⚠️⚠️Warning!!! Chapter ini berisi adegan eksekusi, penganiayaan, dan lain sebagainya. Dimohon kebijakan pembaca dalam membaca chapter ini!!! ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Ada sebuah cerita yang mengatakan bahwa dunia ini tidak hanya memiliki 1 kehidupan saja, melainkan ada kehidupan lain di luar sana yang tak pernah kita ketahui. Bukan, kehidupan itu bukan di planet lain, melainkan di bumi itu sendiri. Kehidupan itu sama seperti apa yang manusia sering lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang dewasa bangun pagi untuk bekerja, remaja dan anak-anak bersekolah, dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan oleh mereka tanpa harus mengganggu aktivitas kita. Seolah dunia kami dengan mereka saling terhubung dan terpisah oleh sebuah pembatas dalam waktu yang bersamaan. Dalam cerita lain yang juga aku dengar mengatakan bahwa tidak ada satupun cara untuk bisa melewati pembatas itu. Entah dalam bentuk fisik atau spiritual karena pembatas itu memang tidak akan bisa dilihat oleh makhluk hidup. Satu-satunya cara untuk melewati pembatas itu adalah dengan terlahir kembali sebagai penduduk di sana. Jika kita meninggal dalam kondisi yang tidak diinginkan, Tuhan akan memberikan kesempatan kedua untuk kita menebusnya dengan terlahir kembali di dunia itu. Yang artinya adalah kita bereinkarnasi di dunia antah berantah itu. Itulah maksud dari cerita itu. Sejujurnya, aku tidak pernah percaya pada cerita itu. Bahkan setiap aku mendengarnya, aku selalu ingin tertawa karena cerita itu tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat. Tapi di lain sisi, aku juga terkejut karena aku mendengar cerita itu dari teman masa kecilku. Dia adalah anak yang sangat logis dan rasional ketika menghadapi sebuah permasalahan. Aku sangat mengenalnya karena kami sudah bersama sejak berusia 8 tahun dan tumbuh bersama tanpa sedikit pun perpisahan. Tapi, bisa-bisanya dia mempercayai dongeng tidak masuk akal seperti itu. Tapi ya, sepertinya aku harus menyesali perbuatanku padanya hari itu karena di hari ini, aku muncul di hadapan semua orang yang tidak aku kenal dengan tangan terikat di belakang dan 2 orang algojo di samping kanan dan kiriku. Dengan baju tahanan yang lusuh dan kotor, aku dipaksa untuk berlutut oleh seorang prajurit menghadap keluarga kerajaan dan juga keluargaku sendiri yang tidak memiliki ekspresi saat melihatku. Yah meskipun tidak memiliki ekspresi, aku bisa menduga jika sebenarnya mereka jijik melihatku. Itu sudah biasa sih. “Setidaknya pasang muka senyum atau sedih gitu kek. Bosen banget lihat kalian nggak punya ekspresi seperti itu,” ujarku bergumam sendirian. Aku mengecilkan volume suaraku agar prajurit yang tepat berada di belakangku tidak mendengarnya. Hal itu karena orang ini bisa langsung mencambuk ku karena ucapan barusan. “Lila Ivena Pavesia, atas tuduhan pencurian Gelang Kehormatan yang dimiliki Kerajaan Guilarnes dan percobaan pembunuhan pada Putri Bella, kau akan dihukum mati,” ujar salah seorang prajurit. Aku tidak memasang ekspresi apapun mendengarnya. Itu hanyalah kebohongan yang dibuat iblis wanita itu untuk menjebak ku. Tapi, mau aku mengatakan apapun, sudah pasti tidak akan didengar kan? “Apa hukuman ini tidak bermasalah untukmu, Trait?” tanya Raja setelah menghentikan keributan pada ayah, atau haruskah aku memanggilnya Grand Duke Pavenisa? Hal itu karena kami tidak memiliki ikatan apa pun selain ikatan darah. “Saya tidak memiliki masalah apa pun. Anda bisa melanjutkannya, Yang Mulia,” ujarnya. Wajah Raja berubah mendengarnya. Setelah menunduk sebentar, beliau menatapku. “Untuk terdakwa, apa ada kata-kata terakhir yang ingin disampaikan?” tanyanya dengan wajah kecewa bercampur sedih. Dari tatapan matanya, aku bisa melihat sebuah keinginan agar aku setidaknya meminta tolong padanya. Aku menutup mata dan menggeleng. Membuat orang itu benar-benar kecewa. Aku masih ingat tentang tatapan yang dia berikan padaku ketika menangkap basah diriku di kamar Bella dengan botol racun di tangan. Sebuah tatapan kecewa, marah, juga sedih. Mau aku berusaha sekeras apa pun, fakta tidak akan bisa diubah dan semua ini akan tetap terjadi. “Apa pun yang saya katakan hanya akan berubah menjadi kebohongan di telinga kalian. Jadi, untuk apa saya berbicara jujur maupun meninggalkan pesan? Itu tidak akan merubah fakta bahwa kalian tidak pernah percaya pada saya, bahkan keluarga saya pun tidak percaya pada saya. Jadi, saya memilih untuk bungkam daripada bicara tetapi tidak didengar,” ujarku. Sebagai jawabannya, puluhan batu dilempar ke arahku oleh warga yang murka. Berbagai sumpah serapah keluar dari mulut mereka untukku. Makasih loh. Melihat hal itu, Raja segera menyuruh para prajurit untuk menenangkan warga yang mengamuk. Tanpa basa-basi, mereka menurut dan segera menahan para warga itu. Tidak hanya menahan, para prajurit juga membuat mereka mundur agak jauh dari panggung eksekusi. Sebagian orang naik ke atas panggung dan membersihkan batu yang digunakan para warga itu untuk melempariku. “Jika memang begitu, baiklah. Lanjutkan proses eksekusinya,” ujarnya dan pergi dari hadapan kami bersama Grand Duke Pavenesa. Melihat mereka pergi begitu saja, sejujurnya aku agak sedih karena Grand Duke benar-benar tidak melihatku hingga detik terakhir. Setidaknya, sekali saja aku ingin dia menatapku walau hanya sekali saja. Tapi, itu... tidak mungkin. Mau aku berusaha berapa banyak pun, dia tidak akan pernah mau menatapku sebagai putrinya. Dan itulah yang menjadi penyesalanku. Dengan arahan yang dipaksakan dari prajurit di belakangku, aku berdiri tepat di depan alat pemenggal kepala yang memiliki sisa-sisa darah. Sebelum duduk di hadapan alat itu, aku tersenyum dan melihat ke arah langit. Sepertinya di kehidupan kali ini aku sudah cukup berjuang. 22 tahun sudah aku lalui dengan terus berjuang dan berjuang. Kali ini, aku pikir aku sudah cukup berjuang hingga detik terakhir. Terima kasihku untuk semua orang yang telah berjuang bersamaku selama ini. Setelah berbagai pemaksaan, aku akhirnya berlutut dan memasukkan kepalaku ke dalam alat itu. Setelah memastikan kayu yang digunakan untuk menjaga kepalaku agar tetap dalam posisi ini, prajurit itu menjauh dan digantikan oleh seorang algojo. Sebelum pisau besar itu di turunkan, aku melihat ke arah ayah yang duduk di sebuah kursi dan melihat ke arah panggung eksekusi. Dengan senyum lebar dan pisau besar yang sudah meluncur cepat untuk memenggal kepalaku, aku mengatakan, “mari kita bertemu dan bermain lagi di kehidupan berikutnya.” ⸨─ ⸙† Wrong Target Execution: End †⸙ ─⸩
ceritanya seru
19/03
0ini part 2 nya kapan rilis yah🥹🥲
11/02
0bagus
04/01
0View All