logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 3

Suasana kota yang damai juga ramai menyambut kami dengan ramahnya. Banyaknya orang yang berlalu lalang untuk membeli maupun berdagang terlihat di setiap sisi jalan. 
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga terlihat bermain dengan riangnya. Senang rasanya melihat mereka yang begitu damai. Semoga saja hari ini tidak ada insiden apa pun itu.
Setelah berjalan cukup jauh, kereta kuda yang kami tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah toko. Kakak dan aku segera keluar dan masuk ke dalam toko itu. Itu adalah toko baju. Untuk apa kakak kemari? Apa dia ingin membeli baju baru?
“Wah wah, lihatlah siapa yang datang. Apa ada yang bisa saya bantu, Lady Pavenisa?” tanya seorang pria berambut panjang yang diikat. Dia juga berkumis, tapi tidak terlihat terlalu tua.
“Selamat siang, Tuan Ceisar. Saya datang kemari untuk membeli gaun untuk adik saya ini,” jawab kakak dengan tersenyum. Aku hanya melihat interaksi mereka dari belakang kakak saja. Tak ku sangka dia akan membelikanku gaun dibanding dirinya sendiri. Bahkan dia melakukan itu lebih dulu sebelum membeli keperluannya.
“Maksud anda untuk nona muda di belakang anda itu?” tanya pria itu. Kakak mengangguk dan menyingkir sedikit untuk memperlihatkan diriku.
“Dia adalah adik saya, namanya Lila Ivena Pavenisa,” ujarnya dengan memperkenalkanku. Aku membungkuk seperti apa yang aku lakukan di depan Kak Nathan tadi dan menyapanya, “senang bertemu anda, Tuan Ceisar. Nama saya Lila Ivena Pavenisa, putri keempat dari Grand Duke Trait Kayela Pavenisa.”
Tuan Ceisar terkagum melihatku yang sangat sopan seperti itu. Tidak hanya itu, ada semburat merah tipis di sekitar pipinya. Sepertinya ada kekaguman lebih dari sekedar sopan deh. Perasaan dulu tidak ada yang bersikap seperti ini selain Kak Marissa. Apa aku secantik dan seimut itu? Bukannya itu cuma kakak yang terlalu berlebihan ya? Entahlah, aku pusing.
“Rupanya beliau sangat cantik dan imut seperti apa yang anda katakan, Lady. Sebelumnya anda bertanya tentang gaun untuk adik anda bukan? Tentu saja kami memilikinya. Ada 34 baju dengan berbagai desain untuk gadis kecil umur 6 hingga 7 tahun. Anda dapat melihat-lihat terlebih dahulu, Lady,” ujar Tuan Ceisar dengan membawa kami ke ruangan lain. Benar saja, di ruangan itu ada banyak sekali gaun warna-warni yang seukuran denganku. Ini hebat! Pasti yang jahit ngebut banget waktu bikinnya. 
Di saat aku sedang melihat-lihat sekitar, entah kenapa perasaanku menjadi sangat tidak enak. Karena hal itu, akhirnya aku menoleh ke tempat kakak dan Tuan Ceisar berdiri. Mereka menatapku dengan senyum yang mengembang tapi terasa mengerikan. Baiklah, sepertinya aku tidak akan bisa keluar dengan selamat jika aku menolak mereka deh. Mau tidak mau aku pun menerima takdirku menjadi boneka barbie mereka hari ini.
Aku terus menjadi boneka mereka hingga waktu menunjukkan pukul setengah 3 sore. Setelah menimbang-nimbang pakaian yang akan dibeli dan yang akan dipesan dengan desain berbeda, kakak akhirnya membayar uang dari gaun itu dan kami pun segera pergi. 
Jujur aku kelelahan dan ingin segera pergi dari tempat ini, tapi karena aku pergi bersama kakak jadi aku harus tetap bersamanya hingga akhir. Jadi, aku terus mengikutinya ke mana pun dia pergi.
Setelah dari toko baju, kami memutuskan untuk makan dulu di salah satu restoran dekat sana. Baru setelah itu kami lanjut ke toko perlengkapan untuk membeli perlengkapan kakak yang kurang. 
Aku juga membeli sesuatu di sana. Itu bukan alat yang cukup berguna, tapi aku tahu cara kerjanya dan cara menggunakannya. Dan karena alat itu akan sangat aku butuh kan ke depannya, aku memutuskan untuk membelinya. Tentunya dengan uangku sendiri dan bukan uang kakak. 
Setelah dari toko perlengkapan, kami pergi ke pandai besi. Kakak pernah bercerita jika sudah naik tingkat ke tingkat 2, seluruh siswa diperbolehkan untuk memiliki senjata sendiri yang bukan dari akademi. Tapi, senjata itu hanya boleh digunakan di saat-saat tertentu saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aku sebenarnya tidak begitu mengerti sih, jadi aku tidak begitu peduli ketika dia menceritakan hal itu. 
