logo
logo-text

Download this book within the app

bab 7

KEJUTAN DI HARI PERNIKAHAN UNTUK SUAMIKU DAN KELUARGANYA
Bab 7
"Ini semua karenamu Lila! Kami tidak terima! Awas saja kau akan kami balas!"
"Sudahlah Bu, hati-hati nanti darah tinggi kumat, Anwar, panggilkan security, dan usir mereka, aku tidak mau melihat mereka ada disini lagi, lama-lama bisa kabur pelanggan restoran jika mereka kesini terus," ucap Lila seraya pergi meninggalkan Bu Widya, Sinta dan semua karyawannya.
****
"Cepat kau masuk sana, temanku sudah menunggu," ucap Mirza pada Riana saat mereka berada di parkiran hotel.
"Tapi Mas."
"Tapi apalagi Riana.
"Tapi Mas."
"Tapi apalagi Riana," Mirza menatap Riana dalam.
"Aku takut Mas," ucap Riana sembari menggigit bibirnya.
"Apa yang kamu takutkan, toh kamu sudah pernah berhubungan denganku dan juga Mas Rian, kamu hanya perlu menikmatinya saja diatas kasur, biarkan tamu mu yang bekerja, karena mereka sukanya yang polos-polos, mereka gak suka cewek agresif, jadi kamu memang mesti dengan gayamu yang takut dan pemalu seperti ini."
"M, maksud Mas mereka? Maksudnya gak cuma satu orang?"
" Yah, begitulah, tamu yang memesanmu ada 3 orang, jadi kamu harus melayaninya dengan baik, maka dari itu tadi Mas kan udah kasih kamu vitamin dan juga sedikit obat perangsang, biar tenaga kamu full dan bergairah," ucap Mirza tanpa beban, sontak ucapan Mirza membuat Riana terkejut.
Riana tidak menyangka jika Mirza mempunyai watak licik seperti itu, Mirza sungguh tega padanya, ia bukan hanya tega menjualnya bahkan juga tega memberikan obat perangsang pada Riana.
Mungkin sebagian orang akan bilang kalau Riana itu bodoh, ya, mungkin memang benar kalau Riana itu bodoh, tapi Riana tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Mirza, orangtuanya sudah lama meninggal, rumah pun Riana tak punya, maka dari itulah waktu itu Riana menumpang dirumah Lila, karena memang Riana sudah yatim piatu dan sebatang kara, ditambah lagi sepertinya Riana tengah hamil, tapi Riana tidak tahu entah itu anak dari Mirza atau Rian.
"Hei, cepatlah, temanku sudah menunggu, gak usah banyak berpikir, cukup kau nikmati saja permainan mereka, cepat sana masuk, jangan coba-coba kabur atau membuat teman-temanku kecewa."
"Ba, baik Mas."
Akhirnya Riana pun menuruti keinginan Mirza, Riana bergegas turun dari mobil yang dikendarai Mirza, dan memasuki lobi hotel, Riana terus berjalan menuju kamar yang sudah dipesan oleh teman-teman Mirza.
Saat Riana sudah sampai di depan pintu kamar yang dimaksud, Riana mengetuk pintunya pelan.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara pintu seperti dibuka.
"Permisi, Saya Riana," ucap Riana saat seseorang membukakan pintu untuknya.
"Oh, Riana, akhirnya kamu datang, sudah dari tadi kami menunggumu,ayo masuklah dulu," ucap seseorang itu.
"Riana nampak canggung berada didalam kamar hotel tersebut, karena ini baru pertama kalinya Riana akan melayani 3 laki-laki sekaligus."
"Ayo diminum dulu, kamu kok tegang sekali, tenang saja, kami tidak akan menyakitimu," ucap pria 2.
"Kamu cantik sekali Riana, tak salah jika aku dan teman-temanku membayarmu mahal," ucap Pria 3 sembari membelai tangan halus Riana.
Riana yang sudah diberi obat perangsang oleh Mirza, dan obatnya tengah bereaksi, tentu saja mendapatkan sentuhan seperti itu dari lawan jenisnya membuat Riana panas dingin.
Dan entah siapa yang memulainya duluan, terjadilah aktivitas ranjang oleh ketiga pria itu vs Riana.
*****
Cukup lama Mirza menunggu Riana selesai melakukan tugasnya, tapi dengan sabar Mirza menanti Riana.
Selama menunggu, senyum puas Mirza tidak henti-hentinya menghiasi bibir Mirza, bagaimana tidak, jika dalam satu waktu Mirza sudah mengantongi uang yang cukup banyak, untuk sekali kencan Mirza mematok harga untuk ketiga temannya itu senilai 20 juta, jadi masing-masing orang harus membayar 7 juta rupiah, Mirza mematok harga cukup tinggi karena ketiga temannya meminta untuk memakai Riana beramai-ramai, selain itu Riana memiliki paras yang sangat cantik dan body yang seksi, berkulit putih, hidung mancung dengan tinggi semampai, siapapun yang melihat Riana pastilah membuat jakun para pria hidung belang akan naik turun.
