalian pasti bingung, apa yang aku katakan pada kakak tadi hingga dia menamparku? Itu masih tidak jauh dari bunda. Setelah membereskan para penyerang tadi sore, kami kembali ke mansion Pavenisa bersama. Selama itu, tidak ada yang membuat kami berselisih. Bahkan aku memilih diam saat itu. Benar-benar sepi, bahkan Kak Marissa pun memilih diam daripada berbicara pada kami. Perselisihan itu dimulai 1 jam lalu. Aku yang memang ada di tkp dan melihat kejadian itu dari awal sampai akhir, diminta untuk memberikan keterangan oleh Grand Duke Pavenisa di ruangannya. Di sana tidak hanya ada aku saja, Kak Marissa, Kak Kaehlil, dan prajurit yang mengawal kami juga hadir agar tidak ada miskom. Di sana, aku memberitahu semuanya dan menyembunyikan informasi yang menyinggung tentang regresi yang aku alami. Mendengar itu semua, Grand Duke hanya bisa menghela nafas tidak percaya. Itu tidaklah aneh karena selama ini tidak ada pengkhianat di antara para prajurit kami. Jadi, beliau mungkin akan melakukan pengecekan identitas untuk semua pasukan. Setelah membahas tentang itu, kami akhirnya diperbolehkan kembali ke ruangan masing-masing. Di sanalah perseteruan kami dimulai. Kamar aku, Kak Marissa, dan Kak Kaehlil searah sehingga kami kembali bersama-sama dan diikuti oleh pelayan pribadi masing-masing. Awalnya, Kak Kaehlil dan Kak Marissa sedang membicarakan hal yang baru saja kami alami. Hingga akhirnya, Kak Marissa melihatku tanpa mengatakan apa pun. Aku yang memang terhenti karena mereka berhenti, mendongak dan menatapnya bertanya. “Jadi maksudmu, kau tidak tahu soal pengkhianat itu dan anak ini mengetahuinya?” tanya Kak Kaehlil yang mendapat anggukan dari Kak Marissa. Oh, soal itu lagi. “Aku selalu saja heran karena kau selalu melakukan hal diluar itu, tapi tak ku sangka ada penyebabnya. Jadi, katakan bagaimana kau bisa tahu ada pengkhianat di dalam prajurit kita,” pinta Kak Kaehlil. Aku kembali menunduk. “Dari aliran energi sihirnya,” jawabku pelan yang masih bisa didengar oleh mereka. Kak Kaehlil mendengus kesal mendengarnya. “Itu tidak akan menjawabnya, dasar bodoh. Lebih tepatnya, bagaimana kau bisa mengenalinya jika hanya tahu dan energi sihirnya,” ujarnya kesal sembari menggaruk kepala belakangnya. “Energi sihir itu terkadang tidak stabil, jadi mudah terdeteksi siapa pelakunya dari energi yang tidak stabil itu. Ibunda yang mengatakan itu pada saya. Saya sendiri sering ke aula latihan untuk membuktikan langsung pernyataan itu. Maka dari itu saya ingat dan tahu jika di antara mereka ada beberapa orang pengkhianat,” jawabku masih dengan kepala tertunduk. Kak Oktara mendengus semakin keras. “Lagi-lagi teori tidak masuk akal itu. Kau ini benar-benar tidak berguna ya. Jika bukan karena kemampuanmu merasakan energi sihir, sudah pasti ayah menendangmu dari rumah ini dengan teori-teori wanita itu. Sudah jadi tanah saja masih membuat orang kepikiran, dasar wanita sialan,” ujarnya dengan berbalik dan kembali berjalan menjauh. Aku menahannya dengan kesadaran penuh dan mata yang membelalak. “Tarik ucapanmu,” ujarku pelan masih tidak percaya. Kakak berbalik dan melihatku. “Tarik ucapan kakak sekarang! Bunda itu ibu kandung kita! Penelitiannya itu nyata adanya! Jika bukan karena penelitiannya, pasti dunia ini tidak akan berubah, jadi tarik ucapan kakak sekarang!” teriakku dengan menahan tangannya