Di pandai besi itu, kakak hanya mengambil senjata yang memang sudah dia pesan sebelumnya. Jadi, kami tidak terlalu lama dan segera pergi dari tempat itu. Setelah dari pandai besi, kami berjalan-jalan di sekitar pasar untuk membeli beberapa aksesoris. Kakak bilang jika dia ingin membeli oleh-oleh untuk teman-temannya di akademi mumpung dia lagi di luar juga. Jadi ya, aku ngikut saja. 
Tidak ada hal yang menarik perhatianku di pasar ini, jadi aku tidak membeli apa pun. Tapi, ada sesuatu yang cukup membuatku tertarik karena aku sudah memprediksinya. Apalagi jika bukan serangan musuh. 
Keluarga Pavenisa bisa dianggap sebagai tempat lahirnya ksatria dan pembunuh terhebat. Seluruh negara, bahkan pihak kegelapan pun selalu mewaspadai keikutsertaan pasukan dari wilayah Pavenisa di medan perang. Hal itu karena kami sangat sulit dikalahkan dan selalu pulang membawa kemenangan. Bahkan ada yang bilang jika seorang ksatria atau pembunuh dari wilayah Pavenisa itu setara dengan 100 orang dewasa. Makanya kami sangat ditakuti.
Tapi karena itu pula kami selalu diincar oleh negara lain. Tidak jarang mansion keluarga ditembus dengan mudahnya oleh mereka karena yang mereka incar adalah kepala keluarga Pavenisa dan juga calon pewarisnya. Tapi ya, begitulah. Mereka bisa masuk dengan mudahnya, tapi tidak akan bisa keluar. Bagaimana tidak, mereka akan terbunuh lebih dulu sebelum menginjak tanah di luar kediaman Pavenisa.
Tapi, sekarang kami tidak sedang berada di rumah. Dan lagi, pengawal kami pun sedikit, hanya ada 3 orang saja. Sudah jelas kami jadi sasaran empuk untuk mereka. Jika ingatanku benar, seharusnya jumlah mereka lebih dari 10. 
Ini bisa jadi masalah jika kami menghadapi mereka langsung. Bahkan bisa jadi salah satu dari kami harus mati karena hal ini. Aku harus mencegahnya. Aku tidak akan membiarkan diriku atau Kak Marissa jadi korban dari mereka.
Aku menarik baju kakak untuk membuatnya menoleh ke arahku. Kakak yang sedang sibuk memilih, akhirnya menoleh dan menatap bertanya.
“Apa kakak masih lama?” tanyaku berusaha sepolos mungkin agar tidak dicurigai.
“Maafkan kakak, Lila. Sepertinya ini masih cukup lama. Memangnya ada apa? Apa kamu ingin sesuatu?” tanya kakak dengan tersenyum dan mengelus puncak kepalaku. Kebiasaannya.
“Saya lelah, kak. Saya ingin segera pulang dan beristirahat. Tapi, saya tidak ingin pulang sendirian. Saya ingin pulang bersama kakak karena ini menyangkut izin juga,” jawabku. Kak Marissa berpikir sejenak. 
Aku harus bisa membujuknya pergi dari sini bersama. Jika aku pulang duluan, aku akan menjadi korban mereka, entah itu dibunuh atau diculik. Tapi jika aku bersama dengan kakak, setidaknya begitu mereka menyerang, kami masih bisa melawan balik.
“Baiklah. Untuk oleh-olehnya bisa dicari besok. Sekarang kita pulang saja. Kakak juga lelah soalnya,” jawab kakak dengan menggendongku. Aku cukup terkejut karena dia benar-benar memperlakukanku seperti anak kecil. Ya sudahlah, apa pun itu asalkan kami segera pergi dari tempat ini.
Kami segera kembali ke tempat kereta kuda kami menunggu bersama ketiga pengawal yang ikut. Setelah masuk ke dalam kereta kuda, kakak memberikan aba-aba pada kusir dan kereta kuda pun berjalan kembali ke mansion Keluarga Pavenisa. 
Sejak di dalam kereta, aku selalu melihat keluar jendela. Kami memang bergerak cukup cepat, tapi itu tidak lebih cepat dari mereka. Aku harap tidak ada kendala yang mereka buat. 
Di saat kami berada di pertengahan jalan, kereta kuda kami berhenti secara mendadak. Membuat kami semua yang ada di dalamnya terguncang tidak karuan. Beruntung aku tidak menabrak dinding kereta sehingga tidak ada yang terluka akibat rem mendadak itu. 
“Apa itu? Apa yang terjadi?” tanya Kak Marissa kebingungan. Aku melihat keluar jendela. Di sana aku melihat para pengawal kami yang sedang bertarung. Sudah aku duga! Mereka pasti akan menyerang kami apa pun yang terjadi! Bagaimana sekarang?