"Tidak sia-sia aku memaafkanmu Riana, jika seperti ini terus maka aku akan kaya dalam waktu sekejap tanpa harus bekerja keras, dan dengan uang itu, aku bisa kembali menggaet Lila, kali ini kubiarkan Lila untuk membuangku, tapi lihatlah nanti jika uangku sudah banyak, aku pastikan kau akan bertekuk lutut padaku Lila," ucap Mirza sembari tersungging.
*****
Hari ini baik restoran pusat maupun restoran cabang sangat ramai pengunjung, Lila merasa keteteran, bahkan ia pun ikut turun tangan untuk melayani pembeli.
"Huft, sepertinya aku harus menambah lagi beberapa karyawan, padahal karyawan yang kupekerjakan sudah berjumlah 5 orang di setiap masing-masing restoran, tapi masih saja keteteran, alhamdulilah ya Allah, engkau berikan rezeki untukku yang begitu banyak." batin Lila.
"Siang Bu, maaf mengganggu, ini ada orang yang mau bertemu dengan Ibu," ucap Aisyah membuyarkan lamunan Lila.
"Siapa?"
"Saya tidak tahu Bu, tapi katanya ingin membooking restoran untuk lusa, dan katanya ingin bertemu dengan pemilik restoran langsung."
"Oh iya, saya akan kedepan menemuinya, terimakasih ya."
"Baik  Bu, permisi."
"Iya."
Lila berjalan menuju dimana orang yang Aisyah maksud itu berada.
"Maaf, apa anda mencari saya?" ucap Lila pada seseorang yang ternyata adalah seorang Ibu-Ibu.
"Ah, iya, ini dengan Bu Lila?"
"Iya betul, ada yang bisa saya bantu Bu? Oh iya tolong jangan panggil saya Ibu, karena saya merasa tidak enak, saya jauh lebih muda daripada Ibu," ucap Lila sopan pada Ibu tersebut.
"Ah iya maaf, ini dengan Mbak siapa?"
"Panggil saja saya Lila Bu, Ibu dengan Bu siapa?"
"Ah iya, saya lupa perkenalkan diri, perkenalkan, saya Farida, panggil saja Bu Farida."
"Oh iya , Bu."
"Begini Nak Lila, saya berniat membooking restoran ini untuk acara ulang tahun suami saya lusa, kira-kira bisa atau tidak ya?"
"Oh, tentu saja Bisa Bu, mau jam berapa Ibu mulai acaranya?"
"Rencananya sih mau malam gitu, sekitar jam 7 malam sampai selesai, dan nanti dari acara sampai semua makanannya saya pesan dari restoran Nak Lila saja."
"Insyaallah kami bisa Bu, silahkan Ibu beritahu konsepnya aka. Seperti apa dan untuk berapa porsi makanan yang akan Ibu pesan?"
"Rencana saya pesan untuk 600 porsi, yang 300 nya untuk tamu yang datang nanti, dan yang 300 nya tolong bagikan ke orang-orang yang ada di jalanan, siapapun yang membutuhkan silahkan dikasihkan makanan itu, dan untuk konsepnya terserah Nak Lila saja yang menurut Nak Lila bagusnya seperti apa, hanya nanti tolong sediakan Kue ulangtahun juga ya." 
"Maksud Ibu, untuk yang bagian disedekahkan Ibu mempercayai kami juga untuk membagikannya?"
"Iya, tentu saja, gimana? Apa bisa?"
"Insyaallah, Kami bisa Bu, saya akan tutup restoran pada hari itu."
Lila tentu sangat senang sekali, karena restoran miliknya semakin bertambah maju, dan penghasilan pun semakin bertambah banyak.
Setelah selesai berbicara, dan memberikan sejumlah dp untuk pesanan dan juga boking restoran, akhirnya Bu Farida pun berpamitan.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya Nak Lila, ini uang dp nya, sisanya nanti pas hari h," ucap Bu Farida sembari memberikan uang didalam amplop coklat pada Lila.
"Iya Bu, terimakasih sudah mempercayakan restoran kami untuk acara Ibu, semoga kami nanti tidak mengecewakan Ibu dan keluarga, dan hati-hati dijalan," jawab Lila sembari tersenyum.

Book Comment (89)

  • avatar
    Ranii

    wahh bagus sekali novelnya ini merupakan novel favorit aku

    21/12/2021

      0
  • avatar
    StoreJabs

    Bagus

    14/06/2025

      0
  • avatar
    lvipwetty

    sukaaa

    12/04/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters