Bau dari bahan kimia yang sangat kuat, menguar mengisi kekosongan ruangan yang telah ditinggal selama seminggu ini. Ruangan dari bangunan lusuh yang bisa dibilang gubuk ini, adalah laboratorium yang aku sebut tadi. Tempat ini tidak aku bangun sendiri, melainkan peninggalan bunda. Tempat ini sempat hampir dihancurkan oleh Grand Duke Pavenisa karena tidak ada yang mau menggunakannya lagi sebelum akhirnya aku yang menahannya dan mengatakan akan menggunakan tempat ini. Dengan izin dari Grand Duke, akhirnya aku berhasil mewarisi tempat ini seperti perkataan bunda. Kalian pasti bingung dengan silsilah keluarga ini kan ya? Baiklah, akan aku jelaskan. Grand Duke Trait Kayela Pavenisa adalah kepala keluarga dari Keluarga Pavenisa. Tidak seperti keluarga bangsawan lain yang hanya memiliki 1 orang istri di keluarga mereka, Grand Duke memiliki 2 orang istri, istri pertama sekaligus orang yang diakui sebagai Duchess sah adalah Pilma Agrata Pavenisa. Beliau adalah ibu kandungku. Bunda dulu dianggap sebagai wanita tercantik di Kota Kalro, Ibukota Kerajaan Guilarnes. Bahkan Raja Guilarnes yang saat itu masih menjadi pangeran pun jatuh hati pada bunda. Tapi sayang, bunda lebih memilih menjadi pendamping dari Grand Duke Pavenisa daripada menjadi Permaisuri Raja Guilarnes sekarang. Dalam keluarga ini, yang menjadi anak yang lahir dari rahim beliau adalah kakak tertuaku, Oktara Kaehlil Pavenisa, aku, dan adik bungsuku Krana Masia Pavenisa. Istri kedua Grand Duke bernama Thalitha Umara Reith Pavenisa. Beliau adalah adik tiri Raja Guilarness saat ini. Sebelum Grand Duke menikah dengan bunda, Putri Thalitha adalah tunangan beliau yang akhirnya dibatalkan setelah terjadi konflik yang terbilang cukup besar. Tak lama setelah konflik itu, Grand Duke pun menikah dengan bunda dan membuat Putri Thalitha hancur saat itu juga. Mendapat perlakuan seperti itu dari mantan calon suami yang sangat dicintainya, Putri Thalitha tidak tinggal diam saja dan memutuskan untuk melakukan hal yang sangat nekat. Di pesta dansa yang beliau adakan di kerajaan, beliau sengaja mencampurkan obat tidur pada minuman Grand Duke Pavenisa dan memanfaatkan itu untuk membuatnya hamil (Putri Thalita yang dimaksud). Hal itu membuat Pangeran Guilarness yang telah menjadi Raja, marah besar padanya. Beliau pun memaksa Grand Duke untuk menikahi adiknya atas perbuatan yang bahkan bukan salah Grand Duke sendiri. Pada akhirnya mereka menikah dan membuat bunda terpaksa harus berbagi suami dengan wanita mengesalkan itu. Di keluarga ini, anak yang terlahir dari rahim wanita itu adalah Kak Marissa dan seorang kakak laki-laki yang 1 tahun di atasku, namanya Nathan Tasera Pavenisa. Tapi berbeda dengan Kak Marissa, Kak Nathan adalah orang yang sangat membenciku. Tidak hanya aku, dia juga membenci Kak Kaehlil dan Krana. Hal itu karena Grand Duchess Thalitha meninggal seminggu setelah melahirkan Kak Nathan saat bercengkrama dengan bunda yang sedang hamil. Jadi, dia mengira jika bunda sengaja mencampurkan racun pada minuman beliau. Yah, walau pada akhirnya tidak ada bukti yang mengarah pada bunda sebagai pelakunya. Lagipula, untuk apa bunda meracuni Duchess Thalitha di saat beliau juga berusaha menyelamatkannya dengan mencari penawar racunnya. Aneh banget dah. Lalu, bagaimana dengan bunda? Bunda meninggal 2 tahun lalu ketika aku berusia 5 tahun. Beliau mengalami perdarahan hebat ketika melahirkan Krana. Hal itu pun membuat Grand Duke benar-benar terpukul akan kematiannya dan tidak memedulikan Krana sekalipun. Sejujurnya, dokter sudah memprediksi hal ini. Itu karena ketika bunda melahirkanku, bunda kehilangan hampir 80% energi sihirnya. Dokter sudah memperingatkan pada bunda untuk tidak hamil lagi karena jika itu terjadi, maka kemungkinan beliau meninggal selama proses persalinan itu tinggi. Hal itu karena melahirkan seorang anak dengan bakat sihir pun juga harus mengorbankan energi sihir miliknya sendiri. Tapi ya, larangan itu akhirnya dilanggar dan bunda hamil lagi serta kehilangan nyawanya ketika melahirkan karena keinginan bunda untuk mempertahankan nyawa anaknya dibanding dirinya. Walau begitu, pada akhirnya Grand Duke mengabaikan anak terakhirnya dan melimpahkan semua kesalahannya pada anak itu. Tidak hanya itu, aku juga berakhir diabaikan karena setelah tes sihir minggu lalu, aku diprediksi tidak memiliki sihir sama sekali padahal bunda sudah mengorbankan kurang lebih 80% energi sihirnya untuk melahirkan ku. Akibatnya, aku benar-benar dibenci Grand Duke dan Kak Kaehlil karena menjadi kunci kematian bunda. Hanya Kak Marissa yang masih terus bertahan dan menyayangiku. Tidak hanya dibenci, aku bahkan dilarang untuk melihat Krana yang masih kecil dan posisi kamarku dipindah ke paviliun belakang. Bangunan yang paling dekat dengan laboratorium bunda. Setelah hal itu terjadi, aku akhirnya sakit selama 5 hari lamanya dan kejadian ini pun terjadi. Jika diingat lagi, alasan kenapa aku mengalami time loop di usia 7 tahun pasti karena anggapan bahwa diriku adalah pembawa malapetaka. Maka dari itu, mau aku berusaha sekeras apapun, aku akan tetap mengalami ini semua tanpa akhir. Tentu saja karena anggapan bahwa aku anak pembawa malapetaka belum hilang. “Nona, apa nona tidak mau melihat taman kembar? Seharusnya sekarang semua bunganya sudah mekar,” tawar Raya yang sedari tadi hanya melihatku. Aku hanya mengangguk dan melangkah keluar ruangan yang penuh aroma bahan kimia itu. Aku berjalan ke samping kiri bangunan ini dan melihat progres dari taman itu. Seperti apa yang Raya katakan, semua bunga itu sudah bermekaran. Aku hanya berjongkok di depan lahan bunga yang dibatasi oleh pagar bata setinggi 10 senti itu. Aku menyentuh tanah dari lahan bunga itu dan meminta tolong pada Raya untuk mengambil segenggam tanah dari daerah lain di lahan itu. Raya hanya menurut dan mengambil segenggam tanah di sana lalu memberikannya padaku. Aku mengambil sedikit tanah itu dan merabanya. Tanah yang diambil Raya mengandung energi sihir yang sangat banyak dibanding tanah yang sebelumnya aku sentuh. Itu artinya proses netralisir nya telah berhasil. Baguslah jika begitu. “Nanti laporkan pada Grand Duke jika proses netralisir tanahnya berhasil. Dengan begitu, kita bisa memperbanyak alat itu dan menggunakannya untuk menetralisir tanah pertanian di sekitar Duchy yang mengandung banyak energi sihir. Setidaknya itu bisa membantu para petani dan pasokan bahan pangan pulih kembali,” ujarku dan berdiri. Raya mengangguk. “Baik, Nona. Lalu, apa yang akan anda lakukan sekarang?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. Masih ada waktu sebelum aku menemui Kak Marissa, jadi lebih baik aku habiskan di perpustakaan saja. “Aku akan ke perpustakaan saja,” ujarku dan melangkah pergi. Raya terus mengikuti ke mana aku akan pergi dan mengawasi ku. Sesampainya di perpustakaan, aku pergi ke rak sihir dan mengambil sebuah buku di sana. Dari sini, aku tidak lagi bersama Raya karena pelayan pribadi hanya perlu mendampingi tuannya hingga depan area perpustakaan saja. Selanjutnya dia tidak boleh ikut campur urusan tuannya kecuali diperlukan. Maka dari itu Raya tidak bersamaku. Dan karena hal itu juga aku akhirnya bisa bebas membaca buku sesukaku. Baiklah, daripada membahas hal tidak mengenakkan terus menerus, sebaiknya kita membahas mengenai dunia ini saja. Di dunia yang disebut bumi juga, sihir menjadi hal yang sangat lazim. Setiap orang pasti memiliki sihir. Ada juga yang tidak, tetapi itu jarang dan jumlah mereka cukup sedikit. Walau begitu, mereka tetap hidup akur seperti tidak terjadi apa pun. Sihir sendiri sebenarnya adalah teknik yang meminjam kekuatan para Roh. Baik, dari sini pasti membingungkan, jadi akan aku ceritakan pelan-pelan. Pada zaman dahulu kala, seluruh manusia di dunia ini tidak memiliki sihir. Namun, mereka tetap hidup damai seperti tidak terjadi apa pun. Hingga suatu hari, Dewi Runa yang merupakan Dewi yang menciptakan dunia ini, membuat para roh dari cahaya dan kegelapan. Setidaknya ada 10 roh yang terlahir saat itu. Roh yang terlahir dari cahaya adalah Roh Cahaya, Roh Air, Roh Angin, Roh Tanaman, Roh Api, dan Roh Tanah. Sedangkan roh yang terlahir dari kegelapan adalah Roh Kegelapan, Roh Gravitasi, Roh Petir, dan Roh Ilusi. Menurut legenda, mereka semua hidup damai seperti manusia dan tidak ada perselisihan apa pun. Namun, semuanya berubah ketika Dewi Runa melahirkan seorang roh baru dari gabungan cahaya dan kegelapan. Dia adalah Roh Ruang dan Waktu. Para roh terkejut dengan kelahiran roh baru itu. Beberapa dari mereka ada yang sangat senang, namun ada juga yang iri. Hal itu karena kelahiran Roh Ruang dan Waktu menjadi titik balik kehidupan. Dan lagi, roh itu lebih sering dipilih oleh Dewi Runa untuk membahas sesuatu. Karena itulah ada roh yang iri padanya, salah satunya adalah Roh Kegelapan. Setelah beratus-ratus tahun hidup damai, Roh Kegelapan yang sudah tidak tahan dengan itu semua akhirnya membuat permusuhan pada Roh Ruang dan Waktu. Hal itu jelas ditentang oleh roh-roh lain yang lahir dari cahaya dan sebagian roh yang lahir dari kegelapan. Mereka pun mulai bermusuhan dan pertempuran tidak bisa dihindari. Hingga puncaknya, ada salah satu roh yang mendukung Roh Kegelapan mulai mengadu domba para roh yang mendukung Roh Ruang dan Waktu sehingga mereka menyerang teman mereka sendiri. Hal itu jelas membuat Roh Ruang dan Waktu sedih dan menghadapi Roh Kegelapan sendirian karena ia merasa bertanggung jawab. Dari pertarungan yang adil itu, Roh Kegelapan kalah dari Roh Ruang dan Waktu dan membuatnya menjadi sangat kesal. Pada akhirnya, dia dan roh yang mendukungnya pergi dari Dunia Roh dan turun ke bumi. Tidak hanya mereka, para roh yang sudah diadu domba pun mulai meninggalkan Dunia Roh dan turun ke bumi. Hal ini jelas membuat Dewi Runa marah dan menghukum para roh yang pergi itu dengan hukuman mereka tidak akan bisa kembali ke Dunia Roh dan akan hancur setelah 100 tahun di bumi. Mengetahui hal itu, Roh Ruang dan Waktu meminta keringanan pada Dewi Runa dan menjatuhkan kesalahan mereka padanya. Hal itu sempat tidak didengar oleh Dewi Runa, tapi pada akhirnya Dewi Runa setuju dan memberikan para roh yang kabur itu keringanan. Keringanannya berupa mereka akan tetap hidup jika berhasil membuat kontrak dengan manusia dan merubah manusia itu menjadi penyihir. Namun, jika mereka tidak berhasil membuat kontrak, mereka akan tetap hancur dalam kurun waktu 100 tahun. Roh Ruang dan Waktu sangat senang mendengarnya. Tapi sebagai gantinya, dia mendapatkan hukuman serupa dengan pendahulunya dan dijatuhkan ke bumi. Dia di larang untuk kembali ke Dunia Roh dan harus menyelesaikan urusannya dengan Roh Kegelapan di dunia sana. Baru setelah itu semua roh diperbolehkan kembali ke Dunia Roh walau energi mereka tertinggal dalam diri manusia dan terus turun dari generasi ke generasi. Itulah awal mula terbentuknya penyihir dan bentrokan yang terjadi. Penyihir kegelapan yang meminjam sihir dari Roh Kegelapan maupun pendukungnya memang tidak bisa diabaikan. Aku sendiri sudah mati sebanyak 30 kali karena terkena sihir kegelapan secara langsung dan sudah mati 60 kali karena siasat mereka yang terus menjebakku. Salah satu kematian karena siasat mereka ya aku yang mendapat hukuman pancung di kehidupan ke 150. Dan itu benar-benar mengesalkan. Jika saja aku tidak ketahuan di kehidupan ke 95, sudah pasti anak sialan itu sudah menjadi mayat dan tubuhnya meleleh. Tapi, apalah daya. Dia adalah penyihir ilusi, jadi sangat sulit untuk mengalahkannya atau menjebaknya. “Sepertinya sudah saatnya,” ujarku sendiri dengan melihat matahari yang sudah tinggi. Aku segera menutup buku yang aku baca dan mengembalikannya pada rak buku tadi. Baru setelah itu aku berjalan keluar dari perpustakaan. Namun baru saja melangkah, seseorang justru berdiri di hadapanku. Aku mendongak sedikit untuk melihat siapa yang menghadangku. Rupanya dia adalah Kak Nathan. “Kau... ngapain kau di sini hah?” tanyanya dengan nada kesal. “Sebelum menjawabnya, izinkan saya memberi salam pada Tuan Muda Nathan Tasera Pavenisa. Saya datang kemari karena ingin membaca buku dan memperluas wawasan saya, Tuan Muda,” ujarku dengan membungkuk memberi salam. Laki-laki itu tersenyum sinis. “Baguslah kalau kau masih ingat sopan santun. Lagipula, untuk apa kau membaca buku sihir? Anak yang tidak memiliki sihir sepertimu tidak pantas untuk membaca buku sihir itu. Kau itu pantasnya adalah membaca buku ini,” ujarnya tersenyum dengan mengambil sebuah buku di rak sebelah kanannya. Baru setelah itu dia memberikannya padaku dengan tertawa. Aku menerimanya dan membaca sekilas buku itu. Itu adalah buku etika seorang pelayan. Pantas saja dia tertawa terbahak-bahak seperti itu. “Hei, ingat ini ya, anak tanpa sihir dan dibenci sepertimu itu tidak berhak menjadi anggota Keluarga Pavenisa. Jadi, segeralah pergi dari sini sebelum semua orang mengincarmu,” ujarnya tepat di telingaku. Aku hanya diam saja. Tidak ada ekspresi apa pun yang aku tunjukkan padanya sejak tadi. Setelah mengatakan hal itu, laki-laki itu pergi dengan sisa tawa yang masih membekas. Melihatnya pergi, aku hanya membungkuk sejenak dan meletakkan kembali buku itu pada tempatnya. Baru setelah itu aku pergi dari sini. Aku segera pergi ke kamar dan mempersiapkan diri untuk pergi bersama Kak Marissa. Aku tidak terlalu memikirkan apa yang Kak Nathan katakan tadi. Tidak ada gunanya juga, jadi sebaiknya lupakan saja. Setelah selesai bersiap, aku segera menemui Kak Marissa yang sudah menunggu di depan pintu depan. Begitu dia melihatku, dia segera melompat dan memelukku. Ya, itu wajar sih karena dia merasa aku sangat lucu. Tapi, aku tidak suka itu dan segera melepas pelukannya. Itu karena aku sangat risih, makanya aku memutuskan untuk segera melepaskan pelukannya. “Hihihi, maafkan aku. Kamu terlalu menggemaskan sih. Makanya aku tidak tahan untuk memelukmu. Dan itu masih lebih mending daripada aku mencubit pipimu,” ujarnya dengan tangan yang diremas di depan mataku langsung. “Tolong jangan lakukan itu! Kakak tahu kan jika saya selalu risih dengan hal itu,” ujarku memohon. “Tapi kamu terlalu lucu sih! Baiklah, aku akan berusaha agar kamu tidak terlalu risih. Ngomong-ngomong Lila, perasaan aku sering melihatmu menggunakan pakaian itu. apa kamu tidak punya baju yang lain?” tanyanya. Aku melihat gaun yang aku gunakan. Memangnya ada yang salah? “Mohon maaf kak, saya tidak memiliki pakaian untuk bepergian lain. Jika kakak tidak suka, apa saya perlu berganti pakaian?” tanyaku dengan melihat penampilanku sendiri. Kak Marissa menggeleng kuat begitu mendengarnya. “Tidak perlu, walau kamu sering memakainya, kamu tetap lucu dan cantik kok. Sekarang, mari kita pergi sebelum hari semakin siang,” ujarnya. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam kereta kuda. Tak lama setelah kami masuk, kusir segera menjalankan kudanya menjauh dari area mansion. Sesaat sebelum terlalu jauh, aku bisa melihat Raya yang melepas kami dengan lambaian tangan. ⸨─ ⸙† About Family and Spirit Magic: End †⸙ ─⸩
ceritanya seru
19/03
0ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲
11/02
0bagus
04/01
0View All