“Tenanglah, mereka pasti menang kok. Prajurit kita kan sangat kuat, jadi kamu tenang saja,” ujar kakak dengan memelukku dan berusaha menenangkanku. Aku terdiam. Itu tidak akan terjadi dengan mereka akan dengan mudah di kalahkan. 
Pasukan pembunuh yang saat ini menyerang kami adalah pasukan sama yang pernah membunuhku di kehidupan sebelumnya. Dan di antara mereka, ada anggota pasukan pembunuh milik kami. Artinya, ada pengkhianat di dalam prajurit pimpinan Grand Duke Pavenisa.
Benar saja, tak lama kemudian pasukan kami telah gugur dan kami dipaksa untuk keluar dari dalam kereta kuda. Setelah beberapa kali pemaksaan, aku dan Kak Marissa akhirnya keluar dari kereta kuda. Sejak keluar dari kereta kuda, aku tidak pernah berhenti memegang baju Kak Marissa. Setidaknya jika terjadi sesuatu, aku tidak akan berpisah dari kakak. 
“Ini cukup aneh, bagaimana bisa pasukan kita dikalahkan semudah itu oleh mereka?” tanya Kak Marissa dengan berbisik. Itu wajar karena pasukan kami memang tidak bisa dianggap remeh. 
“Untuk apa kau mengetahui semua itu? Bukankah wajar jika pasukan kalian kalah? Salah sendiri tidak membawa pasukan yang lebih banyak,” ujar salah satu dari mereka.
“Meskipun sedikit, pasukan kami tidak akan selemah itu hingga tidak bisa mengalahkan kalian. Pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini,” ujar kakak.
“Terserah kau saja. Yang penting, jangan salahkan kami jika kalian kehilangan nyawa kalian,” ujar yang lain dan langsung menyerang kami bersama pasukannya. 
Kakak tidak tinggal diam dan berbalik menyerang mereka. Membekukan mereka semua di tempat. Namun, di salah satu sisi aku bisa melihat ada asap keluar dari kepala mereka. Sudah aku duga ada yang memiliki sihir api. 
Sebelum orang itu benar-benar bebas, aku mengeluarkan benda kecil yang aku beli di toko peralatan tadi. Itu sebenarnya adalah mainan yang isinya adalah bahan kimia. Dengan mencampurkan beberapa bahan, lalu menutupnya dan mengocoknya sebentar, itu bisa jadi bom asap yang cukup untuk membuat kami lari. 
Memanfaatkan asap yang dihasilkan, aku menggandeng tangan kakak dan membawanya lari dari sini. Kami harus lari dari mereka dan sampai rumah untuk meminta tolong. Aku tahu kakak punya banyak pertanyaan sekarang, tapi tetap hidup pun prioritas kami. Jadi, lari dulu aja.
Walaupun begitu, kami tetap bisa terkejar oleh mereka dengan mudahnya. Mau secepat apa pun kami lari, tetap saja kami akan terkejar. Bagaimana sekarang? Aku tidak ingin tertangkap mereka dan berakhir seperti di kehidupan sebelumnya. Aku baru regresi woi! Janganlah kalian bunuh aku di awal permainan!
Walau terus berlari, pada akhirnya kami terpojok juga oleh mereka. Seperti sebelumnya, aku hanya berdiri di belakang kakak dan memegang erat bajunya. Aku tidak ingin mati lagi, jadi aku harus memberitahu kakak bahwa ada pengkhianat dari pihak kami di antara mereka. Dengan begitu, kakak akan berhati-hati dalam menyerang mereka menggunakan sihir. Setidaknya itu akan meningkatkan persentase kemenangan kami. 
Dan apa pun akan aku lakukan meskipun harus membocorkan sedikit pengetahuan regresi ku sebelumnya pada mereka asalkan bisa tetap hidup. 
“Berhati-hatilah kak, ada beberapa pengkhianat dari pihak kita di antara mereka. Dan mereka semua tahu setiap inci gerak-gerik kita dalam bertarung,” ujarku pelan. Kakak yang mendengarnya terkejut setengah mati. Sudah ku duga dia akan bersikap seperti itu. Tapi, untungnya kakak percaya padaku dan mulai bersiap menggunakan serangan yang berbeda. 
Kak Marissa adalah penyihir dengan element ganda. Sihir es yang biasa dia gunakan adalah gabungan dari sihir angin dan air. Itu artinya, kakak bisa menggunakan kedua elemen itu dengan sangat baik. Dan itulah yang dia lakukan. 
Dia menyerang pasukan pembunuh itu dengan sihir angin yang bisa langsung mencabik-cabik lawannya. Tidak lupa, dia menggunakan sihir airnya untuk mengurung beberapa orang dan membuat mereka kehabisan nafas. 