yang berusaha dia lepas. Aku tidak akan membiarkan dia pergi sebelum menarik kata-katanya. “Kakak ingat 3 tahun lalu ketika kakak sakit parah? Saat itu bunda mati-matian mencari obatnya untuk kakak padahal sedang mengandung. Bunda pun beberapa kali hampir pingsan padahal saya sudah mengatakannya untuk istirahat. Tapi, beliau tetap kekeh melanjutkan penelitiannya hingga malam tiba. Jika memang teori itu tidak masuk akal, maka untuk apa bunda begadang hanya untuk menyelamatkan 1 nyawa? Bukankah lebih baik bunda diam saja dan membiarkan dokter mencari jalannya? Lalu untuk apa semua itu?” teriakku lagi tidak terima. “Kakak mengatakan itu sama saja dengan menghina bunda! Kakak justru tidak menerima jika kakak lahir dari rahim bunda padahal bunda sudah berusaha keras untuk melahirkan kakak! Tidak hanya itu, kakak pun membenci bunda yang tidak salah apa pun. Jika kakak memang seperti itu, lalu kenapa kakak tidak menyusulnya saja dan marah-marah langsung pada bunda dibanding tetap hidup dan membencinya?” teriakku lagi. Saat itulah aku mendapat tamparan darinya hingga terlempar keluar lorong yang terbuka. Sama seperti tadi pagi, kepalaku mendarat lebih dulu di atas tanah yang keras. Yang membuatnya berbeda, ini full paving dan tidak memiliki pengaman lain. Melihat itu, Raya segera menghampiriku dan membantuku bangun. Kali ini aku yang salah. Aku spontan berkata seperti itu karena itu menyangkut bunda. Bunda sudah berusaha keras untuk tetap hidup, tapi semuanya tidak berjalan mulus. Aku harus minta maaf. Aku segera berdiri dari posisiku dengan menahan sakit. Aku melihat ke arah kakak dan membungkuk meminta maaf. Tidak ada jawaban dari laki-laki itu. Dia hanya langsung pergi tanpa berpikir panjang. Meninggalkan kami di tempat ini sendirian. Itulah yang terjadi sebelumnya. Sejak ditinggal bunda, aku mulai kurang ekspresif dan mudah terpancing emosi. Bahkan ketika dewasa pun aku tetap seperti itu. Aku bukannya tidak menghargai bunda, hanya saja sulit untuk melepaskan beliau begitu saja. Hal itu pun diperparah dengan kejadian seminggu yang lalu. Aku yang memang kurang kasih sayang dari Grand Duke, berakhir dengan tidak bisa ekspresif seperti dulu lagi. Ketika sudah besar pun akan tetap begitu. “Aku kangen bunda. Jika saja ada bunda, mungkin aku bisa melewati ini semua tanpa kehilangan harapan,” ujarku sendiri dengan memeluk lutut di atas sebuah kursi taman. Aku menutup mataku dan membiarkan angin malam yang dingin berembus menyelimuti ku. “Seseorang yang menyerah lebih awal tidak akan bisa mendapatkan hadiah di akhir permainan. Bahkan mereka tidak akan tahu seperti apa isinya jika menyerah. Bisa jadi isinya adalah sesuatu yang sangat istimewa. Jadi, jangan menyerah dulu dan teruslah maju hingga akhir,” ujar seseorang yang berada di sampingku. Tunggu, perasaan aku tidak mengajak siapa pun deh kemari. Lalu, dia siapa? Aku menoleh ke samping kananku dan terperanjat kaget melihat siapa yang datang. Bahkan aku hampir saja jatuh jika beliau tidak menangkapku. Baiklah, mari tenang dulu. Aku seharusnya tidak kaget lagi karena ini sudah sering terjadi, bahkan di kehidupanku sebelumnya pun sering terjadi. Lalu, siapa yang ada di samping ku sekarang? Beliau adalah kakekku dan ayah dari bunda. Namanya adalah Count Hans Abedi Rewara. Beliau memiliki sihir yang bisa meniadakan keberadaannya, salah satu dari kemampuan sihir ilusi. “Hahaha, maafkan kakek membuatmu terkejut nak. Kakek tidak menyangka kamu akan seperti itu jika terkejut,” ujar kakek setelah membantuku kembali duduk. “Tidak apa-apa, kek. Kakek tidak perlu meminta maaf,” ujarku menggeleng setelah memberi salam dengan menunduk sebentar. Mendengar itu, kakek hanya tersenyum dan mengelus kepalaku. “Apa ada sesuatu yang mengganggu cucu kakek? Jika ada, maukah kamu menceritakannya pada kakek?” tanyanya. Aku terdiam sejenak. Apa perlu aku menceritakan apa yang terjadi pada kakek? Kakek juga orang yang bisa dipercaya. Beliau selalu diam jika aku menceritakan rahasiaku. Tapi, aku sudah bertekad untuk menyimpan semuanya sendirian. Ah sudahlah, ceritakan saja. Aku menceritakan semua hal yang menggangguku pada kakek. Mulai dari kejadian tadi sore hingga perseteruanku dengan Kak Kaehlil. Tidak ada yang aku sembunyikan dari itu semua. Mendengar ceritaku itu, kakek hanya mengelusku sembari memberikan nasihatnya. Beliau terus menyemangatiku dan memberikan saran padaku. Seolah aku sedang berbicara dengan bunda karena jika ada perseteruan di antara kami bersaudara, bunda selalu menengahi kami dan memberikan nasehatnya. Setelah puas berbincang dengan kakek, aku memutuskan untuk kembali dan beristirahat. Beliau tidak mengantarku karena beliau ingin bertemu yang lain, jadi aku kembali sendirian. Sesampainya di kamar, Raya menyambutku dengan riangnya. Aku hanya tersenyum melihatnya dan kami segera masuk ke dalam ruang ganti untuk berganti pakaian karena aku ingin segera tidur. Setelah itu, aku segera tidur di kasurku sedangkan Raya kembali ke ruangannya. Tidurku sebenarnya cukup nyenyak. Tapi terkadang, aku akan mengalami tidur berjalan jika sudah terlalu lelah. Seperti apa yang terjadi padaku saat ini. Aku terbangun di lorong yang terasa tidak asing untukku. Jika mengikuti apa yang terjadi sebelumnya, aku seharusnya berada di kamar dan tidur di atas kasur yang empuk. Tapi karena kebiasaan tidur berjalan ku belum hilang, sepertinya aku keluar kamar dan terus berjalan hingga sampai di lorong ini. “Ah, dasar. Ganggu orang mimpi indah aja. Mending segera balik dan lanjut tidur deh,” ujarku dan segera membalikkan badan dengan tangan kananku mengucek mataku. Aku yang ingin segera pergi dari sini, tidak sengaja mendengar sesuatu dari ruangan yang sedikit terbuka. Jika diperhatikan baik-baik, itu adalah suara kakek dan Grand Duke. Apa yang mereka bicarakan malam-malam begini? Curiga, aku memutuskan untuk mendekati ruangan itu dan menguping sedikit tentang apa yang mereka bicarakan larut malam ini. “Ngomong-ngomong soal Lila, saya sudah mendengar apa yang terjadi sore ini dari putrimu. Itu cukup mengejutkan karena ini kali pertama Pavenisa kebobolan dan ada pengkhianat di dalam pasukan yang kau pimpin,” ujar kakek. “Begitulah. Saat ini kami sedang melakukan penyelidikan pada seluruh pasukan tanpa terkecuali untuk mencari apa ada pengkhianat lain atau tidak,” jawab Grand Duke seperti tidak tertarik. “Ucapanmu itu terasa seperti tidak niat. Apa itu karena Lila yang mengetahui lebih dulu adanya seorang pengkhianat? Jika dipikir lagi, putrimu itu juga bercerita jika dia memiliki konflik dengan putra sulungmu. Seharusnya kau mengetahui hal itu bukan? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya kakek lagi dengan nada yang tegas. Aku terdiam sejenak. Kenapa kakek justru mengatakan itu pada Grand Duke? Bukankah kakek berniat untuk menyembunyikannya? “Saya sudah mendengar konflik itu. Itu adalah salah Lila. Jika saja dia tidak menyinggung tentang ibunya, sudah pasti Oktara tidak akan melakukan itu,” jawab Grand Duke. Sudah ku duga dia akan mengatakan itu. Yah, itu tidak salah sih. Aku juga merasa itu salahku dan memang berniat untuk segera meminta maaf. “Kau ini kenapa sebenarnya? Yang memulai duluan adalah putra sulungmu! Lila seperti itu karena ibunya dihina oleh kakaknya sendiri. Lalu, tanggapanmu hanya membenarkan perbuatan putra sulungmu dan menjatuhkan semua kesalahan itu pada Lila? Grand Duke Trait, tidak sadarkah kau kalau putrimu itu masih kecil? Dia masih anak-anak!” ujar kakek sedikit berteriak. “Lalu memangnya kenapa? Dia juga bersalah karena telah membuat kakaknya sendiri emosi. Itu tandanya dia tidak sopan dan orang seperti itu harus dihukum, terutama orang itu telah berbicara lancang pada anggota keluarga bangsawan,” balas Grand Duke. “Lila masih kecil dan dia juga anggota keluarga bangsawan! Bagaimana kau bisa menyebut putrimu sendiri-” Brak!! “PUTRI PUTRI, HENTIKAN PENYEBUTAN ITU! PUTRIKU HANYALAH MARISSA SEORANG! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGAKUI ANAK ITU SEBAGAI PUTRIKU, TERUTAMA ANAK YANG MENJADI PENYEBAB TERBUNUHNYA PILMA! AKU TIDAK AKAN MENGAKUI DIA SAMPAI KAPANPUN ITU!” “TARIK UCAPANMU BARUSAN TRAIT!!” Perseteruan antara Grand Duke dan kakek semakin memanas. Aku sebenarnya tidak begitu peduli dan ingin segera kembali, tetapi entah kenapa kedua mataku terasa panas dan kakiku tidak mau bergerak. Bahkan aku juga merasakan setetes air membasahi pipiku padahal tidak ada atap yang bocor di sekitar sini. Aku pun sadar sesaat kemudian. Rupanya itu adalah air mataku sendiri. Begitu ya, walaupun aku sudah mengalami 151 kali kehidupan dan kematian, aku tetap mendambakan cinta kasih dan pengakuan dari orang tuaku sendiri. Meskipun aku sudah pernah mendengar kalimat itu, tapi aku selalu berpikir bahwa itu tidak sengaja diucapkan oleh mereka dan aku tetap bisa mendapat kasih sayang mereka. Tapi, itu hanya angan-anganku saja. “Haha, ini menyakitkan. Ini sangat menyakitkan. Aku tidak kuat terus di sini. Sebaiknya aku kembali saja sebelum ketahuan telah menguping mereka,” ujarku sendiri dengan tersenyum pedih lalu berlari kembali ke dalam lorong itu. Sekarang aku sudah tahu, mau sampai kapan pun harapanku tidak akan pernah sampai. Aku tidak akan pernah mendapat pengakuan dari mereka. Marga ini hanyalah marga kosong yang tidak ada artinya. Sesuatu yang kumiliki, tapi tidak akan pernah bermakna apa pun. Keith, aku benar-benar minta maaf. Ketika kita bertemu lagi nanti, aku akan minta maaf padamu. Kamu selalu menyemangatiku apa pun kondisiku. Kau selalu menyuruhku untuk tetap semangat menjalani hidup hingga akhir nanti. Tapi maaf sekali, kehidupan yang telah kau siram dengan berbagai harapan itu hancur seketika. Aku sudah, tidak ingin melanjutkan hidup ini dengan semangat dan mengejar harapan palsu itu. Jadi, maafkan aku Keith karena sosok Clara yang kamu kenal, telah mati bersama harapan yang kamu siram itu. ⸨── ⸙† Shattered Hope: End †⸙ ──⸩
ceritanya seru
19/03
0ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲
11/02
0bagus
04/01
0View All