Tidak hanya menggunakan sihir air dan angin saja, kakak juga menggunakan sihir es nya sesekali agar pergerakannya tidak mudah terbaca. Tapi, pada akhirnya dia terpojok oleh strategi mereka. Tak lama setelah itu, kakak terpental cukup jauh ke belakang akibat serangan bola api. 
Aku yang berhasil menjauh, cukup panik melihatnya dan segera pergi ke arahnya terjatuh. Kakak masih sadar walau sedikit meringis. Lukanya juga tidak parah. Tapi, dia tidak akan bisa bergerak. Bagaimana sekarang? 
“Jika diperhatikan baik-baik, bukankah dia Marissa Alvera Pavenisa? Si nomor 1 di Ameera Academy?” tanya salah satu dari mereka. 
“Kau benar, dia adalah Marissa yang terkenal itu. Semua orang selalu memujanya karena selain cantik, dia juga kuat,” sahut yang lain.
“Bos, bukankah lebih baik kita membawanya saja ketimbang bocah kecil itu? Aku dengar dia juga sangat disayang di dalam Keluarga Pavenisa,” ujar salah seorang yang ada di tengah. Seorang pria terlihat maju ke depan kami. Wajahnya yang tertutup masker hitam itu tampak sangat galak. Kami menatapnya waspada. 
“Benar juga. Kalian sudah tamat, jadi lebih baik menyerah saja dan kami akan bersikap baik pada kalian,” ujarnya dengan menatap sinis ke arah kami. 
“Jangan bercanda! Untuk apa kami menurut? Apa ada jaminan kalau kami akan selamat? Apa kalian bisa menjamin kami bisa pulang? Nggak kan! Lalu, untuk apa kami menurut? Jika memang kau ingin kami menurut, buat aku bertekuk lutut dulu baru aku akan menurut!” ujar kakak berusaha berdiri. Pria itu memicing ke arahnya. Tak lama, dia mengejek kakak dan menendangnya ke samping kanannya. Membuat kakak terlempar menjauh dariku.
Aku segera berdiri dan berlari ke arah Kak Marissa. Tapi, tanganku lebih dulu di tahan oleh pria itu dan menariknya sehingga tubuhku lebih dekat dengannya. Tidak lupa, dia juga menodong leherku dari kanan menggunakan belati. 
Aku terdiam dengan nafas menderu dan mata membelalak. Lagi-lagi terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku berbuat nekat seperti menggigit tangannya agar bisa lepas, aku akan tetap terbunuh. Baiklah, mari berpikir dulu. 
Kak Marissa hanya bisa diam melihatku disandera oleh pemimpin mereka. Dia tidak bisa melakukan apa pun karena mendapat ancaman dari orang sialan ini. Aku juga tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah karena risikonya cukup besar. 
Tapi, baru beberapa menit sejak aku disandera, sebuah teriakan datang dari pasukan milik orang yang menahanku. Aku melihat ke arah mereka dan menelisik siapa yang menyerang mereka. Rupanya itu adalah prajurit dari keluarga kami. Mereka benar-benar kuat, bahkan ketua mereka juga terkejut melihatnya. 
Melihat itu, aku segera menggigit lengan orang yang menahanku untuk membuatnya lengah sebentar dan menusukkan belati yang masih dia pegang ke kakinya sendiri. Baru setelah itu aku lari menjauh darinya dan segera memeluk Kak Marissa. Dia segera menyambutku dan aku duduk di sampingnya. Setidaknya kami sekarang sudah aman. 
Orang yang aku serang itu berubah menjadi sangat marah dan segera berlari ke arah kami. Namun baru beberapa langkah, orang itu terjatuh dan tidak lagi bergerak. Kami terkejut melihatnya dan melihat siapa yang menyelamatkan kami.
“Ku kira siapa orang yang berani-beraninya mereka incar. Rupanya itu kau, Marissa. Oh, ada orang lain rupanya. Ku kira kau mengajak pelayanmu, rupanya hanya lalat yang tidak punya sihir. Salahkah aku, Lila Ivena Pavenisa?” tanyanya. Aku terdiam. 
Orang yang saat ini berbincang dengan kami adalah kakak tertua kami dan saudara yang segaris denganku. Namanya adalah Oktara Kaehlil Pavenisa. Dialah calon kepala keluarga Pavenisa. 
⸨─ ⸙† Attack In The City: End †⸙ ─⸩ 

Book Comment (5)

  • avatar
    123Aeri

    ceritanya seru

    19/03

      0
  • avatar
    KIIMCHII

    ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲

    11/02

      0
  • avatar
    agustinmulandari

    bagus

    04/01

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters